Dukun

Matahari sudah terbit dari ufuk timur, burung-burung mulai keluar dari sarangnya, kicauan dan suara ayam mulai terdengar berirama, pagi hari yang cerah ini akan dihabiskan Riana untuk tidur, dirinya masih mengantuk berat akibat kejadian semalam, orang tua Riana juga sama...hari Minggu pagi semuanya akan dihabiskan keluarga itu untuk beristirahat. Tetapi tidak dengan keluarganya Febby, gadis itu sedang memasukkan baju-baju kedalam tas, dia dan keluarganya rencananya akan keluar kota tepatnya pulang kampung. Febby sekeluarga tadi subuh mendapatkan kabar yang bahwa sang nenek sudah tutup usia alias sudah direkuh oleh yang

Mahakuasa dibawa pergi sejauh-jauhnya dan tak akan kembali.

Febby juga sudah mengirim pesan lewat via WhatsApp untuk kedua temannya itu–Riana dan Andre.

Mobil Avanza berwarna hitam sudah terparkir di halaman rumah, Sinta–mamanya Febby, surya–papanya Febby dan Fadil–abanya Febby, mereka bertiga sudah berada didalam mobil, Febby membuka pintu mobil dan masuk.

Mobil itu mulai melaju membelah jalanan komplek perumahan itu.

"Bang nenek sebenarnya sakit apa sih? Perasaan nenek sehat-sehat aja." Tanya Febby heran, setahunya sang nenek sangat sehat bugar tapi kenapa sekarang mereka mendapatkan kabar kalau sang nenek sudah tiada.

"Udah ajal dek." Ucap Fadil.

"Ajal gak ada yang tahu dek, semuanya akan terjadi jika waktu nya memang udah tiba, jadi kita keluarga yang ditinggal hanya bisa bersabar dan harus tegar, banyakin baca doa untuk yang sudah pergi duluan." Ujar bijak Surya–ayahnya Febby.

Febby hanya mengangguk lalu melihat keluar kaca mobil. Mobil mereka sudah masuk kedalam jalan raya.

"aneh, perasaan kemarin aku baru VC sama nenek, eh tadi pagi udah dateng kabar kalau nenek udah gak ada, hmm apa jangan-jangan ada yang main-main sama nenek yah?!" – batin Febby menerka-nerka.

"Dek gak sudah mikir yang enggak-enggak deh, itu udah takdir nenek, lagian nenek juga udah tua juga." Ucap Fadil yang melihat raut wajah sang adik, dia tahu yang adiknya pikirkan karena memang itu kemampuan terpendam dari seorang Fadil Setiawan, Fadil mampu membaca pikiran seseorang hanya lewat membaca mimik dan ekspresi seseorang. Febby menoleh dan menatap sang Abang sini.

"Soktoi kamu bang, siapa juga yang mikir yang enggak-enggak orang lagi mikir yang iya-iya." Ketus Febby yang masih menampilkan ekspresi sinis nya. Fadil memutar bola matanya jengah.

"Kamu pikir Abang gak tahu kamu lagi mikir apa? Ini Fadil yah Fadil." Ucap sewot Fadil. Kali ini Febby yang memutar bola mata nya.

"Sok tahu kamu bang, udah ah jangan ganggu aku, aku mau lihat pemandangan dulu." Febby kembali fokus dengan pemandangan kota. Pikirannya mulai menerka-nerka, pandangan mata yang terpancar kekosongan. Fadil menepuk bahu sang adik, dan membuat sang adik kesal bukan main

"Apaan lagi sing bang Fadil?" Kesal Febby.

"Jangan ngelamun, nanti kesambet lagi, kalau kamu yang kesambet susah ngurusin nya, setan yang masuk kedalam tubuhmu itu pada jago taekwondo, kan Abang gak bisa mengatasinya." Ucap Fadil di akhiri kekehan.

PLAKKKK

"Jadi orang jangan ngeselin yah." Ketus Febby yang baru saja memukul lengan kekar milik sang Abang, sementara Fadil hanya meng-aduh kesakitan... pukulan dari Febby memang keras tangan Febby aja berurat hampir sebelas dua belas dengan tangan seorang laki-laki

"Sakit tahu dek, main pukul-pukul aja, Mana tangan nya enteng banget lagi mukul orang." Kesal Fadil sambil terus mengelus lengannya.

"Mau ku pukul pakek sepatu hah?" Kesal Febby tak mau kalah. Fadil hanya menggeleng

"Hehe jangan dong adek sayang, masa abangnya mau dipukul pakek sepatu, nanti lecet gimana, gak sayang emang sama abang mu yang tampan tiada bandingan nya ini?" PD Fadil lalu menunjukan cengirannya.

"PD boleh, ke pedean yang jangan...muka ke pantat monyet aja bangga, masih gantengan Taehyung bitess juga." Ujar Febby

"Yeuahh abang ganteng yah, gak kalah ganteng dari Taehyung Taehyung mu itu." Balas Fadil yang senantiasa percaya diri..

"Mah dia anak di siapa sih, PD nya keterlaluan." Febby bertanya pada sang Mama, Mama Febby mengangkat bahunya "tanya papa kamu."

