Pagi telah datang, mentari mengintip manja di balik tirai sebuah kamar mewah yang di dominasi warna putih itu.
Sebuah foto pernikahan terpajang tepat di atas ranjang, sementara sang pemilik kamar masih berada di atas ranjang.
Daniel membelai pundak telanjang sang istri yang saat ini masih terlelap, wajahnya terlihat letih dan itu membuat hati Daniel seperti di cubit.
"Maafkan aku, Sayang." Daniel berbisik mesra di telinga Alira. Ia menyingkirkan anak rambut yang tampak menganggu wajah istrinya itu.
Daniel menyibak selimut yang menutupi wajahnya, ia memungut celananya dan memakainya kembali. Saat ia hendak ke kamar mandi, ponselnya berdering.
"Astaga, aku melupakanmu!" Daniel menggumam saat tahu siapa yang menghubunginya, ia pun segera menjawab panggilan itu.
"Halo, Ryan. Dimana kau?" Tanyanya.
"Aku sudah di bandara, Dude. Apa kau melupakan janjimu?" Terdengar suara bass seorang pria dari seberang telfon.
"Aku baru bangun tidur, apa kau bisa naik taksi saja kesini?" Tanya Daniel sembari memandangi wajah sang istri yang masih terlelap.
"Baiklah, tidak masalah. Tapi sepertinya aku akan mampir ke rumah temanku lebih dulu."
"Okay," jawab Daniel.
Setelah berbicara dengan pria bernama Ryan itu, Daniel bergegas ke kamar mandi.
Ia mencuci wajahnya di wastafel, kemudian ia menatap bayangan dirinya di cermin itu.
Terbayang kembali dalam benaknya bagaimana ia bertemu dengan Alira, gadis polos yang cantik, kemudian ia jatuh cinta padanya dan menjalin hubungan yang begitu indah hingga akhirnya mereka menikah dua tahun yang lalu.
"Aku hanya takut kehilanganmu, Alira. Kau adalah jiwaku," gumam Daniel dengan suara yang bergetar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan sesaat kemudian ia merasakan sentuhan tangan seorang wanita di pinggangnya.
Alira memeluknya dari belakang, menyenderkan kepalanya di punggung suaminya. Alira masih tak memakai apapun, sehingga kulit keduanya bergesekan dan itu membuat Daniel mengerang lirih.
Daniel menggenggam tangan mungil istrinya itu, mengecupnya dengan lembut sebelum akhirnya ia berbalik badan.
"Maafkan aku, aku menyakitimu," ucap Daniel dengan lirih, Alira tersenyum masam dan mengangguk. "Apa kita perlu ke Dokter lagi? Hm?" Tanyanya dengan lembut.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Alira pelan dan ia kembali memeluk suaminya itu, menyenderkan kepalanya di dada sang suami seolah ia sedang butuh sandaran.
"Aku hanya butuh istirahat, Sayang." suara Alira gemetar, ia sangat mencintai suaminya namun ia juga takut pada suaminya apalagi jika sang suami cemburu, maka ia akan bersikap bak iblis.
Seperti tadi malam dan dua hari yang lalu, hanya karena ia cemburu, maka ia akan menyerang Alira di atas ranjang dengan brutal. Tanpa perduli apakah Alira sakit, lelah, atau sedang tidak ingin bercinta. Daniel akan seperti binatang yang kehilangan akal sehatnya bahkan tak jarang ia akan mengangkat tangan pada Alira.
"Baiklah, aku janji tidak akan menyentuhmu sampai kau benar-benar sembuh, hm." Alira tersenyum kecut.
Janji? Sudah jutaan kali sang suami berjanji padanya, tak akan menyakitinya, tak akan memaksanya bercinta, dan untaian janji manis lainnya namun tak satupun yang di tepati.
"Kalau begitu, aku mandi dulu, Sayang. Apa kau ingin mandi bersamaku?" Tanya Daniel dengan sangat lembut, layaknya suami yang sangat menghargai dan mencintai istrinya.
Alira menggeleng. "Aku akan mandi nanti, sepertinya aku akan kembali tidur," kata Alira.
"Kamu masih mengantuk? Lalu kenapa tadi kamu bangun?" Lagi, Daniel bertanya dengan begitu lembut.
"Aku terbangun saat tidak menemukanmu di sisiku," jawab Alira yang membuat hati Daniel tersentuh, ia membelai pipi istrinya itu, mengecup keningnya dengan mesra.
"Baiklah, kembalilah tidur."
Alira kembali ke kamarnya, ia memungut kemeja Daniel yang tergeletak di lantai, Alira memakainya kemudian ia berdiri di depan meja rias.
Alira mengambil kapas dan menghapus make up tebalnya dengan pelan. Alira meringis saat menghapus make up di bagian bawah sudut matanya. Ia tampak menahan perih, dan saat wajahnya itu sudah bersih dari make up, terlihatlah memar di bawah sudut matanya itu.
Alira menatap pantulan dirinya di cermin, ia menarik napas panjang, sebelum akhirnya melempar kapas make up-nya itu dengan kesal ke tempat sampah.
Inilah yang tersimpan di balik polesan make up cantiknya, sebuah luka yang di berikan oleh tangan sang suami.
Dua hari yang lalu, Alira pergi dari rumah tanpa izin Daniel, ia hanya ingin membeli beberapa cemilan. Namun di tengah jalan, Alira bertemu dengan teman sekolahnya, seorang pria, tentu saja.
Daniel mengetahui hal itu, ia marah, cemburu, menganggap Alira membuat janji dengan pria itu. Saat Alira ingin menjelaskan, Daniel menamparnya dengan sangat keras kemudian ia menyerang Alira di ruang tamu, melakukan hubungan badan atas dasar amarah, sangat menyakiti fisik dan mental Alira dan Alira tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
Dan setelah itu, Daniel akan meminta maaf, memanjakan Alira, berlaku sangat lembut, seolah merasa sangat bersalah atas perlakuan kasarnya. Tapi kenapa Daniel mengulanginya lagi dan lagi?
Alira menggelengkan kepala, mengusir fikiran liar itu. Ia kembali naik ke atas ranjang, menarik guling, memeluknya dan mencoba menutup mata.
"Dia mencintaiku, tapi kenapa selalu menyakitiku? Apakah itu cintanya sekarang?"
Tbc...
Ananiya Alira (25 th)
Daniel Agra (31 th)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
cemburu yg kelewatan,,jadi cenderung menyakiti
2024-01-02
0
Mbak R
dalam cinta tidak ada unsur pemaksaan. semua mengalir dengan sendirinya.
2023-07-10
0
Nur Evida
komen pertana Thor.
kalau cint gak sampai KDRT 😡
2022-11-26
0