Bila sesuatu belum jelas atau tidak paham maka akan terjadi kesalah pahaman maka penjelasan sangat lah di butuhkan begitu juga yang terjadi saat ini kesalahan informasi sehingga melayang lah nyawa Ayu putri semata wayang Pak Susena dan Nilu Wulan, Lalu apakah semua ini akan terus menjadi sebuah kesalah pahaman atau kah akan ada penjelasan dari pemangku adat dan bedande yang lebih paham tentang ilmu tersebut, Mari kita tilik bersama penjelasan mereka.
Pagi itu acara ngaben jasad nya Ayu akan di laksanakan dan semua sudah di persiapkan dengan sedemikian rupa sesuai peraturan adat setempat, Di sisi lain Adit, Wayan dan Made sudah keluar dari desa tersebut dengan membawa rasa ketakutan dalam hati nya namun berbeda dengan Ketut yang mengikuti semua prosesi ngaben nya Ayu.
Sebenar nya ada rasa takut dalam hati Ketut untuk mengatakan sejujur nya kepada kedua orang tua nya Ayu namun diri nya berfikir lebih baik diri nya berkata jujur sekarang dari pada seluruh keluarga nya di babat habis oleh leak peliharaan Nilu Wulan yang wujud nya lumayan menyeramkan, Saat itu Ketut mendekati pemangku adat untuk meminta pendapat.
" Beli Karta bisa tidak kita berbicara sebentar?"
Tanya Ketut yang berdiri di sisi kanan pemangku adat.
" Bisa, Ada apa Tut apakah ada masalah dengan mu sampai wajah mu gugup begitu?"
Jawab Beli Karta sebagai pemangku adat desa tersebut sambil tersenyum kepada Ketut.
" Iya Beli, Mari kita ke dekat pura sebentar,"
Ucap Ketut diiringi senyum gugup.
Kemudian mereka berdua berjalan ke sebuah pura yang letak nya tidak begitu jauh dari lokasi ngaben, Sedangkan prosesi ngaben masih berlangsung dan penduduk desa pun turut hadir menyaksikan acara ngaben jasad nya Ayu.
" Beli Karta saya minta solusi, Sebaik nya saya harus jujur mengatakan atau tidak perlu mengatakan kepada kedua orang tua nya Ayu?"
Tanya Ketut sambil melangkahkan kaki menuju pura.
" Maksud nya, Apakah kamu mengetahui siapa yang melakukan semua ini kepada Ayu Tut?"
Tanya balik Beli Karta dengan nada bingung.
" Iya Beli saya mengetahui bagaimana kronologi kejadian nya tapi saya bingung harus bagaimana?"
Jawab Ketut dengan nada sedih dan menyesal.
" Begini saja Tut nanti sepulang dari acara ngaben kamu bicara saja sejujur - jujur nya kepada kedua orang tua Ayu di depan ku dan bedande agar tidak timbul fitnah lagi nanti nya,"
Ucap Beli Karta sambil menepuk pundak Ketut mencoba menenangkan Ketut.
Kemudian mereka berdua pun kembali menuju ke area ngaben dan saat itu perkataan Ketut mampu mengganggu pikiran dan hati Beli Karta yang berfikir bagaimana cerita sebenarnya mengapa bisa terjadi hal itu kepada Ayu dan siapa sebenarnya pelaku nya pasti nya pelaku nya tidak akan di lepaskan begitu saja dengan Nilu Wulan sebab sudah jadi rahasia umum bahwa kedua orang tua Ayu memang memiliki ilmu pengleakan.
Hanya saja Pak Susena memiliki ilmu leak yang di sebut dengan ilmu leak penengen ( Jalur kanan, White magic ) sedangkan Nilu Wulan memiliki ilmu leak pengiwa ( Jalur kiri, Black magic ) itu lah yang membuat Nilu Wulan sering mendapatkan fitnah bila ada sesuatu terjadi meski pelaku nya bukan lah Nilu Wulan bahkan kali ini hingga merenggut nyawa Ayu putri semata wayang nya.
