Daniel dan Alira menghadiri pesta peresmian perusahaan Jared, yang merupakan seorang pengusaha berusia 50 tahunan yang sangat sukses bahkan kini ia sudah memiliki tiga perusahaan.
Daniel tampil sangat tampan dengan setelan jas abu-abunya, begitu juga dengan Ryan yang merasa nyaman dengan pakaian pakaian yang terlihat casual namun tidak mengurangi ketampanan dan Kharismanya.
Dan berjalan di antara Ryan dan Daniel, Alira yang tampil sangat cantik dan memakau dengan gaun berwarna putih yang di taburi kristal kecil-kecil.
"Apa kau selalu ikut Daniel ke acara seperti ini, kakak ipar?" Tanya Ryan dan Alira hanya menggumam sebagai jawaban. Karena jika boleh jujur, Alira sedang tak ingin menghadiri pesta ini namun Daniel memaksanya.
"Yeah, dia selalu membawaku seolah ingin memamerkanku pada semua rekan bisnisnya," jawab Alira sembari melingkarkan tangannya di lengan Daniel, Daniel yang mendengar itu langsung menoleh dan ia menampilkan wajah seriusnya
"Tidak, Honey. Aku tidak ingin memarekanmu pada siapapun, aku membawamu karena aku ingin semua orang tahu bahwa kau milikku," tukas Daniel yang seketika membuat Alira melepaskan tangannya dari lengan Daniel.
Dari ucapan itu, Alira mengerti, Daniel masih akan over possessive padanya.
Tak lama kemudian Jared datang bersama istrinya, menyambut Ryan, Daniel dan Alira. Dan saat melihat Ryan, istri Jared yang bernama Jeny tampak sangat senang, bahkan ia memeluk Ryan dan mencium pipi Ryan sembari berkata. "We are your fans."
Mendengar kata 'we', Daniel terkekeh dan berkata. "Jadi, Pak Jared juga fans adikku? Aku tidak pernah tahu itu."
"Oh, bukan aku, Daniel," jawab Jared. "Tapi istri dan putriku, mereka tergila-gila pada Ryan yang kata mereka, seperti dewa ketampanan." Ryan yang mendengar itu terkekeh, bukan hal baru ia di sanjung langit, sehingga saat ada yang menyanjungnya, ia tak merasa melayang.
"Kalau begitu, putrimu pastilah seorang dewi kecantikan," puji Ryan seperti biasa.
"Tentu saja, dia sangat cantik, dan...." Pak Jared mengedarkan pandangannya, mencari putrinya dan saat ia melihatnya, Jared langsung memanggilnya.
"Calista...."
Semua mata tertuju kemana arah Jared memandang, dan Daniel sesaat terkejut saat melihat wanita itu, dia adalah ... wanita yang telah tidurnya. Namun, Daniel tak mau ambil pusing, karena semua itu hanya kesalahan dan ia sedang mabuk.
Sementara Calista, ia pun bersikap biasa saja, bahkan menyambut mereka bertiga dengan senyum ramah. Dan sekarang Daniel tahu, kenapa Calista bisa mengenalnya mengingat Calista memanggil nama lengkap Daniel saat itu.
Calista sangat cantik, ia memiliki tubuh tinggi, putih, rambutnya berwarna hitam, dan ia memakai dress maroon dengan panjang yang hanya sepahanya.
"Calista, kamu temani para tamu istimewa ini, Papa dan Mama akan menemui tamu yang lain."
"Okay, Papa," jawab Calista kemudian ia membawa mereka menuju sebuah meja.
"Terima kasih," ucap Alira sambil tersenyum, namun Alira menyadari, kini pandangan Calista tertuju pada Daniel.
"Kamu ingin makan sesuatu, Daniel?" Tanya Calista yang tentu saja membuat Alira terkejut, mereka sepertinya sudah saling mengenal.
"Tidak, terima kasih," jawab Daniel dengan tenang bahkan ia menyunggingkan senyum pada Calista.
"Baiklah, jika kau butuh sesuatu, panggil saja aku," tukas Calista bahkan ia memegang pundak Daniel. Hal itu memantik api cemburu di hati Alira namun ia berusaha menahannya, ia juga kesal karena Daniel bersikap biasa saja pada Calista.
"Jika saja pundakku yang di pegang oleh seorang pria, kamu pasti sudah menamparku berkali-kali, Daniel," gumam Alira dalam hati dengan perasaan yang kembali di selimuti kekesalan dan kebencian.
Ryan memperhatikan gerak-gerik dan raut wajah Alira, Ryan seolah mengerti apa yang di rasakan kakak iparnya itu.
"Hey, Calista. Apa aku bisa berbicara denganmu?" Ryan bersuara, untuk mengalihkan perhatian wanita itu dari Daniel. "Aku dengar kau salah satu fansku."
"Tentu saja, aku fans beratmu, aku juga tahu banyak tentangmu," ucap Calista dengan antusias.
