Dengan di bantu Ibu Linda, Alira menggotong tubuh Daniel ke kamarnya, Alira menidurkan suaminya itu disana.
Kemudian ia segera membersihkan luka Daniel, mengobatinya dan membalut lengan suaminya itu. Entah apakah dengan silet atau pisau Daniel menuliskan kata 'sorry' itu, namun yang pasti, itu sangat mengerikan.
"Apa dia sudah gila?" Geram Ibu Linda yang melihat kondisi Daniel sekarang.
"Lebih dari kata gila, Bu," jawab Alira lirih.
"Terus kita harus bagaimana, Al? Apa menghubungi polisi saja?"
"Aku rasa tidak perlu, kedatangan polisi hanya akan menganggu kenyamanan panti." Alira menatap suaminya itu dengan sendu, ia tak mengerti apa yang ada di otak Daniel sehingga ia bisa bertindak gila seperti ini. "Aku akan mengurus Daniel, biarkan dia tidur disini malam ini, besok pagi aku akan memintanya pulang."
.........
Daniel terbangun saat merasakan cahaya matahari menyinari wajahnya.
Ia mengerang, dan perlahan membuka matanya yang teras berat, kepalanya pun begitu sakit, seperti berdentum.
Daniel beranjak duduk sembari memegangi kepalanya yang juga pusing itu.
"Kau bangun juga akhirnya...." Daniel mendongak saat mendengar suara lembut sang istri, dan seketika raut wajahnya sedikit berbinar saat ia bisa melihat wajah istrinya setelah beberapa hari.
"Sayang, aku.... Agh!" Daniel hendak turun dari ranjang namun karena masih pusing, Daniel kehilanga keseimbangan tubuhnya dan ia hampir jatuh namun Alira dengan cepat menangkap tubuh Daniel.
"Sayang, aku mau minta maaf," lirih Daniel yang menatap Alira dengan sayu.
"Kamu bisa pulang sendiri atau harus di antar?" Tanya Alira dengan dingin yang membuat hati Daniel mencolos.
"Please, Al. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Sayang," ucapnya memohon namun hati Alira sudah tertutup untuk itu.
"Kalau begitu aku akan menghubungi Ryan supaya menjemputmu," tukas Alira tanpa memperdulikan ucapan Daniel.
Daniel tertunduk sedih, ia terlihat begitu rapuh sekarang, dan itu membuat Alira sedikit bersimpati. Namun saat Alira mengingat bahwa Daniel telah menodai pernikahannya, Alira segera mengusir rasa simpati itu.
Alira pun berbalik, hendak pergi untuk menghubungi Ryan namun baru beberapa langkah, terdengar suara kaca yang di pecahkan.
Alira terkejut dan langsung menoleh. "DANIEL...!" ia berteriak histeris saat melihat Daniel yang hendak melompat dari jendela.
"Daniel, jangan gila kamu!" Seru Alira panik, namun Daniel justru tersenyum dan ia langsung menjatuhkan diri, Alira berteriak histeris dan ia langsung menangkap tangan Daniel yang kini bergelantungan.
Alira menatap ke bawah dengan ngeri, kamarnya berada di lantai 3, lantai paling atas.
"Lepaskan aku, Alira!" Daniel mencoba melepaskan tangan Alira namun Alira menggeleng, ia berusaha menarik Daniel ke atas.
"Jangan bodoh, Daniel! Kamu mau mati, huh?" Teriak Alira.
"Akan lebih baik aku mati dari pada kehilanganmu, Alira," jawab Daniel lirih yang membuat hati Alira terenyuh.
Ia pun tak bisa lagi menahan air matanya meskipun ia tidak tahu alasan ia menangis.
"Naik, Daniel!" lirih Alira namun Daniel menggeleng tegas. "Aku sudah tidak sanggup menahanmu lagi, aku mohon, naiklah!" sekuat tenaga Alira mencoba menahan agar Daniel tak terjatuh, namun Daniel kembali menggeleng.
"Aku akan kembali padamu," ucap Alira akhirnya dengan suara lirih dan air mata yang mengalir lebih deras hingga jatuh tepat di pipi Daniel.
Sementara Daniel yang mendengar ucapan Alira tentu sangat senang. "Kamu bersungguh-sungguh, Sayang?" Tanya Daniel memastikan dan Alira mengangguk pelan.
.........
"Jangan bodoh, Alira!" Seru Bu Linda dengan tegas setelah mendengar pernyataan Alira yang akan kembali pada Daniel. Bu Linda mencengkram kedua pundak Alira, bahkan mengguncangnya, seolah ingin menyadarkan wanita itu. "Kalian hanya akan menyakiti diri kalian sendiri dengan pernikahan ini, Alira."
"Aku tidak punya pilihan lain, Bu," jawab Alira lirih.
"Jangan terlalu naif, Nak. Berhenti berkorban demi orang lain, fikirkan kebahagiaan kamu sendiri, kenyamanan kamu," ucap Bu Linda yang tampak sangat kesal dengan kenaifan Alira.
"Bagaimanapun juga Daniel masih suamiku, Bu. Dan ... hhh." Alira menghela napas berat. "Dan aku tidak tega melihat dia seperti ini."
"Lalu bagaimana dengan diri kamu sendiri? Huh?" Bu Linda kembali mengguncang pundak Alira. "Apa dia pernah perduli dengan rasa sakit kamu? Dia bukan hanya menyakiti fisik kamu, tapi juga hati kamu, mental kamu, Alira!"
Alira terduduk lemas mendengar segala perkataan Ibu Linda karena itu memang benar.
Namun, Alira tidak tahu bagaimana harus melepaskan diri dari Daniel.
Melihat Alira terdiam, Bu Linda hanya bisa menghela napas panjang, ia pun langsung mendekap anak asuhnya itu dan berkata. "Jika kamu melanjutkan pernikahan ini, maka kalian hanya akan saling menyakiti."
.........
Bukan keputusan yang mudah bagi Alira, namun ia tidak tahu harus melakukan apalagi, dan disinilah ia sekarang.
Kembali ke rumah suaminya, yang telah menyakiti fisik, hati dan mentalnya.
Alira membantu Daniel keluar dari mobil, kemudian memapah pria itu masuk ke kamar mereka.
Saat memasuki kamar, Alira mengernyit, ia mengibaskan tangannya di depan hidungnya saat mencium aroma alkohol yang begitu menyengat.
Bahkan ada beberapa botol alkohol di lantai, dan sepreinya tidak di ganti, sudah kotor dan lusuh.
Setiap dua hari sekali akan selalu ada orang yang datang untuk membersihkan rumah, namun Daniel selalu mengunci diri sehingga kamarnya tak di bersihkan.
"Maaf, kamarnya kotor, Sayang," ucap Daniel. "Aku akan membersihkannya." lanjutnya dan kembali hal itu membuat Alira terenyuh.
Daniel menunjukan cinta yang begitu besar padanya, namun di waktu yang bersamaan, Daniel melukai dirinya dengan sangat luar biasa.
"Tidak apa-apa, aku akan membersihkannya nanti. Sekarang kamu istirahat di kamar sebelah saja," ujar Alira.
Ia pun membawa suaminya itu ke kamar kosong di sebelah kamar mereka.
Daniel demam, tubuhnya panas, Alira pun memberikan obat dan meminta suaminya itu tidur.
"Apa kamu akan pergi saat aku tidur nanti?" Tanya Daniel lirih, sorot matanya tampak cemas setiap kali memikirkan Alira akan meninggalkannya.
"Tidak, aku akan membersihkan kamar kita," jawab Alira. "Sekarang tidurlah!" Alira menyelimuti Daniel dan tak berselang lama Daniel mulai memejamkan mata.
Setelah Daniel tertidur, Alira langsung keluar dari kamar itu. Kemudian ia duduk lemas di ujung tangga dengan memeluk lututnya dan ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya itu.
Alira kembali menangis, hingga tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut di pundaknya, Alira mendongak dan berfikir itu Daniel.
"Dan... Ryan?"
"Kenapa kamu kembali?" Tanya Ryan dengan kening berkerut.
"Mungkin karena memang disini tempatku, Ryan."
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
bawa ke phiskuiater aja, jiwanya terganggu
2024-01-23
0
mama yuhu
fix.... Daniel kena gangguan jiwa
bawa berobat donk
2023-01-07
1
Nur Evida
moga Daniel berubah
2022-11-27
0