"Kamu gila, ya? Kamu menampar putri tuan rumah dari penyelenggara pesta?" Desis Daniel kesal sembari mendorong Alira masuk ke dalam mobilnya.
"Aku tidak salah!" Balas Alira dengan dada yang bergemuruh.
Daniel segera masuk ke mobil, bahkan ia meninggalkan Ryan disana tanpa sadar.
"Tidak salah bagaimana? Sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Daniel yang seketika membuat Alira tertawa sinis.
"Ada apa denganku? Aku sedang marah dan cemburu, Daniel. Dan aku sakit hati saat wanita itu membicarakan bagaimana hebatnya kamu di atas ranjang!" Desis Alira yang membuat Daniel langsung menginjak rem seketika.
Ia menoleh, dan menatap istrinya yang kini kembali meneteskan air mata namun Alira langsung menghapus air mata itu.
"Dia wanita itu, 'kan?" Tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Berhenti membahas itu, Alira! Itu hanya kesalahan dan aku tidak akan pernah mengulanginya lagi!" Tegas Daniel.
"Aku tidak yakin," balas Alira dengan sinis. "Apalagi mengingat bagaimana ramahnya kalian tadi. Oh! Bahkan dia memegang pundakmu!"
Daniel hanya bisa menggertakkan giginya namun ia enggan menanggapi ucapan Alira, Daniel pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
Di sisi lain, Ryan memanggil taksi untuk pulang, karena Ryan takut Daniel dan Alira kembali bertengkar yang bisa saja akan berakhir dengan Daniel yang main tangan.
.........
Daniel dan Alira sudah sampai di rumah, dan keduanya tak bersuara sedikitpun sejak tadi. Suasana jadi mencekam, apalagi tatapan Daniel yang tampak sangat kesal dengan ucapan terkahir Alira saat di mobil tadi.
"Ini terkahir kalinya kamu mengungkit masalah itu!" Desis Daniel sembari membuka jasnya dan melemparnya dengan asal.
"Kenapa cuma aku yang harus mengerti kesalahanmu? Sementara kamu tidak mau berkompromi sedikitpun denganku, kamu membatasi ruang hidupku bahkan aku tidak boleh berbicara dengan teman sekolahku," Tutur Alira dingin yang seketika membuat Daniel langsung mencengkram pundak Alira yang terbuka, Alira meringis, apalagi saat kuku Daniel menancap di kulitnya dan pasti akan melukainya.
"Karena kamu istriku, Alira!" Desis Daniel tajam, Alira menyingkirkan tangan Daniel dari pundaknya dengan kasar.
"Tepat sekali, Daniel! Aku istrimu, bukan bonekamu!" Desis Alira sebelum akhirnya ia segera berlari naik ke kamarnya dan Daniel pun mengikutinya dari belakang.
"Kamu mau kemana?" Tanya Daniel saat ia melihat Alira memasukan beberapa barangnya ke dalam tas.
"Aku rasa, berpisah lebih baik!" Tegas Alira yang membuat amarah Daniel langsung memuncak.
Ia menarik tas Alira dan melemparnya ke lantai, Alira terkejut, apalagi saat tiba-tiba Daniel mencengkram pipi Alira dengan kuat.
"Berpisah kamu bilang?" Desis Daniel dengan tatapan yang di penuhi amarah. "Aku melakukan segalanya untuk meminta maaf padamu, Alira!" Alira hanya bisa meringis dan ia tak bisa lagi membendung air matanya saat Daniel mendorong tubuh Alira hingga punggungnya menabrak dinding.
"Aku sangat menyesali kesalahanku, Alira! Aku rela mati demi mendapatkan maafmu dan hatimu masih tertutup setelah semua itu?" Desis Daniel kemudian ia menghempaskan Alira begitu saja.
Alira menghapus air matanya, dan ia memegang pipinya yang sakit dan sudah pasti kembali memerah.
Alira menatap mata Daniel dengan berani dan berkata."Hatiku tidak tertutup untukmu, Daneil," lirih Alira.
"Aku berusaha memperbaiki pernikahan kita, aku berusaha melupakan kesalahanmu, tapi lihat ini!" Alira menunjukan pundaknya yang terdapat bekas kuku Daniel.
"Kamu tidak berubah dan tidak akan pernah berubah! Mau sampai kapan?" Teriak Alira frustasi dan air mata kembali mengalir deras di pipinya, sementara Daniel justru terlihat semakin marah.
"Aku tidak akan menyakitimu jika kau tidak berulah, Alira!" Daniel juga berteriak frustasi. "Aku sangat mencintaimu, aku hanya mau kamu melupakan kesalahanku dan tidak mengungkit masa lalu itu lagi!" geram nya.
"Bagaimana aku tidak mengungkitnya, Daniel? Sementara wanita itu mengungkit malam yang kau lewati dengannya? Dia memberi tahu betapa hebatnya kamu di atas ranjang! Bagaiamana aku bisa diam saja setelah mendengar semua itu?" Alira kembali berteriak di depan wajah Daniel namun secara reflek Daniel kembali melayangkan pukulan di pipi Alira dengan sangat keras yang bahkan membuat Alira sampai tersungkur ke lantai.
Alira terdiam mematung, napasnya tercekat di tenggorokannya, tangannya mengepal kuat. Luka yang kemarin belum sembuh, dan Daniel justru menambah luka itu, bahkan seolah merobek luka itu lebih dalam dan lebar.
Sementara Daniel yang sudah sangat merasa kesal langsung keluar dari kamar, bahkan ia membanting pintu yang membuat Alira terlonjak.
Sudut bibir Alira mengeluarkan darah karena kerasnya pukulan Daniel, namun Alira tak lagi menangis, air matanya seolah mengering, dan ia masih tersungkur di lantai hingga akhirnya Ryan datang.
"Alira...." Teriak Ryan yang langsung berlari menghampiri Alira. "Ya Tuhan!" Kau berdarah!" pekik Ryan namun Alira tetap diam mematung seolah tak mendengar teriakan Ryan.
"Alira, kau baik-baik saja?" Tanya Ryan sembari memegang kedua pundak Alira, hendak membantu Alira berdiri dan Ryan kembali terkejut saat melihat bekas kuku di kedua pundak Alira.
"Apa menurutmu aku baik-baik saja setelah semua luka ini?" Alira bertanya dengan suara lirih, hati Ryan seperti tersayat mendengar itu.
"Ayo! Aku akan mengobatimu," Ryan menuntun Alira agar duduk di ranjang dan Alira menurut saja. "Dimana Daniel?" Tanya Ryan sembari mencari kotak obat.
"Mungkin pergi ke neraka," jawab Alira dengan raut wajah yang datar dan nada bicara yang juga datar.
Ryan yang melihat itu menjadi tidak tega, apalagi tatapan Alira tampak kosong namun menyimpan sejuta luka.
Ryan mendekati Alira yang kini duduk di tepi ranjang, dan tiba-tiba Alira memeluk pinggang Ryan, menyembunyikan wajahnya di dada Ryan dan Alira kembali mengeluarkan tangisnya, air mata mengalir deras hingga mebasahi baju Ryan.
"Lepaskan aku dari dia, Ryan! Aku mohon!" lirih Alira. "Aku tidak sanggup lagi, Ryan."
Ryan tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa mengusap kepala Alira seperti yang biasa ia lakukan.
Alira yang meneteskan air mata, namun Ryan yang merasakan sesak di dada.
Alira yang terluka, namun hati Ryan yang terasa sakit.
"Aku disini, Alira. Aku disini," ucap Ryan dan ia mengecup pucuk kepala Alira.
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Evida
sampai ajal menjemput Alira baru Daniel berhenti menyiksa nya
2022-11-27
0
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu udah alira pergi yg jauh tuk apa bertahan kl danil kayak gitu trs skt hati skt pisik
2022-08-25
0
Nanda Lelo
benar kata alira,, sampai kapanpun Daniel tidaak akan pernah berubah
2022-07-13
1