Sementara di sebuah rumah minimalis bernuansa modern bercat emas, dikamar Febby gadis itu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya
...ROOM CHAT ...
...Febby...
|Na, gimana? Mau lanjut penyelidikan di sekolah?
^^^gue lagi tinggal sama om tante gue,| ^^^
^^^dikampung sebelah^^^
^^^Oh yah, emang sekolah yang di buka| ^^^
^^^kan untuk berapa hari kedepan penjagaan di sekolah makin ketat yah?!^^^
|Iya sih, yaudah kalau gitu yang disekolah ditutup dulu yah kan?!
^^^Ho'oh, gue setujuh|^^^
Setelah pesan berakhir, Febby langsung menyimpan HP nya di nakas.
Gadis itu terlihat banyak pikiran, diurutnya pelipisnya. Mata panda melingkar di kantung mata nya.
"Gara-gara suara semalam gue sampe gak tidur, ke dua B." Kesalnya.
Beberapa hari telah berlalu, rencana rukiyah waktu itu telah tuntas, para makhluk tak kasat mata yang mengangguk Riana di rumah nya paman Aji sudah musnah berkat doa-doa dan zikir yang dilantunkan oleh ustadz Bintang.
dikamar Riana, gadis itu sedang memasukkan baju-bajunya kedalam tas, ibu dan ayah rencananya malam nanti akan sampai dirumah, jadi sore ini paman Aji akan mengantarkan Riana ke rumah nya.
"Sudah siap Riana?" Tanya paman Aji yang berdiri di ambang pintu.
"Sudah paman." Riana memakai tas nya di punggung.
"Gak mau makan malam disini? Mau langsung pulang?" Tanya paman Aji.
"Langsung pulang aja Paman." Jelas Riana, dia memang sangat merindukan rumah nya. Paman Aji mengangguk lalu melangkah pergi
"Paman tunggu di depan yah!" Riana manganguk lalu mengambil HP yang tadi di cas nya, lalu mengikuti paman ke halaman depan rumah.
Motor matic milik Aji melesat membelah jalanan desa, mata hari sebentar lagi akan terbenam di ufuk barat, warna jingga berpadu dengan warna kelabu menghiasi langit indah diatas sana, terpaan angin menyapu poni panjang Riana.
"Paman!"
"Yah, ada apa?" Tanya Aji, matanya masih fokus dengan jalanan didepannya.
"Tante Suci masih di laundry? Tumben sekali pulang telat, biasanya sore jam lima sudah pulang Tante nya."
"Mungkin banyak kerjaan, jadi pulang telat." Jelas paman aji. Riana yang dibelakang hanya mengangguk saja.
Sepuluh menit telah berlalu, kini motor matic milik Paman Aji sudah terparkir di halaman depan rumahnya Riana. Aji duduk di kursi yang ada di teras, sementara Riana gadis itu masuk kedalam rumah untuk menyimpan tas yang tadi.
"Paman..." Riana berdiri didepan pintu utama rumah nya. Paman Aji menoleh, keningnya berkerut tanda bertanya
"Ada apa Riana?"
Riana berjalan menuju kursi satu nya lagi lalu duduk di sana.
Riana menggeleng "aku pikir tadi paman udah pulang, eh ternyata masih disini." Jelas Riana diakhiri dengan cengiran, paman Aji hanya tersenyum lalu mengelus rambut berponi panjang sang keponakan
"Paman mau nemenin kamu dulu, mungkin nanti orang tuamu pulang kemalaman." Riana tersenyum mendengar kan ucapan sang paman.
"Kalau paman nemenin aku...siapa yang nemenin Tante Suci dirumah?paman gak mau kan Tante digangguin sama makhluk-makhluk gak kelihatan itu kan, atau paman gak mau juga kan kalau Tante Suci di empat sama laki-laki lain." Goda Riana.
"Cih kamu Riana, kamu membuat paman jadi gak tenang ini." Kesal paman yang tiba-tiba khawatir pada sang istri—Suci, Riana hanya tertawa kecil lalu berkata
"Makanya paman pulang saja, nemenin Tante suci, dijagain jangan sampai di ambil laki-laki lain." Paman Aji bangkit dari duduknya
"Kalau gitu paman pulang dulu." Riana mengangguk lalu ikut bangkit dari duduknya
"Kamu langsung masuk gih, udah malam, gak baik duduk diluar."
"Iya paman, paman hati-hati dijalan yah." Aji hanya mengangguk lalu naik keatas jok motor matic nya
"Kamu kalau terjadi apa-apa langsung telfon paman atau Tante yah."
"Iya paman."
"Paman pulang dulu, assalamualaikum." Motor matic milik
Aji melesat meninggalkan perkaraga rumahnya Riana
"Walaikum salam." Riana memutuskan masuk kedalam rumahnya, langit sudah berubah menjadi kelabu dan sebentar lagi akan muncul warna hitam pekat, Riana menuju kamar mandi, ia akan menunaikan ibadah shalat Maghrib dahulu.
*
*
*
Malam semakin larut, tetapi ibu dan ayah Riana belum juga sampai dirumah, Riana hanya duduk diatas ranjang dengan tangan memegang hp android miliknya, dia sudah menelfon sang ibu dan mengirim pesan kepada nya, dan katanya ada sedikit kendala dalam perjalanan pulang, yaitu bus mengalami kebocoran ban di daerah hutan, jadi mungkin mereka akan tiba di rumah sekitar jam empat-lima subuh.
Riana menyimpan HP nya diatas nakas, dia memutuskan untuk segera tidur, karena malam yang sudah begitu larut matanya sudah sedikit berat untuk dibawa bergadang. Ditarik nya selimut tebalnya dan diselimuti seluruh tubuhnya, Riana memejamkan matanya, dia tak lupa membaca doa dahulu.
Belum sempat Riana masuk kedalam alam bawah sadarnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, mata Riana yang tadi sudah hampir terpejam sekarang kembali terbuka lebar, Riana pergi keluar dari kamar dan menuju pintu utama, dia tidak akan membuka pintu, namun mengintip dibalik gorden jendela, memastikan siapa yang datang.
'lah bukannya ban bus nya bocor, dan di bilang nya sampe dirumah subuhan, tapi kok dah pulang aja.' batin Riana, di pegang nya kenop pintu lalu
CEKLEK~
Pintu terbuka dan menampilkan kedua orang tua nya Riana—kinan dan Reno.
Diciumi kedua punggung tangan orang tuanya.
Setelah itu dipersilahkan kedua orang tuanya itu untuk masuk kedalam rumah.
Kinan dan Reno duduk di sofa, Riana juga ikutan duduk di sofa single, kening Riana berkerut, dia tak melihat tas ataupun koper didekat orang tuanya.
"Bu, koper sama tas kalian kemana?" Tanya Riana heran.
"Oh ketinggalan didalam bus." Jawab Kinan dengan lirih
Mendadak suasana di ruang tamu menjadi dingin, bulu kuduk Riana berdiri.
Dia bangkit dari duduknya lalu pergi menuju kamarnya tanpa berpamitan pada dua orang itu, sesampainya dikamar, Riana langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam, dia langsung duduk diatas kasurnya, tangannya mengambil hp yang tadi disimpan nya di nakas.
Mengetik dan mengirim pesan kepada sang ibu. Beberapa saat setelah pesan dikirim, suara dering hp menandakan ada Telpon dari seseorang—ibu
Segera diangkat telfon itu, dan terdengar suara ibu didalam sana.
"Bu...ibu udah masuk kamar?" Tanya Riana, seseorang yang diseberang sana mengerutkan keningnya.
'Masuk kamar? Ibu lagi dalam bus, mana ada kamar didalam bus...Riana Riana, ada-ada saja kamu ini.' Balas ibu dari seberang telfon, jantung Riana seakan mau loncat dari tempatnya mendengarkan ucapan sang ibu tadi, segera dialihkan telfon menjadi Video call, dia masih tak percaya dengan ibunya tadi. Panggilan video call sudah tersambung, dan ternyata benar, ibu masih didalam bus.
