Kutimang Sayang

"Kene ngger cah ayu..."

"Kene manuto karo aku"

Ucap seorang lelaki tua yang kini tengah berdiri menatap Warsinah.

Ia memegang genteng tanah yang di atasnya terdapat kemenyan yang sudah ia bakar di atas bara.

Asap mengepul putih kecoklatan.

Menebarkan aroma wangi yang menyengat khas kemenyan.

Sang lelaki lantas mengeluarkan sebuah paku kuningan.

Ia juga meraih bunga telon wangi yang tadinya tertata rapi di atas nampan sesaji.

Warsinah menatap tajam lelaki tersebut.

Mata merahnya menyala,dan kuku runcingnya memanjang.

Warsinah melayang,ia sepertinya akan melawan.

Ketika jarak tinggal selangkah orang dewasa,Warsinah pun berhenti.

Ia berdiri sejajar dengan si pria tua yang ternyata adalah dukun ilmu hitam.

Warsinah menatap sang dukun dengan tatapan meremehkan.

Ia menyeringai,sang dukun yang sedikit terkejut atas apa yang dilakukan Warsinah kini sedikit beringsut mundur.

Warsinah masih berdiri di tempatnya dengan mata yang terus mengawasi gerak gerik si dukun.

Dari mata si dukun dapat Warsinah lihat kejadian yang sudah si dukun lakukan terhadapnya.

Bayangan kejadian itu seperti komedi putar yang di putar ulang.

Sangat jelas terlihat tatkala sang dukun mengunci Warsinah di pohon mauni.

Dan memagari desa dengan ajian puter giling agar Warsinah tak dapat keluar dari desa itu.

Warsinah juga melihat seorang lelaki yang tengah ketakutan datang meminta tolong pada sang dukun.

Warsinah mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.

Angin seketika berhembus kencang dan mengangkat pohon yang ada di sisi rumah si dukun.

Pohon yang terangkat hingga akar itu pun melayang ke arah si dukun.

Sang dukun yang merasa tak mampu melawan Warsinah akhirnya mengeluarkan kerisnya.

Keris samber nyowo yang di takuti para lelembut itu ia lempar dan mengenai pohon yang tengah melayang ke arahnya,alhasil kini terjadilah ledakan yang sangat keras.

Warsinah tampak cekikian,pakaian yang tadi berwarna kemerahan pun sudah kembali menjadi putih kumel lagi.

Sang dukun segera melempar paku dan beras kuning ke arah Warsinah.

Warsinah pun menghilang bersamaan mengepulnya asap dari benturan paku yang sudah di selimuti kekuatan hitam sang dukun dengan Warsinah.

Sang dukun kini terkapar di depan pintu gubuk reotnya,sedang Warsinah ia terus saja cekikian,ia terus terbang nemembus perkebunan,sawah,ladang,dan beberapa hutan yang menjadi pemisah dari suatu desa dengan desa lain.

Warsinah tertarik pada ublek yang tampak kelap kelip dari tempatnya terbang.

Sebuah ember air yang sudah di lubangi bagian bawahnya tampak menjadi satu-satunya pelindung lampu tersebut dari tiupan angin.

Bau darah segar yang sangat wangi bagi sosok Warsinah menandakan jika itu adalah tempat penguburan ari-ari bayi.

Warsinah turun ke atap rumah yang mana dirasanya adalah pemilik bayi yang baru lahir tersebut.

Warsinah menembus dinding rumah pemilik bayi merah itu.

Ia langsung menuju ke sebuah kamar yang digunakan si jabang bayi tidur.

Bayi yang masih berusia tiga hari itu di angkatnya.

Ia menggendong sang bayi dengan satu tangan,sedang satu tangan lagi ia julurkan ke arah pintu belakang.

Seketika pintu terbuka seperti ada yang mendobrak dengan keras.

Warsinah membawa bayi yang masih tidur dengan tenang itu melayang memasuki hutan jati yang letaknya lurus dari belakang rumah orang tua si bayi.

Warsinah kembali cekikian saat ia sudah duduk di dahan pohon jati.

Sang bayipun menagis.

"Oeg...oeg...oe...."

Warsinah dengan masih cekikian mengarahkan telapak tangannya ke wajah sang bayi.

Seketika si bayi tertidur kembali seperti terkena sirep.

Ibu sang bayi yang tengah tertidur pulas akibat terkena sirep Warsinah akhirnya terbangun karna merasa ingin buang air kecil.

Ia sangat binggung mendapati tempat tidur anaknya yang kosong.

Ia pun segera menuju ke ruang tamu yang mana disanalah Ayahnya tidur beralaskan tikar mendong di depan tivi.

Mendapati sang Ayah masih tidur pulas akhirnya ia pun menuju kamar Ibunya yang letaknya agak kebelakang dan sedikit dekat dengan dapur.

Dia sangat terkejut ketika melihat Ibunya juga tengah tidur seorang diri.

Di menoleh ke belakang dan melihat jika pintu dapur telah terbuka dan engselnya rusak.

Di atas pintu triplek yang sudah ambruk ke tanah itu ia menemukan kupluk bayinya.

Topi bayi yang terakhir ia pakaikan sebelum ia tidur untuk menutupi mbon-mbonan bayinya.

Endang Lasmiati,Ibu dari si bayi yang tengah di bawa pergi oleh Warsinahpun berteriak histeris kemudian pingsan.

Kakek dan Nenek si bayi yang adalah orang tua Endang terbangun mendengar anaknya berteriak kencang lalu terdengar suara benda jatuh.

Keduanya lantas buru-buru mencari tau kesumber suara.

Mereka kaget mendapati Anaknya tergeletak dengan kepala berada di atas papan pintu yang telah ambruk dan rusak.

Mereka juga mendapati sang Anak tengah memegang topi anaknya.

"Ndang...Endang,ini ada apa to nduk?"

"Bangun nduk..."

"Anakmu mana?"

"Endang,bangun ngger..."

Ucap sang Ayah sambil sesekali menepuk pipi Endang anaknya.

"Mbok...liaten cucumu,Bapak kok merasa ada yang aneh ini?"

Ibunya Endang yang sudah banjir air mata karna melihat putrinya yang baru tiga hari pasca melahirkan itu tergeletak tak berdaya menjadi sangat khawatir.

Ia segera bangkit dari duduknya,yang tadinya bersimpuh di dekat perut endang kini berdiri lantas segera berlari ke kamar Endang.

Tak berselang lama,Ibu si Endang pun kembali menemui Suaminya yang kini tengah membaringkan Endang di lincak dapur.

"Pak...Bapak...ketiwasan pak..."

"Tole nggak ada di kamar pak.."

"Gimana ini pak.."

Ucap Ibunya Endang dengan sangat panik,bahkan ia terus saja mengguncang lengan suaminya.

"Wes gini ae,sekarang Ibu jaga Endang,Bapak tak ke rumahnya Gus Ruri."

Ucap Bapaknya Endang,kemudian berjalan keluar lewat pintu belakang,tak lupa Sang Bapak mengangkat dan menyandarkan pintu yang sudah rusak itu di gawang dapur.

Bapaknya Endang telah sampai dirumah sang pemilik masjid.

Beliau mengucap salam sambil mengetuk pintu secara perlahan.

Samar-samar terdengar jawaban salam dari dalam.

"Lhoh...Mbah Kusdi,ada apa kog tumben malam-malam ke sini?"

Ucap sang Ulama yang biasa di panggil Gus itu.

Ayah Endang dengan sangat singkat menceritakan kejadian yang ia alami.

Gus Ruri pun meminta seorang muadzin yang kebetulan masih terjaga karna baru saja selesai melakukan wirid bersamanya itu untuk segera membangunkan semua Santri laki-laki.

Gus Ruri juga berpesan untuk menabuh kentongan dan bedug sebagai tanda jika ada bahaya.

Sang muadzin pun menurut,ia membangunkan para Santri kemudian menabuh bedug dan kentongan.

Sedang Gus Ruri sudah berada di rumah Endang.

Beliau mencoba membantu menyadarkan Endang yang masih pingsan.

Gus Ruri akhirnya berhasil menyadarkan Endang.

Tak butuh waktu lama setelah bedug di tabuh,para warga berbondong-bondong datang.

Mereka yang mayoritas pria itu ada yang nampak masih segar bugar karna mungkin memang masih terjaga.

Tapi tak sedikit pula dari mereka yang sudah lusuh dan kumal khas orang-orang yang bau bantal.

Gus Ruri meminta kupluk bayi yang tadi sempat di pakai sang bayi

Beliau mengucap basmallah kemudian memejamkan mata seperti tengah mendeteksi.

Dengan duduk di lincak dapur,satu tangan memegan peci bayi,dan satu tangan lagi memegang tasbih,Gus Ruri terlihat seperti berinteraksi dengan sesuatu.

Gus Ruri membuka mata seraya tersenyum,ia berkata jika Anaknya Endang tengah di ajak bermain.

Hanya bermain dan tidak akan disakiti.

"Yaudah,ayo kita susul aja Tole kasian masih bayi,nanti kena angin."

Ucap Gus Ruri pada para santri pria juga warga yang sudah ikut berkumpul dan bergabung di dapur Endang.

"Nggeh Gus...tapi kemana ya kira-kira?"Pak kusdi Kakek si bayi pun langsung bertanya karna sangat khawatir.

"Sabar,Mbah Kusdi nggak usah ikut ya,dirumah saja jagain Mbak Endang sama Mbah wedok."

Gus Ruri pun segera beranjak menuju Hutan jati,ia yang ilmu kebatinannya cukup tinggi itu sudah tahu betul dimana Warsinah membawa bayinya Endang.

Saat sudah sampai di dekat tempat Warsinah duduk,Gus ruri pun memerintahkan semua untuk berhenti.

Warga yang tak pernah melihat penampakan pun sebagian ada yang terkejut hingga pingsan.

Maksut hati ingin membantu apa daya malah jadi beban,begitulah kiranya peribahasa yang tepat untuk para pria cemen itu.

Gus Ruri lantas berjalan mendekati Warsinah yang masih setia menggendong anaknya Endang.

Tampak sosok Warsinah sepertinya sangatlah bahagia.

Ia terus menimang bayi laki-laki yang usianya baru tiga hari itu dengan penuh kasih.

Tak jarang ia bersenandung dengan suara yang seperti terbawa angin.

Senandung yang seorang Ibu bawakan untuk anaknya yang biasanya tedengar begitu indah karna penuh kasih,tapi tidak untuk Warsinah.

Suaranya yang seperti mengambang bukannya menenangkan tapi malah membuat merinding.

"Asslamualaikum ya ahlil kubur..."ucap Gus Ruri.

Warsinah menghentikan aksi menimang bayi dan bersenandungnya.

Kini ia menoleh,menampakkan wajah wujud transparan dengan wajah pucat,lingkarmata hitam dan bola mata cekung putih semua.

Mungkin itulah wujud terbaik yang Warsinah tampilkan saat ia tengah bahagia.

Warsinah melayang turun dari dahan pohon jati yang tingginya hanya sekitar dua meter dari tanah itu.

Ia kemudian.....

Terpopuler

Comments

Yuli Fitria

Yuli Fitria

Warsinah kasian ih bayi nya ...

2022-07-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!