Songo

Kicau merdu burung burung kecil terdengar dari atas dahan pohon akasia dan sengon di sepanjang jalan. Meskipun kabut tak pernah hilang dari pandangan, namun kesan suram sedikit berkurang saat hewan berbulu warna warni itu memperdengarkan nyanyiannya.

"Wahh, desa sini tuh bisa dikatakan terisolir dong Yang. Akses jalannya seperti ini lho." Purbo memperhatikan sandalnya yang penuh dengan lumpur merah nan lengket.

"Ya prinsip warga sini yang penting bisa makan, ayem tentrem gitu lho Mas," sambung Dini.

"Berapa KK kira kira yang tinggal disini?" tanya Purbo lagi.

"Banyak Mas. Puluhan KK mungkin ya," jawab Dini mengingat ingat.

"Kita sudah lama ya tinggal disini?" Purbo terus bertanya.

Dini diam saja kali ini, sibuk mengamati jalanan dari tanah di hadapannya. Jalanan tidak licin, namun terasa lengket di alas kaki, dan kalau tidak hati hati lumpurnya bisa terciprat ke pakaian yang dikenakan.

"Nah itu pusat desa Ebuh," Dini mengalihkan pembicaraan. Tangannya menunjuk ke arah deretan rumah di kejauhan.

Sayup sayup terdengar suara riuh, ramai dan semaraknya warga desa. Rumah rumah berderet dengan bentuk yang mirip satu sama lain. Rumah model joglo yang sama dengan tempat tinggal Purbo dan Dini. Yang membedakan hanyalah warna catnya saja. Tampak warga desa berlalu lalang. Ada yang membawa rumput pakan ternak dari hutan, ada juga yang sekedar duduk duduk di depan rumah.

Di bagian ujung pemukiman, terdapat sebuah tanah lapang yang digunakan sebagai pasar desa. Berderet pondok pondok dari bambu dengan beraneka ragam kebutuhan sehari hari dijual disana.

Purbo dan Dini berjalan melewati pemukiman untuk menuju ke pasar. Tak henti hentinya Purbo melayangkan senyuman pada setiap warga yang berpapasan dengannya. Purbo merasa aneh, tidak ada seorang pun yang membalas senyumnya. Mereka semua acuh tak acuh dengan kehadiran laki laki berbadan gempal itu.

Hal yang berbanding terbalik terjadi pada Dini. Setiap orang terlihat sedikit menunduk setiap melihatnya. Purbo merasa heran dan penasaran.

"Kamu pasti penasaran kan Mas, kenapa orang orang cuek padamu?" tanya Dini, seolah tahu isi kepala Purbo.

"Yaa begitulah. Aku tak mengenal satu pun dari mereka, dan mereka pun terasa tak mengenalku," keluh Purbo.

"Itu karena sepanjang waktu Mas selalu mengurung diri di ruang lukis. Hampir tak pernah keluar rumah. Makanya tadi saat Mas ngomong butuh bersosialisasi aku cukup kaget mendengarnya," terang Dini tanpa menoleh pada Purbo. Dia menatap ke depan sambil terus berjalan memegangi perutnya.

Entah kenapa Purbo merasa istrinya tengah berbohong. Meskipun dia lupa dengan kehidupannya, Purbo merasa yakin dirinya bukanlah pribadi yang se introvert itu. Rasa ingin bergaul dengan orang lain terasa sangat nyata dan besar di benaknya. Mana mungkin dia sebelumnya tak pernah mau keluar rumah?

Lalu soal pekerjaannya sebagai pelukis. Purbo sampai saat ini merasa tak memiliki keinginan kuat untuk menyentuh kuas dan kanvas. Benarkah dia bisa melukis? Lagipula tidak ada satupun lukisan di rumahnya. Bukankah seharusnya seorang pelukis juga memiliki koleksi lukisan. Entah untuk inspirasi atau sekedar kepuasan diri.

Langkah kaki Purbo akhirnya sampai di pasar desa. Pasar yang nampak kumuh dan sangat becek karena kemarin hujan cukup deras. Apalagi hingga kini matahari seperti enggan menyinari wilayah desa. Anehnya tak ada aroma lumpur disana. Yang tercium malah aroma wangi bunga yang menyengat.

Purbo mengedarkan pandangan, namun tak menemukan satu pun penjual bunga. Hal ganjil lainnya adalah banyak warga berlalu lalang, tapi jarang ada yang beli. Seolah mereka hanya bolak balik lewat di depan pasar.

