BAB 5 . BERITA DUKA

Malam ini ada seorang petugas dari kepolisian yang datang ke tempat pemangku adat untuk memberi info meninggal nya Wayan, Made dan Adit, Pasti nya hal itu membuat warga masyarakat membicarakan bahwa pelaku semua itu adalah roh Ayu yang menuntut balas kepada mereka bertiga namun semua itu di redam oleh penjelasan Nilu Lastri sebagai istri seorang pemangku adat dan Nilu Nilam sebagai istri bedande wilayah setempat agar tidak semakin meruncing permasalahan.

" Selamat malam, Apakah benar ini rumah Bapak Karta pemangku adat di desa ini?"

Tanya seorang polisi bernada tegas.

" Benar Pak, Saya pemangku adat di sini, Kalau boleh tahu ada masalah apa malam begini Bapak kemari?"

Jawab Beli Karta dengan tatapan bingung.

" Kami menemukan tiga jasad warga desa ini di beberapa titik di hutan, Mari anda ikut bersama kami untuk memastikan bahwa jasad korban benar warga desa ini,"

Ucap seorang polisi sambil menyerahkan selembar kertas kepada Beli Karta.

" Baik Pak, Sebentar saya ambil senter dan jaket."

Jawab Beli Karta sambil melangkah menuju masuk kedalam.

Kemudian Beli Karta dan beberapa petugas kepolisian menuju hutan malam itu di mana jasad ke tiga nya belum di pindahkan dari tempat kejadian sedangkan Nilu Nilam dan Nilu Lastri sedang duduk di pendopo agung sambil membicarakan apa yang terjadi di desa saat ini, Sedangkan Nilu Lastri bukan asli warga setempat melainkan pendatang dari desa sebelah.

" Nilu sebenarnya mengapa bisa menjadi seperti ini, Padahal sebelum nya desa ini damai dan tenang,"

Ucap Nilu Lastri sambil melirik Nilu Nilam yang duduk di samping nya.

" Kejadian ini dulu pernah terjadi Nilu, Sampai semua warga desa takut keluar rumah waktu matahari sudah tenggelam,"

Jawab Nilu Nilam yang asli warga desa tersebut.

" Apa yang terjadi hingga masyarakat ketakutan Nilu?"

Tanya Nilu Lastri dengan tatapan bingung.

" Kejadian itu terjadi sekitar 20 tahun yang lalu Nilu, Bahkan waktu itu usia ku baru 9 tahun."

Jawab Nilu Nilam sambil mengenang tragedi yang lumayan menyeramkan saat itu.

Lalu Nilu Nilam pun mulai menceritakan kejadian waktu itu setiap malam selama 40 hari berturut - turut, Dari ilmu leak pengiwa dan panengen saling menyerang satu dengan yang lain hingga Bedande saat itu yang bernama I Gusti Ketut Kuma Fima harus turun tangan untuk menghentikan pertarungan mereka yang sudah cukup banyak memakan korban.

Namun ternyata niat baik dari bedande I Gusti Ketut Kuma Fima di salah artikan oleh kubu panengen yang mengakibatkan sampai detik ini jasad I Gusti Ketut Kuma Fima teratai di ruang bawah tanah di villa yang di jaga oleh Pak Susena dan Nilu Wulan, Sedangkan dari kubu panengen semakin banyak memiliki murid dan menyalah gunakan ilmu leak sesungguhnya fungsi nya untuk menolong orang sedang kesusahan sejati.

" Berarti bedande Ketut Kuma Fima masih hidup sampai detik ini Nilu dan apakah keluarga dari bedande itu juga berada di villa tersebut?"

Tanya Nilu Lastri dengan nada penasaran.

" Keluarga nya sejak kejadian itu berpindah ke Ibukota dan yang aku dengar villa itu sudah berpindah tangan kepada cucu lelaki nya sekarang,"

Jawab Nilu Nilam sambil meletakkan janur di samping nya lalu bangkit berdiri berjalan menghampiri Beli Runda suami nya.

Saat itu Nilu Nilam menceritakan bahwa Beli Karta bersama kepolisian memastikan ketiga jasad yang di temukan sudah meninggal dunia di beberapa titik di hutan dan pasti nya hal itu semakin memicu pemikiran negatif masyarakat kepada Nilu Wulan dan Pak Susena memang memiliki ilmu pangleakan padahal hal tersebut tidak benar ada nya.

