Seperti apa yang di katakan Louis, Paman Alex. Zoya dan Alex terpaksa harus melakukan drama rumah tangga lagi di depan pamannya, Louis. Zoya yang di minta untuk tinggal sementara di apartemen Alex karena Louis akan datang berkunjung dan Alex pun tahu niat dari kedatangannya hanya untuk semata-mata memastikan bahwa Alex dan Zoya benar-benar menikmati kebahagiaan layaknya pasangan suami istri atau bisa di katakan pasangan pengantin baru.
Rini, Kia dan Lili mengantarkan Zoya sampai depan pintu asrama yang di depannya gerbang sana sudah ada Alex yang menunggu di depan mobil nya.
''Jaga diri baik-baik, jika dia macam-macam, jangan lupa untuk target nya.'' Ucap Lili memperagakan seperti orang menendang sesuatu.
''Ya kalian tenang saja.''
''Pergilah dengan perasaan senang, karena 4 hari lagi kita juga akan pergi dari asrama, untuk cuti musim panas.'' Timpal Kia.
''Ah ya benar, aku juga harus mencari referensi tempat magang.'' Ujar Rini.
Zoya pun berlalu setelah berpamitan dengan ketiga temannya, menggeret koper biru laut nya sampai ke gerbang, matanya pun sudah menangkap seseorang yang sedang menyender santai di pintu mobilnya.
Alex, ya Alex yang melihat Zoya keluar dari gerbang dan merasa kesulitan membawa koper, Alex pun berinisiatif untuk membantunya namun di tolaknya mentah-mentah dengan Zoya. ''Aku bisa sendiri.'' Tepis Zoya.
''Bagus kalau begitu.''
Di perjalanan seperti biasa tidak ada perbincangan, Zoya yang hanya membuang pandangannya keluar mobil, dan Alex yang sibuk dengan kemudinya.
Sesampainya mereka di sebuah gedung apartemen, Alex memarkirkan nya di basement khusus kelas VVIP yang langsung berhadapan dengan sebuah lift yang akan membawa nya ke lantai dimana ia tinggal.
Alex berlalu begitu saja setelah menekan tombol buka pada bagasi mobil nya tanpa menunggu maupun membantu Zoya mengeluarkan kopernya dari bagasi.
Zoya hanya mencibir di balik kap bagasi, terus memaki di belakang dengan terus menggeret koper besarnya.
''Dasar laki-laki egois.'' Gerutu Zoya yang dapat di dengar langsung oleh Alex.
''Apa maksud mu?!''
''Tidak!''
''Ck, kau mengatakan tidak perlu bantuan ku, dan sekarang malah memaki di belakang ku, berikan.'' Alex merebut koper Zoya dari tangan nya dan membawanya menuju lift yang sudah menunggu mereka untuk menaikinya.
Di lantai 20, lift itu berhenti. Lorong yang bernuansa elegan dengan warna gold dan hitam sebagai aksen pada dindingnya, membuat kesan mewah pada lantai tersebut. Zoya tidak berhenti memuji desain interior dinding apartemen tersebut. Dan tibalah mereka di sebuah pintu besar dengan handle pintu yang juga tak lah elegan nya. Menekan beberapa nomor di daun pintu sebagai pin nya, Alex pun mempersilahkan Zoya untuk masuk terlebih dahulu.
''Waah, ini apartemen atau resort? Sungguh amazing.'' Decak kagum Zoya pada penataan juga desain interior unit kamar yang di tinggali Alex.
Alex terus membawa Zoya ke sebuah ruangan, yang ternyata itu adalah kamar tidurnya, dan yang membuat Zoya heran kenapa hanya ada satu pintu di unit apartemen yang sangat luas itu.
Apa selama ini dia tidak pernah menerima tamu sekalipun? kenapa kamar tidurnya hanya ada satu? lalu aku harus tidur dimana? Zoya terus bergumam sendiri dalam hatinya.
''Tuan? kenapa hanya ada satu kamar tidur?''
''Ya, lalu kau ingin berapa kamar?''
''Bukan, maksud ku. Jika ini kamar tidur mu, lalu aku harus tidur dimana?'' Zoya bertanya dengan memasang wajah bingung nya, dan pikirannya terus saja memikirkan hal-hal aneh menurut nya.
'Apa harus tidur di satu kamar?' ucap Zoya dalam hatinya.
''Ya! tepat! kita akan tidur di kamar ini, BERSAMA!'' ujar Alex yang menebak isi pikiran Zoya saat itu. Zoya terbelalak tidak menyangka kalau dirinya akan tidur di satu kamar dengan Alex, lagi?
''Tidak, tidak. A-aku bisa tidur di ruang tamu, ya dengan tubuh ku yang mungil ini, aku bisa tidur di sofa tadi.'' Sela Zoya dengan cepat.
''Nona Zoya. Jika kau menginginkan sofa sebagai tempat tidur mu, di sana pun ada sofa yang memang untuk mu kelak.'' Balas Alex menunjuk kesebuah sofa yang cukup besar.
Zoya menoleh ke arah dimana Alex menunjuk. Dengan bibir yang manyun dan berdecak kesal, Zoya melewati Alex begitu saja menuju sofa tersebut. ''Baik, aku akan tidur disini.''
.
Matahari sudah menunjukkan dirinya dari balik tirai gorden, sinar yang mampu menyilaukan mata pun mengganggu tidur cantik seorang gadis yang tak lain adalah Zoya itu sendiri.
Zoya berdecih, mengambil bantalnya untuk menutupi wajahnya agar tidak terkena sinar matahari langsung, dan dapat melanjutkan tidurnya lagi yang terganggu karena cahaya matahari itu. Namun deringan ponsel membuat ia semakin merasa terganggu dan berteriak keras.
''Siapa sih pagi-pagi begini yang menggangu ku!'' teriaknya yang langsung meraih ponselnya yang ada di bawah lantai beralaskan karpet bulu.
Tuan Devil 📞
Alis mata Zoya menyatu merasa aneh dengan nama kontak yang saat ini menghubungi nya, dan sesaat kemudian barulah ia ingat jika dia sendirilah yang menamai kontak tersebut pada nomor Alex. Dengan segera Zoya menjawabnya.
''Ya ada apa?'' tanya Zoya dengan mengedarkan pandangannya memperhatikan kondisi kamar yang kosong.
''Pagi-pagi sekali kau kemana Tuan?''
Di lain tempat, Alex yang merasa aneh karena Zoya mengatakan kalau saat ini ia menghubungi nya pada saat waktu pagi.
''Buka mata mu, dan lihat, jam berapa sekarang?'' ucap Alex menyadarkan gadis itu. Terdengar suara teriakan dari sana dan Alex pun memutuskan panggilan tersebut.
''Apa-apaan dia ini, masih pagi katanya. Jelas-jelas sudah jam 11 siang.'' Gumam nya. Tangannya berseluncur lagi pada keyboard gawainya, mengetikan sesuatu dan mengirimkan nya pada Zoya.
Berkas penting ku tertinggal di atas meja kerja, tolong bawa ke kantor sekarang juga. Karena aku tidak mungkin meminta Mark untuk mengambil nya ke sana.
(isi dari pesan Alex untuk Zoya)
'Baik'
Hanya kata simpel itu yang Zoya kirim sebagai balasan pesan Alex. Karena tidak dapat tidur tadi malam, Zoya harus terlambat bangun yang bahkan belum pernah terjadi sekalipun.
Bersiap-siap dan memakai pakaian seadanya, Zoya segera pergi dari sana untuk ke alamat yang sudah Alex kiriman kepadanya dengan mengandalkan transportasi bus umum sebagai kendaraan menuju kantor Alex.
Celana jeans dengan kaus berpita di bagian lengannya, Zoya melangkah dengan percaya diri memasuki pintu utama kantor.
''Permisi ada keperluan apa anda ke sini?'' tanya seorang penjaga yang menghalau jalan Zoya.
''Saya ingin bertemu dengan tuan Alexander.''
''Apa sudah memiliki janji?''
''Janji? ohh, ini.'' Zoya menunjukan berkas yang ia bawa.''Berkas ini tertinggal, dan tuan Alexander meminta untuk aku membawakan nya.'' Ucapnya lagi.
Zoya menjelaskan nya dengan rinci, mengapa ia bisa kesana, dan untuk apa ia ada di sana. Namun entah kenapa penjaga kantor itu tidak sama sekali percaya, terlebih lagi sedari tadi beliau hanya memperhatikan penampilan sederhana Zoya saat ini.
Sampai ketika seseorang menyela perdebatan antara Zoya dan penjaga pintu kantor.
''Permisi, apa ada masalah?'' tanya seseorang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Pengin cepat cepat Alex Bucin dengan Zoya...😁😁
2022-06-15
1
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Lanjut terus Kak...🥰🥰🥰
2022-06-15
0
🥰🥰 Si Zoy..Zoy..🤩🤩
Harus sabar Alex menghadapi Zoya🤭🤭
Memang begitu sejati nya wanita itu Egois...😂😂😂
2022-06-15
1