Acara ngaben pun telah usai dan para masyarakat pun kembali pulang ke rumah masing - masing kecuali pemangku adat, bedande dan Beli Agung sebagai saksi saat di temukan jasad Ayu malam kemaren serta Ketut yang berniat mengatakan semua nya kepada kedua orang tua Ayu apa pun resiko nya.
" Beli Agung, Beli Runda maaf jangan pulang dulu mari ke rumah Pak Susena ada yang perlu di bicarakan,"
Pinta Beli Karta sebagai pemangku adat sambil diiringi senyum ramah kepada kedua nya.
" Apa ada hal penting Beli Karta sampai melarang kita pulang lebih dahulu?"
Tanya Beli Runda seorang bedande di desa tersebut kepada Beli Agung sambil menoleh ke arah Beli Karta.
" Tidak ada Beli hanya saja ada yang akan di bicarakan oleh Ketut kepada kedua orang tua almarhumah Ayu dan saya harap kita bisa jadi saksi dan penengah nanti nya di antara kedua belah pihak,"
Jawab Beli Karta sambil merangkul pundak Ketut berjalan menghampiri Beli Runda dan Beli Agung.
" Apakah kamu mengetahui pelaku nya Tut?"
Tanya Beli Agung dengan tatapan serius kepada Ketut.
" Sudah nanti saja kita bicarakan disana dan jangan sampai main hakim sendiri ya Beli Agung."
Jawab Beli Karta sambil merangkul pundak Beli Agung melanjutkan langkah nya menuju rumah Pak Susena.
Pasti nya saat itu dalam hati Ketut sangat gelisah dan ketakutan sebab diri nya takut di hajar oleh masa dan di makan oleh leak peliharaan Nilu Wulan sebab Ketut mengetahui kejadian itu namun tidak mencegah ketiga teman nya namun ikut menggoda Ayu saat itu, Tidak lama kemudian sampai lah mereka berempat di rumah Pak Susena yang saat itu masih ada beberapa orang yang mencoba menghibur Nilu Wulan.
" Pak Susena dan Nilu Wulan maaf mengganggu, Kami berempat kemari hanya ingin menemani dan menjadi penengah antara Ketut dan Pak Susena serta Nilu Wulan,"
Ucap Beli Karta sambil duduk di samping Ketut.
" Ada apa sebenar nya Beli lalu apa kah Ketut pelaku semua ini?"
Tanya Nilu Wulan dengan tatapan bingung.
" Mari kita dengarkan apa yang di ketahui oleh Ketut dan tolong Nilu kendalikan emosi jangan sampai main hakim sendiri,"
Jawab Beli Karta dengan nada tenang.
Kemudian Ketut pun di minta untuk menceritakan kejadian sesungguhnya siapa pelaku pembunuhan tragis kepada Ayu, Saat itu Ketut mulai menceritakan semua dari awal mula kejadian siapa yang memiliki ide tersebut dan siapa yang mengajak untuk menggoda dan mengejar Ayu sehingga saat itu Ayu memilih menjatuhkan diri ke jurang bahkan saat Aditya mengajak mereka bertiga meninggal kan desa pun di cerita kan oleh Ketut.
Sambil menangis Pak Susena dan Nilu Wulan mendengarkan pengakuan dari Ketut yang bercerita dengan nada gugup dan ketakutan, Bahkan sebenarnya tidak hanya Pak Susena dan Nilu Wulan yang merasa sedih dan geram saat mendengar pengakuan dari Ketut hampir semua warga yang saat itu mendengar juga turut geram mendengar ulah mereka.
" KEJAR MEREKA DAN BAWA MEREKA KE HADAPAN KU, NYAWA HARUS DI BAYAR NYAWA!"
Teriak Nilu Wulan sambil berdiri dengan mata terbelalak.
" Benar kami dukung keputusan Nilu, Jangan biarkan mereka lolos!"
Ucap beberapa warga dengan nada geram mendukung tindakan Nilu Wulan.
" Tolong tenang, Jangan main hakim sendiri serahkan masalah ini kepada hukum yang berlaku!"
Ucap Beli Karta mencoba menenangkan masyarakat yang terlihat turut terbakar amarah nya.