Saat itu sambil memandang ke arah langit yang berwarna merah Beli Runda sebagai bedande di wilayah tersebut merasakan akan terjadi perkelahian seperti dahulu bila hal tersebut tidak di cegah dan memberikan pengertian kepada mereka bahwa mereka bertiga bukan lah karena roh Ayu yang menuntut balas melainkan karena kesalahan nya sendiri.

Di sisi lain ada Beli Karta dan beberapa anggota kepolisian yang sedang memastikan ketiga jasad tersebut dan memindahkan ketiga jasad tersebut ke kantong plastik jenasah yang memang sudah di sediakan pihak berwajib untuk membawa ke keluarga masing - masing.

" Pak Karta terimakasih atas bantuan nya dan sudah mempermudah proses evakuasi korban,"

Ucap Komandan Polisi Suta Darma diiringi senyum simpul.

" Sama - sama Pak lagi pula ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai pemangku adat desa,"

Jawab Beli Karta sambil menjabat tangan Komandan Suta Darma.

" Baik bila begitu mari kami antar Bapak ke rumah para korban serta menyerahkan surat kematian nya,"

Ucap Komandan Suta Darma mempersilahkan masuk kedalam mobil patroli.

Kemudian rombongan ambulance dan mobil polisi pun berjalan menuju rumah para korban sedangkan di sisi lain ada Nilu Wulan dan Pak Susena yang baru saja tiba di rumah nya dengan membawa perasaan sedih yang mendalam mengenang kepergian putri semata wayang nya secara tragis dan tiba - tiba terdengar keramaian di depan rumah nya.

Bukan lain kerumunan masyarakat dari kampung sebelah berteriak mengusir Pak Susena dan Nilu Wulan dari desa tersebut sebab mereka ketakutan akan terjadi hal seperti dulu lagi perang antar desa yang menimbulkan banyak korban, Hal itu pasti membuat terkejut Pak Susena dan Nilu Wulan yang saat itu sedang terluka terkena pukulan Bedande Runda yang berniat memisahkan perkelahian antara Nilu Wulan dan Nilu Komang.

" Ada apa itu mereka berteriak di depan rumah kita Pak?"

Tanya Nilu Wulan dengan tatapan bingung.

" Ada apa lagi mereka itu masih saja belum puas membuat kegaduhan malam - malam,"

Jawab Pak Susena dengan tatapan tertuju ke sebuah jendela di rumah nya.

" Seperti nya mereka ingin berhadapan dengan ku,"

Ucap Nilu Wulan yang hendak bangkit dari duduk nya.

" Nilu jangan, Biar aku saja yang menghadapi mereka."

Ucap Pak Susena sambil memegang lengan Nilu Wulan.

Kemudian Pak Susena pun berjalan menuju pintu rumah nya dan menghadapi masyarakat yang berkerumun di halaman rumah sambil berteriak membawa obor, Saat itu segera bedande Runda dan Nilu Nilam serta Nilu Lastri bergegas menuju rumah Pak Susena untuk mencegah kejadian main hakim sendiri dan masalah pun semakin rumit.

" Ada apa kalian berkumpul di depan rumah ku dan mengusir ku, Apa kesalahan ku?"

Tanya Pak Susena dengan tatapan bingung.

" KAMI TIDAK SUDI BERTETANGGA SEPERTI MU YANG MEMILIKI ILMU SESAT DAN PASTI NYA SEBENTAR LAGI SEMAKIN BANYAK KORBAN KARENA ULAH MU DAN ISTRI MU, PERGI KALIAN DARI DESA KAMI!"

Teriak salah satu warga dengan nada geram dan tatapan sinis.

" Dengarkan dulu, Selama ini aku dan istri ku banyak membantu kalian di saat kesusahan dan kami berdua tidak pernah melukai siapa pun, Lalu mengapa kalian berkata demikian,"

Ucap Pak Susena yang semakin bingung dengan sikap masyarakat kepada nya.

" PERGI KALIAN DARI SINI KAMI TIDAK SUDI MEMILIKI TETANGGA SEPERTI KALIAN, PRAK!"

Teriak warga silih berganti sambil melemparkan batu ke arah Pak Susena.

" STOP HENTIKAN, APA YANG KALIAN LAKUKAN!"

Teriak bedande Runda yang berusaha menghentikan lemparan batu kepada Pak Susena.

Karena masyarakat melihat bedande Runda yang datang dan berteriak sambil mengangkat kedua tangan nya di depan masyarakat yang berkerumun maka mereka semua pun menghentikan lemparan batu ke arah Pak Susena yang saat itu kepala nya sudah mengucur darah segar karena terkena lemparan batu.

