Pak Arman merobek-robek paper milik Bella menjadi empat bagian.
"Bella, jika kamu tidak ingin mendapat nilai e, kerjakan tugas yang saya berikan sebaik-baiknya," perintah pak Arman.
"Iya Pak" jawab Bella, tetapi dalam hatinya ngedumel.
Pak Arman kembali mengajar tetapi kali ini dengan tema yang lain, hingga pelajaran selesai, jam istirahat pun datang.
Sulastri merapikan buku sebelum keluar, sedangkan teman-teman yang lain sudah berjalan lebih dulu.
"Tri" sapa pak Arman yang sudah berdiri didepanya.
"Ada apa?" Lastri mendongak, menatap pria yang tingginya 180 itu, iris mata mereka saling bertemu, cinta mereka masih menggelora, namun ada dinding tebal yang sulit ditembus. Lastri segera menunduk, ia sadar siapa dirinya. Arman dan dirinya seperti bumi dan langit.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Arman sudah sejak empat bulan yang lalu, sejak wanita didepanya ini membatalkan pernikahanya. Arman mencari kemana-mana tidak menemukan, bahkan nomer handphone Lastri pun tidak pernah bisa dihubungi.
Lastri tidak menjawab, ia belum ada niat memberi tahu alamatnya, kata-kata bu Sulis yang tak lain ibu kandung Arman yang menghina dirinya masih basah dalam ingatan.
"Saya duluan, Pak" ucapnya kemudian Lastri meninggalkan Arman.
Arman menatap langkah gadis yang dicintainya itu hingga tidak terlihat. Hati Arman tak kalah sakit, mengapa ia sulit sekali menikahi gadis pilihanya ini hanya karena keegoisan ibunya? cintanya dengan gadis kecil sejak SMP yang tak lain muridnya sendiri, putus nyambung.
Arman menarik nafas berat kemudian ikut keluar.
"Tri, kamu disini? pantesan... aku cari dari tadi kok nggak ketemu" kata Rudy mengejutkan lamunan Lastri ia sedang duduk sendiri di taman kampus.
"Nindy kemana?" Lastri balik bertanya.
"Nggak tahu, dari tadi nyari dia juga nggak ketemu" Rudy membuka kedua telapak tangannya. "Bantu nyari dia yuk, aku lapar nih pengen kekantin," sambung Rudy.
"Ayo"
Mereka mencari kesana kemari hingga menjelang masuk jam kedua belum juga bertemu.
"Kita coba ketaman belakang" Lastri menarik tangan Rudy.
"Masa kesana sih, Tri, mana mungkin Nindy disana" kata Rudy sambil berjalan mengejar langkah Lastri yang lebih cepat mengalahkan Rudy yang laki-laki.
"Namanya juga mencari, Rud, ya kemana saja, yang penting kan, masih seputar kampus," kata Lastri memang benar.
Mereka sampai dibelakang kampus. Lastri terkejut karena Nindy memang sedang disana sedang ditunjuk-tunjuk oleh geng jutek, entah apa yang mereka bicarakan.
"Heh! gendut, kerjakan tugas dari Pak Arman, jika tidak... kamu akan tahu akibatnya!" Bella mengancam Nindy.
Nindy hanya diam tidak menolak maupun mengiyakan.
"Awas! kalau sampai temanmu orang kampung itu sampai tahu!" Bella kembali mengancam.
"Apa tugas yang harus aku kerjakan" Nindy pada akhirnya mengalah.
"Tunggu" Lastri yang sejak tadi bersembunyi mendengarkan ancaman Bella, ia menghampiri sambil bersedekap dada diikuti Rudy.
"Kita disini sama-sama mencari ilmu, dan tidak boleh saling perintah, termasuk kamu Bella," kata Lastri tidak mau ada yang saling menindas.
"Apa loe! miskin?! selalu ikut campur?!" sinis Bella.
"Saya akan selalu iku campur, jika ada orang sok, berkuasa." pungkas Lastri.
"Ayo Nin" Lastri mengajak Nindy pergi.
Bella mengepalkan tangan "Kurang ajar tuh cewek kampung! aku harus membuat perhitungan!" ucapnya geram. Geng jutek lantas pergi juga.
"Waktunya tinggal sedikit lagi nih, kita makan apa yang cepat?" tanya Rudy.
"Entar juga masih istirahat kali Rud?" mereka pun tertawa.
Di kursi tidak jauh dari tempat itu Adnan sedang senyum-senyum sendiri memperhatikan Lastri, yang sedang tertawa. Gadis itu tidak pernah berubah dari dulu. Adnan menjadi ingat saat Lastri melawan perampok yang sedang menjambret seorang ibu. Lastri bisa mengalahkan kedua penjambret dengan mudah.
"Yang... kakiku sakit..." Bella duduk disebelah Adnan menunjukkan kakinya yang memar.
Adnan tidak menghiraukan. "Kenapa kaki loe?" Bobby yang bertanya.
"Di injak gadis kampung itu," Bella menunjuk Lastri berbohong, padahal dia tadi terpeleset ketika ingin menanjak gundukan tanah dibelakang kampus.