"Pah dia anak siapa sih, kok PD banget."

"Ouh dia, anak yang papa pungut di got dekat rumah pak RT." Jawab Surya diakhiri kekehan begitu juga dengan Sinta, Febby tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sang papa tadi, sementara Fadil hanya mengerucutkan bibirnya.

"Hahaha anak pungut, kasian banget huahahaha." Ejek Febby

"Pah kok aku dibilang anak pungut sih!" Protes Fadil tak terima. Surya hanya mengangkat bahu nya dan tentunya matanya masih fokus dengan jalanan didepan nya. Fadil semangat kesal dia melipat kedua tangannya di dada.

Febby semakin suka menggoda dan mengejek sang Abang jika sudah ngambek kayak gitu.

"Pah anakmu ngambek tuh." Febby terkekeh.

"Ouh ngambek yah! Dikasih uang nanti gak akan ngambek lagi kok dia." Ujar sang papah.

Febby kembali tertawa, mengejek sang Abang memang salah satu hobi nya.

*

*

*

Sore harinya, keluarga Riana sudah siap dan rapi, seperti rencananya, mereka akan pergi ke dukun menutup mata batinnya Riana.

Riana berserta kedua orang tuanya pergi mengunakan mobil pribadi milik ayahnya. Hari ini Riana terlihat sangat murung, mungkin akibat kejadian semalam membuat nya takut. Kinan mencoba mengajak bicara anaknya, mencoba menghibur sang putri, namun semua yang dilakukannya hanya mendapatkan respon tatapan kosong dari Riana. Dan akhirnya Kinan pun menyerah.

"Mas...Riana dari tadi murung mulu, aku takut kalau dia kenapa-kenapa." Ujar Kinan, Reno melirik sang istri sebentar lalu kembali fokus pada jalanan didepan.

"Gak akan terjadi apa-apa dengan Riana, dia hanya trauma dengan sesuatu yang dilihat nya semalam, kamu gak usah khawatir." Balas Reno, laki-laki paruh baya itu menfokuskan dirinya pada jalanan didepan nya. Kinan mengangguk, lalu berucap lirih

"Iyah semoga gak  terjadi apa-apa."

"Bu." Panggil Riana, Kinan segera menoleh kearah sang putri yang duduk di kursi mobil tengah.

"Yah nak, ada apa?" Tanya Kinan.

"Bu...apa ada kejadian kecelakaan mobil dua tahun lalu di jalan masuk bukit, yang melibatkan mobil pribadi dengan bus, dan mobil pribadi itu masuk jurang?" Tanya Riana.

Kinan mengerutkan keningnya.

"Oh... iya ada, dan korban nya itu mantan tetangga kita, yang didepan ruang itu, mereka dua tewas ditempat kejadian." Bukan Kinan yang menjawab tetapi Reno yang menjawabnya.

Riana mengangguk, lalu kembali diam, dia kembali menyelusuri dalam pikiran, memikirkan mimpi nya kemarin malam, dia memimpikan kejadian tentang kejadian yang menewaskan sepasang suami istri itu.

'tetaga  depan rumah?kok aku gak tahu...aku juga gak ingat sama penghuni tumah

Mobil ayah Riana terparkir disebuah rumah minimalis bercat coklat, mereka ber-tiga keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju teras rumah itu.

Diketuk nya pintu oleh Reno...

Tok'

Tok'

Tok

"Permisi...ada orang tidak di rumah ini." Ucap Reno dengan tangan yang terus mengetuk.

Ceklek~

Pintu dibuka oleh seorang laki-laki dengan jenggot putih panjang

"Yah ada apa yah?" Tanya orang tuanya berjenggot itu.

"Hm apa disini rumah Mbah Yanto?"

Tanya sopan Reno. Laki-laki tua berjenggot putih itu mengangguk.

"Ada apa yah nyari saya?" Tanya si Mbah Yanto.

"Ehm saya mau minta bantuan si Mbah, saya mau nutup mata batin anak saya." Jelas Reno.

"Maaf... saya sudah tidak melakukan hal itu lagi, saya sudah insyaf, sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa membantu nya." Jelas si Mbah yang memang sudah berhenti dari perkerjaan musrik itu.

Reno menghelahkan nafasnya lalu diusapnya wajahnya kasar.

"Kalau boleh tahu apa disekitar sini ada orang yang sepi si Mbah?" Tanya Reno lagi, si bapak berjenggot itu menggeleng.

"Oh yaudah, kalau begitu saya pamit pulang dulu mbah, assalamualaikum. Ayok Bu, Riana." Ucap Reno dianggukin oleh istri dan anaknya.

"Yah  walaikum salam." Jawab si Mbah lalu masuk kembali kedalam rumahnya itu.

Mobil milik Reno sudah melaju meninggalkan tempat tadi, mobil itu telah masuk kedalam jalan raya. Jalanan saat itu sedang sangat padat.

"Bu, ayah gak tahu lagi tempat orang-orang pintar." Keluh Reno pada sang istri, Kinan terdiam sejenak memikirkan apa yang bisa mereka lakukan sekarang.