" AYU PUTRI KU JADI HUKUM KU LAH YANG BERLAKU UNTUK MEREKA, KALIAN SEMUA JANGAN IKUT CAMPUR!"
Ucap Nilu Wulan yang sudah berubah wujud menjadi leak saat itu.
" Nilu jangan ... biarkan kami yang menyelesaikan agar tidak semakin panjang masalah nya."
Ucap Beli Karta mencoba menahan Nilu Wulan sebisa mungkin.
" Beli Karta, Biarkan Nilu Wulan melepaskan amarah nya aku akan mengikuti nya dengan Pak Susena,"
Ucap Beli Runda seorang bedande pemuka agama di desa tersebut.
Maka saat itu Nilu Wulan yang sudah berwujud leak berambut panjang, mata yang bulat lebar dan kuku yang panjang berjalan keluar dari dalam rumah nya menuju ke desa di mana Aditya, Wayan dan Made tinggal dan di belakang nya diikuti oleh Pak Susena dan Beli Runda seorang bedande desa tersebut.
Sedangkan warga lain dan Ketut kembali pulang kerumah masing - masing sambil membahas kejadian tersebut sebab bagi warga lain nya suatu kewajaran bila Nilu Wulan dan Pak Susena marah besar kepada mereka bertiga sebab tindakan mereka sungguh keterlaluan dalam bercanda dan lagi Ayu tidak tahu menahu mengenai ilmu leak.
Sebab selama ini kedua orang tua nya tidak pernah memberi tahu bahwa kedua orang tua nya memiliki ilmu tersebut dan lagi selama ini kedua orang tua Ayu tidak pernah memakai ilmu nya untuk kejahatan namun di gunakan untuk membantu orang yang sedang kesusahan jadi fitnah yang sudah mereka buat sampai menimbulkan korban jiwa saat ini.
Di sisi lain ada Aditya, Wayan dan Made yang sedari malam seperti nya terjebak di sebuah hutan kecil sehingga semalaman mereka berjalan hanya berputar - putar saja di hutan tersebut tanpa menemukan jalan keluar untuk sampai di jalan besar, Sebab semua warga desa tersebut saat akan menuju kota harus berjalan kaki terlebih dahulu melewati hutan kecil di seberang sungai pemisah sebuah desa.
" Yan mengapa kita berjumpa lagi dengan pohon nangka ini bukan kah tadi kita mengawali perjalanan dari pohon nangka ini?"
Tanya Made dengan tatapan bingung.
" Iya benar juga, Ini ada bekas aku buat tanda di pohon nangka ini?"
Jawab Wayan sambil menggaruk kepala nya melihat pohon nangka di hadapan nya.
" Dari malam hingga siang ini kita sudah 27 kali melewati pohon nangka ini sebenar nya ada apa ini?"
Tanya Adit sambil melihat pohon nangka lalu melihat sekitarnya bergantian.
Lalu mereka bertiga pun diam sejenak saling menatap bingung dan wajah yang mulai pucat ketakutan, Tidak lama kemudian mereka bertiga mendengar suara langkah kaki yang berat langkah nya menuju arah mereka dan sayu - sayu mereka mendengar suara yang lumayan membuat bulu kuduk berdiri.
" Tolong aku ... bagikan aku air ... tolong aku ... aus ..."
Suara itu terdengar lirih namun lumayan jelas terdengar dengan suara langkah kaki yang di seret.
" Dit apa kamu mendengar suara perempuan minta tolong?"
Tanya Wayan dengan mata terbelalak kearah Aditya.
" Tidak, Aku tidak mendengar apa - apa, Telinga mu saja yang aneh Yan mana ada perempuan di hutan ini,"
Jawab Adit dengan ketus sambil melihat ke sekitarnya.
" Eh lihat ada perempuan benar di ujung sana, Mungkin dia yang meminta tolong itu tadi,"
Ucap Made sambil menunjuk ke arah belakang nya Adit dan Wayan.
" Aku tidak melihat, Halusinasi mu terlalu berlebihan Made,"
Ucap Adit sambil sesekali menengok arah belakang.
