Hantu Warsinah yang sudah kepanasan akhirnya menyerah.
Ia melepas pegangan tangannya yang sudah seperti prangko dari leher Katiyem.
Segera ia melayang menembus dinding rumah Katiyem.
Sudah hampir pukul empat sore,setelah pembersihan Katiem dari aura hitam yang ditinggalkan Warsinah kini Ustadz Ahmad pun pamit undur diri.
Katiyem tetap berbaring di dipan yang di letakkan di sisi kiri kursi ruang tamu.
Sebelum pulang Ustadz Ahmad sempat berpesan agar Katiyem selalu di temani.
Di ajak bicara,dan tidak sampai melamun.
Beliau juga berpesan pada Katiyem yang sudah mulai sadar untuk terus beristighfar,berserah diri dan hanya berlindung kepada Alloh swt semata.
Katiyem yang mulai tenang pun kini menyadari jika terlalu banyak bicara dan mencampuri yang bukan urusannya adalah hal yang benar-benar tidak ada gunanya, bahkan merugikan dirinya sendiri.
Andai saja ia tak mau peduli dengan yang namanya Hantu Warsinah.
Andai saja ia tak terlalu banyak membicarakan yang bukan urusanya termasuk hal yang bersangkutan dengan hantu Warsinah.
Andai saja ia lebih memilih diam dan tak mau tau atau pun mencari tau hal-hal yang bersangkutan dengan hantu Warsinah.
Menjaga lisan itu sangat penting.
Selain menjaga agar tidak menyakiti hati orang lain,hal itu juga melindungi kita dari hal buruk.
Faktanya banyak sekali kejahatan yang bermotif balas dendam karna sakit hati.
Kenapa demikian ?
Yah lagi-lagi karna lisan,mungkin karna itulah ada pepatah yang mengatakan bahwa lidah lebih tajam dari pada pedang sekalipun.
Di saat Katiem tengah menyadari kesalahannya hantu Warsinah justru sebaliknya.
Ia kini sedang bermain ayunan di pohon beringin di tepi sumber air.
Pohon beringin yang ridang,daun lebat juga akar yang tumbuh menjuntai hingga tanah itu nyatanya menjadi tempat nyaman bagi Warsinah.
Warsinah yang terus saja cekikikan dan kadang mengis itu memancing datangnya sosok lain.
Sosok tinggi besar dengan mata merah gigi taring runcing dan panjang,tubuh berbulu dan mulut seperti binatang itu mendekati Warsinah.
Warsinah yang energinya terkuras habis tak bisa mengelak.
Terlebih panasnya kalammulloh masih ia rasa,ya tubuh warsinah yang tanpa raga itu hampir saja lenyap terbakar.
Mahluk tinggi besar itu mendekati Warsinah.
Ia akan memberi Warsinah kekuatan agar bisa membalas dendam dengan syarat Warsinah harus mau menjadi pengikutnya untuk menjerumuskan manusia.
Warsinah yang pada dasarnya terwujut oleh besarnya kebencian dan dendam itupun akhirnya mau.
Mahluk tinggi besar itu mengulurkan sesuatu berwarna merah tepat di puncak kepala Warsinah.
Sinar merah berpedar pada jiwa tanpa raga Warsinah.
Kuku tajam tumbuh bersamaan berubahnya sorot mata Warsinah yang berganti merah menyala.
Warsinah kini melayang,ia tertawa cekikian.
"Hihi...hi...hii...hihi...hihii..."
Sesekali pakaian Warsinah yang biasanya putih kumel berubah menjadi merah.
Warsinah terbang lebih tinggi.
Kini ia berdiri di pucuk pohon beringin.
Warsinah sudah dikuasai oleh kekuatan iblis.
Ia bukan lagi hantu yang hanya menakuti manusia.
Kini ia menjelma menjadi setan yang menjerumuskan bahkan akan mencelakai yang ia anggap musuh.
Warsinah yang hanya teringat keburukan orang-orang yang menyakitinya semasa hidup itu terkadang menangis.
Dan ia yang sudah siap membalaskan dendamnya pun jadi tertawa.
Ketika Warsinah menangis air mata darah dan ingus nanah keluar dari mata dan hidung nya.
Ketika ia tertawa retakan kepalanya menganga karna ia tengah berada pada puncak kekuatannya.
Kekuatan yang ia dapat dari besarnya dendam.
Warsinah tetap berdiri tegap di atas pohon beringin,mata merahnya menatap nyalang keseluruh penjuru arah di dalam kegelapan malam.
Sumber air yang letaknya cukup jauh dari pemukiman warga itu kini menjadi hunian baru bagi Warsinah.
Warsinah melayang menembus pohon dan dedaunan.
Warsinah terus saja tertawa cekikikan dan berganti menangis kesenggukan.
Nanah dari hidungnya dan darah dari mata juga retakan kepalanya terus menetes.
Menebarkan bau busuk yang sangat menyengat bagi manusia yang punya peka terhadap mahluk astral sepertinya.
Bau busuk juga bisa terhirup oleh orang-orang yang memang sengaja Warsinah ingin goda.
Seperti saat ini,ia tengah ke sebuah rumah yang mana penghuninya tengah bermain panas.
Dua orang yang bukan Suami Istri itu mendengar suara orang menangis.
Si laki-laki lantas keluar rumah untuk mengecek.
Ia melihat sesosok perempuan tengah duduk di lincak depan rumah itu.
Di datanginya sosok tersebut,dan ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Dek...Adek kenapa menangis ?"
"Adek sakit atau kenapa?"
"Apa ada yang bisa saya bantu ?"
Warsinah tak menjawab.
Ia terus saja menangis kesenggukan.
Lama kelamaan tangisannya semakin kencang dan terdengar seperti tertawa.
"Hihi..hii..hihi..hiihi...hihii..hii..hihihi"
Saat itulah Warsinah menoleh, menampakkan mata merahnya.
Darah juga nanah yang terus menetes.
Dan seketika bau amis dan busuk menyengat dengan tajam.
Si lelaki yang jaraknya cukup dekat dengan Warsinah tak lagi bisa berbuat apa-apa.
Ia bahkan terkencing di celana,karna kedua kakinya gemetar dan tak bisa di gerakkan.
Warsinah melayang menjauh dengan tetap cekikian.
Ia meninggalkan sang lekaki yang hampir mati berdiri karna melihatnya itu begitu saja.
Warsinah kini bergelantung di pohon petai.
Dia tengah memperhatikan tiga orang yang tengah jaga malam.
Tiga orang yang keliling kampung itu tak menyadari adanya Warsinah yang menyeringai menatap mereka.
Warsinah yang tengah menunggu mangsanya mendekat itu kini sudah siap melancarkan aksinya.
Tiga orang yang salah satunya adalah Tukiyo itu sudah sangat dekat dengan pohoh petai.
Warsinah kinipun membalikkan badanya.
Warsinah yang duduk di dahan pohon petai kini membalikkan badan dan kepalanya ke tanah.
Dengan posisi terbalik,warsinah tampak lebih nyeramkan.
Tiga orang laki-laki yang belum jelas betul dengan apa yang mereka lihat itupun semakin mendekat.
Mereka ingin memastikan jika yang berada didepan mereka bukanlah orang yang mati gantung diri.
Warsinah membuka matanya yang merah menyala.
Ia menyeringai lalu tertawa kemudian menghilang.
Wujud yang sudah menghilang tapi suara tawanya masih sangat nyaring itu semakin membuat tiga pria penakut dan minim iman itu ketakutan hingga lari kocar kacir entah kemana.
Warsinah kini melayang menuju gapura desa.
Kekuatan dari mahluk tinggi besar penunggu dam sembilan mata air itu sudah membuat Warsinah semakin gila akan dendamnya.
Warsinah terus melayang hingga sampailah ia ke sebuah gapura.
Gapura pembatas desa yang biasanya tak bisa ia tembus itu akhirnya bisa ia lewati.
Warsinah keluar dari gapura dan ia langsung sampai di sebuah rumah papan.
Rumah yang sudah cukup reot untuk di tempati.
Warsinah kembali bertengger di salah satu dahan pohon bunga kenanga.
Aroma wewangian bunga,dupa,dan kemenyan menariknya untuk sampai ke tempat itu.
Hingga seorang pria tua dengan kalung tengkorak kepala manusia muncul dari balik pintu rumah reot itu.
Lalu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments