"Hihi..hi...hihii...."
Warsinah menaruh Anaknya Endang di bawah pohon terong cokak yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat Gus Ruri.
Warsinah tertawa dan melayang cepat seakan ia ingin segera menjauh dari Gus Ruri.
Si bayi yang tadinya tertidur pulas lantas menangis sepeninggal Warsinah.
"Oeg...oee...eeeg...."
Gus Ruri segera menggendong Anak Endang yang masih saja menangis itu.
Gus Ruri dan semua warga pun kembali pulang.
Gus Ruri menyerahkan si bayi pada Neneknya.
Endang yang mendapati anaknya sudah kembali karna mendengar suara tangis bayi pun langsung berlari ke dapur.
Semua warga dan para santri pun telah pulang.
Kini hanya tinggal Gus Ruri yang masih berada dirumah itu.
Beliau memberikan wejangan pada Endang untuk tidak lupa membaca doa sebelum tidur.
Beliau juga menyarankan agar Endang tidak tidur membelakangi bayinya.
Endang sadar betul itu keslahannya.
Ia terlalu lelah menangis karna suaminya tak kunjung datang setelah mendapat kabar jika ia melahirkan.
Endang yang menjadi Istri kedua dari seorang juragan sayur itu meratapi nasibnya,ia menagis hingga tertidur dan tanpa ia sadari telah tertidur dengan posisi membelakangi bayinya.
Gus Ruri akhirnya pamit undur diri ketika jarum jam sudah menunjuk angka tiga dini hari.
Bayi Endang pun sudah beliau doakan,dan kini tertidur dengan pulas.
Hantu Warsinah kini telah berada di sebuah gubuk yang di depannya terdapat orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami.
Warsinah duduk di atap gubuk,seperti biasanya ia terus menggerakkan kakinya.
Ia terus tertawa,entah karna apa.
Matanya menatap lurus ke depan.
Sepertinya ia melihat sesuatu di tempat nan jauh di sana.
Adzan subuh berkumandang.
Sayup-sayup terdengar ayam jantan berkokok.
Surya pun kini menampakkan sinarnya.
Hantu Warsinah kini sudah masuk ke sebuah bangunan tua,konon itu adalah bangunan peninggalan belanda.
Ia bermain ayunan yang sudah karatan karna tak pernah di pakai.
Bangunan tua yang bentuknya lebih mirip penginapan itu memiliki taman.
Di taman yang terletak dibagian depan barisan petatan-petakan kamar itu terdapat ayunan yang juga sudah terlihat tua,lusuh juga karatan.
"Krierrkk...kreek..."
Suara ayunan yang tengah Warsinah duduki.
Suara itu jelas terdengar bahkan hingga perempatan.
Bangunan tua yang letaknya di kiri bagian timur perempatan itu nyatanya adalah bagian dari jalur yang harus dilewati para petani dan juga warga entah untuk ke sawah atau pun aktifitas lainnya.
Desa Mbacem,terletak ditengah area persawahan.
Dimana akses menuju jalan besar sangat jauh dan hanya bisa di tempuh dengan satu jalur saja yaitu arah barat dan timur.
Dari keduanya juga warga tetap di haruskan memilih melewati antara dua tempat yang disebut-sebut angker.
Di sisi barat mereka harus melewati sebuah jembatan.
Jembatan bercat merah itu dikenal dengan sebutan Bok Bang atau bok abang bahasa jawa yang artinya adalah Jembatan Merah.
Jembatan yang dipercayai jika dulunya adalah tempat pembuangan mayat,entah yang masih utuh atau pun yang sudah di mutilasi pada masa G30/S/PKI.
Kepercayaan warga tidak hanya berdasar dari para saksi mata yang adalah nenek dan kakek moyang mereka.
Tak juga hanya karna sekedar cerita turun temurun tapi juga karna sering adanya penampakan.
Kadang ada dari mereka yang pulang kerja terlalu larut dan bertemu dengan orang yang tengah menagis di sisi jembatan.
Di saat si orang lewat berhenti dan bertanya maka orang yang menagis itu akan mendongak dan menampakkan wajahnya yang rusak.
Terkadang pula ada orang lewat dan melihat seperti,bola,kelapa, sukun,semangka atau lainya yang bentuknya sama bulat.
Dan ketika orang itu mendekat ternyata berubah menjadi kepala orang.
Bahkan pada suatu hari ada orang yang tengah mencari rumput di siang hari di area jembatan itu.
Tiba-tiba,ia di datangi seorang anak kecil yang tengah menagis,meminta tolong untuk mencari Ibunya,dan saat di antar anak itu menunjuk jika rumahnya ada di gorong-gorong jembatan.
Bukan hanya itu,ketika anak kecil itu menoleh ia menunjukkan dua bola matanya yang bolong.
Dan yang paling menakutkan adalah pernah adanya pasangan gantet yang mati di situ.
Tidak ada yang tau cerita yang sesungguhnya dari kejadian itu.
Area yang di katakan tempat tinggal mahluk astral,dan tidak ada cctv apa lagi saksi,menjadi penyebab di tutupnya kasus itu oleh kepolisian.
Terlebih adanya dinas kesehatan yang menyatakan jika hal tersebut bisa saja terjadi dan bisa di jelaskan secara medis juga menjadi salah satu penunjang di tutupnya kasus itu.
Yah kita manusia biasa tempat nya ketidak tahuan bersarang.
Tapi tak lantas boleh menjadikan itu alasan untuk melakukan kesalahan.
Melakukan hubungan seperti itu dan tidak pada tempatnya,itu jelas sebuah kesalahan besar.
Tapi apalah daya,terkadang kita manusia sering kali kalah jika harus berdebat dengan nafsu.
Tanpa kita sadari sesungguhnya yang menuruti nafsu adalah ia yang telah menjadi budak setan.
Begitulah bukti jika mereka itu ada di antara kita yang bok bang atau jembatan merah itu telah tunjukkan.
Sama halnya dengan bangunan belanda yang letaknya di sebelah timur desa itu.
Jalur ke sawah dan pasar yang harus di tempuh ke arah timur yang juga harus melewati Umbul.
Entah apa maksut dari nama umbul itu.
Arti yang sesungguhnya adalah terbang.
Mungkin karna dulunya itu adalah bangunan yang tertinggi atau apa entahlah.
Kini bukan lagi bangunan atau namanya,namun adanya gangguan yang bersumber dari tempat itu.
Seperti saat ini.
"Krieekkk...kreek....krieek..kreekk"
Suara ayunan yang tengah Warsinah mainkan di pagi buta itu mengundang rasa takut bagi seorang petani yang tengah melewati bangunan itu untuk menuju ke sawahnya.
Petani yang kini tengah memanggul cangkul dan menenteng capingnya itu merinding saat mendengar suara ayunan tengah di mainkan.
Ia ingin mengintip sekedarnya untuk meyakinkan diri jika hal itu terjadi karna tertiup angin.
Tapi angin dari mana.
Bangunan yang pagarnya keliling dengan tinggi kurang lebih tiga meter,
Begitu juga pintu gerbangnya yang tertutup oleh lembaran-lembaran spandek berwarna hitam.
Pak Tani pun maju mundur.
Akhirnya ia memutuskan untuk memilih pergi.
Seperti yang biasa warga lakukan.
Tidak mau tau agar tidak saling mengganggu.
Di dalam sana,sepeninggal Pak Tani,Warsinah masih asyik bermain ayunan.
"Kriekk...kreek.."
"Krieek...kreek...Krieek..kreek"
Suara ayunan yang karatan itu terus berulang-ulang hingga membentuk intonasi yang sama.
Warsinah terus mengayunkan kakinya.
Ia pun sesekali tertawa.
"Hi..hi...hihi...hi hi hi...hihi..."
Matahari kini sudah tampak condong ke atas pohon kelapa.
Para warga hilir mudik melewati area tempat Warsinah berada.
Orang yang lewat ada yang diam dan membaca doa dalam hati.
Ada yang latah dan dengan lantang menyebut.
"Mbah putune nunut lewat"
Tapi ada juga yang lewat begitu saja.
Tanpa permisi,dan tanpa perduli apa lagi percaya jika mereka itu benar-benar ada,karna hanya menganggap semua cerita hanyalah tahayul semata.
Dan tanpa orang-orang yang seperti itu sadari,ada sepasang mata merah menyala.
Menyorot dengan tajam seakan mengawasi gerak gerik dari setiap tingkah manusia.
Sosok yang berdiri mengambang di bagian dalam pintu gerbang itu kini berwujud menyeramkan.
Ia ingin menakuti manusia yang lemah imannya.
Menyerap seluruh energinya,dan menjadikan ia budak yang bisa di perintah.
Seperti perjanjian yang ia buat dengan sang penunggu mata air sembilan sumber.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments