" Tuan muda memang seperti itu, sebenarnya dia baik Li, hanya saja mungkin dia terlalu kaget melihat mama sambungnya yang masih sangat muda seperti mu" Tutur Bi Sum padaku
Aku mengangguk saja, sebenarnya tidak terlalu pantas menurut ku saat orang menganggap diriku mama sambung, karena Mama kandung Ozzu memang masih ada, aku memang pantas dianggap musuh bagi Ozzu karena aku telah menjadi orang ketiga di keluarganya
" Li, Tuan Sean pasti punya alasan mengapa menjadikan mu istri, memilihmu, bukan wanita lain, jangan khawatiran apapun. Cukup jadilah istri yang baik untuk Tuan Sean, bahagiakan suami mu, karena dia juga yang akan membahagiakan mu" Lagi-lagi Bi Sum memberi nasehat seperti layaknya seorang Ibu. Aku mengangguk mengiyakan, aku juga langsung memeluknya, aku senang masih ada orang yang memberiku nasehat seperti ini.
" Yuyun kemana Bi?" Tanya ku setelah merasa lebih tenang
" Kuliah, dia ada jam pagi!" Bi Sum tersenyum.
Aku juga baru tau jika ternyata Yuyun adalah putri kandung Bi Sum, suaminya dahulu adalah sopir mas Sean, namun kini suami Bi Sum sudah meninggal dunia, Bi Sum masih mengabdi sama mas Sean, bahkan mas Sean juga yang membantu Yuyun untuk kuliah, Bi Sum sudah bekerja sejak mas Sean muda
" Oh, pantasan sepi" Aku tersenyum
" Kamu mau kue Li, tadi Bibi buat kue kering"
" Ah, kenapa Bi Sum ngak panggil aku?" Aku jadi merasa telah melewatkan kesempatan untuk belajar bikin kue
" Lha tadi kan masih ada Tuan Sean, mana berani bibi ganggu kalian"
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
" Mas Sean" sapa ku saat mas Sean masih berada di ambang pintu kamar yang sama-sama kami tempati, kadang aku masih saja lupa jika sekarang aku sudah tidak sendiri, ada suami yang hidup dengan ku sekarang
" Maaf, aku pulang telat!" Mas Sean memberi tahu
" Tidak apa-apa mas!" Ucapku seraya meraih tangannya yang hangat untuk ku sambut dan ku tempelkan di kening
" Ini untuk mu!" mas Sean memberikan dua tas kartun padaku dari sebelah tangan nya yang bahkan masih di perban
" Kenapa mas repot-repot begini? padahal tangan mas masih sakit" Ucapku sambil menerima bingkisan itu dengan cepat. Bukan karena senang aku lebih khawatir dengan tangan mas Sean yang menanggung beban
" Itu ponsel dan susu untuk mu"
Meskipun tidak enak karena pemberian mas Sean yang menurut ku berlebihan aku tidak lupa mengucapkan terimakasih
" Terimakasih, mas."
" Jangan terus mengucapkan terimakasih Li, sekarang kamu istriku, apa yang ku berikan untuk mu adalah kebutuhan yang seharusnya memang menjadi kewajiban ku"
Aku di tuntun ke arah ranjang, dan kami saling duduk bersebelahan
" Mama Ozzu sedang berlibur ke Singapura" Kata mas Sean sambil menatap ku
Aku tidak tau mau bertanya apa, karena aku juga takut salah ngomong, sehingga aku hanya diam menyimak
" Padahal aku ingin membahas persoalan Ozzu padanya, dia malah sibuk keluyuran!"
Aku dapat melihat kekesalan mas Sean, tapi aku bisa apa, selain menyimak dan mendengarkan
" Ozzu pulang karena tidak mau tinggal di asrama kampus, padahal semua harus tinggal untuk satu tahun pertama, mau jadi apa anak itu jika terus menerus harus mendapatkan perlakuan khusus, tidak selamanya kita terus sehat dan mampu memenuhi kebutuhannya yang mewah"
Aku tidak tau dari mana keberanian ku dapat, namun melihat mas Sean yang mengomel begitu aku jadi khawatir, ku raih tangan nya yang tak terluka, kemudian ku genggam lembut, maksudnya aku ingin memberi sedikit ketenangan.
" Semua yang kulakukan juga untuk kebaikannya, Apa aku salah?" tanya mas Sean padaku
" Tidak, mas Sean pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Ozzu!" ucapku menanggapi, entah benar atau tidak, karena aku mana ngerti asrama atau apa yang di maksud suamiku soal peraturan kampus, hanya rasanya tidak enak saja jika aku tak menjawab pertanyaannya
" Apa kamu tidak keberatan menungguku untuk siap menyentuh mu dan menyempurnakan pernikahan kita Li?" tiba-tiba saja mas Sean mendekatkan wajahnya padaku, pertanyaannya juga membuatku deg-degan
" Iya mas!" meskipun aku sendiri belum terlalu siap untuk menjadi istri seutuhnya untuk mas Sean, namun aku akan berusaha memenuhi apa yang pria itu butuhkan, karena mas Sean lah yang akan memenuhi kebutuhan ku. Aku akan menyimpan nasehat berharga bi Sum.
" Aku hanya ingin kita saling berdekatan dulu Li, agar tidak ada kecanggungan nantinya" Tambah mas Sean yang kini sudah melabuhkan bibirnya yang lembab di keningku, sesuatu yang sering mas Sean lakukan
" Li...." Aku tidak tau mengapa suara mas Sean tiba-tiba berubah, bahkan kini kedua tangannya menempel pada punggungku
" Li, ternyata sulit untuk menghindar dari pesona yang kamu miliki, rasanya aku tidak bisa lagi menunda lebih lama, ku harap kamu tidak keberatan, jika aku menarik kata-kataku tadi"
Aku gelisah saat mas Sean tiba-tiba menarik turun baju yang ku kenakan, bibirnya yang di kelilingi rambut di labuhkan di pundak ku yang terbuka, aku sama sekali tidak berani bersuara meskipun saat ini aku sedang menahan sesuatu yang ingin ku serukan.
Bunyi kecupan bibir mas Sean membuatku merinding, karena mas Sean terus mencumbu ku hingga tak bisa ku tahan semuanya seorang diri, dan seperti kemarin malam, malam inipun aku kembali memanggil namanya
" Mas Sean"
Tiba-tiba mas Sean mengangkat wajahnya untuk menatap ku
" Aku harus melakukannya, untuk memperoleh anak dari mu Li" Napas mas Sean terputus-putus. " Lahirkan anak untuk ku Li, tidak apa hanya seorang, aku menginginkan anak dari rahim mu"
Mas Sean menindih ku tiba-tiba, tubuhnya yang berat berada di atas ku, dia hanya menahan sebagian dengan tangannya
" Jangan takut pada ku" mas Sean berbisik
Aku segera mengeleng. Aku memang tidak takut pada mas Sean, aku hanya sedang berpikir apa yang setelah ini terjadi pada kami
" Mas!" Aku terkejut saat mas Sean membuka paha ku, tangannya yang tak terluka dia bawa kesana, hal yang kemarin sempat membuatku ingin menjerit kembali terulang.
" Aku berjanji akan pelan-pelan Li, karena ini yang pertama kali untuk mu" Bisik mas Sean yang hanya mampu ku angguki, nyatanya aku hanya mampu pasrah dan tergolek lembut di bawah naungan tubuhnya yang besar dan kekar
Entah sejak kapan kami sama-sama polos, bahkan aku tidak bisa menahan rasa malu ku, saat mas Sean terus menatap ku
Aku merasakan sesuatu mencoba menerobos dinding, rasanya teramat sangat nyeri untuk kurasa, bahkan aku sampai memekik kaku karena itu
" Tahan untuk ku Li" Bisik mas Sean dengan tubuhnya yang kurasa terus berusaha
" Sakit mas!" Merasa tidak ada kemajuan aku akhirnya bersuara, aku juga sudah dibanjiri keringat dingin.
" Maaf ini juga baru pertama aku menerobos dinding bersegel, aku juga belum berpengalaman!" ada tatapan iba saat mas Sean menatap ku. " Kita bisa mencobanya lagi lain waktu"
Aku yang mendengar kata-katanya tidak tega. Bukankah kata orang sakitnya berhubungan hanya saat pertama, namun mengapa sejak tadi mas Sean berusaha tetap tidak bisa, ataukah mas Sean tidak ingin menyakiti ku lebih sehingga ingin berusaha pelan?
" Coba sekali lagi mas, agak di paksa saja" kataku. Aku dapat melihat mas Sean menatapku kaget, namun setelahnya ada senyum manis yang timbul di bibir yang di kelilingi cambang tersebut
######
Terimakasih bagi reader yang selalu memberi dukungan, like dan komen bahkan hadiah...
semoga kalian diberi Rejeki melimpah dan nikmat kesehatan selalu Aamiin...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Sandisalbiah
harusnya Sean udah berpengalaman, dilihat dr setatus dan usia.. nyatanya buat unboxing perawan juga kesulitan.. speechless gak sih.. 🤔🤔
2023-12-13
0
Sweet Girl
Sakrepmu wes Mas...
sing penting Koe bahagia.
2023-12-01
0
Enies Amtan
aamiin... doanya
2023-08-13
0