Ryan pun beranjak dari kursinya, ia menggandeng tangan Calista dan membawanya pergi dari sana, Ryan membawa Calista keluar dari ruang pesta.
Tanpa sadar, Ryan meninggalkan ponselnya di atas meja.
"Kau fansku tapi kau lebih menyambut Daniel dari pada aku," tukas Ryan kemudian yang membuat Calista tampak salah tingkah.
"Ah, yeah. Sebenarnya aku juga sangat antusias saat melihatmu, tapi saat aku melihat Daniel, entah kenapa semua perhatianku terpusat padanya, apalagi setelah dia meninggalkanku begitu saja di kamar hotel," tutur Calista panjang lebar yang membuat Ryan sangat terkejut.
"Apa? Kamar hotel? "Tanya Ryan tak percaya dan Calista mengangguk sambil terkekeh.
"Kau terkejut seolah kau pria suci saja, padahal hal seperti ini sering terjadi di kehidupan orang-orang seperti kita," jawab Calista yang membuat Ryan merasa bingung.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ujar Ryan.
"Really?" Tanya Calista. "Maksudku, one night Stand, Ryan. Bukankah kau sudah biasa melakukan itu dengan banyak wanita? Begitu juga dengan Daniel, 'kan?" Ryan melongo, bingung dan tak percaya pada ucapan Calista.
"Jujur saja, aku memang seperti itu," ucap Ryan kemudian. "Tapi tidak dengan Daniel, dia sudah punya istri dan sangat mencintai istrinya." lanjutnya yang membuat Calista justru terkekeh.
"Cinta itu tidak ada, Ryan. Yang ada hanya hasrat," tukasnya. "Oh ya, Daniel sangat hebat di atas ranjang, aku hampir pingsan karenanya, dan yang lebih gilanya lagi, aku kehilangan celana dalamku, mungkin ada di mobil Daniel karena saat itu dia memaksaku bercinta di mobilnya."
Ryan melongo, bahkan menahan napas mendengar cerita Calista yang bisa dengan mudahnya menceritakan sebuah percintaan dengan suami orang.
"Calista, dia sudah punya istri, bagaimana kau bisa...." Ryan bahkan tak tahu harus berkata apa.
"Di rumah, dia punya istri. Tapi di luar? Kenapa tidak jika ada yang bisa memuaskan hasratnya?"
Dan tanpa mereka sadari, sejak beberapa saat yang lalu Alira berdiri tak jauh dari mereka dengan ponsel Ryan yang terus berdering di genggamannya.
"Jadi kau wanita itu?" Alira bersuara dengan gemetar yang membuat Ryan terkejut namun tidak dengan Calista.
"Oh, hai, Alira! Ada apa?" Sapanya seolah tidak terjadi apa-apa.
Alira mendekati Calista, tatapannya begitu tajam dan rahangnya mengetat. Saat ia berada di depan Calista, Alira mengangkat tangannya dan menampar Calista dengan sekuat tenaga yang membuat Calista melotot terkejut dan ia langsung memegang pipinya yang terasa panas dan sakit.
"Kau..." desis Calista, ia hendak menampar Alira namun Ryan langsung menangkap tangan Calista.
"Kau, pelacur!" desis Alira dan bersamaan dengan itu, Daniel juga Jared datang.
"Ada apa ini?" Tanya Jared.
"Dia menamparku, Pa!" Calista menunjuk Alira dengan tatapan yang berapi-api.
Jared terkejut, begitu juga dengan Daniel.
"Sayang, apa itu benar?" tanya Daniel dengan lembut.
"Tanya pada Ryan kalau kalian tidak percaya!" Seru Calista marah. "Disini juga ada cctv, kalian periksa saja kalau masih tidak percaya!" Lanjutnya.
Sementara Alira tak bergeming dan ia menampilkan wajah dinginnya, bahkan tatapannya begitu dingin pada Daniel.
"Daniel!" Geram Jared, ia menatap Daniel dengan marah. "Tidak pernah ada satu orang pun yang mengangkat tangan pada putriku dan istrimu ini berani melakukannya?"
"Mungkin ini hanya salah faham, Pak," ucap Daniel.
"Salah faham apanya? Dia menamparku dan itu bukan kesalah fahaman, aku bisa menuntut dia dan membuatnya di penjara!" Desis Calista.
"Lakukan saja!" Alira juga mendesis tajam. "Aku tidak takut!"
"Alira...." Daniel menggeram tertahan kemudian ia membawa Alira pergi dari sana.
Ryan menatap Calista dengan dingin, karena disini yang salah memang Calista.
"Kau memang salah, Nona. Dan apa yang dia katakan itu benar!"
Tbc...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
masih mudah tapi lacur, kessng aja wanita terhormat☺☺☺☺
2024-01-23
0
mama yuhu
aku merinding disco dengan kisah para holang kaya
2023-01-07
0
Nur Evida
calista dah biasa bercinta satu malam rupa nya
2022-11-27
0