Alira meringis saat Ryan mengobati sudut bibir Alira yang luka itu. Ryan tidak mengerti bagaimana Daniel memukul istrinya ini hingga sudut bibir Alira robek dan berdarah.
Sementara di sisi lain, Daniel duduk merenung di tepi sungai sembari menyesap sebatang rokok yang baru saja di belinya.
Daniel meneteskan air mata saat mengingat bagaimana ia memukul Alira, Daniel meninju batu yang ada di depannya berkali-kali sampai punggung jarinya terluka dan berdarah.
"AAAAGGHHHH!!!!" Daniel berteriak sekuat tenaga, melampiaskan segala beban perasaannya yang ia sendiri tidak mengerti.
"Ini semua gara-gara kalian!" Teriak Daniel saat ia mengingat kembali bayangan keluarganya yang hancur.
Daniel mengambil ponselnya, kemudian ia mengirimkan pesan pada Ryan.
"Antar Alira pulang ke panti, mungkin dia benar, lebih baik kami berpisah."
.........
Ryan yang membaca pesan kakaknya itu cukup terkejut, namun melihat keadaan Alira, ia merasa keputusan ini sudah tepat.
Ryan memperlihatkan pesan Daniel pada Alira yang membuat Alira tersenyum miring dan berkata. "Aku bisa pulang sendiri."
"Ini sudah malam, Al. Aku akan mengantarmu," tukas Ryan. Alira terdiam sejenak, ia menatap Ryan kemudian ia mengangguk setuju.
Alira pun segera mengemasi barang-barangnya, dan Ryan membawakannya ke mobil.
Saat dalam perjalanan, Alira tertidur di mobil, sementara Ryan menyetir dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik wajah teduh Alira, hati Ryan bergetar, bahkan ia tak bisa mengatur napasnya dengan baik.
Saat menyadari Alira masih memakai gaun pestanya, Ryan pun menghentikan mobilnya kemudian ia memakaikan jaketnya pada Alira.
Sesaat, Ryan memandangi wajah Alira, semakin lama ia menatap Alira, detak jantungnya semakin cepat, bahkan seperti bom yang akan meledak.
"Astaga! Apa yang aku lakukan?" Ryan segera melajukan mobilnya menuju panti asuhan.
.........
Sesampainya disana, Ryan langsung di sambut oleh Ibu Linda karena tadi Alira sudah memberi tahu bahwa Alira akan pulang lagi.
Alira pun terbangun dari tidurnya dan saat turun dari mobil, Alira langsung memeluk Ibu Linda. "Apa Ibu bilang, Al? Dia kembali menyakitimu," ucapnya.
"Aku rasa Alira butuh istirahat," sambung Ryan.
"Kamu juga masuk dulu, Ryan," ajak Alira dan tentu Ryan takkan menolaknya.
Ibu Linda mempersilahkan Ryan duduk, sementara Alira pergi ke kamarnya untuk ganti baju dan setelah itu barulah ia bergabung dengan Ryan di ruang tamu.
Mereka mengobrol ringan disana, membicarakan tentang panti dan sebagainya hingga tiba-tiba terdengar suara petir yang menyambar bersamaan dengan listrik yang mati. Tak lama berselang hujan pun turun begitu deras.
"Anak-anak pasti takut, aku akan memeriksa mereka," kata Ibu Linda, ia juga meminta beberapa pengurus panti yang lain untuk memeriksa semua anak-anak.
Sementara Ryan dan Alira masih berada di ruang tamu. "Aku rasa aku akan pulang sekarang," ucap Ryan.
"Kamu yakin? Hujannya deras, Ryan. Dan ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kamu pulang besok pagi?" Tanya Alira setengah menyarankan, bahkan ia berharap adik iparnya itu mau menginap disana.
"Hem, kalau kamu yang minta, baiklah," tukas Ryan kemudian yang membuat Alira terkekeh.
Menggunakan penerangan dari ponselnya, Alira mengantar Ryan ke kamar tamu yang tepat berada di samping kamar Alira dan hanya kamar itulah yang kosong.
"Ini kamarmu dan itu kamarku," tukas Alira namun Ryan seolah enggan masuk ke kamar itu. "Kenapa? Apa karena kamarnya tidak cukup besar?" Goda Alira.
"Aku ... aku...." tiba-tiba Ryan berkeringat dingin, bahkan lututnya bergetar apalagi saat tiba-tiba. "Ahhhh...." terdengar suara teriakan anak-anak yang membuat Ryan ikut berteriak histeris, bahkan ia langsung bersembunyi di balik badan Alira. Bersamaan dengan itu lampu menyala namun berkedip-kedip, membuat suasana terasa sedikit menyeramkan.
"Ha-hantu...."
"Haha...." Alira langsung tertawa geli karena ia baru tahu Ryan yang sudah lama tinggal di luar negeri ternyata takut hantu. Dan tawa Alira semakin pecah saat ia menyorot wajah Ryan dengan penerangan ponselnya, Alira menyadari Ryan yang berkeringat padahal cuaca begitu dingin karena hujan.
"Kamu takut hantu, eh?" Ejek Alira dan bersamaan dengan itu, lampu kembali mati sekaligus dan suara petir kembali menyambar.
"Dengar, Al. Aku ... aku tidak takut hantu, aku hanya ... hanya tidak suka gelap," tukas Ryan gelagapan.
Alira kembali tertawa, namun saat Ryan menyentuh tangan Alira, Alira terkesiap, tangan Ryan begitu dingin dan ia gemetar. "Astaga! Kamu beneran takut hantu?"
Ryan enggan menjawab, ia justru menggengam tangan Alira lebih erat. "Baiklah, mari kita masuk ke kamarku dan sepertinya disana ada lilin," kata Alira. Ryan hanya mengangguk pelan.
Saat Alira mencari lilin di beberapa laci, Ryan terus mengintilinya, bahkan ia memegang ujung baju Alira, seperti anak-anak yang takut di tinggal ibunya.
Alira hanya terkekeh, saat ia mendapat lilin itu, ia pun menyalakannya dan meletakkannya di atas nakas.
Saat cahaya lilin menerangi kamar Alira, Ryan sedikit bernapas lega. "Sekarang bagaimana? Kapan lampu menyala?" Tanya Ryan.
"Biasanya lama, apalagi ini hujan dan petir dimana-mana," jawab Alira.
"Di kamar ini tidak ada sofa, jadi kamu tidak bisa tidur di sofa," ucap Alira.
"Dan sekalipun ada, aku tidak mau tidur di sofa, demi tuhan, Alira! Bagaimana kalau ada hantu yang datang dan menarik kakiku?" Rengek Ryan yang membuat Alira melongo dan ia pun tertawa terbahak-bahak, namun kembali petir menyambar yang membuat Ryan terlonjak kaget dan langsung berhampur ke pelukan Alira yang membuat Alira kehilangan keseimbangan tubuhnya dan keduanya pun terjatuh ke lantai dengan Ryan yang menindih tubuh Alira.
Seketika tubuh Alira menegang, begitu juga dengan Ryan.
Keduanya saling pandang, dan saat petir kembali menyambar, Ryan langsung menyusupkan wajahnya di dada Alira.
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
Ryan gedong juga🤣🤣🤣🤣
2024-01-23
0
mama yuhu
ahhh..... Ryan menang banyak nihh
modus nya keren 😜😂😂
2023-01-07
1
Nur Evida
waduh rezeki nomplok nih main sosor aja Ryan nya
2022-11-27
0