Aku tidak tahu kemana perginya mas Sean setelah sarapan. Yang aku tau dia berpesan agar aku beristirahat. Namun bagaimana aku bisa tenang jika ada Ozzu di rumah ini? Namun untuk protes jelas saja itu lebih tidak mungkin
Aku baru saja hendak berbaring saat pintu kamar terbuka dengan tiba-tiba, padahal aku sudah menguncinya dari dalam
" Merasa Nyonya eh?" perkataan yang terucap dari mulut Ozzu selalu memojokkan, sehingga aku hanya butuh sabar dan pura-pura tidak dengar
" Aku hanya ingin istirahat" Ucapku saat tanganku di tarik oleh putra tiri ku
Ozzu tertawa dingin
" Siapa yang mengizinkan mu istirahat ha,..?" bentaknya tepat di depan wajahku
" Mas Sean, Papamu yang memintaku untuk istirahat!" ucapku sambil melepaskan tangannya yang menarik tangan ku
Tawa Ozzu kembali terdengar, kali ini seperti sengaja dibuat lebih keras
" Jangan jadi pemalas, kau ingin ku terima sebagai istri muda Papaku bukan?... maka kau harus tau posisi mu saat ini!" Matanya mengarah tajam menatap ku
Sebenarnya aku sama sekali tidak ada tenaga untuk mendebat Putra suamiku ini, tapi aku berusaha keras untuk berusaha tenang
" Bangun. Kau harus bersihkan kolam renang di bawah, itu airnya sudah tidak jernih!"
" Tapi, aku ..." lidahku kelu untuk sekedar jujur bahwa dari semalam aku belum sempat beristirahat
" Apa lagi yang kau tunggu? cepat! kau ingin menunggu Papa dan merengek agar tidak melakukan apa-apa, menjadi pemuas nafsu pria tua itu tanpa tahu malu menikmati fasilitas nya secara geratis tanpa mau bekerja? Cuih!!"
" Tidak hanya kata-kata Ozzu yang menusuk. Bahkan pemuda itu meludah di samping tubuhku
" Kau salah dengan memilih masuk di rumah ini, ku pastikan kau akan menikmati neraka yang sebenarnya"
Ozzu menarik paksa tubuhku, aku sampe terseok-seok menyeimbangkan badan agar tidak terjatuh, tidak hanya lelah, tubuh ini rasanya remuk, setelah mas Sean gempur berkali-kali. Entah bagaimana seorang pria tidak merasa capek setelah melakukan kegiatan seperti itu, namun yang ku tau badanku terasa tak bertenaga
" Ozzu!" Aku mencoba memanggilnya, tetapi pemuda itu seperti menulikan telinganya
Aku melihat Bi Sum yang berlari menyusul ku ikut naik keatas tangga yang sedang ku pijak
" Tuan muda, mau Tuan muda bawa kemana Lily?" ucap bi Sum sambil menatapku
" Dia ku suruh bersihkan kolam" Ucap Ozzu yang mencoba menerobos hadangan bi Sum
" Tuan Muda, nanti Tuan besar bisa marah!"
" Aku jauh lebih berharga dari wanita ini bi!, aku putranya, sedangkan dia hanya istri muda yang mau menikah dengan Papa karena ingin hidup enak!"
Aku tak bisa membantah itu. Tapi ketika Ozzu yang mengatakannya ada rasa sakit hati ini.
" Tapi....
" Papa tidak akan marah, jika bibi dan wanita ini tidak melapor"
Ozzu kembali menyeret ku menuruni tangga. sudah tidak bisa ku gambarkan sakitnya tubuhku, sedangkan untuk berjalan normal saja aku harus berhati-hati, agar rasa nyeri di pangkal pahaku tidak menyengat, tapi ini bahkan aku diseret, langkah ku di paksa mengimbangi langkah Ozzu yang lebar.
" Nah, kamu kuras air ini!" Bentak Ozzu padaku
" Biar bibi yang melakukannya"
Aku tidak menyangka bi Sum mengikuti kami
" Bibi jangan ikut campur!" Ancam Ozzu
" Tapi Lily ...
" Sekali ku bilang jangan ikut campur, maka jangan ikut campur bi!!"
" Sudah bi, tidak apa-apa, biar ku bersihkan saja, tolong beri tau saja caranya padaku!" Aku mencoba menengahi, meskipun aku tidak dalam keadaan baik-baik saja, akan tetapi melihat bi Sum yang sudah umur di bentak-bentak aku juga tidak tega
" Tapi Li"
Aku mengangguk, dan memberi kode pada bi Sum agar tak mendebat Ozzu, membuat bi Sum hanya mengangguk pasrah
Ternyata menguras kolam renang bukanlah hal yang mudah, terlebih Ozzu sepertinya sengaja menyiksaku dengan cara seperti ini, aku sudah mengeluarkan airnya yang kurasa sebenarnya masih sangat layak untuk di pakai berenang, kemudian aku diminta menyikat dinding-dinding kolam keliling, memastikan semua tersapu oleh sikat sampai tanganku terasa mati rasa karena cairan pembersih itu ikut mengenai telapak tanganku yang ikut memutih
" Li naik lah! kamu pucat sekali!" Bi Sum dari tadi terus menghawatirkan keadaan ku, namun Ozzu sama sekali tidak mengizinkan siapapun membantu ku
" Li!" Aku mendongak saat mendengar suara mas Sean. dan benar saja mas Sean melihatku dengan tatapan terkejut
" Mas!" Lirihku merasa sedikit lega, aku sebenarnya memang sudah tidak kuat berdiri di sini, selain badanku yang terasa remuk, aku juga sudah sangat kelelahan
" Kamu sedang apa?" tanya mas Sean
" Tau nih Pa, istri muda Papa aneh, masak mau bersihin kolam sendirian, padahal dari tadi sudah ku katakan bahwa banyak pekerja disini yang bisa melakukannya"
Kepalaku langsung menoleh pada Ozzu
" Meskipun kita sepertinya seumuran, aku mencoba menghormati mu karena kamu wanita pilihan Papaku !"
Aku hanya tersenyum saja, biarlah Ozzu berkata apa, aku saat ini hanya ingin beristirahat, tidak perduli bagaimana dia memutar otak untuk cari alasan.
" Masuk Li, aku tidak suka perintah ku dibantah!" Aku segera dibantu bi Sum berdiri, sedangkan mas Sean sudah pergi begitu saja seperti menahan kecewa, Ozzu juga menatapku tajam, mengucapkan ancaman-ancaman agar aku tidak memberitahukan hal sebenarnya
" Awas saja jika kamu berani mengadu pada Papa!" ucapnya tepat saat aku hendak melewati tubuhnya, seketika aku menghentikan langkahku dan menatapnya sejenak
" Kamu tidak melakukan kesalahan, untuk apa takut seperti itu" kataku
Dapat kulihat Ozzu menatapku tajam
" Aku hanya sedang tidak enak badan saja, makanya aku kepayahan. Lain kali aku akan melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi!" Setelah itu aku mengikuti langkah bi Sum yang memapah ku
" Li kamu demam!" kata bi Sum
" Iya bi, Lily ngak enak badan sejak pagi" kataku, menatap bi Sum
" Maaf bibi tidak bisa membantumu, Li."
" Tidak apa-apa bi!" aku mencoba tersenyum pada bi Sum yang kali ini menatap ku dengan seksama, aku yang di tatap begitu jadi malu
" Ada apa bi?" tanyaku pada akhirnya
" Li, apa kamu dan Tuan Sean baru saja...ah, maaf maksud bibi, jika benar kamu dan Tuan Sean habis menunaikan ibadah, bibi punya jamu agar nantinya tubuh kamu tidak terasa sakit semua"
Kalimat bi Sum memang halus tapi dengan kata 'agar tubuh tidak terasa sakit semua' bukankah itu sudah sangat jelas bahwa bi Sum tau apa yang sudah kamu lewati?
" Bibi tau dari mana?" Tanyaku dengan rasa malu yang menjalar
" Dari aura Tuan Sean yang berbeda, dan dari matamu yang terlihat kurang tidur" bi Sum tertawa kecil
" Maklum Li, Tuan Sean baru buka puasa!" bisik bi Sum, yang mampu membuat wajahku terasa panas
" Masuklah, susul Tuan Sean, nanti bibi siapkan jamu untuk mu,"
Setelahnya aku benar-benar menyusul mas Sean kedalam kamar. Ternyata mas Sean tidak ada mungkin dia masih berada di ruang kerjanya, akhirnya aku segera masuk ke kamar mandi untuk sedikit membersihkan diri dan berganti pakaian.
" Li"
Aku menoleh pada sumber suara saat mas Sean tiba-tiba sudah berdiri di dekatku. Tubuhku segera di angkat dan di turunkan di atas bak berukuran besar yang sepertinya mampu menampung empat orang sekaligus
" Kau harus berendam dulu" ucap mas Sean, aku hendak protes karena aku sudah merasa kedinginan, akan tetapi ternyata air di dalam bak itu terasa hangat dan ada wangi yang menenangkan
Aku masih mengenakan pakaian lengkap, tiba-tiba mas Sean ikut masuk kedalam bak yang ku tepati, tepat berada di belakang ku
Meskipun tidak melihat namun aku tau mas Sean sudah menanggalkan pakaiannya, karena saat mas Sean merapatkan tubuhnya aku bisa merasakan bulu-bulu halus nya
" Jangan khawatir, aku hanya ingin memandikan mu Li"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sweet Girl
Yakin Mas Sean...
2023-12-01
0
Ekawati Hani
Li, kasian banget kamu, malam digempur habis😂 pas siang malah disuruh bersihin kolam renang sama anak tirimu yg jahat😤
2022-06-28
3
Ekawati Hani
Eh jangan jangan kamu bukan anaknya Sean, buktinya Sean kekwh mau punya anak dari Lili😂
2022-06-28
0