Suami Katiyem pulang dengan lesu.
Ia tak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.
Sesampainya di rumah,ia sangat kaget mendapati banyaknya warga yang tengah mengerumpuni rumahnya.
"Lek yah...ini kenapa kok jadi banyak banget warga yang datang?"tanya Suami Katiyem pada tetangga yang tadi ia titipi untuk menjaga Istrinya itu.
"Itu lo dek Tomo,Istrimu teriak-teriak,badannya dicakarin sendiri,"
"Makanya tadi saya teriak minta tolong,ya akhirnya warga pada datang."jawab perempuan yang di panggil Lek Yah.
"Ini sebenernya kenapa sih Dek Tomo?"tanya seorang Laki-laki yang usianya lebih tua dari Sutomo.
"Saya juga nggak tau Pak Dikin,la wong tadi pas bangun tidur udah kayak gitu."
"Semalam juga kan pas dia pulang saya belum pulang masih ngusung kopi nek tempate juragan Ali."
"Saya pulang Udah hampir isya',saya lihat Istri saya sudah tidur."
"Tak pikir ya lagi capek makanya tidur lebih awal,tapi sampai tadi pagi itu udah jam enam belum bangun,pas saya bangunin udah ngrintih-ngrintih tapi kadang tertawa cekikikan."tutur Tomo menceritakan kejadian yang Istrinya alami.
"Wo gitu,yowes sana tanya ke Rodiyah atau kalau nggak tanya ke Karimah,siapa tau mereka juga sama ada yang janggal."
"Aku tak ke rumahe besan ku,itu Mas Ipare Yahya Suamine Anakku si Ajeng,kan Ustdz to nek Sidomulyo."
"Oh nggeh Pak Kin...matur suwon lo nggeh...,ngapunten mpun ngeropti."Ucap Tomo yang merasa sungkan sudah merepotkan tetangganya itu.
{Oh yaudah,Trimakasih loh Pak Dikin,maaf sudah merepotkan.}
Tomo beranjak dari duduknya bersamaan dengan berangkatnya Pak Sodikin kerumah Besannya.
Tomo menuju rumah Rodiyah,tapi pintu rumah Rodiyah tertutup rapat,dan tampak sebuah gembok kuningan ukuran dua ruas jari menggelantung didepan lubang kunci pintu.
Ia kemudian mengayuh sepeda ontelnya lagi ke rumah Karimah,dan naasnya Karimah juga tak ada di rumah.
Saat Tomo keluar dari teras rumah Karimah,ia melihat Tukiyo Suami Karimah tengah menuntun sepedah ontelnya yang membonceng daun sengon yang di ikat dengan karet ban.
Untingan Daun sengon yang cukup bersar membuat Tukiyo sedikit terseok-seok.
"Kang Yo..."panggil Tomo.
"Lah,koe tah Mo,ono opo..?"
Jawab Tukiyo dengan logatnya yang sedikit kemlelet.(sok berani).
"Oeh itu lo kang,Mbak Mah sekarang kira-kira nek mana ya?"
"Istriku kayak orang kesurupan,teriak-teriak dewe."
"Siapa tau Mbak Mah juga ngalami kejanggalan Kang."cerita Tomo pada Tukiyo,sambil membantu Tukiyo membongkar untingan daun sengon dan di angkat ke kandang kambing.
"Sebentar tak makani kambingku,habis itu tak anter kamu ke tempat kerjane Mbak Yu mu."
Tukiyo dan Tomo menaiki sepeda ontel menuju ke sawah.
Ia menyusul Karimah Istrinya dan juga Rodiyah yang tengah matun di sawah salah seorang juragan tanah.
Sesampainya di sawah Pak Juki,Tukiyo segera turun ke galengan.
"Bu...Bune..."teriak Tukiyo.
Karimah yang tengah mencabuti rumput yang tumbuh di sela-sela pohon jagungpun menyahuti suaminya.
"Iya Pak..."
"Ada apa?"
"Tumben kok nyusul?"tanya Karimah berentetan karna merasa heran.
"Itu lo kamu di cari sama Tomo Bune..."jawab Tukiyo.
"Iya Yu...aku yang minta di anter ke sini tadi,"sahut Tomo sambil ikut melompat turun ke galengan sawah.
"Ealah ada apa,kog tumben pada kesini ini?"tanya Karimah beralih pada Tomo.
"Itu lo Yu Mah...Istriku dari semalam tidur terus,la pagi tadi jam enam kok ndak bangun,pas tak bangunin malah kaya wong kesurupan."
"Ngrintih-ngrintih habis gitu ketawa nyekikik,tarus kadang ngeluh sakit,lha barusan kan aku kerumah Mbah Joyo tapi orange nggak ada,terus pas aku pulang kerumah sudah banyak orang,katanya tadi Katiyem sempat ngamuk nyakar-nyakar."
"Kira-kira Yu Mah tau ndak kenapa bisa begitu,atau mungkin Yu Mah juga ada hal janggal."
"Lha terus sekarang Katiyem dimana,sama siapa?"ucap Karimah yang malah panik sendiri tanpa menjawab pertanyaan Tomo.
"Yu...Yu Rod....sini Yu..."teriak Karimah memanggil temannya yang juga tengah mencabuti rumput tapi di bagian yang lain.
"Iya,ada apa Yu Mah..?"tanya Rodiyah.
"Itu lo Yu Rod,Katiyem kesurupan,wes ayok kita balik saja,kita kerumahe Katiyem dulu."
"Aku pengen lihat keadaanne."ucap Karimah.
Akhirnya Keempat orang itupun pulang,setelah memberesi alat pertanian dan bekal makan siangnya yang masih utuh.
Karimah naik keboncengan suaminya dan Rodiyah di bonceng oleh Tomo Suami Katiyem.
Sepeda ontel sudah dikayuh,ke empat orang tengah dalam perjalanan pulang.
Sementara di rumah,Katiyem kini ia tengah meringkuk di dipan ruang tamu.
Kakinya dan tangannya di ikat menggunakan centing.
Ia masih saja berbicara ngelantur.
Ngoceh ngalor ngidul,menangis,tertawa dan sesekali ia minta ampun.
"Ampun..aduh sakit...ampun,sakit."
"Haha..haha..hahaha...ha haha..."
"Aduh sakit...hihi..hihihii...."
"sakkit...hihihi..."
Seperti itulah rancauan Katiem.
Tomo,Rodiyah dan Tukiyo juga Karimah kini telah sampai rumah Katiyem.
Karimah lagi-lagi bisa merasakan kehadiran Hantu Warsinah.
Karimah mendekati Katiyem,dan di pegangnya telapak tangan Katiyem.
Karimah tampak menejamkan mata,ia seperti mencoba berinteraksi dengan sosok yang kini tengah mengganggu teman kerja sekaligus tetangganya itu.
Karimah lantas membaca sesuatu,semua itu tampak dari kedua bibir Karimah yang terlihat bergerak-gerak.
Tangan kiri Karimah bergerak memegang pergelangan tangan Katiyem.
Dan tangan kakan Karimah kini menekan selah-selah ibu jari dan telunjuk Katiyem.
Karimah tampak semakin serius membaca sesuatu.
Akhirnya Katiyempun Pingsan.
Karimah tak yakin jika Katiyem telah seratus persen bersih dari pengaruh sosok hantu yang mengganggunya.
Iapun meminta semua orang untuk bersiaga menjaga Katiyem.
Sejam berlalu,Katiyem masih saja terlena dalam dunia bawah sadarnya.
Kini di depan tampak seorang Ustadz muda turun dari mobil jeep warna hijau lumut.
Ustadz Ahmad,Anaknya Kyai Mujib dari Dukuh Sidorejo.
Sang Ustadz tampan kini mendekati Katiyem.
Ia meletakkan tanganya yang sudah mengenakan sarung tangan kulit itu di puncak kepala Katiyem.
Katiyem yang tadinya tidur pulas itu langsung terbangun.
Katiyem seperti tersengat aliran listrik hingga membuatnya terlonjak kaget.
Ustadz Ahmad pun tersenyum.
"Assalamualaikum Buk..."ia mengucap salam menghadap Katiyem.
"Kok nggak di jawab sih,Ibuk e memang bukan muslimah apa?"tanyanya lagi,sambil sedikit tersenyum.
Katiyem melengos,ia seperti bertemu musuh.
"Atau ini bukan Buk Katiyem ya,ayo ngaku.."tambah sang Ustadz.
Kali ini Katiyem pun menjawab dengan singkat serta cepat,dengan memggunakan intonasi dan nada sinis.
"Bukan"ucap Katiyem.
"Lha terus siapa ini kalau bukan Bu Katiyem?"
"Terus kenapa di sini,ini kan rumah Bu katiyem?"
Kembali Ustad Ahmad bersuara,ia tetap lembut namun tegas.
"Kamu mau pulang kerumahmu sendiri apa saya antar?"
"Kalau mau sendiri ya monggo,kalau nggak mau ya terpaksa saya yang pulangkan kamu ke tempat mu yang seharusnya."
Ustadz Ahmad mencerca Katiyem yang tengah di kendalikan oleh Hantu Warsinah dengan ucapan lembut,tp penuh penekanan.
Katiyem tertawa cekikian.
Iya Lantas meminta syarat.
"Ayam cemani"
"Hihi hihi hi...hihi...hi...hi...hihihihi"
"Keluar tanpa syarat atau saya paksa"
"Kami hamba Alloh bukan budakmu."
Kini suara Ustadz Ahmad sedikit ia tinggikan.
Sang Ustadz lantas melafalkan ayat suci Al Qur'an.
Kemudian....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments