...selamat membaca...
...dan saling menghargai yah
...
seperti yang dikatakannya tadi waktu disekolah, sekarang Riana berada disekitar tepat kejadian pembunuhan yang tadi dibaca oleh Riana.
tempat di gang cempaka, tempat itu diapit oleh hutan lebat dan perkebunan kelapa sawit, jadi disana sangat sunyi dan rawan terjadi tindakan kriminal seperti perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan, jadi wajah jika tempat itu dicap sebagai tempatnya para iblis dan surganya makhluk halus, dan neraka untuk manusia.
mengamati dan memerhatikan tempat kejadian yang sudah dibatasin oleh garis polisi, melihat sesuatu dibalik semak-semak mirip dengan dompet.
"pak polisi lihat itu, ada tas disemak-semak." Riana memberitahu pada petugas polisi yang masih ada di TKP tempat kejadian perkara .
polisi itu langsung menuju semak-semak yang ditunjukkan oleh Riana, dan benar saja dugaan Riana.
"itu kayaknya dompet di korban pak." seru Riana dan dianggukin oleh pak polisi.
"coba dibuka pak, mungkin ada petunjuk didalam dompetnya." suruh Riana pada pak polisi, pak polisi itu mengerutkan keningnya.
"kamu ngapain kesini dek? disini berbahaya, kamu pulang sama, orang tua kamu pasti cariin kamu.* polisi itu baru ngeh bawa Kiara diarea TKP.
"gak pak, saya gak akan pulang sebelum nemuin anak dari si korban." kekeh Riana.
"oh yaah pak, ciri-ciri anaak dari korban itu. anaknya putih, rambutnya pirang, umurnya sembilan tahun pam." jelas Riana
"lah kok kamu tahu ciri-ciri anak si korban." polisi itu terheran-heran.
"jangan-jangan kam_" belum sempat polisi itu menyelesaikan ucapannya Riana sudah memotongnya
"jangan sembarang nuduh dong pak." ketus Riana kesal, yah kali dia terlibat dalam kasus pembunuh ini. bunuh orang? lihat darah aja aku pingsan
"kalau gitu sama kamu pulang, gak baik anak kecil ditempat kayak gini."
"yeeuh, saya bukan anak kecil yah pak, saya udah tujuh belas tahun, tujuh belas tahun pak, jadi saya bukan anak kecil." kesal Riana.
"anak kecil tetap anak kecil, udah sana pulang kamu." suruh pak polisi itu sekali lagi, tapi Riana masih tetap kekeh dengan pendirian, dia akan mencari anak kecil bernama rifal itu sampai ketemu.
"malah bengong, woi anak kecil, pulang sana, nanti digangguin sama arwah-arwah yang anak disini." suruh pak polisi itu lagi, namun kali ini Riana tidak menanggapi nya.
"udah biasa juga." seru Riana lalu melangkah lurus, mata gadis itu memancarkan kekosongan. polisi itu terheran-heran "woi bocah jangan masuk ke kebun sawit." polisi itu panik saat Riana mulai menjauh masuk ke dalam kebun sawit, mencoba mengejar namun sia-sia, Riana sudah hilang dari pandangannya, polisi itu mengeluarkan ponselnya, menelfon para rekannya untuk meminta pertolongan.
"halo Herman, Herman kami cepat kesini, tadi ada anak SMA yang nekat masuk ke kebun kelapa sawit yang rawan terjadi pembunuhan itu." ucap polisi itu panik. setelah mengabari para rekannya, polisi bernickname Yudi itu mematikan ponselnya dan memasukkan nya kedalam saku celananya.
"dasar bocah, udah disuruh pulang eh malah masuk ke dalam kebun sawit, gak tahu dia apa, kalau didalam kebun sawit itu angker dan rawat kejahatan." kesal pak polisi bernama Yudi itu.
sementara disisi lain
Riana mencoba memfokuskan telinga nya mendengar suara Isak tangis seorang dari dalam kebun sawit itu.
"lah kok hilang suaranya." seru Riana saat telinga nya tidak bisa menangkap suara isak tangis tadi.
like komen vote
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Rasti Yulia
awal kalimat jangan lupa pake huruf kapital ya kak☺
2022-06-19
2