Jenazah Warso tiba di rumah duka pada pukul sebelas siang.
Karsin dengan sedikit berat hati terpaksa mengikuti titah sang juragan untuk mengantarnya pergi melayat.
Bukan karna malas,tetapi karna rumah Warso berdekatan dengan istri kedua Karsin.
Perempuan kampung yang ia nikahi karna nafsu.
Tanpa adanya ijin apalagi restu dari Istri pertamanya atau pun dari Orang tuanya.
Karsin yang hanya ingin main-main itu lantas meninggalkan istri barunya itu dalam keadaan tengah mengandung.
Ia hanya sesekali menitipkan uang pada Warso untuk sang Istri.
Warso yang sering mendapat tips dari Karsin pun dengan senang hati mengiyakan saja apa pun itu yang Karsin suruh.
Salah satunya ialah,ia hanya boleh mengatakan jika ia mengantar uang nafkah dari bos,tanpa boleh mennyebut nama atau pun alamat lengkap Karsin.
Semua itu Karsin lakukan dari awal mula ia menikahi gadis tersebut.
Flash back on.
"Oh iya gan,nanti saya langsung kesana."
"Baik gan,tapi ini saya mau jemput Warso dulu gan,katanya ban motornya bocor."
"Baik gan,"
Lelaki yang sudah berumur itu menutup panggilan telpon dari sang juragan.
Ia kemudian menstarter kol gundul(mobil bak) milik juraganya itu ke sebuah desa yang lumayan jauh dari tempatnya tinggal.
Hampir dua jam berlalu,kini Karsin telah sampai di sebuah desa yang cukup terpelosok.
Dengan sangat jengkel Karsin mengemudikan mobil bak itu memasuki sebuah area persawahan yang menjadi penghubung jalan masuk desa menuju dusun.
Karsin yang tengah jengkel itu mengemudi dengan sangat ngebut.
Hingga saat ia berbelok ia tidak berhati-hati dan menabrak seorang perempuan yang tengah menenteng sebuah rantang.
Karsin dengan sigap mengerem dan ia segera turun dari mobil tatkala melihat si perempuan sudah tertunduk dengan memegangi pergelangan kakinya.
Perempuan yang ternyata masih gadis itu berusaha berdiri sambil meraih rantangnya yang terlempar ke pinggir roda mobil.
"Maaf,saya benar-benar ndak sengaja."ucap Karsin.
"Oh iya,ndak apa kok Mas."
Ucap sang gadis sambil tertunduk,kemudian berusaha berjalan dengan tertatih.
Karsin yang tidak tega akhirnya memilih mengikuti si gadis.
"Dek tunggu..."
"Kalo boleh tau Adek namnya siapa,terus ini mau kemana?"
Ucap Karsin sambil terus membuntuti si gadis yang masih saja menunduk.
"Saya mau ke sawah,nganter makanan buat Bapak."
"Kakinyakan masih sakit,biar saya antar saja."ucap Karsin.
"Ndak usah,ndak papa kok,nanti dirumah biar diurut sama simbok."jawab si gadis lagi.
"Ya sudah kalau gitu,tapi saya boleh tau kan nama adek siapa terus rumahnya yang mana."
"Saya udah nabrak Adek jadi saya harus tanggung jawab."
Ucap Karsin dengan sungguh-sungguh.
"Saya Endang,rumah saya di dusun itu,rumah nomor empat kalo dari sini,sebelah kiri."jelas Endang dengan menunjuk menggukan ibu jarinya mengarah ke tempat ia tinggal.
"Oh baiklah kalau gitu."
"Saya permisi dulu,nanti sore saya akan kerumah mu."ucap Karsin.
Endang yang dari tadi malu-malu kini mendongak dan tersenyum.
Senyum manis yang membuat hati Karsin berdebar.
Bibir tipis warna merah jambu,kulit putih,body mungil,khas perempuan pedesaan dengan ayu alami.
Terlebih ketika Karsin mengulurkan tangan dan Endang membalasnya,terasa begitu lembut sentuhan kulit sang gadis desa itu.
"Saya.....Seno.."ucap Karsin ragu-ragu.
Endang hanya mengangguk dan tersenyum.
Ia lantas permisi untuk pergi kesawah mengantar bekal makan siang Bapaknya.
Karsin terus saja menatap Endang hingga Endang masuk ke area persawahan baru kemudian Karsin kembali ke mobilnya saat Endang telah enyah dari pandangan.
"Ayu tenan kamu ndang..." gumam Karsin sambil sesekali memukul setir mobilnya.
Karsin kini telah sampai di rumah Warso.
Ia menekan Klakson beberapa kali dan tampaklah Warso berlari keluar rumah sambil menakai jaket hitamnya.
Warso naik ke mobil,dan keduanya pun segera melaju menuju perkebunan sayur organik.
Sesuai apa yang Juraganya pesan,Karsin harus bisa kirim sayur organik sebanyak dua pikep,dan harus sudah sampai di jakarta lusa pagi.
Siang berganti sore,semua buruh petik dan buruh pilih sudah dikerahkan.
Bisa dipastikan jika besok siang sayuran yang sang Juragan inginkan sudah siap dikirim.
Kini Karsin kembali mengantar Warso kerumahnya tapi sebelum itu ia mengajak Warso datang kerumah Endang untuk mengantar uang ganti rugi.
Karsin masuk kepelataran rumah papan yang terasnya sangat lebar.
Ia memparkirkan mobilnya dibawah pohon jambu air yang letaknya di sisi kiri rumah itu.
Karsin mengetuk pintu kayu yang bercat biru beberapa kali hingga terdengar jawaban dari dalam rumah.
"Nggih monggo....sinten nggeh..."tanya seorang Bapak-bapak.
"Pak..."suara Endang mengagetkan kedua lelaki beda usia itu.
"Itu yang tadi ndak sengaja nyerempet Endang."ucap Endang pada Bapaknya.
"Woh,Den Seno toh ini,ayo silahkan masuk."
Ucap sang Bapak dengan ramah.
Karsin masuk ke rumah Endang bersama Bapaknya Endang,sedang Warso pamit pulang untuk mandi dan ganti baju karna ia akan ikut Karsin kerumah Seno.
Karsin yang tadinya hanya iseng menggunakan nama bosnya itu kini merasa canggung dipanggil Seno.
Sebenarnya ia juga merasa bersalah pada sang Bos.
Tapi apa mau di kata,sudah terlanjur,mungkin itulah kata yang tepat bagi Karsin yang sebenarnya tak ada niatan untuk berpura-pura menjadi seorang Juragan Seno.
"Jadi gini Pak,ceritanya tadi kan saya buru-buru mau kerumah Warso,mau ninjau ke kebun Pak,soalnya ada beberapa pesanan dari kota yang minta harus dikirim secepatnya."
"Saya nyetirnya agak ngebut sampai pas di belokan agak telat ngerim,jadi sempat nabrak Dik Endang."
"Terus maksut saya datang kesini tadi mau menyerahkan ini,sebagai permintaan maaf dan ganti rugi,biar bisa buat berobat Dik Endang."
Terang Karsin pada Bapaknya Endang sembari menyerahkan sebuah angklop putih ukuran kecil khas orang hajatan.
"Walah,Den Seno ndak usah sungkan,tadi Endang juga cerita,si Endangnya juga lagi meleng,sambil nyanyi di jalan sampai ndank lihat kalau ada mobil."
"Jadi ya kejadian tadi itu ndak sepenuhnya salah aden..."
Jawab Bapaknya Endang dengan sungkan pada Karsin yang masih dianggapnya adalah sang juragan.
Percakapan berlanjut,semakin mendalam.
Semakin Karsin korek semua tentang Endang semakin malu dan bersemu merahlah kulit putih Endang.
Nasi benar- benar telah menjadi bubur,pesona si gadis desa yang masih polos itu membuat Karsin kelonjatan untuk menahan diri agar tidak terus menatapnya.
Ia yang kini tengah menggunakan nama dan identitas Juraganya itu kebingungan sendiri.
Tapi apalah daya,setan dalam hati karsin sudah menempati singgasana.
Hari berganti hari,semakin sering Karsin datang ke rumah Endang dengan alasan mampir dari rumah Warso.
Di setiap datang ke rumah,Karsin selalu mengajak Endang keluar sekedarnya keliling desa atau kecamatan setempat mencari warung untuk makan berdua.
Benih-benih cinta tumbuh dihati Endang,hingga hari naas itu terjadi.
Kejadian di dalam mobil,di sebuah jalan menuju hutan jati,yang letaknya tak jauh dari rumah Endang,tragedi mobil bergoyang itu menjadi kejadian yang mengharuskan Karsin menikahi Endang.
Endang sudah berbadan dua,dan ia pun harus mau menerima kenyataan jika pria yang ia cintai itu telah memiliki Istri di kota.
Endang juga harus bisa menerima kenyataan jika ia akan menjadi istri ke dua.
Pernikahanpun dilangsungkan saat kandungan Endang berusia tiga bulan.
Dari saat itu Karsin menjadi jarang menemui Endang,ia hanya sesekali menitipkan uang untuk endang dan calon anak mereka.
Karsin ketakutan,karna ia menikahi Endang dengan menggunakan identitas Seno.
Rasa takut ketahuan Keluarga Endang dan juga Seno membuat Karsin lebih memilih bersembunyi dari istrinya yang tengah mengandung itu.
Bahkan saking takutnya,Karsinpun tak datang ketika ia mendapat kabar jika Endang telah melahirkan.
Dia lebih memilih memberi uang tips lebih kepada Warso sebagai uang tutup mulut atas keberadaanya agar tetap aman.
Flash back off.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Yuli Fitria
Lanjut Warsinah aku menunggu up mu 😘
2022-07-19
1