Sejak kepergian Mas Sean aku hanya berdiam diri di kamar, Bi Sum juga sudah mengantarkan makanan untuk ku, atas perintah mas Sean tentunya, karena beliau tidak ingin aku repot naik turun dengan keadaan ku yang sedang lemas.
Sebenarnya aku bukannya tidak jenuh, hanya aku juga tidak ingin turun, tentunya karena aku belum siap untuk bertemu Ozzu, karena saat ini ku yakin Ozzu akan semakin membenciku
' Tok, tok, tok'
Aku menghampiri pintu yang di ketuk, aku pikir bi Sum yang kembali menemui ku, namun ternyata aku salah.
Karena begitu pintu ku buka, Ozzu lah yang berdiri gagah di sana, bahkan tanpa ku persilahkan masuk, Ozzu menyelonong begitu saja kekamar yang ku tempati bersama mas Sean.
" Zu, aku sedang tidak ingin berdebat" Aku berkata apa adanya. Sungguh hari ini aku begitu lelah, badan ku juga terasa nyeri sana, sini.
Ozzu langsung menatapku saat aku mengeluarkan pikiran ku
" Aku hanya khawatir, karena sejak Papa pergi kamu tidak turun"
Aku sedikit heran melihat sikap Ozzu yang terlihat berbeda, bahkan dia melihat ku dengan tatapan matanya yang indah
" Aku hanya ingin istirahat, apa kamu membutuhkan sesuatu?" Aku bertanya demikian karena ini sudah malam, pasti Yuyun dan bi Sum sudah kembali ke paviliun.
Aku gugup karena bukannya menjawab pertanyaan ku, Ozzu justru semakin mendekat berjalan ke arahku
" Maaf, aku hanya benar-benar mengkhawatirkan keadaan mu, karena sejak tadi kamu tidak kelihatan" Ozzu memang berdiri tepat di hadapan ku, namun dia benar-benar tidak menyentuhku sama sekali.
" Aku hanya sedang tidak ingin kemana-mana" Kataku, berusaha untuk terus terlihat berani meskipun dada ini berdegup kencang
" Apa kau mencintai Papaku?"
Pertanyaan Ozzu membuatku bergeming
" Apa kau takut dengan Papaku?"
" Zu, jika kamu tidak butuh bantuan ku, tolong keluarlah, tidak enak jika ada yang melihat kita bersama" Aku tidak ingin menciptakan gosip nantinya.
" Apa kau takut dengan Papaku?"
" Aku istri Papa mu, dan harus menjaga perasaannya, tolong pergilah Zu, aku tidak ingin terjadi fitnah"
" Aku bisa pergi kemanapun, tetapi aku tidak akan bisa membiarkan kamu bahagia"
Kata-kata yang keluar dari bibir Ozzu sangat menyakiti hati ku, apa dia melihat ku sedang bahagia saat ini?, bahkan aku merasa untuk bernapas saja rasanya susah saat aku menyadari keputusan untuk menjadi istri mas Sean adalah keputusan yang membawa penyesalan mendalam, air mata yang tadinya sudah berhenti kini kembali mengalir turun.
Ya Tuhan.....Bahkan meskipun selama ini aku hidup penuh dengan kekurangan, akan tetapi menangis adalah satu hal yang jarang ku lakukan. Tapi saat ini, air mata seperti teman keseharian ku.
" Aku sudah.......
" Li"
Ucapan ku terputus saat tiba-tiba mas Sean berdiri di ambang pintu
Dadaku bergemuruh saat ini, bagaimana jika mas Sean berpikir macam-macam karena aku dan Ozzu terlihat di kamar berduaan, segera ku hapus air mataku dan mengukir senyum se indah mungkin.
Otak ku tiba-tiba terasa lumpuh, tidak bisa sama sekali untuk di ajak berpikir. Aduuuuhhhh bagaimana ini???' jerit ku
" Kamu bicara dengan siapa?" tanya mas Sean yang membuat ku bingung. Reflek aku menoleh pada Ozzu yang tadi berdiri di dekat ranjang. Dan Ozzu sudah tidak ada.
'Kemana dia?' aduuuh aku begitu takut seperti seorang yang ketahuan selingkuh, tapi sedikit bersyukur karena mas Sean tidak melihat putranya.
Aku juga di buat bingung' bagaimana bisa Ozzu menghilang secepat itu
" Kau terlihat pucat, Li" mas Sean sudah berdiri menjulang di hadapan ku
" Mungkin Lily hanya kurang istirahat mas"
" Katakan jika aku terlalu berlebihan" Ucap mas Sean mencium bibir atas ku
" Tidak, bukan begitu" aku buru-buru mengeleng, aku sama sekali tidak keberatan kapanpun mas Sean menginginkan ku. Hanya saja mungkin aku kurang tidur, atau efek penganiayaan yang dilakukan oleh istri pertama mas Sean.
