Berusaha bukan berjanji

Kirana menatap kearah Aqila yang memejamkan mata dan kembali menatap kearah hasil pemeriksaan rumah sakit ditangannya dengan bergetar

"Aqila"

"Bagaimana bisa kau seperti ini?"

"Menyembunyikan penyakit mematikan ini dan berjuang sendiri"

"Ayo bangun Aqila aku akan memarahimu" Kirana mengguncang-guncang tubuh Aqila yang tak bergerak sedikitpun

"AQILA" ia berteriak menumpahkan tangisnya, untungnya kamar tamu itu kedap suara dan pintu sudah dikuncinya

"Ini maksudmu? Aku yang akan jadi penolongmu?"

"Aqila sadarlah!"

Ia melihat keringat mulai membanjiri wajah Aqila, ia mendekat dan membuka hijab yang menutup rambut sepupunya, namun hal yang dilihatnya lagi-lagi membuat dirinya harus meneteskan air mata

Yang ia tau dari kecil diantara perempuan Bramadja, Aqila yang memiliki rambut paling tebal dan hitam pekat, namun sekarang lihatlah betapa tipisnya rambutnya dan ini semua karena penyakit itu

"AQILA!" Kirana menggoncang tubuh Aqila, hampir satu jam dan sepupunya itu belum sadarkan diri atau mungkin memilih untuk tak sadar karena sakit luar biasa yang dirasakan

"Kirana?" niat Kirana yang memarahi Aqila saat sadar langsung sirna begitu Aqila menyebut namanya, ia langsung memeluk Aqila dan menangis sejadi-jadinya

"Lo kenapa?" Kirana menggeleng menjawab pertanyaan itu, ia lebih mengeratkan pelukannya pada Aqila

"Kenapa? Kenapa lo nggak cerita?" Aqila mengerti sekarang alasan sepupunya bersikap seperti ini, terlebih saat ia melihat barang-barang dalam tasnya bercecer diatas kasur itu

"Kenapa harus cerita?"

"Kenapa?" Kirana mengulangi pertanyaan Aqila dengan nada marah, bisa-bisanya ia bertanya kenapa

"Lo tuh menderita penyakit mematikan Aqila dan lo tanya kenapa harus cerita?, lo sadar nggak sih lo ngomong apa?, kalau lo..." Kirana tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya

"Akh sudahlah"

"Kalau gue meninggal kan maksud lo?" ucap Aqila tersenyum miris yang malah membuat air mata Kirana semakin mengalir deras

"Gue capek Kirana, gue capek..."

"Gue capek ngadu terus sama mereka, gue capek dituduh terus, gue capek berharap, gue capek iri terus liat mereka, gue capek dianggap kayak nggak ada, gue capek dilupain, jadi bilang sama gue, kenapa harus cerita?"

"Kenapa harus cerita kalau ujung-ujungnya nggak ada yang percaya?" tanya Aqila sekali lagi dengan air mata yang sudah tak bisa ditahan lagi, akhirnya ia bisa mengeluarkan beban hatinya kepada sepupunya

"Gue manusia, gue punya hati, nggak selamanya gue terus diam dan ngalah sama mereka"

"Gue capek ketawa kayak orang gila padahal hati gue terluka" Aqila meniru kalimat Naufal

"Gue nggak pernah netesin air mata didepan mereka, kecuali gue sendiri dan mengadu pada Allah tentang hidup gue"

"Stop Aqila, stop" Kirana sudah tak kuat lagi mendengar kata-kata yang diucapkan sepupunya

"Gue cuma capek Kirana, gue capek" Aqila menyandarkan kepalanya dibahu Kirana yang bergetar hebat karena terus menangis

"Kenapa lo nggak cerita sama gue?" Akhirnya setelah sekian lama menangis Kirana membuka suaranya

"Gue baru mengetahui ini dua minggu yang lalu, dan lo sedang bahagia saat-saat itu, bagaimana mungkin gue bisa ngerusak suasana hati lo?"

