Kamu sudah pulang Nak?" tanya bu Santi, ketika Eko putra pertamanya menghampiri ibunya di ruang rawat inap.
"Sudah Bu, bagaimana keadaan Bapak?" Eko mendekati pak Suryo yang sedang tidur.
"Ya gitu Le, kita harus sedia uang 10 juta untuk biaya operasi," bu Santi menatap suaminya berkaca-kaca.
Eko menarik napas panjang kemudian menjauh dari ranjang. Ia keluar dari kamar inap, lalu duduk di ruang tunggu.
Eko Menjambak rambutnya gusar. Sebagai anak laki-laki tertua, ia merasa bersalah tidak bisa berbuat apa-apa, saat bapaknya sedang sakit begini.
"Kamu kok sedih Le?" bu Santi menyusul Eko.
"Aku tadi pulang cepat Bu, sebelum waktunya pulang. Aku kesal, Bu Sulis pelit banget, aku kan kerja sudah lama, tapi kenapa ketika minta tolong pinjam uang pelit sekali!" gerutu Eko.
"Seettt... nggak boleh begitu, yang mamanya pinjam itu kita nggak boleh memaksa, syukur alhamdulillah... jika kita dipinjami, tetapi... jika tidak, ya sudah!" nasehat bu Santi. Begitulah bu Santi walaupun hatinya sangat sedih, beliau tidak terlalu menunjukkan di depan anak-anaknya.
"Ya sih Bu, tapi kan selama ini Bapak sama aku kerja bertahun-tahun belum pernah namanya pinjam uang, atau menuntut gaji naik, tapi bu Sulis bukanya meminjamkan uang malah marah-marah, seperti hartanya mau dibawa mati saja!" Eko terus ngomel-ngomel.
"Memang Pak Burhan nggak ada le?" tanya bu Santi.
"Nggak ada Bu, beliau sedang ke kota, mengecek perkebunan yang di sana."
*******
Jam 4 pagi, Lastri saat ini sudah turun dari bus kebetulan bus kota yang ia tumpangi lewat di depan rumah sakit. Dari Jakarta ia tidak berniat pulang ke rumah dulu. Ia berjalan cepat menyusuri lorong-rolong rumah sakit.
"Pak saya mau tanya, pasean yang bernama Pak Suryono dirawat di ruang apa ya?" tanya Lastri kepada resefsionis.
"Bentar ya Mbak" resefsionis membuka buku mencari nama Suryono.
"Oh di ruang anggrek no tiga Mbak" jawab resefsionis.
"Terimakasih Pak" setelah mendapatkan jawaban, Lastri segera mencari ruang tersebut. Ia menatap pintu nomor itu lalu mendorongnya. Ada tiga pasien yang berjajar di ruang anggrek no tiga. Lastri membuka pembatas pasien satu persatu. Ternyata pak Suryo berada paling ujung.
Lastri menatap ranjang, tampak ibu yang ia rindukan sedang tidur di sebelah suaminya dengan posisi duduk berbantalkan kedua tangan miring ke kiri.
Mas Eko tidur menggelar tikar di lantai tampak bersedekap mengenakan jaket tanpa selimut.
Lastri mendekati bapak nya yang sedang tidur juga.
Ia berjalan jinjit agar tidak mengganggu tidur mereka. Pak Suryo tampak di pasang selang infus badanya kurus. Seketika air mata Lastri menetes, rasanya ingin segera memeluk tubuh ringkih bapaknya tetapi takut terbangun.
Ketika awal Lastri berangkat ke Jakarta, pak Suryo dalam keadaan segar bugar, tetapi kini berbanding terbalik wajahnya pucat, pipinya terlihat kempot karena kurus. Begitu juga dengan ibunya tampak lelah di wajah, dan sedikit kurus. Wajar, siapa yang tidak sedih melihat suaminya sakit.
"Hiks hiks hiks" Tangis gadis berperawakan tinggi semampai itu pecah juga walaupun sejak tadi ia tahan.
"Lastri..." pak Suryo membuka matanya mendengar tangis putri ketiganya itu.
"Bapak..." Lastri menangis di dada bapaknya badanya berguncang. Pak Suryo mengusap kepala anaknya sayang. Usapan tangan yang selalu Lastri rindukan, dulu ketika kecil selalu ia rasakan setiap menjelang tidur.
"Bapak kenapa... sakit apa... pasti Bapak kecapekan. Hiks hiks hiks" cecar Lastri sambil sesegukan.
"Bapak tidak apa-apa Nak, cuma masuk angin" hibur pak Suryo. "Kamu pulang sama siapa Nak" lirih pak Suryo mengalihkan.