Hening~

Ketiga nya sibuk dalam pikirannya masing-masing.

mobil hitam milik Reno berhenti didepan rumah minimalis milik keluarga nya, mereka bertiga turun dari dalam mobil, Riana pamit pada kedua orang tuanya lalu pergi menuju kamarnya.

dikamar Riana menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuknya, lalu di keluarkan keluarkan nya benda pipi dari dalam saku celana, membuka aplikasi berwarna hijau dengan tulisan- WhatsApp

kening Riana berkerut saat mendapatkan pesan dari Febby, pesan itu dikirim pukul enam pas dan Riana baru membuka nya sore hari. di bukanya room chat nya dengan Febby, lalu mengetik balasan untuk sang teman

...Room Chat...

^^^inalillahi wainailaihi Raji'un, turut berdukacita atas kepergian Oma mu feb, yang sabar yah...hm maaf baru balas sekarang^^^

...tak butuh lama, chat dari Riana langsung dibalas oleh Febby...

|iya thanks na, gak apa-apa

eh Bye the way Lo kok dari semalam gak online-online kemana aja? kok baru nongol?

...Riana mengigit bibir bawahnya, apa dia akan menceritakan kejadian semalam pada Febby? atau merahasiakan nya...

^^^ah itu...anu gue baru pulang dari^^^

^^^rumah dukun tadi^^^

lah ngapain kerumah dukun ? mau nyantet orang kamu?

^^^yeuhh sekate-kate Lo^^^

hehehe sorry, terus ngapai ke rumah dukun?kalau bukan mau nyantet orang!?

^^^gue mau nutup mata batin gue...gue di ganggu lagi sama itu makhluk...gue takut feb..^^^

^^^takut banget, gue stress kalau setiap saat, tiap waktu didatengin sama dedemit. gue pengen hidup kek orang lain^^^

...akhirnya hanya kata-kata keluh kesah yang terketik dan terkirim kepada Febby, sementara diserang sana, Febby juga menghembuskan nafasnya ngungsar, dia juga ingin terlepas dari hal ngapai, tapi dia tahu itu tak mudah, tepat nya itu sangat susah, karena Febby sudah terikat dengan hal-hal ghaib itu sudah dari dalam kandungan sang ibu. Febby mengetik balasan untuk Riana lalu mengirimkan pada Riana....

gue juga mau kayak anak-anak lain Na, gue juga gak mau berhubungan dengan hal mistis, gue capek

...Riana mengusap wajahnya yang memanas ingin rasanya dia menangis sekencang-kencangnya hingga membelah seluruh alam semesta, dia lelah, dia kasian dengan nasibnya dan dengan nasib Febby yang hampir sama dengannya, dia dan Febby benar-benar lelah dengan semua itu, ingin terlepas pun tak semudah membolak-balikkan telapak tangan, semua nya susah karena mereka sudah terikat dengan hal mistis sejak kecil, kedua gadis ditempat yang berbeda sama-sama menghembuskan nafasnya lelah. lelah akan takdir nya masing-masing, lelah karena terus dihantui oleh makhluk-makhluk tak terlihat itu, lelah, lelah dengan semuanya, lelah akan kehidupan yang menyuruh mereka tetap bertahan walaupun di hantui oleh para jin-jin itu....

Riana, gadis itu menyimpan HP nya setelah selesai melamun, tak ada minat untuk melihat hal lain, atau sekedar melihat notif dari dalam grup lain, hanya chat dari Febby yang dia balas, itu pun tak lama, karena tiba-tiba mood nya hancur akibat terlalu larut dalam pikirannya sendiri, memikirkan caranya untuk menghilangkan mata batin yang menurut Riana sang sialan itu.

matahari sudah terbenam di ufuk barat, Riana memutuskan untuk berwudhu saat mendengarkan suara adzan mesjid, setelah berwudhu Riana mengambil mukena putih dan berjalan menuju tempat bisa dia menunaikan salah...lima menit berlalu Riana sudah selesai dengan ibadah shalat Maghrib nya, sekarang gadis itu sedang berdoa pada yang Mahakuasa

"Ya Allah, tolong hilangkan mata batin ini dari hamba, hamba sudah tak sanggup melihat makhluk-makhluk ciptaan-Mu itu Ya Allah, hamba mohon, hilangkan kemampuan ini dari hamba, hamba tak sanggup kalau setiap saat di ganggu oleh kemunculan-kemunculan mereka, hamba Mohon Ya Allah."

setelah menyelesaikan doa nya Riana membereskan perlengkapan sholat nya lalu menyimpan nya ditempat yang seharusnya. setelah itu Riana keluar dari kamar hendak menuju meja makan yang terdapat didapur, disana sudah ada ayah, dengan ibu yang sedang menyusun lauk berserta pauk nya diatas meja.

"sini Riana bantu." ujar Riana lalu membantu sang ibu meletakkan masakannya diatas meja, ibu hanya mengangguk sebagai respon nya.

Terpopuler

Comments

Diana Diana

Diana Diana

seru tapi 1 babny pajang2

2022-08-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!