Chapter 12 : Tante Calliara

"Lo tau apa maksud dan tujuan gue Jim?"

"Balas dendam yang sama sekali tidak mendasar itu!" jawab Jimy sinis.

"Kenapa kau bicara seperti itu?" Kevin kembali tersulut karena Jimy seolah membela lawannya.

"Vin stop it! gak guna lo terus hidup dengan rasa dendam yang gak berujung itu! lihat tante Diana, apa dia bahagia liat lo kayak gini!"

"Justru gue disini ngelanjutin balas dendam Mama Jim.. dia menderita karena perempuan bernama Calliara, Ibu nya Callista! Kau tau kan!!" Kevin berucap dengan intonasi yang sangat tinggi.

"Apa kau tau cerita yang sebenar nya? apa kau menyaksikan sendiri kalau tante Calliara yang sudah menggantung nenek mu disana! jangan bodoh Vin!" Jimy pun tak kalah juga untuk menaikan intonasi bicara nya.

"Aku melihat dia keluar dari kamar nenek ku! senyum gila nya itu masih terus terngiang-ngiang di ingatan ku Jim.. dan bahkan setelah itu.. A-ku... A-ku.. melihat nenek ku sudah tergantung di pintu kamar mandi!" Kevin kembali mengingat kejadian 25 tahun yang lalu, peluh keringat membasahi pelipis nya, juga darah yang keluar ditangan nya belum terasa untuk nya.

"Tapi polisi juga tak menemukan sidik jari siapa-siapa disana! kenapa kau bisa menuduh jika Tante Calliara yang membunuh nenek mu!"

"Tidak.. tidak.. aku tetap percaya kalau Calliara lah pelakunya, jika memang dia tak bersalah kenapa setelah nya ia meninggal kan Callista begitu saja seorang diri!"

"Lalu apa hubungannya semua itu dengan Callista Kevin! dia sendiri ditinggal kan ibu nya, apa tak ada rasa belas kasihan mu padanya! sudah banyak penderitaan yang ia alami!" Jimy menaruh iba pada Lista yang selama ini disiksa Kevin, penyiksaan secara batin, tak jarang juga Kevin berlaku kasar pada Lista.

"Dia itu pion ku untuk balas dendam, hanya dengan dia aku dapat memancing Calliara keluar dari persembunyiannya! gara-gara nenek ku dibunuh, Ibu ku jadi seperti itu, dia terkena gangguan mental akibat trauma yang mendalam, kau tau akibat nya bukan , aku tumbuh besar seorang diri tanpa kasih sayang dari Ibu, juga Ayah ku!" dendam dihatinya sudah mendarah daging, tujuan nya hanya satu, callista harus sama menderita nya seperti dirinya bahkan harus lebih parah, anehnya perlahan ia mulai menyukai Lista, Ia diam-diam memperhatikannya, kadang terbesit rasan ingin memiliki Lista seutuh nya, namun rasa benci nya lebih mendominasi.

"Apa yang kau dapat setelah dendam mu terbalas? kau akan menghancurkan hidup gadis yang tidak tau apa-apa Vin!" Jimy mencoba menasehati Kevin, ia ingin Kevin bisa hidup normal bersama Lista, bukan hubungan untuk saling menyakiti seperti itu.

"lo gak akan pernah ngerti sama apa yang gue rasain Jim.. Lo gak akan pernah ngerti!" Kevin berlari kedalam kamar nya sendiri dengan Foto Ibunya yang masih ia peluk.

"Tolong bereskan semua pecahan vas ini!" Titah Jimy pada pelayan disana.

**

Pagi hari Lista bangun dengan senyum yang mengembang, hari ini surat panggilan sidang pertama pasti akan sampai dikediaman Kevin.

Segera ia bersiap-siap untuk menerima telpon dari Leo.

Drrttt....

Ponsel Lista berdering, telpon dari orang-orang yang ditunggunya.

(Leo)

(Bu.. surat panggilan itu saya pastikan sudah sampai dikediaman Tuan Kevin)

(Bagus, lusa kita akan bertemu di pengadilan Leo, siap kan dirimu agar kita menang disana)

(Pasti Bu)

Sementara di kediaman Kevin, surat panggilan perceraian itu kini sudah ada ditangan Jimy.

"Yang aku takutkan selama ini akhir nya terjadi juga!" Jimy menarik nafas nya dalam dan membuang nya secara kasar. Dilihat nya wajah Kevin yang masih pulas tertidur.

Kevin menerjab-nerjabkan matanya mengedarkan pandangan nya keseluruh kamar, ia meringis kesakitan saat ia mengangkat tangan nya.

"Lo udah bangun?" tanya Jimy yang sedari tadi sudah duduk di sofa bed kamar, Kevin membenarkan duduk nya untuk bersandar ke dasboard tempat tidur nya.

"Sejak kapan lo disini?" Kevin mengucek mata nya lalu pandangannya beralih ke tangan yang sudah penuh dengan perban.

"Lo yang ngelakui ini kan?" tanya Kevin, ia menyungging kan bibir nya kearah Jimy.

"yang jelas bukan Jo ataupun Callista!" Jimy mencebikan bibir nya lalu ia menyodorkan sebuah surat yang baru datang tadi pagi.

"Apa ini ?" Kevin bertanya heran, ia lalu membuka isi surat tersebut dan...

"D*mn It!!!" surat itu kini di genggam nya kuat hingga hancur lalu ia melemparnya kesembarang arah.

"Berani sekali perempuan itu menggugat cerai diriku, akan kubuat dia menyesal dengan keputusannya!" Kevin menelfon seseorang tampak ia sedang membicarakan sesuatu dengan amarah yang sangat menggebu-gebu.

Jimy yang melihat itu hanya menggelengkan kepala nya, ia memperhatikan Kevin dengan seksama.

"Biarkan dia pergi Vin!" sarkas Jimy.

"Keluarlah Jim! jangan ikut campur urusan gue, 1 jam lagi gue nyusul lo ke lokasi syuting!" Jimy hanya bisa mendengus kesal mendengar perintah Kevin, bagaimana pun Kevin tetap bos nya, meski diluar dari itu mereka teman sedari kecil.

"Baby!!" Pekik seorang perempuan yang baru datang dengan suara yang sengaja mendayu-dayu ditelinga siapapun yang mendengar nya.

"Jo... kenapa kau kemari, pergilah aku sedang tidak mood untuk bermain-main dengan mu!" Tolak Kevin, hari ini pikirannya benar-benar kacau, ia tak ingin siapapun mengganggunya.

Jovanka tak tinggal diam, Jo naik keatas ranjang Kevin lalu memainkan jari-jari lentiknya didada bidang milik Kevin, mengusap nya lembut dan menciuminya, lalu tangannya perlahan naik kerahang keras milik Kevin, bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang nya menambah kesan kemacoan dan kegagahan bagi seorang pria. Kevin sendiri kini sudah sedikit terpancing terbukti dari adik kecil nya yang sudah mulai mengembang menampakan taring nya, langsung saja ia membalas permainan Jo pagi itu dengan permainan yang biasa di lakukan pada wanita-wanita pemuas nafsu nya.

Kedua insan itu kini sedang berpacu menikmati olahraga pagi yang panas itu hingga kedua nya bermandikan peluh karena sama-sama meraih punca kenikmatan bersama.

"Aku sangat suka permainan mu Honey! Kau selalu bisa kuandalkan!" ucap Kevin yang sudah ambruk kelelahan disebelah Jo, nafasnya masih tersengal

"Kau juga selalu bisa memuaskan aku Baby, emm.. jadi Lista menggugat cerai dirimu?" tanya Jo disela-sela buruan nafasnya.

"Yah.. lusa sidang pertama kami!"

"Dasar perempuan tak tahu diri! sudah bagus dia menjadi Nyonya Kevin Lano Alberto, malah sekarang seperti nya dia sudah sombong untuk berdiri sendiri!" Jo seakan menabur kembali garam di luka yang sedang menganga.

"Kau benar Jo.. dia perempuan yang tidak tau diri! aku sudah mengirimkan rakayasa perselingkuhannya dengan tuan muda dari Group Adelio ke media, kita lihat saja dia akan habis sampai keakar-akar nya, media akan sangat mengolok-olok dirinya yang seperti DEWI itu!" Jovanka menarik sudut bibir nya, senyum smirk nya jelas sekali terlihat jika memang ia merasa senang jikalau Lista sampai benar-benar jadi trending Topic dengan perselingkuhan nya.

'Kau akan tamat Lis!' ucap Jo dalam hati.

next ya..

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!