"Sendiri" Lastri sudah tidak bisa menjawab karena terus menangis.
Tangis Lastri membangunkan ibunya lalu terbangun termasuk Mas Eko.
"Lastri... kamu pulang Nak?" bu Santi berjalan cepat menghampiri anaknya yang masih betah telungkup di dada pak Suryo.
Lastri bangun dari dada pak Suryo, lalu memeluk ibunya yang sedang mengusap kepalanya lembut.
"Bu... Bapak sakit apa, sudah berapa hari di rawat di rumah sakit?" tanya Lastri masih menangis membasahi baju bu Santi.
Bu Santi hanya diam bagaimana cara menjelaskan.
"Tri, sebaiknya kamu istirahat dulu, nanti aku cerita" Eko yang menjawab.
Lastri melepas pelukanya kemudian balik badan menatap mas Eko. "Mas Eko jahat! Bapak sakit nggak mau kasih kabar" Lastri memukul-mukul dada Eko pelan.
"Mas Eko benar Nak, kamu sebaiknya istirahat, nanti kami cerita" bu Santi menenangkan anaknya.
Lastri pun mengusap air matanya mengalah menurut apa kata bu Santi.
Terdengar adzan subuh Eko mengajak Lastri shalat subuh di mushola rumah sakit. Selesai sholat, Lastri sedikit lebih tenang, lalu mencecar Eko tentang penyakit bapaknya.
"Sekarang ceritakan Mas, Bapak sakit apa?"
Eko menceritakan tentang penyakit yang diderita bapaknya, harus operasi dan berapa biaya yang yang harus ia keluarkan. Tetapi Eko tidak menceritakan, bahwa dia pernah berniat meminjam uang kepada bu Sulis, jika adiknya tahu pasti akan marah.
"Ya sudah Mas, masalah biaya, aku sudah siapkan, yang penting bapak cepat sembuh" jawab Lastri melegakan Eko, tapi Eko menatap adiknya tidak tega.
Eko lagi-lagi sedih kenapa justeru adiknya satu ini yang selalu terbebani dengan biaya apapun di keluarga nya.
"Aku bisa bantu dek, tapi Mas hanya punya uang dua juta" Eko memang punya tabungan, tapi hanya dua juta, itupun biasanya Eko gunakan untuk membantu bu Santi setiap hari memberi transport ketiga adik Lastri yang masih SMK, SMP dan SD.
Eko memang bekerja, tapi gajinya di daerah tentu hanya setengahnya gaji di Kota. Belum lagi gajinya dicatut oleh bu Sulis tanpa sepengetahuan pak Burhan.
"Tidak usah Mas, uangnya di simpan saja, kalau aku bulan depan tidak bisa kirim uang buat bayar sekolah adik-adik, tolong bayarin dulu ya" kata Lastri.
"Iya dek, sekarang kita ke ruangan Bapak, Ibu pasti akan gantian shalat"
Lastri mengangguk lalu kembali ke kamar.
Jam sembilan pagi, Lastri sudah melunasi administrasi, karena jam 11 nanti akan dilaksankan operasi.
Walaupun begitu, Lastri tetap bersyukur, di Jakarta orang yang sudah tahu hasil jahitannya mereka selalu berlangganan. Jika tidak, bagaimana akan melunasi biaya operasi bapaknya.
"Dek,, bagaimana kabar kamu?" tanya Dwi ia baru sampai di rumah sakit.
"Mbak Dwi... kabar baik Mbak, ya Allah... ternyata Mbak sudah hamil besar?" Lastri tidak tahu jika kakak nya hamil, wajar. Ia pergi sudah satu tahun.
"Alhamdulillah Dek, sudah tujuh bulan" mereka lalu ngobrol panjang lebar, menceritakan keadaan masing-masing.
Tibalah saatnya operasi pak Suryo dilaksankan. Semua menegang menunggu di depan ruang oprasi.
Lastri selalu berdoa agar operasinya di lancarkan dan bapaknya bisa sembuh seperti sedia kala.
"Keluarga Pak Suryono..." terdengar suara suster dengan lantang.
"Saya Sus" Lastri, bu Santi dan Eko menghampiri.
********
"Assalamualaikum... maaf reader, Mak selalu telat up. Sebenarnya ingin up setiap hari, tapi apalah daya pekerjaan dunia nyata menyita waktu,"
🙏🙏🙏 ❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Suprasti Kristin
termehek-mehek...bagus banget ceritanya 👍
2024-11-07
2
LALA LISA
ketagihan ceritanya nih..ditunggu up nya/Rose/
2024-08-23
1
Erina Munir
semoga oprasinya lancar ...juga lastri selalu d berikan rejeki yg berlimpah aamiin
2024-01-29
0