Teror

Ketika Tukiman sampai di pos ronda ia melihat kedua temannya telah tidur.

"Malah tiduran disini..."

"Bangun Kang,Kang Man.."

"Li...Sadeli....bangun...."

Orang yang bernama Tukiman berusaha membangunkan Pak Satpam vila tua itu dan juga Sadeli tetangganya.

Tapi mereka tak bangun juga.

Ditempat lain,Tukiyo yang baru sampai diteras rumahnya segera berlari dan membuka pintu dengan terburu.

"Buk...Bukne..."ia memanggil Istrinya dengan terbata-bata.

"Loh Pak...Bapak kenapa?"tanya Istrinya.

"Anu Buk....itu,Bapak dikejar demit kunti apa sundel gitu lo."

"Serem Buk...,ngejar-ngejar Bapak katanya minta tolong diantar pulang."

"Yasudah sekarang Bapak minum air dulu,terus tidur ae sana."ucap Istri Tukiyo sembari mengulurkan secangkir air putih hangat.

Tukiyo merasa tenang dan ia segera ke kamar untuk tidur.

"Ya gitu itu orang kalau nggak pernah mau sholat,denger adzan magrib bukane berangkat ke masjid,malah ke kebun takut ada maling."

"Hidup ngejar dunia terus,ya ben kapok ganti dikejar-kejar sama temannya,yaitu yang namanya setan takut demit."gerutu Istri Tukiyo setelah Suaminya sudah pergi ke kamar.

"Tok tok tok...."

Pintu rumah Tukiyo di ketuk.

"Nggak usah ganggu kami,kami kan ndak ada salah sama kamu."

"Sudah sana balik ke alam mu,tempatmu bukan di sini."

"Ibuk ndak bisa ngasih apa apa ngger..."

"Siapapun kamu,ini hadiah dari Ibuk buat kamu,semoga setelahnya kamu bisa ikhlas ngger,"

"Alfatihah....."

Istri Tukiyo lalu membaringkan diri dikursi,ia tak lantas menyusul sang Suami untuk tidur dikamar.

Istri Tukiyo yang sejatinya mempunyai indra ke enam namun mata batinnya telah ditutup itu ternyata masih bisa merasakan energi dari mahluk lain yang ada disekitarnya.

Termasuk energi Warsinah yang terasa sangat penuh dengan kesedihan dan dendam.

Tukiman di pos ronda masih sibuk membangunkan kedua temannya.

Ternyata keduanya tengah pingsan.

Flash back*

"Kita tunggu sambil jalan pelan-pelan sajalah Kang Man."ucap Tukiyo sambil menuntun sepeda ontelnya.

"Iya lagian Tumiran itu ya aneh,lagi serem gini malah kebelet."

"Hihi hihi hi hihi hi...."

Suara seperti perempuan entah menagis atau tertawa terdengar samar-samar...

Tukiyo yang masih menuntun sepeda ontelnya langsung tancap gas,tanpa peduli dengan bau got dari sepeda yang kini sudah ia naiki.

Pratman sang satpam,dan Mukidi berjalan secepat mungkin menuju ke pos ronda.

Sesampainya disana,mereka segera meneguk air dari botol air mineral yang sudah di isi ulang.

"Pak...tolong Pak....hiks hiks hiks...."

Suara sendu dengan isakan tangis dan sedikit merintih itu terdengar lebih jelas.

"Tolong...aku mau pulang"

Suara yang sama kembali terdengar.

Kedua orang itu menoleh,dan tampaklah perempuan berdaster putih lusuh yang panjangnya hanya sebatas bawah lutut saja.

Perempuan itu membelakangi Parman dan Sadeli.

"Mbak....,apa yang bisa dibantu?"tanya Pratman.

Perempuan itu membalikkan badanya,tapi tetap menunduk.

"Saya mau pulang Pak..."

"Hiks hiks hiks...."

Tampak perempuan itu mengelap air mata nya.

Beberapa menit kemudian,terlihat seseuatu menetes,berwarna kuning kehijauan.

Dan lagi....

Berwarna merah....

Pratman dan Sadeli merasa ada keanehan.

Mereka berniat untuk pergi.

"Jangan pergi Pak,tolong saya..."

Lagi-lagi perempuan itu meminta tolong.

Tapi kali ini ia mendongakkan kepalanya.

Rambutnya sebagian menutupi pipi.

Hanya menampakkan bagian mata hidung dan mulut.

Mata yang sudah membiru,dan dipenuhi oleh darah yang terus mengalir.

Hidung yang penuh dengan cairan berwarna hijau,dan terus menetes.

Seketika bau amis dan busuk menyengat hidung keduanya.

Hingga keduanya pun tumbang tak sadarkan diri.

Flash back off.

"Jangan...tolong jangan ganggu,ampuunnnn."

Rancau Sadeli ketika membuka matanya karna merasa terguyur air.

"Bangun Sadeliiiii....,"teriak Tukiman.

"Ini aku,kamu itu kenapa sih?"

"Kang,Kang Man....,"kini Tukiman beralih ke Pak Satpam Pratman.

"Kang bangun,ini aku Tukiman."

Pratman pun mulai terbangun,dan clingak clinguk.

Kemuadian dengan terburu-buru berjalan ke sisi pos,dia memperhatikan tanah dibawah kakinya berpijak.

"Loh kok gak ada apa-apa?"ucapnya lirih.

"Iya ya Kang, lha yang tadi netes-netes itu kemana ya?"Jawab Sadeli yang sudah berada disamping Pratman.

"Tapi tadi kamu lihat kan Li,kita ndak mimpi kan?"

"Yo nggaklah kang,inget banget aku,"jawab Sadeli.

Tukiman yang tidak tahu apa-apa pun akhirnya bertanya.

"Sebenernya ada apa sih Kang Man?"

"Itu lo,tadi ada hantu perempuan nangis minta di antar pulang."

"Ngeri banget pokoknya Man."

Jawab Pratman kepada Tukiman.

"La Kang Tukiyo kemana ini kang?"tanya Tukiman lagi.

"Dia udah ngacir tadi naik sepedah."

"Gak tau sekarang sudah sampai di rumah atau malah sudah di neraka dimakan hantu."

Sahut Sadeli yang merasa jengkel pada Tukiyo yang tidak tahu balas budi itu.

"Weslah biarin saja,aku mau ngecek vila lagi."jawab Pratman dengan berjalan menuju Vila yang posisinya berjarak tiga ratus meteran dari pos ronda.

"Yaudah lah kalau gitu aku juga mau pulang."putus Sadeli yang sudah cukup emosi.

Tukiman yang kini sendirian merasa merinding.

Ia akhirnya memilih pulang juga.

Pos ronda malam ini dibiarkan kosong,tanpa ada yang jaga.

Warga yang biasa mangkal sekedar ngobrol dan main karambol entah kenapa malam ini tidak ada yang datang.

Sepeninggal semua orang,tampaklah Warsinah duduk di pos ronda itu.

Ia meratapi nasibnya,sesekali ia bersenandung.

"Hem hem hem hem....."

"Hiks hiks...hiks hiks..."

"Hihi hihi hihhihi...."

Suaranya samar terbawa angin.

Kemudian Warsinah berjalan mengambang,ia menyusuri daerah itu.

Mengelilingi perkampungan.

Warsinah mencoba keluar dari sebuah gapura.

Gapura yang sepertinya menjadi pembatas desa itu terlihat kokoh meski agak kusam.

Tapi sayangnya,ketika ia keluar dari gapura itu,ia kembali pada pohon mauni diperkebunan kopi.

Berkali-kali dicobanya,namun hal yang sama pulalah yang lagi-lagi terjadi.

Ia akhirnya memilih terus berjalan,menyusuri gang demi gang di perkampungan itu.

Dengan terus menangis, meneteskan air mata darah,juga ingus yang terus berjatuhan dijalan.

Ratapan dan rintihan Warsinah tak jarang didengar oleh beberapa penduduk yang masih terjaga di jam satu dini hari itu.

Hantu Warsinah yang penasaran itu kini kembali melayang ke rumah Tukiyo.

Ia tahu Istri Tukiyo bisa berinteraksi dengan nya.

"Buk....tolong..."

Warsinah berjalan mengambang ke teras Tukiyo dengan terus menagis kesenggukan.

Ia mondar mandir ke depan ke belakang.

Dari teras hingga kamar.

Sesekali,Warsinah mencoba menerobos rumah Tukiyo.

Tapi ia selalu terpental,karna ternyata dibalik pintu rumah Tukiyo bagian dalam,terdapat kaligrafi ayat kursi yang digantung.

Istri Tukiyo sudah tertidur pulas,berbeda halnya dengan Tukiyo yang berada di kamar.

Ia terjaga saat mendengar suara isakan tangis.

Warsinah yang bisa merasakan kehadiran manusia itu kini mendekati kamar Tukiyo.

Dan lagi-lagi ia berteriak.

"Pak..tolong pak..."

"Tolong....hiks hiks hiks..."

Angin kencang yang datang bersamaan dengan melayangnya Warsinah menuju jendela kamar Tukiyo membuat jendela kamar Tukiyo terbuka.

Jendela yang hanya terbuat dari triplek itupun kini terbuka dengan kerasnya.

"Braaakkkkk..."

Tukiyo terbangun,dia terlonjak kaget.

Dan ketika ia menoleh,tampaklah samar-samar wajah Warsinah yang sangat menyeramkan dan membawa aura sedih.

Tukiyo teriak.

"Hantuuuuuu.........,"

Awas ya readers nanti malam jangan lupa kunci jendela.

"Hih ih ih ih ihih....."

Warsinah pun tertawa menghadap para readers.

Terpopuler

Comments

Dehan

Dehan

penjahit cantik sudah mampir ya kak
tetap saling dukung ya kak
semangat

2022-10-10

1

Yuli Fitria

Yuli Fitria

Ampun Warsinah, aku orangnya takut gelap. Ini makanya baca siang² tapi kamu kok malah nakutin 😱

2022-07-02

1

Yuli Fitria

Yuli Fitria

seketika inget lagu india 🤣

2022-07-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!