Liontin Untuk Sang Queen
Allea masih asik melamun memperhatikan liontin bentuk huruf A yg cantik berwarna silver itu. Yg akhirnya ia temukan saat membereskan laci meja riasnya. Sudah beberapa hari ini ia mencari-cari benda itu. Allea ingat sekali siapa si pemberi barang itu, ya..seniornya dikampus, Sandy Davindra Prayoga. Mereka sangat dekat karena sesama pecinta alam dikampusnya. Sering terlibat kegiatan mapala bersama, entah itu naik gunung satu kelompok atau camping ditempat yang memiliki view menarik. Asal usul liontin itu sendiri sebenarnya punya cerita pahit. Itu milik Sandy yang dipesan khusus untuk gadis yang ia suka , Allea pun menjadi saksi kekecewaan Sandy sore itu, dua bulan yang lalu.
*Flashback On*
Dimobil Sandy menghubungi Allea yang masih dikampus sore itu.
"Al..kamu masih dikampus?" suara Sandy ditelpon.
"Masih kak...kenapa? Tapi ini udah mau selesai, aku lagi dikantin ini.." jawab Allea.
"Oowh...kamu pulang naik apa?"
"Mungkin pake ojol kak, motor aku lagi di service tadi soalnya, ada apa sih kak?" Allea mengernyit penasaran.
"Gini aja...ini kan aku kebetulan lewat sini, sekalian aku anter kamu pulang aja ya...aku tunggu didekat gerbang kampus oke" lalu Sandy mengakhiri panggilan setelah Allea mengiyakan. Mereka sebenarnya lumayan sering pulang kampus bersama misal kebetulan ketemu. Tapi kali ini Allea merasa ada yang lain dari suara Sandy.
"Kenapa kak? Tumben lewat sini lagi, tadi siang katanya mau ke..." tanya Allea sambil minum air mineralnya setelah ia masuk mobil Sandy. Allea tau tujuan Sandy yang tadi siang, ia cerita ke Allea kalau ingin menemui Amira gadis pujaannya untuk mengutarakan isi hatinya.
"Gak jadi kak?" kejar Allea lagi. Sandy tersenyum kecut lalu mengangkat pundak.
"Iya..ga jadi Al.." jawab Sandy datar.
"Lho kenapa, bukannya udah janjian katanya..??" kejar Allea.
"Iya...tapi tadi waktu aku ketemu Amira disana,ternyata dia juga ngajak cowok.."
"Hah?? Ngajak cowok siapa, abangnya? Atau temennya?" cecar Allea. Sandy menggeleng.
"Bukan Al, tadi sebelum aku sempat ngomong malah udah dikenalin duluan, katanya mereka malah baru seminggu jadian...kasian banget ya gue " kata Sandy geleng kepala sambil tersenyum hambar. Allea melongo, ada rasa kasian melihat Sandy seperti ini. Ia tau seperti apa Sandy naksir Amira dan bagaimana usaha Sandy ingin mendapatkan hati cewek itu.
Sandy sering ngirim bunga untuk Amira, mengirim bouqet snack diet ,sesekali juga Sandy mengusahakan menjemput Amira biarpun kegiatan Sandy sendiri sedang padat atau membelikan apa yang Amira suka tanpa diminta. Meskipun setiap Sandy memberi tidak pernah ditolak dan setiap chat mereka selalu ngobrol panjang tapi siapa sangka Sandy malah patah hati. Karena ternyata Amira menerima orang lain.
"Terus liontinnya belum jadi dikasihin berarti?" selidik Allea.
"Belumlah...begitu dikenalin kalo itu cowoknya, aku langsung ngubah topik, aku nawarin dia ikut fashion show yang aku dapat dari web. Amira kan suka ikut fashion show.." kata Sandy menerawang."Perasaan koq keliatan bodoh banget ya aku ni Al, bisa-bisanya gak tau kalo Amira udah jadi milik orang lain.." Sandy tertawa pahit mengingat lagi usahanya untuk mendapatkan Amira.
Allea gak tau kenapa, ada rasa sedikit sakit melihat Sandy patah hati kaya gini. "Ya sudahlah kak..mungkin belum waktunya dapetin Amira sekarang, jodoh kan gak ada yang tau, ya kan?" hibur Allea.
"Hmm...gak tau juga sih Al, aku masih mau nunggu dia apa enggak...lha kalo dibanding sama cowoknya yang pake mobil sport gitu kan aku gak ada apa-apanya" jawab Sandy sambil menatap lurus ke depan.
Allea tersenyum "Jangan gitu juga kak, tiap orang punya kelebihan koq. Udahlah...sekarang kakak mau kemana dulu ini? Aku temenin.." kata Allea sambil menepuk lengan Sandy.
Ia tak mau banyak menasehati. Mungkin saat ini Sandy cuma butuh pikiran tenang dulu. Sandy mengangguk lalu meraih botol air mineralnya yang tenyata kosong.
"Wahh...lupa beli tadi gara-gara..." Sandy menertawai nasibnya hari ini. "Minta minum kamu Al.." tanpa menunggu jawaban langsung diambilnya dari genggaman Allea lalu diteguknya sampai hampir habis. Allea cuma tersenyum geleng-geleng kepala.
"Orang patah hati tu ternyata bikin dehidrasi ya" kelakar Allea.
Sandy tersenyum sambil menyalakan mobilnya dan mulai tancap gas pelan. Tapi baru beberapa meter ia berhenti.
"Shetbelt Al..." ditariknya shetbelt Allea yang belum terpasang. Allea tergagap menahan nafas saat tau-tau wajah Sandy cuma beberapa senti saja dari wajahnya.
"Maaf lupa.." jawab Allea sok cuek sambil memainkan ponselnya. Padahal jantungnya berdegup saat Sandy menatapnya. "Kita coba caffe baru yuk kak, yang didekat taman kota itu..mau gak?" Allea mengalihkan kegugupannya. Sandy mengangguk saja.
Di cafe yang nyaman itu mereka sekarang memanjakan lidah, Allea memesankan Sandy minuman coklat yang ia yakini coklat bisa merilex pikiran. Selain itu karena Sandy gak suka semua yang berhubungan dengan vanila. Makanya apa yang mereka pesan sekarang tanpa rasa vanila. Sedangkan ia sendiri memesan orange fload favoritnya. Ditemani sepiring kentang goreng dan wafel coklat keju mereka ngobrol ringan. Allea berusaha mengalihkan agar Sandy tak membahas Amira. Sandy memberitahu bulan depan akan ada kegiatan camping bagi mahasiswa pecinta alam, ia mengambil brosur yang terlipat di tasnya. Saat menarik kertas itu ada sesuatu yang ikut terjatuh. Liontin berhuruf A, Allea menghela nafas. Sandy mengambil liontin itu lalu memandanginya sejenak.
"Al...liontin ini buat kamu aja nih kalo mau" kata sandy.
Allea mengernyit. "Koq buat aku...? Gimana kalo aku simpenin aja, besok atau kapan misal kakak ada rencana ngasih lagi ke..."
"Gak...gak..." potong Sandy. "Aku udah gak ada planning kesitu lagi kayanya Al. Ini buat kamu aja, inisialnya kebetulan sama tapi kalo misal kamu gak mau, nanti dijalan mau aku buang.."
"Jangan kak, sayang kalo dibuang.. yaudah mana sini aku mau koq.." giliran Allea memotong Sandy. Ia tak ingin melihat Sandy lebih terpuruk lagi. Sandy tersenyum.
"Okey...aku pasangin di gelang kamu ya, biar tambah cakep nih.."
Allea mengangguk tersenyum. "Tapi kalo dipake terus takut ilang...sekali-sekali aku simpen ya kak, nanti kalo ada kegiatan kampus baru aku pakai lagi.." kata Allea sambil memandangi liontin yang sudah terpasang di gelang tali hitamnya.
"Iya terserah kamu aja.." jawab sandy lesu. Padahal dulu Amira pernah berkata pada Sandy kalo ia menginginkan liontin seperti itu. Sekarang begitu Sandy menyanggupinya Amira malah menyia-nyiakannya.
*Flashback off*
Beberapa minggu berlalu, kesibukan kegiatan kampus membuat Sandy dan Allea sering bertemu. Minggu ini mereka disibukan rapat kegiatan camping pecinta alam yang akan dilaksanakan di daerah jawa tengah dipinggir danau dengan view pemandangan indah sekaligus pinggir hutan. Allea semangat sekali, ia mendapat tugas memesan spanduk yang akan dibawa saat camping nanti. Dengan motornya ia menuju tempat pemesanan spanduk yang telah ditunjukan oleh Mario, senior sekaligus ketua mapala. Keluar dari gerbang kampus ia melihat Sandy tengah ngobrol dengan beberapa temannya. Sesekali mereka tertawa , Allea tersenyum melihatnya. Ada kelegaan melihat Sandy sudah move on dan agak melupakan patah hatinya. Sengaja Allea tak mengklakson agar tak mengganggu Sandy. Diliriknya liontin yang ada di tangannya sambil tersenyum tipis. Allea berbelok menikung tapi tak menyadari kalo Sandy sebenarnya memperhatikannya.
📱[Mau kemana Al?Lewat diem aja sombong banget..] sesampainya ditempat spanduk Allea membuka chat dari Sandy.
📱[Pesen spanduk buat acara mapala kak. Kirain gak liat tadi, habisnya lagi pada asik ngobrol sih..] balas Allea.
📱[Padahal aku pengen anterin kamu] Sandy membalas lagi.
📱[Aaah...udah nyampe nih, hehe..besok aja misal udah jadi temenin ambil] jawab Allea.
📱[Siap ,bener ya!]
Selesai Allea memesan spanduk ia langsung menaiki motor maticnya, pengen segera sampai rumah. Siang ini panas banget, sampai Allea gak sabar saat berhenti di lampu merah. Ia memperhatikan pengamen badut yg ada didepannya yang berjoget lalu meminta uang dengan kotak kecil. Sebuah mobil yang diacungi kotak oleh badut itu memberikan uang. Mata Allea membulat melihat siapa yang didalam mobil itu. Dari kaca yang transparan terlihat Amira bersama seorang lelaki yang sudah tidak muda tapi juga belum terlalu tua. Kemarin kata Sandy cowoknya pakai mobil sport, ini koq mobilnya beda? Ia yakin itu Amira, Sandy pernah mengenalkannya dulu. Suara klakson membuyarkan pikiran Allea. Ternyata lampu sudah hijau, Allea segera tancap tak mau begitu memikirkannya. Tapi tadi misal Sandy ikut dan melihat bagaimana perasaannya. Meskipun sekarang sudah tampak baik-baik saja. Allea malah kepikiran Sandy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
auliasiamatir
salam kenal dari ku
CINTA TAK PERNAH MATI.
MARI KITA SALING SUPPORT YA KAK.
ceritamu menarik dan sangat keren,
2022-09-21
1
Dewi
Sedih banget membayangkan saat itu kak
2022-08-30
1
Maya●●●
halo kak salam kenal.
jika berkenan mampir juga di karyaku😊
2022-08-22
1