" Ada masalah apa sebenarnya dan siapa yang memprovokasi semua ini?"

Tanya bedande Runda dengan nada tegas.

" Kami tidak ada yang memprovokasi tapi kita semua melihat bahwa Adit, Wayan dan Made meninggal di dalam hutan sana!"

Jawab salah satu dari mereka dengan nada geram.

" Jangan asal berbicara, Pak Susena dan Nilu Wulan sedari tadi bersama ku jadi tidak mungkin mereka berdua pelaku dari meninggal nya mereka bertiga,"

Ucap bedande Runda yang lumayan terkejut mendengar berita kematian Wayan, Made dan Adit.

" Sudah lah beli Runda, Kami menghormati beli sebagai bedande pumuka agama di desa ini tapi tolong jangan halangi kami mengusir mereka berdua dari desa ini sebelum semakin banyak korban jiwa!"

Jawab salah satu warga dengan mata terbelalak emosi.

Dan tidak lama kemudian datang lah beli Karta sebagai pemangku adat di desa tersebut bersama beberapa orang dari pihak kepolisian yang mencoba menenangkan masyarakat saat itu yang semakin tidak kondusif dan seperti nya beli Runda pun semakin terpojok posisi nya oleh masyarakat.

" Saudara ku semua tolong dengarkan saya dan penjelasan dari komandan kepolisian yang membawa bukti tentang meninggal nya Wayan, Made dan Adit,"

Ucap beli Karta sambil berdiri di hadapan masyarakat.

" Jangan tipu kami semua dengan bukti palsu beli Karta!"

Teriak salah satu warga dengan nada geram.

" Tolong dengarkan semua ini hasil visum bukan hasil tipuan atau mengada - ada!"

Ucap Komandan dengan nada geram.

Kemudian Komandan Suta Darma pun menjelaskan kepada masyarakat bahwa Wayan, Made dan Adit meninggal bukan karena pembunuhan namun murni kecelakaan sebab tidak ada bukti ada nya sebuah kekerasan atau pun sidik jari di tubuh korban jadi saat ini yang mereka melakukan fitnah kepada keluarga Pak Susena bisa terkena hukuman.

Akhir nya mereka bisa di bubarkan dengan pihak kepolisian dan bila hal itu terjadi lagi maka mereka semua akan berurusan dengan pihak berwajib, Lalu sebelum pihak kepolisian pergi meninggalkan desa menitipkan pesan kepada Pak Susena, Beli Runda, Beli Karta, Nilu Nilam dan Nilu Lastri agar tidak memperpanjang masalah ini apa lagi sampai timbul fitnah berakhir ada korban jiwa.

" Bapak dan Ibu tolong jangan sampai terulang lagi masalah seperti ini sebab fitnah itu lebih berbahaya dan sekarang sudah ada pasal hukum nya mengenai hal fitnah,"

Ucap Komandan Suta Darma diiringi senyum simpul kepada mereka semua.

" Baik Pak Komandan saya akan usahakan memberikan pemahaman kepada mereka semua dan menutup kasus ini sampai di sini,"

Jawab beli Karta sambil menjabat tangan Komandan Suta Darma.

Kemudian Komandan Suta Darma beserta anggota nya mohon pamit sebab malam pun semakin larut dan hujan pun turun semakin deras, Begitu juga dengan beli Karta, beli Runda, Nilu Nilam dan Nilu Lastri kembali kerumah masing - masing, Selama di perjalanan mereka membahas meninggal nya Wayan, Adit dan Made yang sebenarnya bagi mereka juga ada suatu keganjilan.

" Beli Karta, Saya pribadi sebenarnya juga kurang yakin dengan berita duka yang tadi di bawa oleh pihak yang berwajib,"

Ucap beli Runda yang berjalan di samping beli Karta.

" Saya pribadi yang mengetahui hal sebenar nya juga sedikit curiga namun sudah lah tidak perlu kita bahas lagi beli,"

Jawab beli Karta diiringi senyum simpul dan melanjutkan langkah menuju rumah nya.

Sedangkan di rumah Wayan, Made, Adit sedang mempersiapkan acara ngaben besok pagi dan pasti nya mereka semua sedang berkabung dan suasana kesedihan yang menyelimuti rumah duka yang di hadiri oleh beberapa warga untuk membantu dan juga di hadiri bedande di daerah desa tersebut, Pasti nya mereka semua membahas kematian Wayan, Made dan Adit yang di pandang tidak sewajarnya.

Namun mereka tidak berani bertindak lebih sebab sudah mendapat teguran dari pihak yang berwajib, Sedangkan dari pihak yang berwajib pun sedang membicarakan kejadian itu di sepanjang perjalanan menuju kembali ke kantor yang terletak di pusat kota.

" Komandan Suta, Menurut anda apakah percaya dengan ada nya leak di jaman sekarang?"

Tanya Sertu Gunadi dengan tatapan fokus ke depan sambil mengemudikan mobil patroli.

" Bila sudah mengenai hal mistis seperti itu lebih saya no komen,"

Jawab Komandan Suta sambil tersenyum simpul dan melirik ke arah Sertu Gunadi.

" Benar Komandan di kata tidak ada tapi terbukti bagi yang mengalami dan melihat langsung tapi di yakini ada juga belum bisa di pastikan."

Ucap Sertu Gunadi sambil tersenyum simpul.

Kejadian hari ini menjadi pelajaran bagi semua agar tidak mudah mengambil kesimpulan atau menghakimi seseorang tanpa melihat bukti nyata dan sekali pun sudah terbukti tidak berhak orang tersebut menghakimi dengan cara nya sendiri, Lebih baik menyerahkan kepada pihak berwajib dan mempercayakan pihak berwajib yang mengusut semua nya kasus yang terjadi sebab semua saat ini ada undang - undang nya agar masyarakat tidak melakukan main hakim sendiri yang akan berakibat lebih fatal lagi.

Sedangkan saat itu Pak Susena sambil mengompres luka Nilu Wulan di kamar menceritakan masalah meninggal nya Wayan, Adit dan Made yang lumayan tragis, Sambil mendengarkan suami nya bercerita Nilu Wulan dalam hati kecil nya berbicara kepada Wisesa mahkluk astral yang berwujud leak yang selama ini selalu menemani Nilu Wulan.

Wisesa apakah itu semua kamu yang melakukan hingga mereka mati dengan tragis seperti itu ataukah mereka mati karena karma sudah berjalan dan berakhir nyawa nya di habiskan oleh penunggu hutan wingit itu, Jangan takut katakan sesungguhnya aku tidak akan marah kepada mu.

Bergumam lah dalam hati Nilu Wulan dengan tatapan mata tertuju ke Wisesa yang sedang berada di pojok kamar Nilu Wulan, Saat itu Wisesa hanya menggelengkan kepala nya tanda bukan dia pelaku nya, Lalu apakah keluarga Adit, Wayan dan Made tidak menuntut balas kepada Pak Susena dan Nilu Wulan, Apakah benar semua warga mematuhi perintah dari pihak kepolisian?

Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan selalu ikuti perjalanan nya hanya di PEMBURU LEAK dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.

Terpopuler

Comments

Siti Mushbihah

Siti Mushbihah

penasaran deh akutuh

2022-10-31

2

💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌

💜⃞⃟𝓛 ༄༅⃟𝐐🇺𝗠𝗠𝗜ᴰᴱᵂᴵ 🌀🖌

IHK bikin penasaran,,,
panggilan Bali keperempuanan nilu, kalau ke pria beli gitu ya,
mohon pencerahannya nya ya Thor, biar aqu tambah pintar 🤭🤭🤭

2022-08-02

1

Nona Muda Angel🦅👻 🅠🅛

Nona Muda Angel🦅👻 🅠🅛

Turut berduka cita atas meninggal nya Wayan dkk


Aku yakin pasti arwah Ayu yg melakukan balas dendam

2022-08-02

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 . PROLOG
2 BAB 2 . JERITAN JIWA LEAK
3 BAB 3 . PENJELASAN
4 BAB 4 . AKAR MIMANG
5 BAB 5 . BERITA DUKA
6 BAB 6 . DENDAM SANG LEAK
7 BAB 7 . AMARAH MEMBAWA PETAKA
8 BAB 8 . HUTAN PINUS
9 BAB 9 . MALAM YANG ANEH
10 BAB 10 . PENELUSURAN
11 BAB 11 . SUASANA SETELAH HUJAN
12 BAB 12 . MENCARI INFORMASI
13 BAB 13 . TERTUTUP OR DI TUTUPI
14 BAB 14 . TAK ADA YANG MUSTAHIL
15 BAB 15 . BANGKIT NYA I GUSTI KETUT
16 BAB 16 . TAK AKAN MENYERAH
17 BAB 17 . KENYATAAN PAHIT
18 BAB 18 . KEPANIKAN
19 BAB 19 . JANGAN TERULANG
20 BAB 20 . KLARIFIKASI MASALAH
21 BAB 21 . JERITAN ATAU TANGISAN
22 BAB 22 . HARAPAN
23 BAB 23 . AKU BUKAN DIRI MU
24 BAB 24 . BALAS DENDAM TERBAIK
25 BAB 25 . SULIT DI MAAF KAN
26 BAB 26 . KEJUJURAN YANG DI BUTUHKAN
27 BAB 27 . JANGAN BERSUMPAH
28 BAB 28 . KEJAHILAN WIYASA
29 BAB 29 . DRAMA
30 BAB 30 . PERAMPOKAN
31 BAB 31 . BURUNG HANTU
32 BAB 32 . KEBENARAN YANG SALAH
33 BAB 33 . SIAPA YANG SALAH
34 BAB 34 . KEJADIAN GANJIL
35 BAB 35 . KASUS YANG DI TUTUP
36 BAB 36 . PEMAKAMAN DAN FAKTA
37 BAB 37 . IRI SUMBER BENCANA
38 BAB 38 . KENYATAAN YANG MEMILUKAN
39 BAB 39 . MENGEJAR SUMBER MASALAH
40 BAB 40 . MISI TERSELUBUNG
41 BAB 41 . PERSIAPAN
42 BAB 42 . STRATEGI PERANG
43 BAB 43 . RESPONSE
44 BAB 44 . PERBUATAN DAN HASIL
45 BAB 45 . TIDAK ADA YANG KEBETULAN
46 BAB 46 . KEMARAHAN DEWI DURGA
47 BAB 47 . KUTUKAN DEWI DURGA
Episodes

Updated 47 Episodes

1
BAB 1 . PROLOG
2
BAB 2 . JERITAN JIWA LEAK
3
BAB 3 . PENJELASAN
4
BAB 4 . AKAR MIMANG
5
BAB 5 . BERITA DUKA
6
BAB 6 . DENDAM SANG LEAK
7
BAB 7 . AMARAH MEMBAWA PETAKA
8
BAB 8 . HUTAN PINUS
9
BAB 9 . MALAM YANG ANEH
10
BAB 10 . PENELUSURAN
11
BAB 11 . SUASANA SETELAH HUJAN
12
BAB 12 . MENCARI INFORMASI
13
BAB 13 . TERTUTUP OR DI TUTUPI
14
BAB 14 . TAK ADA YANG MUSTAHIL
15
BAB 15 . BANGKIT NYA I GUSTI KETUT
16
BAB 16 . TAK AKAN MENYERAH
17
BAB 17 . KENYATAAN PAHIT
18
BAB 18 . KEPANIKAN
19
BAB 19 . JANGAN TERULANG
20
BAB 20 . KLARIFIKASI MASALAH
21
BAB 21 . JERITAN ATAU TANGISAN
22
BAB 22 . HARAPAN
23
BAB 23 . AKU BUKAN DIRI MU
24
BAB 24 . BALAS DENDAM TERBAIK
25
BAB 25 . SULIT DI MAAF KAN
26
BAB 26 . KEJUJURAN YANG DI BUTUHKAN
27
BAB 27 . JANGAN BERSUMPAH
28
BAB 28 . KEJAHILAN WIYASA
29
BAB 29 . DRAMA
30
BAB 30 . PERAMPOKAN
31
BAB 31 . BURUNG HANTU
32
BAB 32 . KEBENARAN YANG SALAH
33
BAB 33 . SIAPA YANG SALAH
34
BAB 34 . KEJADIAN GANJIL
35
BAB 35 . KASUS YANG DI TUTUP
36
BAB 36 . PEMAKAMAN DAN FAKTA
37
BAB 37 . IRI SUMBER BENCANA
38
BAB 38 . KENYATAAN YANG MEMILUKAN
39
BAB 39 . MENGEJAR SUMBER MASALAH
40
BAB 40 . MISI TERSELUBUNG
41
BAB 41 . PERSIAPAN
42
BAB 42 . STRATEGI PERANG
43
BAB 43 . RESPONSE
44
BAB 44 . PERBUATAN DAN HASIL
45
BAB 45 . TIDAK ADA YANG KEBETULAN
46
BAB 46 . KEMARAHAN DEWI DURGA
47
BAB 47 . KUTUKAN DEWI DURGA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!