Menyamar

"Ng engiiih....ngiihh....."

Kuda yang tadinya dengan tenang menarik dokar kini berhenti dengan mendadak.

Kuda berwarna coklat tua itu terlihat sangat resah.

Kedua kaki depannya sesekali di angkat,seakan ingin lepas dari tali lalu berlari karna merasa sangat terancam.

Sang kusir yang paham betul jika kudanya sedang tidak baik-baik saja itu segera membaca ayat kursi.

Tak berselang lama kuda pun tenang dan mau kembali berjalan.

Di tempat yang tak jauh dari jalanan terlihat sosok berbaju merah tengah berdiri mengambang di atas rumpunnya pohon bambu.

Ia mengawasi setiap manusia yang hilir mudik di jalanan dengan sorot mata tajam.

Hari berganti petang,langit surup menampakkan warna oren kemerahan.

Awan hitam mulai menyelimuti setelah terbenamya sang matahari.

Sosok berbaju merah kini melayang di sebuah gang yang sudah mulai ramai banyak orang berdatangan.

Gamelan pun sudah di tabuh.

Wayang kulit yang telah di tata rapi oleh para Wiyangga sudah siap dimainkan oleh Pak Dalang.

Yah,akan ada pagelaran wayang kulit di desa karang rejo itu.

Warsinah kini bertengger di sebuah pohon rambutan.

Diperhatikannya satu-satu mereka yang tengah berdatangan.

Hingga tampaklah seorang lelaki yang memakai celana oblong warna hitam,baju loreng warna merah dan putih dan sebuah sarung ia kalungkan di dadanya.

Sang Bapak yang baru saja datang itu berdiri di sisi jalan yang cukup dekat dengan tempat Warsinah berada.

Dengan santainya Sang Bapak berbicara sendiri.

"Mbah kulo ajeng maen Othok tulong nggeh mbah di bantu ben menang katah."

Begitulah ucap sang Bapak yang kemudian menggebruk tanah tiga kali menggunakan tumitnya.

"Nyai danyang Kaki danyang yoh tutno lakuku."

Setelah mengucap kalimat itu sang bapak berjalan ke arah kandang sapi milik warga.

Dimana di sana sudah terlihat ada beberapa orang yang sudah berkerumun.

Mereka duduk jengkeng mengitari kotak kayu yang hanya diterangi sebuah damar kecil.

"Weh...wes podo ngumpol,telat aku."ucap sang bapak.

"Leh...ya mesti telat orang sampean kan anggota susis"ucap orang yang terlihat lebih muda dari sang bapak.

Yah itulah perjudian yang biasa disebut othok.

"Arep udhu piro Kang Jan?"

Tanya sang bandar.

"Wes iki pemanasan sepuloh ae disek."jawab sang Bapak yang di panggil Kang Jan tadi.

"Yo wes."

"Tak kopyok loya,"

"Klutuk klutuk klutuk."

Suara dadu yang tengah di kocok di dalam sebuah batok kelapa.

"Klutukkk...kreep"

Berikutnya suara dadu yang jatuh ke papan dan batok kelapa yang dijadikan penutupnya.

"Wes piro?"

"Siji"

"Telu"

"Enem"

"Telu"

"Telu"

Jawab orang-orang yang ada di tempat itu secara bersahutan.

"Sampean piro Kang Jan?"tanya sang bandar lagi.

Warsinah yang tadinya merasa tertarik oleh aura gelap Marijan pun mengikuti Marijan.

Terlebih Marijan yang sempat berbicara sendiri seakan mengundang sesiapa pun yang menjadi penghuni tempat itu untuk membantunya membuat Warsinah merasa terpanggil.

"Loro"bisik Warsinah di telinga Marijan kemudian ia merogoh dadu yang ada di dalam batok kelapa itu agar berada pada posisi titik dua.

"Loro wes aku ndar."jawab Marijan mengikuti bisikan setan.

"Wes col kabeh?"tanya sang bandar.

"Ji ro lu."

Dan benar...Marijan memperoleh uang dua kali lipat dari uang yang ia tombokkan tadi

"Matur suwon mbah"ucap Marijan di dalam hati.

Warsinah tertawa cekikian karna merasa mendapat pengikut.

Kini energinya semakin terasa kuat.

Semua terjadi karna aura hitam yang terpancar dari diri Marijan bisa ia serap.

Hal yang sama terus berulang hingga beberapa kali.

Dan terakhir Marijan menombokkan semua hasilnya malam ini dan berakhir dengan ia menang lagi.

Kini Warsinah semakin senang terlebih saat Marijan percaya jika kemenanganya itu adalah karna bantuan Nyai dan Kaki danyang.

Warsinah yang energinya semakin kuat itu kini telah meninggalkan area judi othok.

Ia melayang menuju pagelaran Wayang kulit.

Ia merubah dirinya menjadi perempuan yang cantik bergaun merah dengan rambut dicepol dan bando warna oren.

Warsinah menyelinap di antara banyaknya penonton Wayang.

Warsinah sangat menyukai suara gamelan bahkan sesekali ia terlihat manggut-manggut.

Tak berselang lama tampaklah seorang Kakek usia lima puluh lima tahun.

Yang mengenakan udeng warna coklat dan baju surjan lurik serta tapih kain batik klabang ngadek.

Sang Kakek menatap tajam Warsinah yang menunduk karna merasa aksinya menyamar telah ketahuan.

"Kenapa to Kung?"

Tanya sang empunya hajad pada lelaki tua yang biasa di panggil Kakung itu.

"Ndak apa-apa le,cuma ada tamu aja barusan,tapi udah pergi kok."

Jawab Kakung yang kemudian kembali ke kursi tempat ia duduk sebelumnya.

Kakung sambil duduk di kursi tampak memasukkan kedua tangannya ke dalam saku bajunya.

Beliau memejamkan mata,dan seperti bermeditasi.

Beberapa menit berikutnya sang Kakung yang adalah tetua kampung itu meminta sebotol air mineral.

Kakung kembali memejamkan mata dan memutar-mutar tasbih yang ada di tangannya.

"Gus...Agus..."panggil kakung kepada Agus anak pertama Supriadi yang punya hajad.

"Le..sinio,ini tolong kamu tuang ke ember yang lebih besar,terus airnya nanti di siram keliling tarub."

"Jangan nyuruh orang lain,soale ini harus dikerjakan anak mbarep."imbuh Kakung.

"Nggih Kung,nek ngoten tak pados ember riyen."jawab Agus dengan cekatan,ia segera melakukan apa yang diperintah Kakungnya.

Agus menuang air kedalam teko dan membawanya keliling rumah dapur juga tarup.

Saat sampai di belakang rumah, Agus melihat seorang perempuan memakai baju merah masuk ke rumpun bambu lalu menghilang.

Agus mempercepat langkah kakinya menuju teras.

Ia menemui Kakung dengan nafas tersengal-sengal.

Kakung yang tahu apa yang sudah di alami Aguh terkekeh sampai rokok srutunya terjatuh.

"Lah Gus Agus,lawong ketemu wong ayu kok malah ketakutan."

Ucap Kakung sambil tertawa renyah.

"Haduh Kung,mana ada wong ayu,yang ada demit alas itu baru benar."ucap Agus dengan meringis sambil mengelus leher belakangnya yang masih merinding.

Ditempat lain Warsinah yang baru saja terusir oleh ilmu batin Sang tetua kampung pun sangat marah.

Ia kembali melayang ke atas pohon Rambutan.

Mengawasi gerak gerik warga yang berangkat dan pulang dari menonton Wayang.

Mata tajam Warsinah berubah menjadi putih semua.

Retakan kepalanya kembali menganga.

Darah berbau busuk pun kembali mengalir dan menetes jatuh di jalanan setapak di bawah pohon Rambutan.

Warsinah kembali menangis tersedu,hidungnya yang selalu mbeler saat ia menangispun kini mengeluarkan nanah yang sangat busuk.

Bayangan perlakuan buruk anak buah Senopati terukir kembali.

Warsinah melayang turun mengikuti sepeda motor yang dinaiki dua orang laki-laki.

Seorang yang berambut kribo dan satu lagi berkepala botak itu tertawa renyah menceritakan acara sawer menyawer yang baru saja mereka lakukan.

Tawa renyah yang membuat kemarahan Warsinah kembali berada pada puncaknya.

Sehingga....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!