" Bukan kah itu Ayu, Sedang apa dia di hutan ini dan kalau benar itu Ayu berati dia masih hidup dan selamat, Ayo kita datangi untuk memastikan itu benar - benar Ayu atau bukan,"
Ucap Wayan sambil menarik jaket Adit.
" Apaan si kalian berdua ini aneh deh, Semalam kata nya Ayu meninggal di jurang sana sekarang berbicara Ayu di hutan ini lalu mana yang benar?"
Ucap Adit dengan nada gusar melangkah mengikuti Wayan dan Made.
" Sudah kamu diam Dit, lebih baik kita lihat terlebih dahulu."
Jawab Made dengan tatapan serius ke arah suara yang semakin jelas.
" Tolong beri aku air ... haus ... tolong aku ...."
Suara itu terdengar lagi dengan jelas oleh mereka bertiga.
Saat itu mereka bertiga sudah sampai di sebuah pohon trembesi yang sangat besar dan sudah berusia ratusan tahun dan suara itu semakin jelas pasti siapa pun yang mendengar akan berdiri bulu kuduk nya begitu pun dengan mereka bertiga saat ini yang melawan rasa takut dari dalam hati untuk memastikan suara itu adalah manusia yang mengucapkan bukan lah mahkluk tak kasat mata.
Kemudian mereka bertiga mulai menyibak kan rumput yang sudah lumayan tinggi berharap dapat menemukan sosok perempuan yang meminta tolong tersebut namun mereka tidak menemukan siapa pun juga di bawah pohon trembesi besar itu yang mereka temukan hanyalah tas milik Ayu yang saat itu terakhir di gunakan pergi ke sekolah.
" Dit bukan kah itu tas milik Ayu yang waktu itu di gunakan?"
Tanya Made sambil menunjuk sebuah tas yang tergeletak di tanah.
" Iya benar itu tas milik Ayu, Jangan - jangan itu tadi suara Ayu yang meminta tolong?"
Jawab Wayan sambil memegang leher belakang nya.
" Ini ni efek kebanyakan nonton film horor jadi pikiran nya suka aneh dengar yang seperti itu, Kita sudah hidup di era modern mana mungkin ada hantu atau apalah itu, Sudah lah ayo kita jalan lagi,"
Ucap Adit dengan nada gusar menarik lengan kedua teman nya.
Namun saat mereka mulai melangkahkan kaki nya untuk meninggalkan tempat itu tiba - tiba terdengar lagi suara perempuan menangis dengan suara yang sangat sedih dan nyaring, Saat itu Wayan dan Made segera merangkul lengan Adit dengan tatapan menyebar berkeliling ke sekitar mencoba mendengarkan dari mana asal suara tangisan yang menyayat hati itu.
" Kalian ini kenapa si seperti wanita saja main gandeng - gandeng lengan risih tahu, Lepas kan tangan kalian!"
Bentak Adit kepada kedua teman nya yang mulai ketakutan.
Perlahan kedua teman nya melepaskan pegangan nya di lengan Adit dengan wajah ketakutan sedangkan Adit melangkah berjalan meninggalkan mereka berdua menuju pohon nangka di mana awal nya mereka bertiga berkumpul dan mencari jalan menuju jalan besar untuk pergi ke kota, Sedangkan Nilu Wulan mendatangi rumah mereka bertiga bergantian untuk mencari mereka bertiga dengan wujud leak yang mengerikan dan menakutkan.
Lalu apakah yang akan terjadi kepada mereka bertiga apakah mereka bisa lepas dari Nilu Wulan dan bisakah mereka bertiga keluar dari hutan yang membuat mereka kebingungan dan suara siapakah sebenarnya yang meminta tolong itu?
Jangan pernah beranjak dari kisah ini dan temukan jawaban nya hanya di PEMBURU LEAK dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
𖣤᭄ اندي وحي الد ين
Hukum adat lebih mengerikan daripada hukum negara🤭
2022-08-04
2
𖣤᭄ اندي وحي الد ين
Ummah semoga disini sudah jelas ya!
2022-08-04
2
𖣤᭄ اندي وحي الد ين
Mantappp ini ketut! Gentleman
2022-08-04
2