Ryan memperhatikan Alira yang makan dengan sangat lahap, seperti seseorang yang kelaparan. Dan seketika Ryan teringat dengan bekas kemerahan di pipi Alira tadi malam.
"Alira, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Ryan dan Alira hanya mengangguk sambil terus menyantap hidangan sarapannya.
"Apa seseorang menyakitimu? Tadi malam aku melihat pipimu merah, keduanya," ucap Ryan yang membuat Alira langsung berhenti mengunyah, ia menatap piringnya kemudian tersenyum masam.
"Tidak ada, mungkin karena demam," jawab Alira kemudian ia kembali makan namun ia tampak tak berselera.
"Benarkah?" Gumam Ryan tak percaya, Alira hanya mengedikan bahu. "Okay," ucap Ryan kemudian.
Setelah sarapan, Alira kembali ke kamarnya begitu juga dengan Ryan.
Ryan langsung mandi, karena ia sudah harus pergi ke lokasi pemotretan sekarang karena jaraknya yang lumayan jauh.
.........
Sesampainya Daniel di rumah, ia langsung berlari ke kamarnya dan saat Daniel membuka pintu, Alira yang saat ini sedang mengeringkan rambutnya di buat terkonjak.
"Sayang...." Daniel melangkah lebar mendekati Alira, matanya begitu sayu dan raut penyesalan terlihat jelas di wajahnya.
Sementara Alira hanya bisa menatap Daniel dengan tatapan kosong, ia bahkan terdiam mematung saat Daniel memeluknya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud menamparmu kemarin," ucap Daniel lirih yang membuat Alira tersenyum kecut.
Ia mendorong Daniel dengan pelan dan itu membuat hati Daniel mencolos, Alira sudah lelah dengan semua kegilaan Daniel.
"Aku ingin sendiri," lirih Alira namun Daniel menggeleng tegas.
"Aku mohon, Sayang. Jangan marah, hm? Aku benar-benar minta maaf, kemarin aku cemas karena kamu pergi tanpa izinku," tukas Daniel.
"Selalu seperti ini, Daniel. Kamu akan menyesal, berjanji, kemudian mengulanginya lagi, aku lelah!" Seru Alira dengan putus asa, bahkan matanya sudah berkaca-kaca dan dadanya kembali terasa sesak.
"Alira..." Daniel langsung memeluk Alira dengan erat, tak perduli Alira yang mencoba mendorongnya. "Maafkan aku, Sayang. Aku janji itu yang terakhirnya, aku janji tidak menyakitimu lagi. Kamu tahu aku sangat mencintamu, Sayang. Aku mencintaimu lebih dari segalanya."
Alira terisak mendengar pengakuan Daniel, ia pun sangat mencintai suaminya itu, tapi cintanya seolah terkikis karena semua perlakuan Daniel selama ini.
"Jutaan kali kamu berjanji padaku, Daniel. Dan jutaan kali pula kamu mengingkarinya," lirih Alira di tengah isak tangisnya.
"Kamu tidak mencintaiku sebagai seorang istri, Daniel. Kamu hanya mencintaiku sebagai objek."
"Jangan berkata begitu, Alira," ujar Daniel sembari melepaskan Alira dari pelukannya, ia menghapus air mata istrinya itu dengan lembut.
"Kamu tahu betapa aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu, kamu cinta pertama dan terakhirku, Sayang."
"Buktinya mana?" tanya Alira dengan suara yang tercekat. "Aku tidak mau barang, benda, atau materi, Daniel. Aku butuh bukti cinta yang lebih berarti dari semua itu."
Daniel terdiam, menatap mata Alira yang memancarkan luka itu. "Ayo kita miliki seorang anak," ucap Daniel yang membuat Alira langsung terbelalak.
Ia menatap mata Daniel, dan pria nya itu tampak sangat serius. "Berhenti minum pil kontrasepsi, Sayang. Ayo kita punya anak, yang cantik, tampan, yang akan menyempurnakan hidup kita."
Alira terenyuh mendengar apa yang di katakan Daniel, karena itulah harapannya selama ini, mimpinya.
"Kamu... Kamu yakin?" tanya Alira ingin memastikan, sambil tersenyum lebar, Daniel mengangguk pasti.
"Kita sudah memiliki segalanya, Sayang. Hanya anak yang belum, kita akan segera memilikinya. Kamu mau anak perempuan atau laki-laki, hm?" Daniel bertanya dengan suara yang sangat lembut sembari membelai pipi Alira.
Alira tersenyum senang dan ia langsung memeluk suaminya itu dengan erat, hatinya begitu bahagia dan ia berdo'a, berharap ini akan menjadi awal yang indah untuknya.
Daniel pun mendekap Alira, ia mencium pucuk kepala istrinya itu beberapa kali sambil terus menggumamkan kata maaf dan ungkapan cinta.
"Sayang, bagaimana kalau kita bulan madu lagi?" Tanya Daniel yang membuat Alira langsung mendongak.
"Bulan madu lagi? Kemana?" Tanya Alira.
"Kemana pun yang kamu mau, Sayang. Siapa tahu dengan begini, kita akan memiliki anak secepatnya."
Alira semakin bahagia mendengar ucapan suaminya itu, hatinya berbunga-bunga dan matanya berbinar, ia pun langsung mencium bibir Daniel dengan lembut namun kemudian Alira mengernyit saat menyadari aroma alkohol dari mulut sang suami.
"Kamu minum alkohol?" Tanya Alira dan Daniel hanya meringis. "Mandi sana, bau!" Alira mengibaskan tangannya di depan hidungnya, sementara Daniel justru terkekeh.
Melihat raut wajah Alira yang tampak bahagia membuatnya juga merasa sangat bahagia, dan Daniel berharap ini akan menjadi awal kebahagiaan mereka yang sesungguhnya.
Daniel memang belum siap memiliki anak, ia takut akan segala kemungkinan, termasuk takut tak bisa membuat anaknya bahagia seperti orang tunya yang tak bisa membuat Daniel bahagia. Juga takut nanti Alira akan sibuk pada anaknya dan mengabaikan Daniel.
Namun demi Alira, ia akan mempersiapkan diri.
"Aku mau mandi sama kamu," Daniel berkata dengan nada manja, bahkan tangannya mulai menggerayangi lengan Alira.
Alira tersenyum dan memenuhi permintaan suaminya itu.
Tbc...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
suami ego, kadang berubah jd edan
2024-01-23
0
Nur Evida
Alira sepanjang hidupnya tersiksa dan menderita
2022-11-26
0
Desi Hes
loh...jadi buat apa marah sama orang tua toh kelakuan kalian sama...
2022-11-25
0