'kenapa na?kok tiba-tiba telfonnya dialihin jadi VC?' tanya ibu, Riana hanya mampu mengeleng-geleng, tiba-tiba lidahnya keluh untuk dibawa berbicara, didalam hatinya dia sedang bertanya-tanya, siapa kedua orang yang tadi di ruang tamu, kalau ibu masih di perjalanan pulang.
'Riana kok bengong, Kenapa nak? Apa terjadi sesuatu?' tanya ibu yang sejak tadi memerhatikan wajah sang putri dari dalam layar HP nya–pangilanh VC masih tersambung, Riana menggeleng
"Riana tutup yah bu VC nya, oh yah kalau udah sampai kerumah di chat aja yah bu." Ucap Riana dan hanya mendapatkan anggukan kepala dari sang ibu
Tut...Tut
Panggilan Video call di tutup oleh Riana, lalu di simpanya benda pipi keatas nakas. Riana kembali masuk kedalam selimut sekarang dia menyelimuti seluruh tubuhnya dari kaki hingga menutupi seluruh kepalanya. Mulut Riana membaca zikir berserta doa, meminta pertolongan kepada yang Mahakuasa agar dihindari dari segala mahkluk yang menggangu.
Rintik hujan mulai terdengar, guntur dan kilat mulai datang menyertai, suara angin mulai bergemuruh, Riana mencoba memejamkan matanya.
Dengan mulut yang terus bergerak membaca doa-doa.
BRAKKKKK
"Astagfirullah." Ucap Riana kaget, di bukanya sedikit selimut untuk melihat apa yang terbanting tadi.
"Astagfirullah." Riana membulatkan matanya lalu kembali masuk ke dalam selimutnya.
"Ya Allah mahkluk apa tadi... jauhkan makhluk-makhluk itu dari hamba Ya Allah, hamba takut." Batin Riana, barusan dia melihat dua sosok hantu, satu hantu perempuan dengan wajah yang hancur dengan perut yang sudah bolong dan satu lagi sosok pria tanpa kepala dan tanpa kaki kiri, kedua mahkluk itu sama-sama bersimbah darah, kedua mahkluk itu berdiri disebelah jendela yang terbuka...angin semakin kencang, jendela yang terbuka menimbulkan suara decitan yang sangat nyaring dan itu menambahkan kesan horor.
"Ibu...ayah... cepat pulang ibu ayah, Riana takut." Lirih Riana yang sudah terisak, air mata mulai luruh dari pelupuk mata Riana. Baru kali ini Riana menangis karena takut.
Kepala Riana mulai berdenyut, entah memory siapa yang tiba-tiba masuk kepala kepalanya, terlihat suatu kejadian mengenaskan yang menewaskan satu keluarga, satu orang laki-laki berusia sekitar 30 tahunan, dengan wanita berusia 28 tahunan yang sedang hamil tua, sepasang suami itu tewas akibat mobil yang mereka tumpangi masuk kedalam jurang yang curam.
"Akhhh." Jerit Riana yang kepalanya tiba-tiba sakit, rasanya kepalanya akan pecah saat itu juga, air mata mulai terjun dengan sangat deras nya.
Riana sudah keluar dari dalam selimut, sekarang posisi sedang duduk diatas kasur dengan kedua tangan memegang kepala.
CEKLEK
Pintu kamar Riana terbuka, menampilkan sepasang suami istri dengan kresek biru besar ditangannya.
"Riana!" Seru kinan–ibunya Riana, dia berlari masuk kekamar Riana dengan diikuti sang suami–Reno dibalangnya.
Mereka terkejut saat melihat keadaan sang putri berantakan dan terus menjerit kesakitan.
Kinan duduk disisi kasur Riana
"Kamu kenapa nak?" Tanya Kinan khawatir dengan keadaan Riana.
"Kamu kenapa Riana?" Kali ini Reno—ayahnya yang bertanya, tentunya dengan raut wajah yang tak kalah jauh khawatir.
"Siapa kalian, pergi, jangan ngangu saya." Teriak Riana yang masih memang kepalanya dengan kedua tangannya, air matanya terus mengalir deras.
"Ini ayah dan ibu Rian." Ucap sang ayah
"Kamu tenang dulu Riana, coba jelasin apa yang kamu lihat?!" Lanjut ayah mencoba menenangkan sang putri yang sedang menangis.
