Jam istirahat sedang berlangsung, kini Riana dkk sedang duduk di salah satu meja di kantin. Mereka menunggu pesanan yang telah dipesan tadi.
"Na Lo lihat gak sosok tadi pagi?" Riana menganguk.
"Gimana-gimana bentukannya?" Lanjut Andre yang mulai penasaran akan bagaimana sosok yang tadi diwaktu jam pelajaran pertama.
"Gak jelas, tapi kayak bayangan gitu, gue kagak bisa ngelihat karena tadi tiba-tiba mata gue jadi buram gitu, jadi cuma keliatan hitam-hitam gitu doang." Riana sedikit kesal karena tadi tidak dapat melihat makhluk itu.
"Dan lagi gue tadi sibuk ngebantu Febby." Lanjut Riana, Andre kembali menaikkan sebelah alisnya
"Bantu apa?" Tanya Andre.
"Bant_" ucapan Riana langsung dipotong oleh Febby "bantu nge-bersihin darah di telinga gue." Andre mengangguk mendengar penuturan Febby tadi.
"Sumpah tadi telinga sakit banget, telinga berdegung setelah denger suara melengking itu, suaranya itu kek orang nangis tapi sekali kek ada suara ketawa gitu." Jelas Febby
Andre barusaja ingin berbicara namun belum sempat ia membuka mulutnya, pesan mereka sudah dibawa oleh salah satu pegawai ibu kantin.
______________________________________
Bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu tetapi Riana dan Febby belum pulang, mereka sedang menyalin rumus fisika yang ditulis di papan tulis.
"Na Lo udah selesai belum?" Tanya Febby sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas hitam nya itu, dia baru saja selesai menyalin.
"Bentar feb, dikit lagi selesai, lima baris lagi." Sahut Riana yang masih fokus pada papan tulis dan buku catatan fisika nya. Tangan Riana bergerak dengan cepat, menyelesaikan catatan nya itu.
BRAKKKKKK
Kedua anak manusia yang sedang fokus dengan aktivitasnya sendiri sontak kaget saat pintu kelas mereka terbanting keras. Keduanya langsung panik saat melihat pintu kelas mereka tertutup dan tak bisa dibuka.
"Woi siapa yang nutup pintu, buka cepetan, atau gue tendang nih pintu." Teriak Febby yang sudah mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu berbahan kayu itu.
Tak ada sahutan dari luar kelas, perasaan Febby dan Riana mulai tak enak, muncul berbagai pertanyaan dibenak keduanya.
Riana menoleh begitu juga dengan Febby keduanya saling memandang dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, Febby mengangguk.
Keduanya kembali ke meja mengambil tas mereka, dan memakainya di punggung, Riana menyeret sebuah kursi dan meletakkannya di dinding dekat jendela.
Keduanya berhasil keluar dari kelas sialan itu lewat tangga. Riana dan Febby berhasil keluar dari pekarangan sekolah.
Dipinggir jalan, Riana dan Febby memutuskan untuk berhenti sebentar, keduanya ngos-ngosan akibat berlari. Febby langsung duduk dipinggir jalan, ia tak peduli jika orang-orang menatapnya aneh, yang dia pikirkan sekarang hanya istirahat, keduanya kakinya mati rasa.
"Duduk dulu Na, capek gue lari-lari dari tadi." Febby berucap susah payah, nafasnya masih memburu. Riana patuh dan duduk disamping Febby.
"Anjing banget tuh si setan, main kurung-kurung kita dikelas, untungnya jendela kagak ke kunci." Riana menganguk mendengar penuturan Febby.
"Goblok tuh setan, dia tutup pintu, kan masih ada jendela, jadi aman kita." Lanjut Febby sambil mengusap keringan yang hampir menetes di dahinya.
"Na pindah sekolah aja kita lah, gue kesel plus takut juga sih kalau setannya udah tahap kayak tadi, takut kalau tuh setan makin liar, kan berabe." Febby tak berhenti mengoceh, Riana hanya mampu mengangguk.
"Kalau kita pindah sekolah... tanggung Febby, sekarang kita semester dua, Minggu depan ujian kenaikan kelas, cuma setahun lagi...kita sanggup-sanggupin aja dulu, kalau masih diganggu yah kita belajar diluar ke tadi pagi." Ucap Riana ada benarnya.
like komen yah, kritik pun boleh-boleh lah😄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Diana Diana
semangat truss y buat ceritany thor
2022-08-05
1