Aku menatap pria yang begitu menjulang di hadapan ku dengan menengadah, ku ulurkan tanganku menyentuh rahangnya yang kasar, menyapu tekstur bibirnya yang tebal, mas Sean tiba-tiba memasukkan jariku kedalam bibirnya yang membuatku terkejut
" Mas" pekik ku
Tak di hiraukan teguran ku, mas Sean malah memainkan jariku dengan lidahnya yang basah, bahkan suara cecapan itu menimbulkan rasa lain di hatiku. Mengapa ada hal seperti ini? hal kecil yang kini bisa membuatku berpikir kearah yang lebih dewasa.
" Izinkan aku bermalam di rumah Li" Mas Sean menatapku dengan sayu
Ya Tuhan... Bagaimana mungkin aku melarang Tuan rumah untuk pulang, sedangkan akulah disini yang menumpang
Mas Sean buru-buru mendesakkan lidahnya untuk ku sambut, dan itu mampu membuat ku terkesiap mundur. Jujur aku masih kikuk diajak berbuat seperti ini
" Maaf mas, Lily tidak pandai" Aku benar-benar merasa malu dan bodoh
" Aku bisa mengajarimu cara ciuman yang benar Li" Mas Sean hanya terus tersenyum menatapku
Sebenarnya aku hanya takut tidak mampu menyenangkan pria seperti mas Sean, yang sudah sangat berpengalaman
" Kau akan segera terbiasa dengan ku " Bisik mas Sean saat tangan kekarnya sudah mengendong ku menuju ranjang.
Mas Sean ikut naik ke atas ranjang, dan menarik kaki ku tiba-tiba sampai aku merosot dan terbaring kehadapan nya untuk segera di naungi
" Oh" Aku tidak bisa menolak ketika mas Sean menciumi ku dengan terburu-buru. Jujur aku mulai merasa ketergantungan pada mas Sean, ingin terus di gelung dan berdekatan.
" Li..." Mas Sean mencengkram erat dua gumpalan lembut di dadaku, napasnya sudah mulai berat, saat seperti ini aku mulai paham seberapa besar kebutuhan mas Sean terhadap tubuh ku
" Mas.." Aku terkejut dan menegang saat salah satu kaki ku di naikan ke pundak mas Sean dan segera di isi dengan buru-buru.
Aku melihat kelegaan dari wajah mas Sean yang sedang memejamkan matanya. Rasanya aku ikut bahagia saat melihat wajah damai itu karena rasa yang sedang bercampur, meskipun tidak bisa ku pungkiri bahwa rasa pedih itu tetap ada, terlebih saat mas Sean melakukannya tanpa pemanasan seperti ini, tetapi aku tidak keberatan, karena ini seperti sensasi baru.
Entah berapa lama kami berbagi peluh, hingga mas Sean mendekap erat tubuhku saat kami mencapai bersama
Keringat yang membasahi tubuh kami tak membuat kami ingin segera berpisah, entah mengapa aku malah membawa tangan besar mas Sean memeluk tubuhku, dan akupun kian merapat ke dadanya.
Dada mas Sean yang masih bergemuruh, terguncang kecil, dia mengetarkan tawa rendah
" Aku akan semakin sering pulang cepat jika kau seperti ini" Mas Sean mencium ku gemas
" Harus adil mas"
" Tolong jangan bahas Natalia saat ini Li, aku hanya menginginkan mu malam ini"
Aku tidak berani membantah saat mas Sean berkata demikian, mungkin tadi ada sesuatu yang terjadi saat mereka bertemu. Dan aku tidak mau ikut campur.
Mas Sean sudah terlelap saat aku ingin turun untuk mengambil minum. Saat membuka pintu aku benar-benar sangat terkejut saat Ozzu menyelonong keluar dari dalam kamarku bersama mas Sean, mendahului ku.
Apa ini....??????Aku syok.
Segera aku ikut keluar dan menemui Ozzu yang sepertinya sedang menyimpan amarah.
Ya Tuhan...Apa sejak tadi Ozzu masih berada di kamar kami?, mengapa aku melupakan itu. Lantas dimana pemuda itu bersembunyi?
Dan apakah apa yang kulakukan bersama mas Sean, Ozzu melihatnya?. Oh astaga...bahkan aku beberapa kali menjerit tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sweet Girl
Onok ae koe Ozzu...
Ndang nikah sana... kasihan juga kamu..., tapi ya salahmu sendiri.
2023-12-01
0
M. salih
mas Sean jelas saja pingin terus belah duren, gimana ngak la istrinya muda
2022-07-02
0
friyana
plis ozzu bocorin dong dari tadi matamu melotot kemana 🙄😅🙈
2022-06-29
0