"Kalian beneran ayah dan ibu?" Tanya Riana was-was, kedua yang ditanya langsung mengangguk, Riana memang tangan ibunya...
"Bisa disentuh." Ucap Riana dalam hati, saat tangannya menyentuh kulit putih sang ibu.
Riana perlahan mulai tenang. Dia mencoba mengontrol emosional nya.
Lima menit kemudian, keadaaan Riana sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Kamu Kenapa nak?" Tanya ibu.
"Tadi sebelum ayah dan ibu pulang, ada dua sosok yang menyerupai mereka, Riana gak tahu kalau itu bukan kalian, jadi Riana suruh masuk." Jelas Riana menceritakan semuanya
"Aku juga lihat kejadian mengenaskan, dan sepertinya sosok yang tadi menyerupai kalian ada arwah orang yang kecelakaan itu." Lanjut Riana.
"Riana takut Bu Yah." Lirih Riana, dengan cepat Kinan—ibunya Riana memeluk Riana, mengelus punggung sang anak.
"Shutt tenang Riana, kamu gak usah takut lagi sekarang, ibu dan ayah sudah kembali." Ucap ibu menenangkan Riana, Riana hanya mengangguk dengan pipi yang sudah sembab akibat menangis.
"Ibu sama ayah kenapa pulang nya baru sekarang?" Lirih Riana sambil melepaskan pelukan sang ibu.
"Tadi ban busnya bocor jadi harus diganti deh." Jelas ayah. Raina mengangguk.
"Riana takut Yah, Riana pengen kek orang-orang... Riana pengen mata batin Riana ditutup yah, Riana gak mau berurusan sama makhluk ghaib itu." Ujar Riana menumpahkan unek-unek yang disimpan nya selama ini. Kinan mengangguk menanggapi ucapan sang anak
"Besok sore kita ke rumah dukun, kita tutup mata batin kamu." Ucap Reno.
"Yah ibu setujuh, jadi sekarang kamu istirahat yah?" Riana mengangguk menjawab ucapan sang ibu, Kinan membantu sang putri untuk berbaring, lalu Kinan menyelimuti tubuh Riana dengan selimut hingga menutupi sebagian tubuh putri semata wayangnya itu. Di Elis beberapa kali Surai hitam kecoklatan milik Riana dan terakhir mencium kening Riana penuh sayang.
"Tidur yah, semuanya akan baik-baik aja, Allah selalu ada buat kamu, jadi jangan takut dengan sesama makhluk ciptaan Allah." Ucap Reno, Riana hanya tersenyum tipis merespon ucapan Reno barusan, setelah menemani Riana hingga terlelap barulah sepasang suami istri itu keluar dari kamar sang putri, mereka berdua langsung menuju kamar mereka yang berada tak jauh dari letak kamarnya Riana.
Dikamar nya, Kinan langsung mendudukkan tubuhnya diatas kasur, sekarang jam sudah menunjukkan jam empat lebih lebih dua puluh menit, sebentar lagi mungkin akan azan subuh, jadi mereka memutuskan untuk tak tidur dulu, setelah sholat subuh baru mereka tidur.
Kinan dan Reno sekarang sedang duduk diatas kasur keduanya sama-sama menyenderkan punggungnya dikepala kasur.
"Mas emang mata batin Riana bisa ditutup?bukannya mata batinnya akan hilang jika dia mempunyai keturunan yah, seperti kamu!" Reno melihat Kinan sang istri, Reno menghembuskan nafasnya jengah.
"Mas juga gak tahu, semoga saja bisa ditutup, kasian Riana, Mas gak tega lihat dia sampai nangis ketakutan kayak tadi." Ujar Reno.
" Amin, Iya Mas, aku juga gak tega lihat anak kita kayak gitu." Sepasang suami istri itu sama-sama berharap mata batin sang anak bisa ditutup, dengan begitu sang anak bisa hidup layak nya anak lainnya tanpa harus berurusan dengan makhluk tak kasat mata itu.
azan subuh mulai terdengar, kedua suami istri itu langsung bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Diana Diana
satu babny panjang2 thor
2022-08-05
0