Psikopat gila

...saling menghargai...

......teman-teman......

...----------------...

Riana dan Yudi sangat syok saat melihat seorang anak kecil terikat di kursi dengan tangan dan kakinya terikat, di sekujur tubuh bocah itu dipenuhi oleh sayatan benda tajam, di kening nya terdapat luka yang sudah membiru, dan Dimata kiri bocah itu mengeluarkan darah, keadaan bocah itu sangat mengerikan.

"heh siapa kalian berdua?" tanya laki-laki bertubuh kekar itu, laki-laki itu memegang pisau lipat.

"ouh apa kalian anggota kepolisian hm?" laki-laki bertanya dengan nada mengejek, tidak ada ketakutan diwajahnya.

"berani sekali kalian datang kesini dan hanya berdua ck ck ck, kalian tidak takut mati hm?" lelaki itu menyuguhi senyum miring diwajah blasteran nya.

Riana dan Yudi saling menatap, berbicara dengan isyarat mata, disana hanya ada pria blasteran itu, rekan nya sudah diamankan oleh regu tim yang berjaga diluar.

"KALIAN KELUAR DAN SIAPKAN SENJATA MASING-MASING." teriak lantang Yudi, anggota tim keluar dan mengepung lelaki dengan wajah blasteran itu, takut? tidak! tidak ada wajah yang memancarkan ketakutan disana, lelaki itu juga tampak tenang ekspresi terkejut pun tidak ada diwajah lelaki itu. lelaki itu tertawa terbahak-bahak lalu berucap "berani keroyokan ternyata." seketika suara tawa tadi menghilang, wajah lelaki itu kembali biasa saja.

lelaki itu memutar pisau lipat ditangannya lalu melihat seluruh anggota tim penyelamat

"lebih banyak yang ikut bermain maka akan lebih seru."

"saya suka bermain darah! kalian mau ikutan bermain bersama?masih ada kursi kosong disebelah sana!" laki-laki itu mengeluarkan smrik nya.

laki-laki itu kembali sibuk dengan bocah didepannya, menyayat kulit di bagian kening antara rambut dengan kening.

"ini rambut saya, jadi kamu harus melepaskan nya." laki-laki itu hendak memisahkan rambut bocah itu dengan cara memotong kulit kepala bocah itu.

Dorrrrrr

satu tembakan menunjuk di tangan laki-laki itu, Yudi yang menembaknya, lelaki itu menoleh lalu menyeringai "ternyata kalian ingin ikutan yah!?

Tunggu sebentar saya akan menyelesaikan ini dulu, nanti baru bermain dengan kalian." tak ada ringisan kesakitan dari wajah lelaki tadi, lelaki itu menghiraukan para anggota penyelamat, dia melanjutkan kegiatan nya tadi memisahkan rambut bocah itu dari kulit kepalanya

Yudi memberi isyarat pada timnya, mereka semua beraksi menangkap laki-laki itu, menahan tangan lelaki itu, mereka juga memborgolnya, lelaki itu tak memberontak tepatnya dia pasrah ditangkap oleh anggota penyelamat.

"bawa dan rekannya itu ke Polsek singa liar." seru Yudi dianggukin oleh tim-nya.

"saya akan membawa bocah ini kerumah sakit, dan kamu juga pulang bersama mereka." Riana langsung menggeleng-geleng lalu berucap "saya mu ikut bapak ke rumah sakit." Yudi menghembus nafasnya panjang lalu pasrah.

*

*

*

*

pukul tiga dini hari, rumah sakit memang sepi, semua pasien pasti sedang terlelap dalam tidurnya.

bocah yang diketahui namanya itu dimaksudkan kedalam ICU berharap masih bisa diselamatkan, tapi ini sangat mustahil, kulit kepalanya hampir terpisah dari kepala dan mata kiri bocah bernama Rifal itu sudah dicongkel.

"Riana terimakasih karena sudah membantu tim dari Polsek singa liar menangkap psikopat tadi." Yudi membungkuk tubuhnya. Riana menganguk "iya sama-sama pak."

"ah iya! bangaimana kamu tahu kalau mereka bersembunyi disana?" tanya Yudi heran, Meraka saja tak tahu kalau didalam kebun sawit itu ada rumah dan gudang terbengkalai, setahu mereka, kebun sawit itu tidak memiliki pemiliknya, tepat seluruh anggota keluarga si pemilik kebun sawit itu sudah meninggal saat kecelakaan pesawat terbang.

"saya memiliki suatu kelebihan pak, mata saya bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat manusia biasa." ucap Riana apa adanya.

"maksudnya kamu indigo?" tanya Yudi lalu dianggukin oleh Riana

pembicaraan kedua terhenti disaat dokter itu keluar dari ruang ICU, dokter itu menghampiri Riana dan Yudi dengan raut wajah sedih.

"gimana dok?" tanya Yudi

"maaf pak, kami sudah berusaha, pasien sudah meninggal saat kami sedang melakukan pertolongan pertama, luka yang dimiliki ditubuh pasien Sangat patah, dan dia kehilangan banyak darah, pak." jelas dokter tersebut pajang lebar, Yudi dan Riana juga turut sedih, mereka akan melakukan pemakaman Rifal besok pagi, kan tidak mungkin mereka memakamkan orang di pukul tiga dini hari, yang ada mereka malah dituduh yang tidak-tidak.

...saling menghargai...

Terpopuler

Comments

Diana Diana

Diana Diana

l like it

2022-08-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!