" Pak, saya.."
Ponsel yang Tuan Sean Pramajha letaknya di atas meja kaca tebal itu menyala dan bergetar, membuat Tuan Sean segera meraih benda pipih tersebut, dan memberi isyarat kepada Lily untuk menjeda ucapan nya
Beberapa menit kemudian, Tuan Sean sudah selesai dengan panggilan telepon nya, dan kembali menatap gadis muda yang tiba-tiba menjadi pendiam
Sebenarnya Lily juga sedang berperang dengan perasaannya, dia takut Tuan Sean akan tersinggung dengan tawaran nya, dan akan memandangnya murahan. Namun bukankah Lily sudah tidak memiliki apa-apa bahkan harga diri?
Kesempatan tidak datang untuk kedua kali, Lily tidak mau menyia-nyiakannya, jikapun Tuan Sean Pramajha menolak nya, Lily bisa cari target yang lain. Meskipun gadis itu berharap Tuan Sean mau menerimanya sebagai istri simpanan.
" Kamu mau bicara apa um'?" tanya Tuan Sean sambil meletakkan benda pipih tersebut kembali di atas meja
" Pak, apa saya cantik?" pertanyaan yang lolos dari bibir polosnya itu begitu Lily sesali. Namun siapa yang menduga Tuan Sean Pramajha mau menjawabnya
" Iya, kamu cantik Lily" Tuan Sean bahkan tersenyum manis, senyuman yang seperti di tunjukan seorang Ayah pada putrinya
" Pak, maukah Bapak menjadikan saya sebagai istri simpanan?"
Wajah Tuan Sean yang tadinya dihiasi senyum berubah mengetat. Mata nya menyorot tajam pada Lily
" Kau sedang mengajak bercanda dengan gurauan yang sangat tak bermutu Lily?" tuduh Tuan Sean
Lily mengeleng tegas " Saya tidak..."
" Jangan macam-macam Lily, ucapan mu sudah terlalu menghina harga diriku" Tuan Sean tampak begitu marah
Lily meremas tangannya sendiri dan menunduk takut, Tuan Sean Pramajha yang melihat itu kembali tidak tega dan memilih memaafkan kelancangan gadis muda itu
Tuan Sean menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali bicara
" Kamu tidak boleh berbicara pada orang lain dengan perkataan merendahkan seperti itu Lily, ku harap kamu belajar tata Krama, tidak semua candaan bisa di ungkapkan pada lawan bicara, terlebih status orang beda-beda, kamu mengerti"
Bukanya mengangguk Lily malah mengeleng tegas
" Saya tidak bercanda Pak"
" Apa maksud kamu Lily. Setelah apa yang saya lakukan untuk mu kamu ingin menghina saya?" Tuan Sean Pramajha mengeram marah, dadanya naik turun menahan emosi yang kembali muncul karena ucapan Lily
" Saya tidak menghina Bapak, saya hanya menawarkan diri untuk menjadi istri Bapak, saya ingin sekali tidur nyenyak tanpa harus memikirkan makan apa esok hari, saya hanya ingin di nikahi dan ada yang memberi nafkah saya"
" Kamu mengincar harta saya?" lagi-lagi Tuan Sean menuduh
Lily juga tak bereaksi apapun. Kali ini gadis itu menangis. jika ditanya ingin mengincar harta, rasanya tidak. Lily hanya ingin diberikan makanan yang cukup, dia sudah terlalu lelah dalam kemiskinan. Namun apakah itu termasuk mengincar harta?'
" Jawab! apa karena kamu melihat saya kaya raya makanya kamu menyodorkan diri?"
Terkesan menghina saat Tuan Sean mengatakan itu, namun Lily sama sekali tidak tersinggung
" Ya" Jujur Lily
" Aku menyesal sudah menolong gadis miskin tak tau diri seperti mu Lily" Tuan Sean menatap Lily tajam
Lily memejamkan matanya menikmati rasa sakit dari hinaan orang yang beberapa waktu lalu membuatnya tersanjung-sanjung. Namun kini pria dewasa ini juga menghinanya seperti semua orang
" Pergi kamu dari rumahku Lily, aku tidak mau melihat pela**r kecil di rumahku"
Air mata Lily tak terbendung. ini untuk pertama kalinya dia dihina sedemikian rendah, namun mengingat pria itu telah begitu banyak membantunya Lily tak mengatakan apapun, dan segera menghapus air matanya yang sudah jatuh tak terhitung
" Maaf, saya sudah membuat Bapak marah. Terimakasih Bapak sudah mau menolong saya begitu banyak, semoga Allah membalas kebaikan Bapak untuk saya, karena saya tidak bisa membalasnya" lirih Lily dengan wajah menunduk serta langkah yang terus mundur, sebelum akhirnya gadis itu berlari untuk mengambil barang-barang miliknya
Tuan Sean masih berusaha menenangkan diri nya, dia tidak pernah sekasar ini pada seorang anak, namun melihat perilaku Lily yang merendahkannya membuat Tuan Sean kelepasan dan mengatakan banyak hal yang mungkin melukai hati gadis itu begitu dalam.