"Maksudnya, Lastri?" tanya Bobby.
"Iya, gw tadi didorong sama dia" adunya.
"Yang... jangan diam saja dong... hukum dia, kalau perlu, keluarkan dari kampus ini," rengek Bella pura-pura sedih menarik-narik lengan tunangannya.
"Jangan suka memfitnah orang" ucap Adnan kemudian pergi meninggalkan Bella. Bobby pun ikut berdiri lalu mengejar Adnan.
"Ahahaha... yang... yaang... yaaaang..." Bobby meledek Adnan mengulang kata sayang Bella tadi.
"Jangan meledek! enek! gw," ucap Adnan kemudian masuk kedalam kelas.
*******
Tiga hari kemudian seperti biasa, Lastri pulang dari kampus merampungkan jahitan milik ibu Yani yakni pemilik kontrakan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Oh Nak Lastri, tumben... sempat kemari, biasanya sibuk terus..." Bu Yani heran sudah kontrak rumah disini selama tiga bulan Lastri baru sekali ini datang.
"Mau mengantar jahitan Bu" jawabnya, lalu menyerahkan kantong plastik.
"Waah... sudah jadi..." bu Yani senang lantas membuka gamis kemudian mencoba baju tersebut.
"Bagus banget Tri... nanti saya promosi ke teman-teman pengajian deh" bu Yani berputar-putar melihat tubuhnya tidak berhenti tersenyum.
"Terimakasih, Bu, kalau gitu saya pamit pulang"
"Tunggu Tri, jasanya berapa ini?" tanya bu Yani menghentikan langkah Lastri.
"Biasanya 60 ribu, tapi terserah Ibu saja mau membayar berapa," jawab Lastri.
"Ya tunggu dulu" Bu Yani masuk kedalam ambil uang lalu memberikan kepada Lastri. "Ini lebih nya ambil saja," bu Yani menyerahkan uang 100 ribu.
"Ini banyak sekali Bu" Lastri menatap ibu keheranan.
"Nggak apa-apa" jawab bu Yani.
"Terimakasih bu... saya pulang"
Lastri kemudian pulang dengan hati senang, dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sisa untuk makan dan membayar kontrakan. Walaupun kuliah mendapat beasiswa namun tetap saja membutuhkan biaya untuk beli buku, transport, dan lain-lain.
Lastri ambil celengan yang ia simpan didalam lemari lalu memasukan uang tersebut.
Lastri kembali menuju mesin jahit melanjutkan menjahit kerudung, dan membuat topi. Kerudung dan topi ini ia akan tawarkan ke kampus siapa tahu ada yang minat membeli.
******
Pagi hari dikampus swasta Lastri masuk halaman dengan santai tanpa malu menenteng kantong plastik.
"Kamu membawa apa?" tanya Nindy ketika mereka berpapasan.
"Topi sama kerudung, siapa tahu ada yang tertarik," jawab Lastri membiarkan kantongnya dibuka Nindy.
"Kamu jualan?" tanya Nindy kemudian merentangkan kerudung.
"Iya Nin, lumayan kan buat nambah-nambah penghasilan," jawabnya kemudian minum air dalam botol yang ia bawa dari rumah, berjalan 1km tadi belum lagi naik angkutan membuat tenggorokan nya terasa kering.
"Waah... bagus Tri, aku membeli empat deh, untuk adik dan kakak aku, tapi bayar satu dulu ya, yang dua besok, boleh nggak?" tanya Nindy sebab dia tidak membawa uang banyak.
"Jelas boleh lah," Lastri tampak senang.
"Aku pilih warna yang berbeda" Nindy ambil tiga sekaligus, setelah menemukan yang cocok, lalu menggantung dilengan. Namun secepat kilat wanita yang memakai celana jins robek-robek menarik kerudung dilengan Nindy.
"Heh! loe pikir ini pasar?! jualan disini, bikin malu kampus saja, kampus ini milik tunangan gw tahu nggak loe?!" Bella mencibir sombong.
"Kembalikan!" Lastri mendekati Bella yang akan memasukkan kerudung kedalam selokan. Namun belum sampai jatuh tangan kekar menangkap kerudung tersebut.
"Jaga sikap loe Bella, jika tidak?! gw yang akan mengeluarkan loe!" Adnan menatapnya tajam.
*******
"Haii.. reader... terimakasih, yang sudah hadir, Mak mengangkat kisah ini kisah nyata tahun 90 han. hehehe... Mak sudah tua ya?
Jika ada yang pernah membaca kisah Lastri ketika SMP dan SMK pasti tau, kalau jaman Mak dulu bukan SMK melainkan SMEA.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Mamah Enung
sama aku juga smes Alhamdulillah di sekolah ku tidak ada yang kaya jadi aman buliyan
2025-03-21
1
Two Mile
4-1=2
super jenius banget nih mahasiswa😂😂
2024-08-14
2
Erina Munir
iyaa mak ...aku juga udh tua..jdi aku ngalamin mak
2024-01-19
1