"Bruuumm....ciiittt...."
Sebuah mobil cerry warna hitam berhenti di kebun sayur yang tempatnya bersebrangan dengan tempat Warsinah berada.
Di tempatnya Warsinah menatap nyalang laki-laki yang baru saja keluar dari mobil untuk sekedarnya bertegur sapa juga sedikit memberi arahan pada para buruh petiknya.
Laki-laki yang dipanggil Juragan Seno itu adalah pemborong sayuran terbesar di kecamatan itu.
Senopati Suryo Wiloko,dialah juragan sayur yang memasok stok sayuran ke berbagai pasar pedesaan.
Dia juga sering melayani pesanan sayur ke kota,entah itu sayur lokal atau pun organik.
Senopati juga diketahui memiliki beberapa tempat makan lesehan dan juga beberapa depot.
Tak hanya itu orang yang dipanggil Juragan Seno ini juga dikabarkan memiliki beberapa penginapan dan villa yang letaknya ada di daerah pegunungan.
(Villa...bukan hanya Vila,kita semua taukan makna dari doble L nya).
"Mari gan..."ucap seorang buruh tani sambil membungkuk.
Itulah aneh dan hebatnya uang.
Siapa yang ada uang dia yang berkuasa.
Bisa mengatur bahkan kadang bisa membeli harga diri seseorang.
Warsinah melayang dan duduk di atas atap mobil.
Ia duduk tepat di atas tempat kemudi.
Matanya menatap sang juragan dengan sangat benci.
Senopati si juragan sayur kini kembali ke mobil dan duduk di samping Karsin supirnya yang sudah mulai menyalakan mesin mobil.
Di tengah perjalanan tiba-tiba Karsin menginjak pedal rem secara mendadak.
Karsin kini nafasnya tersengal-sengal,wajahnya pucat pasi,ia sungguh sangat ketakutan.
Seno yang merasa kepalanya sakit karna kejedot sandaran tangan yang ada di pintu tampak mengelus elus jidatnya.
Seno yang baru saja terlelap sesaat setelah duduk dan bersandar di pintu mobil itu sangat kaget.
Ia sangat heran kenapa Karsin yang terkenal sangat mahir mengemudi itu bisa sesembrono itu.
Awalnya Seno sudah sangat marah dan ingin segera memaki-maki karsin,tapi saat ia menoleh ke arah karsin ia menjadi merasa sangat bingung.
"Kang Karsin kenapa to ini..?"
"Ada apa Kang?"
"Ini,minum dulu."
Ucap Seno,kemudian mengulurkan air mineral miliknya.
Karsin yang mulai tenang akhirnya kembali tancap gas.
Ia sesekali terlihat clingak clinguk.
Seno sedikit paham jika ada yang tidak beres.
Gapura yang bertuliskan SELAMAT DATANG DI DESA KARANG ANYAR terlihat dari jarak sepuluh meter,sungguh hal yang sangat menenangkan bagi Karsin.
Entah kenapa,semenjak dari sawah terakhir yang mereka kunjungi yang ada di desa mbacem tadi Karsin merasa ada ancaman yang terus mengikuti.
Perasaan itu terasa hilang seketika saat ia telah memasuki desa tempat juragannya itu tinggal.
Karsin berbelok ke sebuah rumah minimalis.
Ia segera memarkirkan mobilnya di teras rumah tersebut.
Tanpa permisi Karsin membuka pintu mobil dan langsung lari ke rumah.
Ia masuk ke kamarnya yang terletak tak jauh dari ruang makan.
Karsin kini membongkar sebuah rangsel.
Ia mengambil kotak kayu dengan ukiran naga di bagian atas tutupnya.
Tangan Karsin terulur meraih sebuah kantong kecil berwarna hitam.
Kemudian ia membuka isi kantong tersebut yang ternyata di dalamnya adalah sebuah kain berwarna merah dengan tulisan Aksara jawa yang di ukir dengan menggunakan benang warna emas.
Dengan terburu-buru Karsin mengendorkan lalu membuka ikat pinggang nya.
Ia segera menarik kancing resleting yang ada pada ikat pinggangnya yang berwarna hitam itu.
Di masukkannya kain merah yang ternyata adalah jimat yang ia dapat dari salah seorang dukun yang konon adalah juru kunci dari sebuah gunung.
Kini Karsin tersenyum lega,entah karna apa,tapi jelas tersirat dari raut wajahnya jika ia sudah merasa aman.
Seno sungguh merasa aneh atas sikap supirnya itu.
Bahkan Seno seakan menjadi tak lagi bisa mengenali sosok dan karakter Karsin yang sekarang.
Sikapnya selalu berubah-ubah.
Karsin yang biasanya cekatan,dan sangat bisa di andalkan kini menjadi Karsin yang tidak jelas jeluntrungannya.
Seperti kali ini,pagi-pagi sekali di sawah yang tengah memanen sayur kubis Karsin terlihat garang memarahi kuli panggul yang tak sengaja hampir menabraknya.
Namun saat selesai melihat panen sawi dan juga mentimun di desa terakhir,terlihat jelas Karsin sudah seperti mayat hidup,ia sangat pucat dan terlihat ketakutan.
Seno hanya bisa geleng-geleng kepala,ia yang jarang turun langsung ke sawah,ladang,penginapan atau pun vila kini hanya bisa berusaha maklum pada si supir yang juga adalah tangan kanannya.
Karsin keluar dari kamarnya dan buru-buru duduk di kursi meja makan saat Seno sampai di tempat yang sama.
"Maaf gan...selak kebelet saya tadi."ucap Karsin pada Seno.
"Oawalah..iya,gak apa kok Kang."
Jawab Seno yang kemudian juga ikut menarik salah satu kursi untuk duduk.
Seno yang tak mau ambil pusing itu kini lebih memilih menghisap rokoknya.
Ia kemudian meminta Mbok Rum untuk membuatkannya secangkir kopi susu sachet.
Seno sejujurnya masih merasa tidak percaya pada alasan yang Karsin berikan.
Ia merasa seperti ada sesuatu yang Karsin sembunyikan.
"Masa iya kebelet sampe ngerem mendadak?"
"Belum lagi bisa nyetir sampai ngelewati dua dusun,yang disetiap dusunkan ada sungai,kenapa gak berhenti?"
"Ini sangat aneh !"
Seno berbicarasendiri di dalam hati.
Ia yang cukup berpendidikan itu tak serta merta bisa dengan mudah untuk di bodohi.
Berbeda hanya dengan Seno.
Karsin yang juga tengah berdiskusi antara pikiran dan hatinya itu memutuskan untuk mendatangi dukun yang selama ini menjadi dekeng di setiap pekerjaannya,termasuk dalam mengambil kepercayaan Seno sang juragan.
Di tempat lain,hantu Warsinah tengah duduk sambil mengayunkan kakinya di sebuah pohon jambu.
Pohon jambu yang sudah tumbuh rimbun dengan batang yang sudah sebesar tiang listrik itu adalah saksi sejarah terputusnya antara satu desa.
Desa Karang yang kini menjadi desa Karang Rejo dan desa Karang Anyar.
Warsinah terus mengayunkan kakinya.
Kini ia melayang naik ke atas Gapura.
Dia merentangkan tanganya seakan berusaha mengerahkan kekuatan untuk mendobrak sebuah benteng.
Dan itulah yang terjadi.
Angin bertiup kencang dengan tiba-tiba.
Beberapa pengendara motor,sepeda dan juga becak merasa merinding saat melewati gapura desa.
Anginpun kini semakin kencang dan merubuhkan pohon mindi yang ada di sisi kiri gapura.
Pohon jarak yang di tanam berjejer dipinggir jalanpun seakan tercabut dari akarnya.
Warsinah masih saja pada tempatnya.
Matanya berubah merah.
Bola matanya membulat putih sempurna.
Tiba-tiba sebuah bola api melayang ke arahnya.
Warsinah lantas menghilang dari tempatnya.
Warga datang berbondong-bondong.
Mereka saling gotong royong menebang pohon dan menyisihkan ranting dan dahan ke pinggir jalan.
Tampak beberapa dari mereka ada yang menuntun sepeda ontel yang bagian boncengannya terdapat karet ban dan juga tambang.
Dan bisa dipastikan kedatangan mereka adalah untuk mencari ramban,bukan untuk ikut membantu warga.
Jalanan sekitar gapura sudah di bersihkan,dan wargapun sudah berhamburan entah ke mana.
Kini sebuah dokar melintas keluar dari desa yang baru saja warsinah obrak-abrik.
"Tak tak tak tak...."
Suara tapak kuda yang berlari dengan santainya.
Tiba-tiba....
"Hii hii...ih ih hi...hihi...hi..hi..hi hi"
Sosok Warsinah bergaun merah dengan mata putih terbalik duduk diatas penutup dokar dengan kaki yang terus di ayun-ayunkan...
Hayo readerss...
"Hih ih ih ih..hi hi hi hii...hi hihi..hi "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Yuli Fitria
Kenapa ya, pas baca ini jadi terbayang gitu 😱
2022-07-14
1