Alira pergi dari rumah menggunakan salah satu mobilnya, ia menyetir dengan kecepatan tinggi sambil terus menangis, hatinya sungguh hancur menerima kenyataan bahwa sang suami telah mengkhianatinya.
Selama ini, Alira bisa menerima semua tamparan Daniel, bisa menghadapi bentakan dan tuduhan tak berdasar dari Daniel, tapi Alira tidak bisa menerima sebuah pengkhianatan.
Sementara itu, Ryan menatap Daniel yang masih tersungkur di lantai, pria itu juga tampak hancur atas apa yang telah terjadi.
Ryan mengulurkan tangannya, menarik Daniel agar berdiri. "Kenapa kamu melakukan ini, Daniel? Bukankah kamu tahu dampak dari sebuah perselingkuhan?" Tanya Ryan dengan suara beratnya, kekecewaan akan apa yang di lakukan Daniel tak bisa ia sembunyikan, apalagi hal itu mengingatkan Ryan pada masa lalunya.
"Aku tidak selingkuh, Ryan! Kamu tahu aku tidak akan melakukan hal itu!" Seru Daniel dengan tegas. "Tadi malam aku hanya..." Daniel kembali mengingat kejadian tadi malam, dan ia menggeram sambil menarik rambutnya saat ia mengingat percintaannya dengan wanita itu di mobil.
"Sialan!" Geram Daniel frustasi. "Aku harus menjelaskan semuanya pada Alira, aku tidak berselingkuh!"
Daniel segera berlari keluar dan ia langsung memasuki mobilnya. Ryan pun melakukan hal yang sama, mereka berdua mencoba mengejar Alira namun keduanya kehilangan jejak Alira.
"Sayang, kamu dimana?" Daniel menggumam dengan frustasi, bahkan ia memukul setir beberapa kali dengan emosi yang menggebu.
Bayang-bayang Alira yang menangis dengan tatapan penuh luka terus terngiang dalam benaknya.
Sementara di sisi lain, Ryan melihat mobil Alira yang berada di depannya. Ryan mempercepat laju mobilnya untuk menyalip mobil Alira. Namun Alira justru menambah kecepatan mobilnya menuju sebuah jebatan.
Alira melaju dengan sangat cepat dan saat mendekati jembatan, ia menutup mata, mengingat kembali masa-masa pacarannya dengan Daniel.
Dulu, Daniel sangat manis, posesif tapi tidak berlebihan, dan itu membuat Alira merasa tersanjung, merasa dirinya begitu penting untuk seorang Daniel Agra, pria sempurna yang di impikan setiap wanita. Dan Alira yang hanya gadis yatim piatu mendapatkan pangeran itu.
Alira mengingat kembali saat hari pernikahan mereka berlangsung, Daniel memperlakukannya bak ratu, dan Daniel terlihat sangat bahagia saat itu.
Namun, beberapa bulan kemudian sikap temperament Daniel mulai terlihat, awalnya berbicara dengan nada tinggi, kemudian membentak hingga akhirnya mulai mengangkat tangan pada Alira dan itu menjadi sebuah kebiasaan hingga saat ini.
Atas nama cinta, Alira mencoba bertahan. Naif, atau bodoh. Alira tidak tahu, tapi hanya Daniel yang ia miliki dalam hidupnya. Ia tetap ingin bersama Daniel, sampai mati.
Namun, tidak ketika Daniel mengkhianatinya.
Dengan sengaja Alira menabrakan mobilnya ke pembatas jembatan dan itu membuat mobilnya langsung terjun bebas ke dalam sungai.
Ryan yang melihat hal itu melotot terkejut, dan sekali lagi ia kembali teringat dengan masa lalunya saat ibunya juga meninggal dalam sebuah kecelakaan dimana mobilnya menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam sungai.
Setelah menghentikan mobilnya, tanpa fikir panjang Ryan langsung melompat ke dalam sungai untuk menyelamatkan Alira.
Ryan menyelem, dan ia mencoba mengeluarkan Alira yang sudah pingsan di dalam mobil. Ryan memecahkan kaca mobil dengan susah payah karena ia pun sudah hampir kehabisan napas.
Setelah perjuangan yang tak mudah, Ryan berhasil mengeluarkan Alira dari mobilnya dan Ryan pun langsung membawa Alira ke tepi sungai.
.........
Daniel hanya bisa meringkuk sedih sembari menunggu Alira di tangani oleh Dokter, sementara Ryan duduk di kursi dengan tatapan kosong.
Entah apa yang terjadi dengan dirinya, namun Ryan seolah tak bisa melihat sesuatu terjadi pada Alira.
Jantungnya berdebar kencang namun ia seperti kesulitan bernapas, apalagi saat mengingat aksi gila Alira. Wanita itu ingin bunuh diri? Yang benar saja!
Setelah berhasil membawa Alira ke tepi sungai, Ryan langsung memanggil bantuan dan ia juga mengabari hal itu pada Daniel.
Tak lama kemudian seorang Dokter keluar dari ruang rawat Alira, Daniel langsung berdiri dan menanyakan keadaan Alira pada Dokter itu.
"Dia baik-baik saja, hanya butuh sedikit istirahat," jawab sang Dokter yang membuat Daniel menghela napas lega. "Pasien juga sudah sadar, Pak." lanjutnya, mendengar itu tentu Daniel sangat senang.
"Aku akan menemuinya, Dok," ucap Daniel antusias.
"Tapi pasien ingin bertemu dengan Pak Ryan," sambung sang Dokter yang membuat raut wajah Daniel langsung berubah, ia tampak marah dan saat ia hendak masuk ke ruang rawat Alira, Ryan mencekal tangannya.
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya, Ryan. Siapa kau berani mencegahku?" Daniel berkata dengan kesal sembari menghempaskan tangan Ryan.
"Dia tidak akan memaafkanmu di saat seperti ini, Daniel. Berikan dia waktu," ucap Ryan.
"Lalu apa? Kamu yang akan menemuinya? kamu akan menjadi heronya, huh? Mau sok menjadi pahlawan, eh?" Tanya Daniel dengan nada tinggi yang tentu saja membuat Ryan mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud Daniel.
"Apa kau baru saja menuduhku dengan sesuatu yang sangat mengggelikan?" Tanya Ryan dengan senyum miringnya. "Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Sok menjadi pahlawan?" Ryan tertawa mengejek. "Aku menyelematkannya karena dia istrimu, Daniel. Jika dia wanita lain, mungkin aku tidak akan pernah perduli." tegas Ryan.
"Saat marah, wanita itu tidak mau mendengar penjelasan apapun. Berikan dia sedikit waktu."
Daniel terdiam sejenak, menarik napas dalam sebelum akhirnya kembali duduk di kursinya.
"Aku tidak berselingkuh, Ryan." Daniel berkata dengan suara rendah, bahkan ia sendiri hampir tak mendengar suaranya. "Aku hanya mabuk, aku tidak ingat apapun."
Ryan tersenyum miring mendengar pembelaan Daniel, ia pun berlutut di depan Daniel, mencengkram pipi Daniel dengan keras yang membuat Daniel terkejut, Ryan memaksa Daniel menatap matanya kemudian ia berkata.
"Karena itulah jutaan kali aku ingatkan, Daniel! Jangan menikah, jangan terikat pada hubungan seperti itu karena tidak ada manusia yang bisa setia!"
Daniel menyingkirkan tangan Ryan dari pipinya sambil tersenyum miring dan berkata. "Kamu mengatakan seperti itu karena kamu belum jatuh cinta, Ryan!"desisnya.
"Cinta itu tidak ada, Daniel! Yang ada hanya hasrat!"
Tbc...
Hufff, tegang nggak sih?
Sambil nunggu episode selanjutnya neh, mampir di cerita JBlack yuk, seru loh. Bkin candu ceritanya.
JUDUL : Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Penulis : JBlack
"Jangan terlalu bahagia dengan semua yang kulakukan ini," bisik Syakir yang membuat bulu kuduk Humai merinding. "Ini hanyalah paksaan dan setelah ini, kau akan tahu bagaimana kehidupan yang kau inginkan sebenarnya."
Syakir tetap menatap Humai dengan pandangan rendah. Bahkan dia langsung membuang wajahnya karena tak mau menatap wajah itu lagi. Wajah yang menurutnya merusak segala hal yang ia inginkan.
Wajah dari wanita yang merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Wajah yang merusak masa depan indahnya. Semua itu sudah sirna dan itu karena Humaira dan anak yang dikandungnya.
"Jangan pernah menatapku seperti itu, Wanita bodoh!" seru Syakir saat Humai menatapnya dengan lekat. "Aku sangat membencimu dan aku tak mau melihatmu lagi! Enyahlah dari duniaku bersama anak haram ini!"
Jantung Humai mencelos. Dia menunduk dan tanpa sadar langsung memegang perutnya. Wanita itu merasa sakit ketika kata-kata itu keluar dari bibir Syakir. Namun, Humai tak bisa melakukan apapun.
Saat ini Syakir telah menjadi suaminya. Dia tak bisa melawan balik dan memilih diam. Humai juga tak mau membuat kekacauan disini. Dia tak mau Syakir semakin membencinya saat kedua orang tuanya terus membelanya daripada putranya sendiri.
"Kau mau mengadu? Silahkan!" seru Syakir dengan pelan karena melihat kedua orang tuanya hendak ke arah mereka. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau dan anakmu ini, akan mendapatkan sakit yang lebih dari ini dariku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
manda_
lanjut
2022-08-25
0
Eka Widya
podo2 wong aneh e😅😅
2022-07-01
1
Wina Nengsih
Syakir sama humai itu sequel dari novel apa ya lupa pernah baca
2022-06-25
1