Teror 3

"Jangan menangis ngger..."

"Ibu tau kamu ada di sini,sudahi tangismu...."

"Yang ikhlas,pada dasarnya kita hidup itu hanya untuk mati..."

Begitulah yang Karimah ucapkan dengan tetap memejamkan mata,duduk di atas dipan,badan bersandar tembok dan kaki selonjoran.

Karimah juga terlihat terus membaca sesuatu hingga hening.

Benar-benar hening,suara tangisan yang entah dari mana asalnya itu tak lagi terdengar.

Hanya angin dan sesekali suara burung hantulah yang terdengar samar-samar dari tempat Karimah berada.

Sesosok perempuan berdaster putih kini terlempar keluar gapura.

Dan seperti yang sudah pernah terjadi,ia lagi-lagi sampai di satu tempat yaitu pohon mauni.

Perlahan ia melayang turun,ia mengelilingi area perkebunan hingga persawahan yang sudah cukup dekat dengan perumahan warga.

Kini sosoknya tengah duduk di tepi sungai di samping pohon jambu monyet.

Sosok bergaun putih itupun kini menggoyang-goyangkan kakinya.

Sebagian dari kaki dan roknya masuk ke aliran air sungai.

Ia terus bersenandung,ia tampak damai di posisinya saat ini,meskipun air sungai tak mau menyentuhnya,air itu terus mengalir begitu saja menembusnya.

Namun baginya inilah tempat yang bisa membuatnya sangat tenang.

Senandung yang menurutnya merdu itu bagi pendengaran manusia lebih seperti rintihan.

"Hihihi....hi....hihi...hi hi hihi..."

Begitulah Angin menyampaikan suara sosok dari dimensi lain itu.

Tak jauh dari tempatnya berada,nampaklah seorang anak remaja.

Ia dengan santainya menyincing sarungnya ke atas.

Setelahnya ia membuang hajat dengan sangat lega.

Warsinah yang merasa terganggu atas kehadiran si anak terlebih si anak membuang hajat tanpa permisi membuatnya marah.

Ia langsung melayang dan duduk di atas pohon bambu yang berada di sisi kiri si anak.

Warsinah mengerak gerakkan pohon bambu ke atas dan ke bawah.

Warsinah dengan sangat senang duduk di atas salah satu bambu yang melengkung dan ujungnya menjuntai ke sungai.

Si Anak merinding begitu dilihatnya salah satu bambu bergerak sendiri ke atas dan bawah.

Sedang bambu yang lainya tetap diam,begitupun pepohonan yang lain.

"Tidak ada angin,tidak ada orang yang menggerakkan tapi..."

Begitulah gumam sang Anak remaja itu.

Ia segera cebok,dan bergegas pergi sambil membenahi sarungnya yang tadi digulung hingga perut.

Dengan langkah seribu si Anak menembus semak dan rerumputan yang jika di ambil lurus berada di belakang rumahnya itu.

Dengan nafas tersengal-sengal ia berjalan cepat namun sesekali ia menoleh ke belakang.

Dirasanya sudah aman karna sudah dekat dengan dapur,ia pun berhenti sejenak sambil menunduk dengan kedua tangan berada di lutut.

Ketika nafas si Anak mulai teratur ia lantas berjalan menuju dapur,tapi belum lagi ia melangkah jauh dia melihat sekelebat bayangan putih.

Ia perhatikan satu demi satu pohon yang berada di belakang dapurnya itu.

Hingga sorot matanya terhenti di sebuah pohon belinjo.

Pohon belinjo yang ranting daunnya semakin ke ujung semakin mengecil hingga membentuk kerucut itu tampak bergerak-gerak seperti tertiup angin.

Si Anak lantas mendongakkan kepalanya,dilihatnya samar-samar seperti selendang putih berkibar.

Lama-lama selendang itu warnanya sedikit memudar dan membentuk tubuh seorang perempuan.

Ia berdiri mengambang di atas pucuk pohon belinjo.

Dengan tatapan tajam mengarah pada sang Anak.

Bola mata yang putih semua,kelopak mata hitam,rambut lusuh sedikit gimbal,pipi penuh dengan cairan warna merah dan hidung dipenuhi cairan berwarna putih kehijauan.

Bau amis yang sangat busukpun kini tercium dan semakin menyengat masuk ke rongga hidung si Anak.

Kaki si Anak gemetar,lutunya lemah hingga tak mampu menahan beban tubuhnya.

Si Anak ambruk.

"Brukk...."

Warsinah yang tadinya mengambang di atas pohon belinjo itu pun kini turun.

Ia mendekati si Anak yang tengah tergeletak.

Di serapnya seluruh energi si Anak karna rasa takut si Anak yang berlebihan mengeluarkan energi negatif yang cukup besar.

Warsinah tertawa ngikik setelahnya.

"Hihiii....hihiii...hihihihihihihihiiiiiii...."

Warsinah yang tengah marah karna merasa terusik kini dipenuhi oleh kekuatan jahat,semua itu dikarenakan sebagian dari penyebab gentayangannya Warsinah adalah kebencian dan dendamnya pada orang-orang yang sudah menyakitinya semasa ia hidup.

Warsinah kini melayang dan duduk di atas atap rumah sang Anak.

Ayah si Anak yang kini tergeletak tak berdaya itu baru saja pulang dari leb sawah manakala mendengar suara benda jatuh atau ambruk.

Segera ia taruh cangkul dan senter serta slang juga mesin dieselnya.

Setelah semua barang ia turunkan dari gledekan dan di taruh di tempatnya si Bapak segera ke tempat yang ia curigai sebagai tempat suara benda jatuh itu berasal.

Betapa terkejutnya sang Ayah mendapati Anaknya tengah tergeletak tak berdaya di tanah.

"Le...kamu kenapa...?"

"Aduh gusti,Anakku ini kenapa to yo?"

Ucap Sang Ayah sambil membopong tubuh Anaknya itu.

Dengan sedikit keteteran Sang Ayah akhirnya berhasil membawa Anaknya masuk rumah lalu ia baringkan di kamarnya.

"Loh Yah,ini Waras kenapa Yah?"

Tanya Sang Ibu dari anak yang ternyata namanya adalah Waras itu.

"Ya nggak tahu lah Buk,kan Ibuk yang ada di rumah,harusnya Ibuk yang lebih tahu."

Jawab Sang Ayah dengan nada sedikit marah.

Aura Negatif yang tertinggal dari Warsinah yang tengah marah dan dikuasai dendam itu kini masih ada yang menempel pada tubuh si Anak.

Hal itulah yang mempengaruhi orang dan suasana disekitarnya hingga menjadi sedikit runyam juga.

Hawa yang selalu menarik orang untuk ikut,marah,sedih dan benci.

"Astaghfirrulloh Yah...."

"Ibuk kan dari tadi njahit di kamar tengah."

"Waras tadi pamit ke sungai,katanya kebelet."

"Pamitnya aja sambil lari kok"jawab sang Ibuk membela diri.

"Lha terus ini kenapa Buk..."tanya sang Ayah.

"Ya Ibuk juga gak tahu Yah."

"Wes sana Ayah panggilin Mbah Joyo ae sana."

"Takute kesurupan."ucap sang Ibuk.

"Ya udah kalo gitu Ayah berangkat dulu,kamu hati-hati lo,di rumah saja Buk jagain Anakmu !"

Sang Ibuk berjalan ke dapur,ia mengambil sebaskom air dari gentong.

Kemudian beliau ke ruang makan mengambil tremos dan mencampurkan sedikit air panas ke baskomnya tadi.

Sang Ibu kembali ke kamar Anaknya.

Ia mengompres dahi Anaknya,dan sesekali mengelap keringat yang mengalir dipelipis si Anak.

Sang Ibu melihat sekelebat bayangan berjalan ke arah dapur.

Tanpa curiga Ibunya Waras menyibak korden yang menutupi pintu kamar Waras.

Ia menoleh kebelakang,tapi sunyi....

Sang Ibu termangu,ia yakin kalau matanya masih jeli dan tidak mungkin salah lihat.

Seketika ia merinding,dipegangnya tengkuk yang kini merasa sedikit kaku.

"Tok tok tok....Yu...Yu Rasemi..."

"Kulanuwon..."

"Ini saya Mbah Joyo"

Rasemi yang tengah berdiri sambil memegang tengkuknya dan terus menatap ke arah dapur itupun kini tersadar.

Dengan sedikit buru-buru ia berjalan ke depan dan segera menuju ke pintu ruang tamu.

"Mbah...Monggo-monggo,silahkan masuk..."

Ucap Rasemi dengan ramah,namun masih berusaha menutupi kegugupannya

Mbah Joyo masuk ke ruang tamu.

"Assalamualaikum...."

"Healah nggerr koe to seng dolan rene.."

Ucap Mbah Joyo,dengan menatap nanar ke arah dapur.

Pandangan mata Mbah Joyo tampak tajam,namun terlihat kilat-kilat kesedihan di dalamnya.

Terpopuler

Comments

Dehan

Dehan

penjahit cantik sudah mampir ya kak.. sudah aku favoritin juga

2022-10-29

1

Yuli Fitria

Yuli Fitria

Waras. Situ Waras? wkwk berasa di ejek padahal namanya ya.. 🤭😁

2022-07-04

1

Yuli Fitria

Yuli Fitria

Aih jadi pengin jambu monyet 😂

2022-07-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!