Teror 2

"Braaakk...."

Jendela kamar terbuka dengan keras.

Tukiyo yang melihat penampakan hantu Warsinah yang menyeramkan itu pun berteriak,kemudian pingsan.

Ke esokan harinya,kampung dibanjiri oleh kasak kusuk warga atas teror perempuan menangis di tengah malam.

Di pasar,di sawah,warung bahkan di sungai pun,para warga yang tengah mandi atau sekedarnya buang hajat hanya berbicara dengan topik yang sama.

Ada yang bercerita bahwa dia mendengar sendiri,ada pula yang bercerita dengan modal katanya,namun dibubuhi berbagai bumbu tambahan racikan sendiri.

Istri Tukiyo yang namanya Karimah itu kini bekerja menanam padi di sawah seorang juragan tanah.

Dan pada waktu jam makan siang,Ia mendengar salah seorang buruh tengah bercerita tentang adanya teror perempuan menangis.

"Masak sih Yu Yem...beneran itu Suamimu denger sendiri?"tanya buruh lain yang tengah penasaran.

"Iya Yu Rod,lawong Suamiku kan pas lagi nglinting rokok,terus denger suara orang nagis,tapi lirih banget,surannya kayak di jalan."

"Lha pas suamiku ngintip dari jendela kok ndak ada siapa-siapa."

"Ya karna merinding akhirnya dia baca-baca aja sebisanya."

"Habis gitu udah gak ada suara apa-apa lagi."

"Kog gitu ya Yu Yem?"tanya buruh yang namanya Rodiyah.

"Ya iyalah ndak denger lawong orange saking takute terus nyusul aku kekamar,terus tidur kok..."

"Hehe.."buruh yang bernama Katiyem itu pun nyengir.

Istri Tukiyo yang tengah menikmati santap siangnya tidak menyahut sedikitpun.

Ia merasa iba pada mahluk Alloh yang kini tengah tersesat di alam yang salah itu.

Sore hari pun tiba,Ibu-ibu buruh sawah dan ladang sudah saatnya pulang ke rumah masing-masing.

Mereka berjalan bergerombol sesuai dengan grup kerja mereka masing-masing.

Saling bertegur sapa dan tertawa jika saling bertemu karna arah rumah yang berbeda.

Itulah bahagianya hidup di pedesaan.

Alam yang damai jauh dari hiruk pikuk bisingnya kemacetan kota.

Tapi justru dari kedamaian alam yang tenang itulah ada begitu banyak rahasia yang harus dijaga.

Kita dituntut untuk tidak boleh sembrono,dan senonoh.

Menghargai,menghormati dan menjaga adat istiadat dengan sikap dan tindak tanduk yang santun.

Selalu andap asor lembah manah.

Menjaga ucapan dan tindakan.

Dari segala yang harus kita lakukan untuk alam,begitu juga alam memberikam keasriannya kepada kita.

Itulah sebabnya kenapa sering kali anak kota yang datanag ke desa selalu melanggar aturan.

Karna mereka tidak kenal pamali dan hanya tahu tahayul.

Ya,begitulah anak kota,meskipun tidak semuanya.

Istri Tukiyo berjalan di perkebunan sayur,masih di area persawahan bersama ketiga temannya.

Ke empat perempuan itu kini tengan menggendong tomblok untuk membawa alat pertanian dan bekal makan siang mereka.

Di kampung memang lebih sering memilih buruh borongan.

Alasannya adalan untuk mempermudah sang pemilik kebun atau sawah karna tidak lagi perlu menyiapkan makanan untuk buruhnya.

Kini mereka hampir sampai di pertigaan.

Mereka akan berbelok ke arah kampung,namun ketika mereka melihat ke arah kebun kopi yang jika kesana maka hanya tinggal berjalan lurus saja.

Tampak seperti ada seseorang yang menyebrang jalan.

Orang berlari dari sisi kanan jalan menuju kiri jalan yang mana disitu terdapat pohon mauni yang cukup besar.

Istri Tukiyo yang mampu merasakan aura mistis yang cukup kental itu meminta semua rekan kerjanya untuk buru-buru pulang karna hari sudah petang.

Yah,sudah hampir pukul lima sore.

Adzan magrib berkumandang.

~

Pratman kini mengambil wudhu di pos jaganya,didepan vila tua yang bahkan ia sendiri tak tahu pemilik aslinya siapa.

Warsinah yang masih saja tidak bisa menerima kenyataan kalau ia sudah mati itu kini masih saja berusaha menyentuh apapun yang ada disekitarnya.

Ia berlari kesana kemari,menembus pohon dan juga tembok pembatas jalan.

Anehnya ia hanya akan bisa menyentuh bahkan duduk di atas dahan pohon mauni.

Pohon yang menjadi saksi atas akhir kehidupanya.

Bahkan akar pohon itu juga yang menjadi penompang saat tetes demi tetes darah,air mata yang bercampur ingus,mengalir di akhir hayatnya.

Dan pohon itu pulalah satu-satunya yang kini bisa ditempati oleh Hantu Warsinah sekedarnya untuk melampiaskan marah dan lelah karna ia tidak bisa keluar dari daerah itu.

Di tempat lain.

"Lapor komandan."

"laporkan."

"Siap laporkan"

"Ini laporan perempuan tanpa identitas yang meninggal di duga tabrak lari sepuluh hari yang lalu."

"Diagnosa dokter juga menyatakan kalau ini tabrak lari,"

Seorang lelaki bertubuh tegap yang dipanggil Komandan itu berbicara sendiri.

Seolah ia tengah berfikir atau memprediksi sesuatu.

"Kita kerumah sakit."Perintahnya sambil berdiri dari kursi kerjanya.

Dirumah sakit sang Pria tengah berbicara dengan Dokter.

Selang lima belas menit,ia lngsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk membantu dan mengawasi tim medis untuk melakukan pemakaman di lahan yang sudah disediakan rumah sakit.

Karna tidak diketahui identitasnya,akhirnya di nisan hanya tertulis Hamba Alloh,dan juga tanggal penemuan jenazah serta tanggal pemakaman.

Warsinah sendiri merasa sebagian energinya menghilang.

Entah karna apa.

Ia yang biasanya bisa terbang mengambang dengan cepat mengelilingi kampung kini dirasanya menjadi lebih lama.

Dirasanya hal yang berbeda,ia seakan semakin memudar,dan benar-benar melebur bersama angin.

Energi nya yang dulu masih bisa menggerakkan rumput ketika ia mengambang kini telah tiada.

"Apa lagi ini..."

Ucapnya sambil mencoba meraih bunga sepatu merah yang tumbuh liar dibahu jalan.

Tapi lagi-lagi tembus.

Warsinah kembali menangis.

Tangisan yang sangat menyayat hati,dan penuh kepiluan.

Di pemakaman sendiri semua proses telah selesai.

Para orang baik yang dengan tulus mau memakamkan dan mendoakan sesamanya meski tak saling kenal itu kini telah selesai melakukan semua proses pemakaman.

Mereka semua kembali pada posisi mereka masing-masing.

Menjadi pekerja yang harus menjalankan tugasnya.

Istri Tukiyo yang baru saja selesai sholat magrib berjamaah di mushola kini berjalan pulang kerumahnya.

Terlintas dalam benaknya ingin kembali membuka mata batinnya dengan cara sowan ke tempat Mbah Kyai tempatnya mondok dulu.

Hatinya tersentuh untuk membantu sosok perempuan yang kini tengah meneror kampung halaman suaminya itu.

Ia tahu betul,dan ia yakin ada sesuatu yang menyebabkan hantu perempuan itu berkeliaran.

Warsinah yang merasa terpanggil pun datang kerumah Tukiyo.

Bersamaan dengan Tukiyo yang keluar rumah untuk pergi berjaga ke pos ronda.

Berjaga,itulah alasan mereka.

Tapi yang sebenarnya bukanlah berjaga,melainkan ngobrol,ngopi,sambil main karambol.

Tukiyo berjalan keteras rumahnya,ia melihat sekelebat bayangan putih dari jalan menuju samping rumah.

Ia buru-buru mengayuh sepeda ontelnya menuju pos ronda,dengan berbekalkan senter yang sudah ia cas sampai penuh,dan sarung yang ia kalungkan di pundaknya.

Saking ngebutnya Tukiyo sampai hampir saja menabrak istrinya yang berada di bahu jalan samping rumah.

"Masya Alloh Bapak...."

"Magrib-magrib kog kaya gitu."

Ucap Istri Tukiyo sambil mengelus dadanya.

Saat Istri Tukiyo sampai di rumah,ia merasa ada sesuatu yang tak beres.

Dan.....

Terpopuler

Comments

Dehan

Dehan

,kalo di film2 pasti ngagetin nih..

2022-10-29

1

Cila Mici

Cila Mici

nnti tek lanjut.. hihihi

2022-07-30

1

Cila Mici

Cila Mici

"Masa sih, Yu Yem... Beneran itu suamimu dengar sendiri?" Tanya buruh lain yang penasaran.

seperti ituh kura kura

2022-07-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!