Mulai Jahil

Warsinah seperti terseret arus.

Warsinah kemudian terpental dan kembali berada dipohon mauni.

Sedangkan mobil pickup yang tadi ia tumpangi kini masuk kesebuah kabut.

Kabut itu langsung menghilang bersamaan dengan hilngnya mobil dari pandangan Warsinah.

Hantu Warsinah kini duduk di dahan lagi.

Ia memperhatikan orang orang yang tengah hilir mudik melewati jalan yang berada di dekatnya.

Tak jarang Warsinah iseng nebeng di boncengan sepeda ontel para buruh itu.

Ada dari mereka yang mengeluh sepedanya berat dan seperti membonceng sesuatu.

Ada yang merasa tengkuknya merinding seperti ditiup oleh seseorang.

Ada juga yang biasa saja.

Dan semua itu ulah Warsinah.

Ia sesekali meniup tengkuk orang yang ia ganggu.

Warsinah juga seringkali membelit pinggang orang yang ia ganggu hingga merasa membonceng sesuatu.

Namun tak jarang pula Warsinah terpental ketika ia salah pilih orang.

Dimana kebanyakan orang yang beriman akan beristighfar,atau takbir dan atau membaca doa ketika dirasanya ada yang tidak beres.

Terlebih mereka yang selalu ingat pada Alloh.

Tidak sedikitpun bisa Warsinah menyentuhnya.

Dalam jarak sedikit dekat saja Warsinah sudah seperti terkena setrum.

Warsinah masih saja cekikian ketika ada sebuah mobil lewat.

Awalnya mobil itu biasa saja.

Tapi setelah terlewat,sang sopir langsung bertakbir manakala mendapati sosok Warsinah berdaster putih kumel dan wajah seram itu tengah bertengger di dahan pohon mauni.

Sang sopir dapat melihatnya dari pantulan kaca sepion.

Sopir yang kebetulan sendirin itu menceritakan pengalamannya pada para buruh pemetik kopi.

Hingga hebohlah lagi desas desus tentang adanya hantu di pohon mauni itu.

Sopir Mobil pickup warna abu-abu itupun tak lagi berani melintasi area pohon mauni lagi.

Ia memilih mengambil jalur lurus lalu belok kiri dan sampailah ia di sebuah gang arah masjid yang terletak di jalur besar,barulah ia belok kiri lagi untuk menuju keluar perbatasan desa.

Menghindari lebih baik dari pada bertemu lagi,begitulah kiranya suara hati sang sopir yang sendirian tanpa kernet itu.

Adzan dhuhur berkumandang.

Warsinah tetap duduk di singgasananya yaitu dahan pohon mauni.

Badannya kini berasap.

Wajahnya memerah,dan kepalanya menampakkan garis retakan yang mengeluarkan darah.

Ingusnya keluar seperti nanah yang membanjiri lubang hidung.

Dari kelopak matanya pun tampak mengalir air mata darah.

Retakan kepala Warsinah semakin terlihat melebar dan kini tampak menganga dengan darah yang berwarna merah kehitaman dan terus menetes.

Warsinah kini berada pada posisi terakhir saat ia meninggal.

Suara adzan telah selesai berganti senandung puji-pujian.

Keseraman penampakan wujud Warsinahpun kini berangsur memudar,ia tampak kembali menjadi hantu Warsinah berambut gimbal,yang terus menggoyang-goyangkan kakinya dan cekikian.

"Hihiii hihiihiiiiihihihihiiiihiihihihihii..."

Kini sudah pukul tiga sore.

Para buruh paruh hari terlihat berjalan bergerombol dengan kelompok masing-masing.

Mereka bekerja mulai pukul tujuh pagi hingga sepuluh siang kemudian bekerja kembali pukul satu hingga tiga sore.

Tapi para buruh borongan sebagian memilih untuk kerja loss hingga pukul lima sore,dengan alasan agar kebun atau sawah yang mereka borong cepat selesai.

Seperti halnya Karimah dan dua temannya.

Sudah hampir pukul lima sore mereka baru naik ke atas galengan sawah.

Akhirnya mereka terlambat untuk pulang.

Ketika pukul lima lebih lima belas menit mereka baru saja sampai pertigaan.

Dan pada saat bersamaan ternyata hantu Warsinah tengah bergelanyut di pohon pete sebelah timur pertigaan.

Katiyem teman Karimah entah kenapa tiba-tiba membahas hantu yang sempat mengganggu Waras Anak tetangganya.

Isu tentang Waras yang di kejar wewegombel memang tengah hangat di perbincangkan.

Tapi sebuah kesalahan yang tengah Katiyen lakukan adalah waktu dan tempat pembahasan yang kurang tepat.

Sore itu sedikit mendung,hingga langitpun tampak gelap.

Warsinah yang merasa terpanggilpun mendekati Katiyem.

Sebelum ia sampai di sisi Katiyem ia lebih dulu melewati Rodiyah.

Entah karna Rodiyah lebih peka atau memang Warsinah sengaja menganggu,Rodiyah merasa mencium bau busuk.

Rodiyah menyenggol lengan Katiyem yang terus saja nyerocos bercerita dan menyebut hantu penunggu kebun kopi terus menerus.

Rodiyah berusaha tetap berfikir positif,ia juga membaca ayat kursi dan berjalan lebih cepat mendahului Katiyem yang masih asyik dengan ceritanya.

Hantu Warsinah kini sudah tampak seram.

Wajah buruk dan kepala retaknya pun sudah siap ia tampakkan pada Katiyem.

Namun Karimah yang bisa merasakan kehadiran Warsinah segera membaca sesuatu.

Warsinah akhirnya melayang menjauh.

Ia terbang dan duduk di salah satu ranting pohon sengon.

Warsinah yang entah kenapa seakan semakin kuat setelah sering menyesap hawa orang-orang yang takut padanya itupun tampak terus mengawasi pergerakan Katiyem dengan terus cekikian di atas dahan.

Karimah telah berbelok ke rumahnya,Kini tinggal Katiyem dan Rodiyah yang sudah berjalan cepat hingga jaraknya dengan Katiyem cukup jauh.

Setelah sekian menit,Rodiyah pun sampai di rumahnya.

Sementara Katiem masih saja klecam klecem,tersenyum entah karna apa.

Hantu Warsinah kini melayang dan duduk di atas genting salah satu rumah warga.

Matanya menatap tajam pada Katiyem.

Kemarahannya terlihat jelas.

Wujutnya yang paling mengenaskan pun ia tampakkan kembali.

Ia melayang turun,dan mengambang di sisi kanan Katiyem.

Diremasnya pundak Katiyem,lalu ia pun nangkring di punggung Katiyem.

Katiyem mengelus lehernya bagian belakang yang terasa ngilu.

Ia juga memegang punggungnya yang terasa sakit.

Kini Katiyem telah sampai di rumahnya.

Warsinah terus saja menggelantung di pundak Katiyem.

Ia sudah seperti anak yang minta gendong Ibunya.

Katiem merasa leher hingga pinggulnya terasa sangat sakit dan pegal-pegal.

Katiem selesai mandi,ia masih memakai tapih,ia lantas masuk kamar berniat untuk sholat magrib lalu salin baju tidurnya.

Namun Warsinah yang kepalang marah lebih marah lagi,ia pun mengeratkan tangannya di leher Katiyem,dan dia membisikkan.

"Katiyem,lehermu sakit,badanmu pegal,ayo tidur."

Katiyem yang memamang dasar dari imannya tidak cukup kuat pun mengikuti bisikan Warsinah.

Katiyem akhirnya ganti baju dan berbaring.

Mukena yang dilipat rapi lalu di belit sajadah pun ia gunakan sebagai bantal di atas ranjang di kamarnya.

Warsinah kembali cekikian.

"Hihihihi...hihi..hi hi hi..hi...ihihii..hi"

Katiyem tidur miring kanan sesekali ia berpindah miring ke kiri,ia sungguh tak nyaman jika harus rebahan atau terlentang.

Serasa ada duri atau benda kasar yang mencekal punggung hingga lehernya.

Malam itu,Katiyem benar-benar tersiksa.

Hingga hampir subuh ia baru bisa tidur lelap yang akibatnya sholat subuhpun ia lewatkan.

Suami katiyem yang terbiasa tidur di kursi ruang tamu merasa heran kenapa istrinya tak kunjung bangun hingga hampir pukul enam pagi.

Katiyem biasanya jam sekian sudah menyiapkan bekal untuk suaminya dan juga untuk ia bawa juga.

Tapi hari ini,ia tak kunjung bangun.

Sang Suami yang curiga akhirnya membangunkan istrinya yang masih meringkuk di atas ranjang berselimutkan jarik loreng warna coklat tua.

"Bu..Bune...kog ndak bikin bekal sampean apa sakit..."

Katiyem masih tidak merespon.

Suaminya pun mendekat,dan ia tepuk pundak Istrinya itu.

Katiyempun terbangun dengan meringis kesakitan.

Leher hingga tulang belakangnya pun serasa sudah remuk.

Ia menggeliat kesakitan,keringat dingin pun sudah membasahi dahinya.

Katiyempun merancau tak jelas,dan sesekali ia cekikikan.

"Aduh...punggungku sakit..."

"Aduh...lepas,lepas..sakit"

"Hihi..hihi...hi..hi hi hi hi...hi..hihi..."

"Aduh...,hihi...hi...Sakit aduh..."

Suami katiyem merasa ada yang tidak beres..

Dan akhirnya ia memanggil Seorang tetangga.

Si tetangga datang dan melihat tingkah Katiyem,ia yakin kalau Katiyem kesurupan.

Si tetanggapun meyakinkan Suami Katiyem kalau Istrinya itu kesambet Kuntilanak.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk menemui Mbah Joyo.

Suami katiyem sampai di rumah Mbah Joyo,namun sayangnya Tetua kampung itu tengah menghadiri majlis ta'lim di salah satu pondok di luar kota.

Akhirnya Suami Katiyem mendatangi mushola yang letaknya ada di seberang rumah Mbah Joyo.

Disana ada beberapa santri yang tengah menyapu lantai,dan ada pula yang tengah menggulung karpet untuk di jemur.

Suami Katiyem bertanya pada empat santri yang semuanya adalah perempuan itu apakah Pak Ustadz ada di ndalem.

Namun sayangnya,lagi-lagi hasilnya nihil.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!