Bab 16

"Toloooong... Bella tenggelam" pekik Rere dan Rara. Semua mata beralih memandangi sungai.

"Byuuuurrr"

Arman loncat ke kali, menyelamatkan Bella, lalu membopongnya ke pinggir. Bella menyusupkan wajahnya ke dada bidang Arman. Tanpa Arman sadari, Bella ternyata hanya pura-pura.

Lastri yang melihat itu, menatap keduanya ada rasa tidak ikhlas. Dengan hati kecewa Lastri meninggalkan tempat itu.

**********

Hari berganti minggu, bahkan bulan, satu tahun kemudian, Lastri saat ini sudah semester dua. Bukan hal yang mudah baginya untuk melalui semua itu.

Hubungannya dengan dosen Arman Jaya Putra belum membaik. Lastri tidak memikirkan itu dulu yang penting mengejar cita-citanya.

Bella bak monster yang siap menerkam mangsanya. Namun, dengan kemampuan yang ia miliki Lastri bukan wanita lemah seperti yang geng jutek perkirakan. Dan geng jutek pun saat ini sudah tertinggal semester oleh Lastri.

Begitu juga dengan kemampuan di bidang modiste. ( Menjahit) Lastri kini semakin berkembang.

Saat ini. Ia baru menyelesaikan pesanan baju almamater mahasiswa baru yang dipesan kampus dimana Lastri kuliah. 60 potong baju ia geber bertiga hingga selesai selama dua bulan.

"Wow! jahitan kamu rapi sekali" puji tiga panitia ospek. Ia membandingkan jahitan Lastri dengan jahitan orang lain, dan jahitan Lastri lah paling rapi.

"Terimakasih" ucap Lastri tersenyum ramah kepada tiga orang pria kakak angkatan.

Sebenarnya ada tiga ratus siswa baru yang membutuhkan baju tersebut. Namun, Lastri tidak mau serakah. Penjahit lain juga membutuhkan pekerjaan ini. Lastri pun minta panitia agar memesan ketempat lain ia cukup ambil seperempatnya saja.

"Ini jasamu, jika suatu saat nanti kami membutuhkan jasamu tolong persiapkan diri" titah kakak senior.

"IsyaAllah Kak, kalau begitu, saya permisi" ucapnya.

"Sama-sama" jawab senior.

Dengan rasa syukur yang tiada tara, Lastri naik angkutan umum kembali pulang ke rumah. Kedua temanya Herman dan Ayu yang membantu Lastri menjahit mungkin sedang menunggu kedatangannya karena saatnya mereka pun menikmati jerih payahnya.

"Tri... kamu baru pulang Nak?" tanya bu Yani, ketika Lastri sampai di depan kontrakan.

"Iya Bu, Ayu sama Herman belum datang ya?" Lastri balik bertanya.

"Belum, tadi temanmu yang bernama Dina sama Bayu, yaang kesini, tapi ibu suruh tunggu tidak mau" terang bu Yani.

"Oh, terus dia pesan apa Bu?"

"Dia bilang, Bapak kamu di kampung sakit Nak" kata bu Yani hati-hati menyampaikan, agar Lastri tidak kaget.

Blok" Lastri menjatuhkan tasnya di teras.

"Bapak saya sakit Bu? katanya sakit apa?" cecar Lastri air bening jatuh dari pelupuk mata.

"Saya kurang tahu sakit apa, tapi kata Dina Bapak kamu dirawat.

Deg.

Lastri duduk di teras dengan lemas, ia menyesal sudah satu tahun tidak menemui keluarganya. Telepon saja kadang-kadang jika ia sedang ke Warnet sekalian mengerjakan tugas. Lastri segera bangkit dari duduknya saat ini juga ia harus pulang.

"Bu Yani, saya titip uangnya Herman sama Ayu, tolong sampaikan jika mereka datang" Lastri menyerahkan dua amplop putih.

"Memang kamu mau kemana Nak?" bu Yani menerima titipan Lastri.

"Saya harus pulang ke kampung sekarang juga Bu," tegas Lastri.

"Terus... kuliah kamu bagaimana Nak?" bu Yani rupanya perhatian banget dengan Lastri.

"Liburnya masih seminggu lagi kok Bu, kalau begitu saya permisi,"

"Ya Nak, hati-hati di jalan, semoga Bapak kamu cepat sembuh" pesan bu Yani tulus.

"Aamiin..."

Lastri bergegas membuka kunci kontrakan, ambil tas yang sudah usang ketika berangkat ke Jakarta dulu. Ia hanya membawa baju ganti sedikit, toh di kampung baju lama juga masih ada.

Prak"

Apa boleh buat, celengan yang ia kumpulkan selama satu tahun ia pecahkan. Niat ingin membeli lap top dan hp ia urungkan, yang penting keselamatan bapaknya.

Dihitungnya pecahan dari 500 san, 1000 an hingga 10 ribu an.

Alhamdulillah lumayan, semoga cukup untuk biaya rumah sakit, transport, syukur-syukur bisa memberi ibu untuk tambahan belanja.

Lastri mandi, shalat dzuhur tidak buang waktu lagi dengan langkah cepat, ia meninggalkan kontrakan, celana jins kaos lengan panjang tidak lupa jaket agar tidak terlihat lekuk tubuhnya ia naik angkutan umum menuju terminal.

*******

"Bagaimana ini Wi, kalau kakak kamu nggak dapat pinjaman?" bu Santi ibu Lastri di kampung kebingungan, beliau sedang ngobrol bersama mbak Dwi, kakak kedua Lastri yang sedang menunggu pak Suryo bapak Lastri di rumah sakit.

"Maaf ya Bu, Dwi nggak bisa bantu biaya rumah sakit, Bapak," sesal Dwi yang sudah hamil tua, dan hanya mengandalkan Joko suaminya yang hanya bekerja srabutan.

"Tidak apa-apa Nak, sebenarnya, ibu itu nggak mau merepotkan kalian, kalian sudah punya tanggung jawab masing-masing," tutur bu Santi sedih.

"Tidak ada jalan lain Bu... kita harus kabari Lastri," usul Dwi.

"Ya Allah... Ibu nggak tega Wi" bu Santi sedih jika membayangkan beban anak ketiganya itu. Tinggal di rantau, seorang diri, harus bayar kontrak rumah, kuliah, membiayai adiknya itu saja sudah sangat berat, apalagi jika harus membebani biaya rumah sakit pula.

"Sebaiknya kamu pulang Nak, kasihan bayi dalam kandungan kamu," titah bu Santi.

"Baik Bu, Dwi pulang ya, perut aku terasa kencang ini," Dwi mengusap perutnya.

"Hati-hati Nak" bu Santi menatap langkah Dwi jalanya sudah sangat lelah karena hamil besar.

"Iya Bu, Ibu juga, jangan banyak pikiran, biaya rumah sakit nanti kita bicarakan lagi, jika Mas Eko tidak dapat pinjaman," hibur Dwi kemudian ke luar.

Sampai halaman rumah sakit, Dwi bertemu Doni, tetangganya, ia minta tolong agar menghubungi Dina sahabat Lastri memberi kabar jika bapaknya sakit. Hanya Doni satu-satunya orang yang punya handphone di kampungnya.

Sementara bu Santi mendesah kasar, suaminya harus segera menjalani operasi, menurut dokter batu ginjal menyumbat saluran kantong kemih. Dan sudah tentu, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

*******

Di waktu yang sama "Bu, saya mohon maaf, saya ingin meminjam uang untuk biaya berobat Bapak" kata mas Eko kakak pertama Lastri kepada bu Sulis yang tak lain ibu kandung Arman. Mas Eko bekerja di perkebunan buah milik bu Sulis, sejak berusia 18 tahun, hingga saat ini sudah 24 tahun.

"Enak sekali kamu! nggak kamu! nggak adikmu! semua merongrong" sinis bu Sulis.

"Nanti potong gaji saya Bu, tolong Bu... kami benar-benar kepepet," Eko tampak seperti pengemis, jika ada pak Burhan, tentu Eko dengan mudah, akan mendapatkan uang itu.

"Tidak bisa! saya bilang tidak! ya tidak!" bentak bu Sulis.

"Ya sudah Bu" Eko pun meninggalkan bu Sulis, lebih baik ia pulang menggantikan ibu menunggui bapaknya di rumah sakit. Eko kecewa, sebenarnya ia sudah tak sudi lagi bekerja di situ, jika tidak memandang pak Burhan bahwa beliau orang baik.

Selama bekerja di rumah bu Sulis baru kali ini Eko meminjam uang, walaupun sudah bekerja selama 5 tahun. Itupun tanpa sepengetahuan Lastri. Jika Lastri tahu, pasti ia akan dimarahi. Sebelum berangkat ke Jakarta, Lastri sudah mewanti-wanti agar jangan merepotkan orang, terlebih orang itu bu Sulis.

Terpopuler

Comments

SR.Yuni

SR.Yuni

Please ya Lastri jangan nikah muda ....sukses dulu kumpulin harta yg banyak bikin bangga orang tua kami. biar gak dihina terus , pasti ada jodoh yg baik untukmu....

2025-02-18

0

Erni Kusumawati

Erni Kusumawati

semoga Lastri sukses dan bs merubah ekonomi keluarga.. aamiin

2023-08-06

2

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

pengen bngt nyelepet bibir nya bu Sulis pake silet

2022-11-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!