Di antara kerumunan warga desa, nampak Mak Nah datang tergopoh gopoh mendekati Purbo dan Dini. Perempuan tua itu menenteng kresek berwarna hitam di tangannya.

"Lhoh njenengan ngapain disini?" tanya Mak Nah dengan raut muka yang aneh. Tak ada senyum, malah terlihat seperti hendak marah.

"Lha kenapa Mak? Aku kan pengen lihat lihat pasar," jawab Purbo enteng.

"Duh, ke pasar tugas saya Tuan. Apalagi Nyonya Dini hamil tua begini," ujar Mak Nah merasa bersalah.

"Nggak pa pa Mak. Dini juga mau olahraga kok. Iya kan sayang?" tanya Purbo seraya merangkul bahu Dini. Dini hanya mengangguk tertunduk seakan takut menatap Mak Nah.

"Ya sudah, sekarang mari kita pulang Tuan," ajak Mak Nah.

"Iya Mas. Aku juga pengen pulang saja. Pasarnya becek kayak gini lho," keluh Dini.

Purbo menghela nafas dan akhirnya menuruti permintaan istrinya. Saat hendak melangkahkan kaki, sebuah tepukan cukup keras mengenai bahu Purbo.

"Buru buru amat. Nongkrong dulu lah," sosok laki laki, seusia Purbo menyapa sok akrab. Laki laki ceking dengan kulit pucat, rambutnya kribo bergoyang goyang tertiup angin. Dia tersenyum pada Purbo, menampakkan deretan giginya yang menguning.

"Kami mau pulang," Mak Nah menjawab dengan tatapannya yang tajam.

"Owalah Mak Nah to. Ini orang baru itu ya Mak?" tanya laki laki ceking pada Mak Nah.

"Hah? Orang baru?" tanya Purbo heran. Dia tak mengerti, mengapa disebut orang baru oleh laki laki ceking itu.

"Yuk Mas pulang. Aku kebelet pipis," Dini menarik lengan Purbo, membawanya pergi menjauh. Sementara Mak Nah nampak berbincang atau mungkin berdebat dengan laki laki ceking itu.

"Maksud orang tadi apa ya Yang?" tanya Purbo sambil tetap melangkah. Dini terlihat begitu tergesa gesa. Purbo memakluminya karena wajar memang, saat perempuan hamil akan lebih sering untuk buang air kecil.

"Udah jangan didenger. Yang tadi itu namanya Mino, julukannya Ceking. Dia tuh terkenal di desa ini. Nggak ada gawe, kegiatannya cuma nongkrong nongkrong saja. Nggak jelas pokoknya Mas," ucap Dini menjelaskan.

"Ooohhh," Purbo manggut manggut.

Purbo dan Dini sudah keluar dari pemukiman warga. Kembali menapaki jalan dengan pohon pohon besar di sekelilingnya. Kabut belum juga pergi, masih setia menyelimuti desa Ebuh.

"Yang, kenapa rumah kita berdiri sendirian disana sih? Jauh dari tetangga. Padahal lahan di area pasar tadi masih ada tuh yang kosong," tanya Purbo sambil mengamati sekitar.

"Kamu tuh banyak tanya Mas. Aku tuh nahan pipis tauk," Dini mendaratkan cubitan cubitan kecil di lengan Purbo.

"Auw auw," Purbo meringis.

"Ya aku kan penasaran Yang. Habisnya aku lupa semua hal. Semua ini terasa asing bagiku," Purbo menghela nafas.

"Mas?" Dini tiba tiba menghentikan langkahnya.

"Ah iya, apa?" tanya Purbo kaget.

"Apapun yang terjadi tentang ingatanmu itu, yang penting kamu tahu bahwa aku adalah tempat terbaik untuk kamu pulang. Rumah bukanlah bangunan fisik, tapi rumah adalah bangunan hati. Dimanapun tempatnya, asalkan kita bersama berarti kita sedang berada di rumah," tukas Dini dengan wajah sendu.

"Iya sayang." Purbo segera memeluk Dini. Merengkuh tubuh istrinya yang sedingin es itu dengan penuh cinta.

Bersambung____

Terpopuler

Comments

Yuli a

Yuli a

Purbo tak kasih tau ya... nanti kamu keliling sendiri... cari info sendiri. jangan ngomong dulu sama dini..🤣

2025-01-22

1

Zuhril Witanto

Zuhril Witanto

desa gaib kah makanya gak ada matahari

2024-02-08

1

Ujung Harapan

Ujung Harapan

kamu tuh d ajak keliling kuburan Purbo makanya baunya kembang 🌹🥀🌷🌸

2023-10-29

3

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 77 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!