"Lo lebih buat hati gue hancur kalau nggak cerita"

"Maafin gue Kir" Kirana menggelengkan kepalanya dan mengenggam tangan Aqila

"Kalau lo mau gue maafin, lo harus sembuh dulu, lo harus berobat Aqila"

"Gue tau dan dua hari lagi jadwal kemoterapi gue di rumah sakit"

"Tapi Kir kanker otak itu termasuk penyakit yang kecil banget kemungkinannya buat sembuh, kemoterapi cuma sebagai cara biar kanker nggak membesar dan menjangkit organ tubuh lain"

"Justru karena itu lo harus berobat dan selalu do'a sama Allah"

"Gue tau, tapi jika Allah berkata lain tolong maafin gue dan bilang gue minta maaf sama keluarga yang lain kalau gue udah nggak punya waktu lagi, biar gue bisa pergi dengan tenang" ucap Aqila memegang bahu Kirana

"Jangan ngomong gitu Aqila, lo harus sembuh"

"Iya, tapi nggak janji"

"Gue akan ngasih tau Papa dan Kak Davin tentang masalah ini, biar mereka mencari dokter onkologi terbaik buat lo"

*onkologi : dokter khusus yang menangani kanker

"Jangan! Jangan beritau mereka dulu, dua hari lagi ulang tahun Reyna, gue nggak mau bikin pestanya hancur cuma karena gue, dan Kak Davin baru aja bahagia, jangan rusak dulu suasana hatinya"

"Baiklah, kalau gitu gue yang nemenin lo" Aqila hendak menolak namun ucapan Kirana selanjutnya membuatnya mengangguk pasrah

"Kalau lo nggak mau, gue cerita sama mereka sekarang juga"

"Pokoknya lo harus sembuh, lo harus janji sama gue Aqila"

"Gue nggak mau janji, tapi gue akan berusaha buat sembuh" balas Aqila, bagaimanapun juga hidup dan mati itu ditangan tuhan, jika ia berjanji bagaimana kalau ia pergi menghadap sang kuasa hingga janji itu tak bisa ia tepati?

"Jangan merasa sendiri, gue selalu dukung lo" ucap Kirana memeluk sepupunya itu erat dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Aqila

.

Sementara itu, puluhan kilometer dari sana, di depan gerbang sebuah pondok pesantren, seorang laki-laki berpakaian serba hitam masih terduduk diatas motornya tanpa niat untuk masuk kedalam

Ya, dia Naufal, kalau bukan Ibu Nia yang menyuruhnya ia mungkin tak akan kembali kesini hari ini, mereka menelpon ke panti asuhan dan mengatakan kalau penyakit jantung abi nya kembali kambuh

Karena tak ingin menjadi anak durhaka yang tak tau balas budi orang tua ia mendengar perkataan Ibu Nia, untuk kesini menjenguknya, hanya menjenguk

Naufal segera memakai helm dan masuk ke ponpes yang menjadi tempatnya menuntut ilmu selama dua belas tahun lamanya

Sontak saja kemunculannya kembali selain hari raya idul fitri, menjadi tanda tanya di benak para santri yang melihatnya, yang mereka tau hanya kalau putra bungsu pak kyai itu memilih fokus kuliah hingga pulang hanya satu kali setahun saat hari raya idul fitri dan tak sampai seminggu ia akan kembali lagi

Ia memarkirkan motor dan membuka helm dihalaman rumahnya, terlihat mobil putih yang sudah tak asing lagi baginya juga terparkir disana

"Assalamu'alaikum" ia mengucap salam dan langsung disambut Umi Sarah yang memeluknya erat

"Naufal akhirnya kau pulang nak" ucapnya bahagia

Naufal bukan anak durhaka yang lupa perjuangan kedua orang tuanya mendidik dan merawatnya, tapi hatinya sering berdebat mengingat mereka yang terlalu mengekangnya dulu, harus seperti ini dan seperti itu, karena itu ia berani melawan, melawan keinginan mereka yang bertentangan dengan hati dan pikirannya

"Naufal izin kuliah di luar kota bukan ke Mesir seperti Kak Hasan yang kalian inginkan, kami berbeda dan tak pernah sama, Kak Hasan adalah Kak Hasan, dan Naufal tetap Naufal yang ingin bebas dari tekanan dan tak ingin dibandingkan dengan siapapun, jadi tolong izinkan Naufal pergi daripada terus disini yang malah membuat Naufal semakin merasa berdosa karena berdebat dengan kalian"

"Maafkan Naufal, abi, umi, tapi Naufal akan buktikan kalau Naufal bisa"

Itulah ucapan Naufal saat memutuskan pergi kuliah keluar kota, ia bahkan sampai berdebat hebat dengan abi nya kala itu yang ingin ia melanjutkan kuliahnya di Kairo, tapi Naufal tetap Naufal yang memilih berontak untuk membuktikan ia bisa dan tidak untuk dibandingkan dengan siapapun

Terpopuler

Comments

Mamah dini

Mamah dini

sedih banget banget, masih ada ya anak orang kaya sekuat aqila luar biasa

2024-11-02

2

Meida Winarti

Meida Winarti

sedih,miris bgt ceritanya sampe bikin dada sesek gk trasa udh netes neh air mata/Sob/

2024-12-25

0

Ibu Ageung

Ibu Ageung

Aqila kuat ..jadi nangis aqu

2024-11-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Ulang Tahun
2 Bab 2 : Mengalah lagi?
3 Bab 3 : Felis Catus
4 Bab 4 : Hanya Mimpi
5 Bab 5 : Tuduhan
6 Bab 6 : Dipaksa Dewasa
7 Bab 7 : Kejar Mimpi Yang Lain
8 Bab 8 : Lelah
9 Bab 9 : Kak Egan?
10 Bab 10 : Pesan Tersirat
11 Bab 11 : Jadilah Pelangi
12 Bab 12 : Hanya Lelah
13 Bab 13 : Keceplosan
14 Bab 14 : Dia calon makmum gue
15 Bab 15 : Jauhi Dia
16 Bab 16 : Hatiku Memilihmu
17 Pengganti kakaknya
18 Pernikahan Davin
19 Berusaha bukan berjanji
20 Tolong Mengerti
21 Kemoterapi
22 Apa ini?
23 Terima Kasih
24 Tolong Jangan Sekarang
25 DIA SAKIT!
26 Akhirnya
27 Terasa Asing
28 Senja & Sahabat
29 Panik
30 Tanggung Jawab
31 Ungkapan Hati
32 Khitbah
33 Sebuah Janji
34 Ultah Darren
35 Tentang Galang
36 Mulai Dekat
37 Cemburu?
38 Tentang Naufal
39 Diva
40 Goyah
41 Seputar Kisah
42 Rian
43 Papa Bangga
44 Undangan
45 Ujian
46 Tentang Jodoh
47 Berjuang Bersama
48 Renata dan Gempano
49 Selamat Tinggal
50 Rindu Musim Dingin
51 Rindu
52 Gagal?
53 kembali?
54 Papa Egois
55 Syok
56 Aku Memang Gila
57 Ia lebih butuh
58 Wisuda
59 Surat
60 Pergi?
61 Kami merindukanmu
62 Dewasa itu apa?
63 Apa Itu Mimpi?
64 Tentang Rasa
65 Tasbih dan Rosario
66 Dua Minggu
67 Cincin?
68 Aligator Amazon
69 Janji Rian
70 Siapa Dia?
71 Janji dan Rasa Kasihan
72 72 jam
73 Assalamu'alaikum Indonesia
74 Tak Sadar
75 Bertemu
76 Konsep Pelangi
77 Datang
78 Kesempatan
79 Galang
80 Lima Hari Lagi
81 Fadila
82 Malu
83 Cemburu
84 Sakinah, mawaddah, warahmah
85 Obrolan Fajar
86 Lingkaran Rasa
87 Salah yang mana?
88 Pelangiku hanya sementara
89 Hotel
90 Salah Paham
91 Maher Ahmed
92 Sepenggal Masa Lalu
93 YES!
94 G & R
95 Terlambat
96 Rumit
97 Kenapa Memilihku?
98 Isi Hati Rian
99 Terlalu Jauh
100 Saya Menerima
101 Kecelakaan
102 Selamat Jalan
103 Kenzo
104 Bilal dan Layla
105 Siapa?
106 Regan dan Kirana
107 Reynald
108 Kurus?
109 Telah Pergi
110 Jangan Ditahan
111 Aku Kuat
112 Kenapa?
113 Kekuatan
114 Apa itu cinta?
115 Rumah Sakit
116 Janji?
117 ATAS NAMA JODOH
118 99 days before divorce
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Bab 1 : Ulang Tahun
2
Bab 2 : Mengalah lagi?
3
Bab 3 : Felis Catus
4
Bab 4 : Hanya Mimpi
5
Bab 5 : Tuduhan
6
Bab 6 : Dipaksa Dewasa
7
Bab 7 : Kejar Mimpi Yang Lain
8
Bab 8 : Lelah
9
Bab 9 : Kak Egan?
10
Bab 10 : Pesan Tersirat
11
Bab 11 : Jadilah Pelangi
12
Bab 12 : Hanya Lelah
13
Bab 13 : Keceplosan
14
Bab 14 : Dia calon makmum gue
15
Bab 15 : Jauhi Dia
16
Bab 16 : Hatiku Memilihmu
17
Pengganti kakaknya
18
Pernikahan Davin
19
Berusaha bukan berjanji
20
Tolong Mengerti
21
Kemoterapi
22
Apa ini?
23
Terima Kasih
24
Tolong Jangan Sekarang
25
DIA SAKIT!
26
Akhirnya
27
Terasa Asing
28
Senja & Sahabat
29
Panik
30
Tanggung Jawab
31
Ungkapan Hati
32
Khitbah
33
Sebuah Janji
34
Ultah Darren
35
Tentang Galang
36
Mulai Dekat
37
Cemburu?
38
Tentang Naufal
39
Diva
40
Goyah
41
Seputar Kisah
42
Rian
43
Papa Bangga
44
Undangan
45
Ujian
46
Tentang Jodoh
47
Berjuang Bersama
48
Renata dan Gempano
49
Selamat Tinggal
50
Rindu Musim Dingin
51
Rindu
52
Gagal?
53
kembali?
54
Papa Egois
55
Syok
56
Aku Memang Gila
57
Ia lebih butuh
58
Wisuda
59
Surat
60
Pergi?
61
Kami merindukanmu
62
Dewasa itu apa?
63
Apa Itu Mimpi?
64
Tentang Rasa
65
Tasbih dan Rosario
66
Dua Minggu
67
Cincin?
68
Aligator Amazon
69
Janji Rian
70
Siapa Dia?
71
Janji dan Rasa Kasihan
72
72 jam
73
Assalamu'alaikum Indonesia
74
Tak Sadar
75
Bertemu
76
Konsep Pelangi
77
Datang
78
Kesempatan
79
Galang
80
Lima Hari Lagi
81
Fadila
82
Malu
83
Cemburu
84
Sakinah, mawaddah, warahmah
85
Obrolan Fajar
86
Lingkaran Rasa
87
Salah yang mana?
88
Pelangiku hanya sementara
89
Hotel
90
Salah Paham
91
Maher Ahmed
92
Sepenggal Masa Lalu
93
YES!
94
G & R
95
Terlambat
96
Rumit
97
Kenapa Memilihku?
98
Isi Hati Rian
99
Terlalu Jauh
100
Saya Menerima
101
Kecelakaan
102
Selamat Jalan
103
Kenzo
104
Bilal dan Layla
105
Siapa?
106
Regan dan Kirana
107
Reynald
108
Kurus?
109
Telah Pergi
110
Jangan Ditahan
111
Aku Kuat
112
Kenapa?
113
Kekuatan
114
Apa itu cinta?
115
Rumah Sakit
116
Janji?
117
ATAS NAMA JODOH
118
99 days before divorce

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!