"Tuing tuing tuing...tiiitt..wiu wiu wiu wiu.."
Tampak mobil putih betuliskan "Mobil Jenazah" milik Dinas Kesehatan datang bersamaan dengan pihak Kepolisian.
Beberapa anggota Polisi menuruni tangkis jembatan.
Terlihat tiga orang turun ke dasar curah dengan menggunakan tali pengaman dan membawa sebuah kantong plastik berwarna oranye.
Seorang lagi tengah mengevakuasi Salim yang sudah terlebih dulu diselamatkan.
Salim tergeletak tak berdaya di dalam mobil ambulance.
Sopir dan kenek kini tengah di introgasi oleh Polisi sebagai saksi.
Tiga puluh menit berlalu,akhirnya pihak kepolisian berhasil mengangkat jenazah Warso ke atas.
Yah,Warso dinyatakan telah meninggal dunia sekitar empat jam yang lalu.
Tim medis membawa Warso menyusul Salim yang sudah terlebih dulu dilarikan ke rumah sakit,sedang polisi membawa dua orang yaitu sopir dan kenek truk ke kantor Polisi untuk memberi kesaksian.
Di tempat lain.
"Hua...a..a..a..haa...."
"Mbah...iu ne ciyuu..."
"Iu..ih ih ih ih.."
"Ne ciyu.."
" Aip ayud Mbah.."
Seorang anak kecil berusia dua setengah tahun tengah menagis ketakutan sambil terus menunjuk atap rumahnya.
Rumah kampung khas jawa yang di bagian segitiga penyangga atapnya berasal dari kayu balau itu tengah diduduki oleh Warsinah.
Warsinah menampakkan mata melotot dan tertawa ngikik.
Warsinah duduk dengan terus mengayunkan kakinya.
Matanya menatap lurus ke arah bocah kecil yang kini tengah ketakutan dan bersembunyi di belakang Neneknya.
Ia terus menunjuk ke arah Warsinah dan berbicara jika ada hantu tanpa berani mendongakkan wajahnya yang kini ia tutup dengan tapih sang Nenek.
"Ada apa to le.."
"Nis..Anis..."
"Ini Anak mu kenapa to,kok ketakutan ini."
Teriak sang Nenek memanggil Menantunya,Ibu dari Anak kecil yang tengah ketakutan.
"Kenapa to Yung..."tanya seorang perempuan yang namanya adalah Anis.
"Itu lo anakmu lihaten."ucap mertuanya.
"Aip kenapa..?"ucap Anis sambil merangkuh Anaknya dalam gendongan.
"Iu..meyoyod...haaa."ucap Arip pada Ibunya sambil membelalakkan matanya berusaha mempraktekkan apa yang ia lihat.
"Dimana sih le?"tanya Anis lagi.
"Iu Buuk...iu Aip aqut."tandas Arip yang langsung bersembunyi dikerudung Ibunya.
Sore menjelang,Arip tetap saja tak berani masuk ke rumah Mbahnya.
Anis pernah mencoba memaksa Arip untuk masuk ke rumah Ibu mertuanya itu karna ia merasa yang Anaknya ucapkan hanyalah halusinasi Anak-anak semata.
Tapi sungguh di luar dugaan,Arip semakin kencang menangis bahkan ia demam tinggi setelahnya.
Anis memutuskan untuk tidur di rumah Kakak Iparnya sembari menunggu Wakid Suaminya pulang dari nguli panggul di pasar.
Pukul tujuh malam Wakid baru saja pulang dan diberitahu Ibunya tentang apa yang baru saja terjadi.
Wakid segera menyusul Anak dan Istrinya,ia pun segera mengabari temanya yang adalah anak indigo.
Teman Wakidpun segera datang setelah mendapat sms dari Wakid.
Sabarudin yang biasa dipanggil Sabar itu memasuki rumah Ibunya Wakid.
"Kullanuwon Mbah Darmi..."ucap Sabar.
"Bar...piye le omahku enak apane iki?"
Tanya Mbah Darmi tanpa mempersilahkan Sabar masuk.
"Mbah...enek tamu itu mbokya disuruh masuk sek..."ucap Sabar sambil merangkul Mbah Darmi.
"Walah...wongyo wes koyok omahe dewe ae kok dadak kulanuwon barang."jawab Mbahdarmi sambil menjewer Sabar.
"Aduh Mbah....ampun,lah ilang pamorku iki diguyu kuntilanak."ucap Sabar yang langsung membuat Mbah Darmi berhenti melangkah.
"Tenan to le..?"tanya Mbah Darmi pada Sabar yang hanya cengar cengir mengusap telinganya yang masih panas.
Mbah Darmi yang sebenarnya sudah tau jika ada yang tengah mengganggu rumahnya itu tanpa takut beranjak ke dapur untuk membuat kopi hitam tanpa gula sesuai permintaan Sabar.
Kopi hitam paitan sudah tersaji di meja kayu ruang tamu.
"Sabar tampak tersenyum,dan berucap."
"Nyangopo kog jek nangkreng nek kono."
"Kene mudon,gek ngopi sek."
"Cah Ayu seng penak tuturanmu."
Ucap Sabar dengan tetap menatap lurus ke arah wedang kopinya.
"Macak seng Ayu to,mengko gek tak kepenak ke...hahaha."
Ucap sabar lagi kali ini ia tertawa ngakak dan berhasil mengundang tabokan Mbah Darmi ke pundaknya.
"Bocah edan,arep mbojo kok karo demit."gerutu Mbah Darmi.
"Wes kono kon ndang minggat,ojo oleh ngganggu Anak Putuku."sambung Mbah Darmi.
Warsinah melayang turun ke hadapan Sabar.
Di hisabnya sari wedang paitan tadi.
Warsinah kemudian melayang keluar.
Warsinah kembali malih rupo,menjadi perempuan berdaster merah dan bando oren berjalan keluar gawangan rumah Mbah Darmi.
Pada saat itulah Sabar menunjukkan pada Mbah Darmi.
"Mbah...sampean delok nek gawangan niko."
Sosok perempuan berdaster merah itu keluar gawangan dan menghilang di jalanan yang gelap lebih tepatnya di bawah pohon sukun.
"Wealah...yo alkamdulillah nek wes gelem ngaleh Bar...."ucap Mbah Darmi.
"Lah asline uayu loh Mbah,eman-eman jane."ucap Sabar.
"Woooh...atrae bocah gemblung."ucap Mbah Darmi lagi sambil menabok pundak Sabar lagi.
"Wes Mbah aku tak pamet ae,entok cewek ora,malah ditaboki terus, remuk sum.."Jawab Sabar sambil mengelus pundaknya yang sedikit ngilu.
Sabar pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah Mbah Darmi.
Dia tak lupa mengirim sms pada temanya yaitu Wakid agar membawa Anak dan Istrinya untuk pulang karna situasi sudah aman.
Sabar juga minta pada Wakid untuk memasang sebuah kalung yang dibagian mandel atau liontinya sudah Sabar pasang pager gaib.
Di Rumah Sakit,seorang perawat tengah mendorong jenazah Warso masuk ruang mayat seusai diotopsi.
Sedang Salim sendiri harus menjalani rawat inap karna kaki kirinya mengalami pergeseran sendi.
Kini tampaklah seorang lelaki yang badannya cukup tegap tengah masuk ke ruangan dimana Salim dirawat.
Lelaki yang menggunakan baju batik warna merah maroon itu duduk di kursi menghadap ranjang pasien.
"Lim...ini sebenarnya kenapa kok bisa kejadian kayak gini?" tanya Lelaki tadi.
"Mbuh Kang Karsin,wong awale juga gak ada apa-apa."
"Cuma emang aku itu ngerasa kayak ada yang mengikuti terus sejak pulang dari wayangan."
"Terus si Warso tak ajak pulang lewat jalan besar nggak mau,takut ketemu keluarga Istrine di jalan katanya,makanya malah mileh lewat dalem."
"Warso kayak orang ling lung,tiba-tiba berhenti katane nabrak,padahal gak ada apa-apa."
"Aku ganti nyetir,lah pas nyampe jembatan kok malah ada kunti."
"Abis gitu aku wes ndak sadar,aku sadar wes kejepit wet awar-awar."
"Untung ae,ada orang mau kencing,makane aku tertolong,kalo ndak ya mbuh wes ra ngerti Kang giman nasib ku."
Begitulah cerita Salin kepada Karsin.
Penjelasan panjang dan lebar Salim pada Karsin membuat raut wajah Karsin seketika pucat.
Seperti ada sesuatu yang Karsin tutupi dan kini tengah ketahuan.
Begitulah kiranya gambaran pucatnya wajah Karsin.
Gundah gelisah dan ketakutan tanpa ada yang tau apa sebabnya.
Warsinah yang baru saja diusir oleh Sabar kini melayang menembus pohon dan dedaunan.
Seekor burung hantu bertengger di atas dahan pohon bunga kamboja putih yang terletak di sisi mobil Karsin terparkir.
"Wuuuk wukkk wukk kuk..kukk....wukkk."
Suaranya nyaring terdengar membuat sesiapa saja yang lewat merasa merinding.
Begitu pula Karsin yang baru saja selesai melunasi biaya perawatan kedua anak buahnya itu.
Karsin menstarter mobil,ia bergegas keluar dari parkiran rumah sakit dan segera melajukan mobil merah milik juragannya itu dengan kencang.....
Whuuuuusssssss......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments