Riana baru saja selesai mandi dan berpakaian, sekarang gadis itu sedang merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Dia tatap langit-langit kamar yang bercat biru langit.
"Huhhh capek banget hari ini." Seru Riana lalu memejamkan matanya.
'TOK
'TOK
'TOK
"Riana... keluar makan malam." Panggil ibu yang masih mengetuk pintu kamar Riana, gadis itu langsung membuka matanya lalu bangkit dari tempat tidur nya, ia beranjak menuju pintu lalu dibukanya itu itu...
"Ayok makan malam dulu nak!" Ajak ibu sambil tersenyum, Riana mengangguk lalu berjalan menuju meja makan bersama sang ibu.
Setelah selesai makan malam... sekarang Riana bersama kedua orang tuanya sedang berada di ruang tamu.
"Rian!" Panggil ayah, Riana langsung menoleh kearah sang ayah.
"Ya Yah?"
"Ehm besok ayah akan keluar kota!"
"Terus?" Tanya Riana, dia masih belum mengerti perkataan sang ayah.
"Ehm ayah akan keluar kota untuk satu Minggu... kamu gak apa-apa kan?ibu juga sama ayah...apa kamu tinggal sama paman Aji aja yah?! Ujar sang ayah.
"Keluar kota, kerjaan?" Tanya Riana, ayah Riana langsung mengangguk.
"Gak apa-apa kan Riana, kalau ibu sama ayah tinggal, atau mau tinggal bareng paman Aji aja?" Ibu Riana juga ikut serta menjelaskan pada putri tunggalnya itu.
"Hm oke deh, Riana tinggal bareng paman Aji." Ucap Riana setuju kedua orang tuanya tersenyum
"Tapi jangan lupa oleh-oleh buat Riana... oke." Ucap Riana sambil menyuguhi senyum manisnya kepada kedua orang tua itu, ibu dan ayah mengangguk.
Setelah pembicaraan selesai Riana langsung menuju kamarnya, ia disuruh ibu untuk berkemas baju-baju yang akan dibawa kerumah paman...rumah paman riana dia dikampung sebelah.
Hari ini ibu dan ayah Riana akan pergi ke luar kota, jadi sebelum pergi mereka mengantar Riana kerumah paman dulu...paman Aji.
Di rumah paman Aji... Riana mencium kedua punggung tangan orang tuanya
"Hati-hati ayah ibu. Jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk Riana saat pulang nanti yah!?" Riana tersenyum pada kedua orang tuanya
"Iya Riana sayang, ayah gak akan lupa kok." Ayah Riana tersenyum lalu mengelus surai hitam kecoklatan milik sang putri.
"Ji, mas titip anak mas yah disini, tolong jagain Riana." Ucap ayah Riana pada sang adik—paman Aji.
"Oke mas—mas tenang aja, Riana aman kok dirumah ku." Ucap Aji sambil tersenyum.
"Suc mbak titip Riana yah?!" Ibu tersenyum pada sang adik ipar yang bernama—Suci aninda—istri dari Aji.
"Iya mbak." Suci mengangguk lalu menyuguhi senyum manis untuk kakak ipar suaminya itu.
Setelah acara pamit-pamitan selesai, ibu dan ayah Riana langsung pergi menuju stasiun kereta api.
"Ayok Na, masuk." Ajak sang paman—Aji, Riana mengangguk lalu masuk bersama paman dan Tante nya itu.
Rumah paman Riana tak terlalu besar, rumahnya hampir sama dengan rumah Riana, tapi besaran rumahnya Riana.
Setelah meletakkan tas nya Riana kembali menghampiri sang paman dan Tante di ruangan tamu.
"Paman Tante, Satya mana...kok enggak kelihatan." Tanya Riana yang baru saja mendaratkan bokong nya diatas sofa empuk.
"Kan Satya lagi mondok Riana—dibandung, masa kamu lupa sih!" Ucap Suci—tante Riana
"Oiya—" Riana cengengesan, dia betul-betul lupa kalau Satya—sepupu laki-laki nya itu sedang mondok disalah satu pondok pesantren di Bandung.
"Dasar riana-riana, masih mudah udah pikun aja kamu." Paman Aji mengeleng-geleng sedangkan istrinya Suci sedang menahan tawa.
Riana dia memang dekat dengan keluarga adik ayahnya—dia juga sangat akrab dengan Satya sepupu laki-laki nya itu.
Setelah makan malam selesai, Riana langsung berpamitan pada paman dan tantenya itu, dia ingin segera tidur malam ini.
Dikamar Riana, gadis berusia 17 tahun itu langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk itu, mata nya menatap langit-langit kamar, pikirannya terbang—memikirkan ayah dan ibunya, baru sehari ditinggal saja rasanya sudah kangen, apa lagi seminggu, bisa mati karena kangen Riana nya.
Karena bosan Riana mengambil ponsel yang di simpan nya diatas nakas, dia memutuskan untuk bermain game di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam (00.00) namun Riana belum tertidur rasanya mata nya masih sulit untuk ditutup
"Astagfirullah." Riana langsung memalingkan wajahnya saat melihat sosok nenek-nenek yang berdiri di luar jendela—gorden kamarnya sedikit terbuka jadi dia bisa melihat dari situ. Riana langsung menarik selimutnya lalu menutup seluruh tubuhnya, mulutnya juga tak berhenti-henti melafalkan doa-doa dan surat-surat pendek, jantung Riana berdebar kencang, jujur saja Riana takut, apa lagi malam ini malam Jumat dan sudah tengah malam.
"Ya Allah hindari hamba-Mu ini dari makhluk-makhluk tak kasat mata itu ya Allah, hamba takut." Riana terus membatin, Riana meremas jemari tangan, tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin, jantung nya masih memompa dengan sangat cepat, dia pejamkan mata kuat-kuat berharap dirinya cepat tertidur, tak lama setelah itu terdengar suara Isak tangis—jantung Riana semakin berdebar tak karuan, keringat dingin mulai bercucuran, mulut Riana tak berhenti membaca doa meminta dihindarkan dari makhluk-makhluk halus itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu, Riana tak akan membukanya, dia yakin kalau itu bukanlah manusia, suara isak tangis itu mulai mengecil, menandakan mahluk itu sudah dekat dengan Riana.
"Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, lailla hailallah...Ya Allah jauhkan mahluk itu dari hamba...hamba takut." Suara lirih itu keluar dari mulut Riana, tubuh Riana bergetar hebat saat merasakan sesuatu memegang kakinya, Riana tak henti-hentinya mengucapkan zikir dan juga doa, meminta pertolongan dari Yang Maha Kuasa supaya dilindungi dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
'Hiiihiiiiii'
Tubuh Riana panas dingin, jantung nya terpacu sangat cepat, dia pejamkan mata nya, jemari tangan diremas tak kalah kuat, dirinya benar-benar takut—walaupun Riana memang sudah terbiasa dengan makhluk-makhluk itu tapi dia juga manusia memiliki ketakutan pada suatu hal.
*
*
*
*
Keesokan paginya, di meja makan.
"Na kamu kenapa?kok wajahnya pucat gitu?" Tanya sang Tante Suci, Riana menggeleng.
"Aku gak kenapa-kenapa kok Tan, cuma—"
"Dek tolong buatin mas kopi dong." Pinta Aji pada sang istri—Suci, Suci mengangguk lalu melenggang pergi ke dapur.
"Kamu ngerasai yang paman rasakan juga Na?" Tanya paman Aji sesaat istri sudah pergi dari sana, beliau juga merasa ada hal aneh dirumahnya... Riana mengangguk
"Riana di ganggu sama hantu nenek-nenek semalam, paman." Ujar Riana, Paman Aji menghembuskan nafasnya.
"Nenek-nenek tua dengan rambut putih mukanya hancur?" Riana mengangguk menjawab pertanyaan sang paman.
Aji menghembuskan nafasnya, tangganya mengurut pelipisnya.
"Paman gimana kalau kita suruh pak ustadz untuk nge-ruqiya rumah paman saja?!" Wajah Aji langsung berseri, yang dibilang ponakan ada benarnya kenapa dia tidak terpikirkan sendari dulu.
"Ide bagus Riana, paman setuju sama ide kamu itu." Ujar Aji dengan senyuman yang merekah diwajahnya.
"Nanti sore kita ke rumah ustadz Bintang, kita suruh beliau saja yang meruqiyah rumah paman." Riana manggut-manggut.
'Tappp'
"Ini kopi nya mas!" Suci meletakkan secangkir kopi didepan suaminya.
"Terimakasih dek." Aji tersenyum pada sang istri. Suci kembali di kursinya lalu melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda tadi karena suaminya menyuruhnya membuat kopi...mereka kembali melanjutkan sarapan dengan tenang, Riana mencoba untuk tak takut dan berusaha untuk santai...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments