Mobil jeep warna hijau lumut memasuki area rumah duka.
Seno keluar dari mobil dan langsung menyambangi keluarga Warso.
Ucapan bela sungkawa dan sedikit basa basi menjadi topik pembicaraan Seno dengan keluarga Almarhum Warso.
Seno masih saja berbicara dengan mertua Warso dan juga Istri serta Kakak-kakaknya.
Istri Warso yang tampak biasa saja setelah ditinggalkan oleh Suaminya itu menceritakan tentang semua perlakuan sang Suami yang membuatnya menjadi mati rasa.
Yah pada dasarnya seorang Istri wajib hukumnya menjaga aib Suaminya terlebih saat sang Suami telah tiada.
Namun apa daya,terkadang rasa sakit hati menjadi alasan terbesar bagi seseorang untuk meluapkan emosinya dan salah satunya adalah menggunjing aib seseorang tak peduli siapapun itu termasuk juga yang masih keluarga sendiri.
Karsin yang merasa sangat ketakutan memilih untuk pergi dengan alasan mengisi bahan bakar mobil.
Bukan tanpa alasan,Karsin yang sangat dipercaya oleh Seno itu sadar diri betapa sudah sangat buruknya perlakuan ia pada sang juragan.
Bukan hanya memanfaatkan semua fasilitas,tapi juga berani menggunakan identitas Seno untuk melakukan hal buruk yang jelas itu sama saja dengan menjatuhkan martabat dan nama baik Seno.
Karsin sangat takut jika nantinya Seno akan tahu tentang semua hal itu.
Terlebih jika sampai Seno tau tentang apa yang sudah ia lakukan pada Istri Seno....
Yah....perempuan kampung yang sangat malang itu....
Karsin mampir ke sebuah warung nasi pecel.
Ia memesan seporsi nasi pecel komplit dan juga segelas es teh.
Beberapa saat setelah Karsin menerima pesanannya,datanglah tiga orang Bapak-bapak yang seprtinya adalah penduduk setempat,hal itu dapat diketahui melalui keakrapan sang pemilik warung terhadap ketiganya.
"Lah iyo lo kang,kayaknya itu kuntilanak merah punya dendam tersendiri pada laki-laki."kata seorang yang berbaju biru.
"Iya kayaknya,aku juga curiganya gitu,soale yang diteror itu semua laki-laki."sahut lelaki yang terlihat paling tua.
"Bener itu Pak Ni,Kapan hari juga ada teror nek kampunge Mbak Yu ku,malahan itu kunti ikutan nonton wayang katanya."jawab seorang lagi yang tampak paling muda.
"Lah walah mbok ya jangan nakut-nakuti,lagian kalau gak salah yang begituan itu semakin diceritain malah bakalan datang,karna merasa terpanggil."
Ucap sang pemilik warung.
"Yoweslah nek gitu ndak usah mbahas itu,nanti kita ke kiyai Jamal saja,biar di doakan kampung kita ini."jawab seorang yang dipanggil Pak Ni.
"Iya bener itu,biar didoakan tolak balak."
Celetuk orang berbaju biru.
"Hus,doa itu ya masing-masing orang,ndak harus kiyai."
"Kita sendiri juga bisa,itu pun harus di dasari sholat lima waktu,karna itu wajib,kalau kalian mau doanya dikabulkan lo itu...iya apa ora?"
Lagi-lagi pemilik warung tak sependapat pada pola pikir orang-orang di kampungnya yang lebih mengandalkan kiyai atau ustadz tanpa pernah mau mendekatkan diri sendiri terhadap tuhanya.
"Lah yu..yuu...iyo ae wes,timbang salah terus.."putus Pak Ni sembari menerima makanan yang tadi ia pesan.
"Jangan lupa bissmillah dulu sebelum makan."ucap pemilik warung sebelum akhirnya memilih kembali duduk di dipan yang ada di balik meja dagangannya.
Karsin yang tengah makan hanya diam sambil mendengarkan obrolan ketiga warga.
"Kuntilanak merah,mengincar laki-laki..."
"Warso dan Salim kan juga...?"
"Terus apa kira-kira dia itu....?"
Pikiran Karsin kembali dibuat amburadul setelah mendengar keluh kesah warga yang diteror kuntilanak yang meresahkan.