Hari sudah malam, Dua asisten nya sudah kembali ke paviliun, sementara tadi dia yang memanggil Lily, barang kali itulah yang menyebabkan Lily berpikiran bahwa dia pria kesepian
Masih tengelam dalam perasaanya, tiba-tiba langkah kaki terdengar kembali mendekat
Tuan Sean memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang, berapa terkejutnya Tuan Sean saat melihat gadis muda yang habis dimaki-maki olehnya berdiri dan mengulurkan tiga lembar uang merah dan satu lembar uang berwarna biru
" Uang yang Bapak berikan saya pake naik taksi dan beli kaos untuk berangkat ke kota ini, sisanya tinggal segini, saya janji jika saya ada uang akan saya ganti Pak" Mata abu-abu itu terlihat gelisah
" Ambil saja, pakailah untuk kembali ke desa mu" ucap Tuan Sean setelah mampu menenangkan diri
Lily mengeleng. " Tidak perlu Pak, saya sangat berterima kasih Bapak sudah begitu banyak membantu saya, maaf jika saya melukai hati Bapak, saya sama sekali tidak berniat begitu"
" Dengan menawarkan diri seperti wanita murah dan ingin di jadikan istri simpanan saya itu termasuk penghinaan Lily" Kali ini Tuan Sean tidak membentak
" Saya sungguh tidak bermaksud" Lirih Lily dan meraih tangan Tuan Sean untuk meletakan lembaran uang di tangan nya
" Ambillah, dan jangan pergi malam ini, besok biar kamu diantar sopir ke desa mu" ucap Tuan Sean bermurah hati
" Saya tidak ingin kembali kedesa Pak, saya ingin mencari pekerjaan disini, atau kalau ada yang menjadikan saya istri simpanannya saya mau, asal saya diberikan makan setiap hari itu sudah sangat cukup."
Tuan Sean Pramajha terhenyak mendengar ucapan Lily
" Lily kamu tidak benar-benar akan berbuat serendah itu kan?"
" Pak, saya capek, saya hanya ingin ada seseorang yang mencukupi kebutuhan perut saya, agar saya bisa tidur lelap saat malam, apapun saya kerjakan asal halal"
" Kamu bisa di sebut Pelakor jika melakukan nya" Tuan Sean Pramajha kembali menaikkan nada bicaranya
Lily mengangguk
" Saya tau" Lily tersenyum
" Apa ini sudah sering kamu lakukan?" Tuan Sean benar-benar geram dengan pemikiran gadis kecil itu
Lily mengeleng " Saya baru mau coba"
" Li, apa kamu masih gadis?" Tuan Sean terpaksa menanyakan itu
Dan Lily mengangguk mengiyakan bahwa dia masih murni dan belum pernah.
" Kamu punya kecantikan yang luar biasa, kamu bisa cari pria seumuran dengan mu dan menikah dengan perasaan cinta" nasehat Tuan Sean
" Saya hanya ingin kebutuhan perut saya di cukupi pak, tidak memikirkan cinta atau usia, yang saya butuhkan pria yang mau menikahi saya dan menafkahi saya, saya tidak butuh diakui di depan Kalayak ramai, tidak butuh di berikan rumah, kendaraan dan sebagainya, cukup di kontrakan rumah dan diberi uang secukupnya tiap hari itu sudah sangat bersyukur, pernikahan secara agama saja cukup, asal hubungan kami halal nantinya"
Tuan Sean diam tanpa kata setelah Lily bicara, keduanya di selimuti keheningan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sweet Girl
Sederhana sekali lho Pa Sean... cita cita Lily...
2023-11-30
0
Sri Widjiastuti
kutub utara & selatan, tingkat tinggi & rendah.. kasihan nya si lily
2023-11-23
0
Bayu Eka saputra
wuiiihhh,,, ngeri sampe geleng2 kepala aku bacanya,,,
2023-11-05
0