Karsin masih sibuk dengan pikiranya hingga telepon yang ada di saku celananya berdering.
"Tululing tululing ting ting...."
Begitulah suara khas nada denring hape Karsin yang nyala lampu layarya berwarna kuning itu.
"Oh iya gan,ini masih mampir warung beli rokok."
"Oke-oke."
Karsin menutup panggilan telfon dari bosnya yang ia dzholimi itu.
Kini ia mengeluarkan dompet warna hitam yang ia kantongi di saku jaketnya.
Karsin mengeluarkan selembar uang warna biru.
"Kembalianya biar buat ngopi Bapak-bapak ini saja buk."
Ucap Karsin pada pemilik warung sambil menunjuk dengan ibu jarinya pada ketiga lelaki yang dari tadi asyik ngobrol sendiri tanpa menegurnya sekalipun.
"Wah....wah,makasih loh Dek."ucap Pak Ni.
"Iya Dek...jadi ndak enak loh merepotkan gini."sahut orang berbaju biru.
"Oh iya nggak apa,Bapak-bapak silahkan dilanjut ngopinya,saya permisi dulu."
Ucap Karsin ramah dan sopan.
Karsin kembali ke kampung Warso yang jaraknya tak begitu jauh dari warung tempatnya makan tadi.
Sungguh naas nasib Karsin.
Ia baru saja berbelok ke rumah Warso saat Bapaknya Endang keluar dari rumah Warso dan tengah memakai sendal.
Hati Karsin dipenuhi rasa takut,ia benar-benar ketakutan jika saja Seno sampai tau tentang apa saja yang sudah ia lakukan.
Dengan menahan gugup Karsin masuk ke rumah Warso,sedang Bapaknya Endang sudah berjalan pulang dengan menerabas lewat depan rumah tetangganya.
"Gan...?"panggil Warso pada Seno.
"Eh Kang Karsin,kita langsung jalan ae,tapi nanti mampir ke Desa Mangun Rejo dulu."
"Di sana ada kebun mau dijual lokasinya bagus dekat jalan pun kebunya juga agak luas."
Ucap Seno tetap dengan nada biasa saja,bahkan Seno tampak tersenyum.
Karsin merasa lega karna menurutnya itu adalah bukti jika tidak terjadi apa-apa dan rahasianya masih aman.
Seno dan Karsin berpamitan pada keluarga Warso,tak lupa keduanya memberikan angklop sebagai tanda bela sungkawa,Seno bahkan menjanjikan akan membiayai sekolah anaknya warso hingga SMA.
Mobil jeep sudah berjalan menjauh membawa kedua orang laki-laki yang kini tengah sama-sama bergulat dengan hati masing-masing.
Seno yang merupakan seorang insinyur pertanian itu tak lantas langsung percaya atas ucapan orang yang bahkan baru di kenalnya.
Tapi di sisi lain ia menyadari jika saja tidak benar yang diucapkan orang itu lalu apa motif dan tujuannya,tanpa tujuan mustahil sekali,begitulah hati Seno berbicara.
Seno pun dipaksa untuk percaya atas ucapan orang tadi kala ia melihat gelagat aneh pada diri Karsin.
Bahkan Karsin tidak mau berlama-lama di rumah Warso,ia seperti tengah menghindari sesuatu.
Seno terus saja diam,sampai saat Karsin berhenti mendadak dan memaki-maki seorang pejalan kaki.
Seorang perempuan yang memakai daster putih yang panjangnya hanya sebatas bawah lutut saja.
Perempuan itu memakai caping dengan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai.
Karsin yang suasana hatinya tengah berantakan itu terus saja mengucapkan kalimat pedas.
Tak jarang ia mengumpat dengan menyebut nama hewan atau pun kalimat kotor.
Karsin seakan menemukan tempat untuk meluapkan seluruh emosinya.
Hingga saat perempuan yang tadinya hanya menunduk itu mendongakkan wajahnya.
Seno yang baru saja keluar dari mobil dengan niat menghentikan aksi Karsin yang terus saja berteriak-teriak itu pun dibuat kaget terlebih lagi Karsin yang berdiri tepat di depan sang perempuan.
Senyum yang tampak seperti seringai menakutkan si perempuan berhasil membungkam mulut kotor Karsin.
Karsin dan Seno terperangah.
"War...Warsinah...."
Ucap keduanya bersamaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments