Alira merasa tidak nyaman dengan keberadaan Ryan di rumahnya, ia takut suaminya akan cemburu dan menuduhnya yang tidak-tidak seperti biasa. Karena itulah, setelah sarapan, Alira langsung masuk ke kamarnya, menghabiskan waktunya dengan membaca buku, nonton film, namun tentu ia juga memesan makanan untuk makan siangnya.
Sementara Ryan, pria itu terus terbayang wajah Alira yang sendu, tatapan matanya yang sayu, dan terlihat seperti menyimpan sesuatu yang tertahan di hatinya.
"Ck, dimana Daniel menemukan wanita seperti itu? Seperti dewi dari khayangan," kata Ryan sembari melukis wajah Alira di sebuah kertas.
Ryan memejamkan mata dan mengingat kembali kejadian tadi pagi saat ia hendak menyapa Alira hingga saat mereka sarapan bersama. Ryan berseringai saat mengingat bagaimana Alira berpakaian pagi ini, jelas terlihat wanita itu tidak memakai apapun di bagian atasnya.
"Dan mungkin juga di bagian bawahnya?"
Dua benda mungil itu menggantung jelas, seolah menggoda Ryan, jika itu bukan Alira, Ryan sudah pasti akan melahap benda itu detik itu juga.
.........
Sementara di kantornya, Daniel fokus pada pekerjaannya seperti biasa. Daniel terkenal sebagai pria yang sangat hangat, ramah, dan juga baik pada semua karyawannya.
Karena itulah, ada banyak wanita yang iri pada Alira yang mendapatkan pria paket sempurna seperti Daniel. Dimata mereka!
Daniel melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul setengah 4 sore. Daniel menutup laptopnya kemudian ia memberi tahu asistennya yang bernama Tessa bahwa ia akan pulang.
"Em, Pak Daniel. Boleh jika saya juga pulang setengah jam lagi? Karena ayah saya sedang sakit," tutur Tessa dengan tatapan memelas.
"Ayahmu sakit? Apa sudah di bawa ke Dokter?" Tanya Daniel.
"Sudah, Pak. Tadi malam, sekarang dia masih berada di rumah sakit," jawab Tessa.
"Hem, begitu. Kamu bisa ambil cuti sampai ayahmu lebih baik, Tessa." Tessa langsung tersenyum senang mendengar ucapan bosnya itu.
"Terima kasih, Pak Daniel. Terima kasih banyak."
.........
Kini Daniel sudah sampai di rumah, ia masuk menggunakan kunci yang ia bawa. Daniel mengernyit karena rumah begitu sepi, padahal dia sudah membayangkan mungkin Ryan akan mengobrol bersama Alira karena ini pertama kalinya mereka bertemu.
Daniel bergegas ke kamarnya dan kedatangannya itu cukup membuat Alira terkejut. "Tumben sudah pulang jam segini, Sayang?"
Alira turun dari ranjang untuk menyambut suaminya itu, ia membantu Daniel melepaskan jasnya seperti biasa.
"Kamu sudah bertemu dengan Ryan, Sayang?" Tanya Daniel dan Alira hanya mengangguk sambil tersenyum samar.
"Apa dia masih di rumah? Karena tadi aku tidak melihat siapapun di bawah, aku fikir kamu akan menemani Ryan dan kalian akan mengobrol. Apalagi ini pertama kalinya kalian bertemu," tukas Daniel yang membuat Alira sedikit mengerutkan keningnya.
"Aku ... aku takut kamu cemburu padanya," cicit Alira kemudian yang langsung mendapatkan tatapan serius dari Daniel.
"Kamu berfikir aku akan cemburu pada adikku sendiri?" Tanyanya dengan suara yang berat, Alira jadi salah tingkah, ia gugup, takut membuat kesalahan lagi. Namun tiba-tiba Daniel terkekeh, ia memegang pundak Alira dan menatap mata Alira.
"Dia adikku, satu-satunya keluarga tersisa yang aku miliki. Kamu dan Ryan sama berartinya bagiku, Sayang. Dia bukan orang lain sehingga aku harus cemburu padanya," tukasnya yang membuat Alira justru tampak bingung, namun kemudian ia tersenyum lega.
"Benarkah? Aku hanya takut sampai membuatmu cemburu lagi," ucapnya. "Apa tidak apa-apa jika aku berteman dengannya?"
"Iya, Sayang," ucap Daniel dengan lembut. "Aku sengaja pulang cepat, aku ingin mengajak Ryan makan di luar. Sudah lama sekali dia tidak pulang ke Indonesia," kata Daniel sembari membuka kemejanya dan menggantinya dengan baju kaos.
"Ayo keluar, kita temui Ryan. Kasihan dia, tadi saat dia datang, aku langsung ke kantor. Kami belum sempat berbincang sedikitpun."
Alira tersenyum dan mengangguk, ia bisa bernapas lega karena ternyata sang suami tidak cemburu pada Ryan. Bahkan Daniel meminta Alira menemani Ryan jika dirinya ke kantor, Daniel juga berencana akan mengajak Ryan jalan-jalan selama ia ada di Indonesia.
"Memangnya berapa lama Ryan akan tinggal disini?" Tanya Alira kemudian.
"Dua atau tiga minggu katanya," jawab Daniel.
Alira hanya mengangguk mengerti, namun kemudian ia kembali bertanya. "Memangnya kenapa Ryan tidak pernah pulang ke Indonesia? Bahkan dia tidak menghadiri pernikahan kita."
Daniel menghela napas berat mendengar pertanyaan sang istri, dan ia teringat kembali dengan masa kecilnya dan Ryan. Masa kecil yang berbeda dari anak-anak yang lain, yang membuat Ryan dan Daniel mengalami luka mendalam di hatinya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Dia hanya sibuk bekerja," jawab Daniel dengan suara lirih, namun tentu jawaban itu bukanlah alasan yang sebenarnya.
Tbc...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
manda_
danil terliat sangat baik sama orang lain tp sama alira terlalu cemburu yang buat alira takut
2022-08-24
0
sugiarti
di mata para wanita Daniel begitu sempurna namun tidak dengan alira dia hidup dengan tekanan karena Daniel terlalu obsesi padanya
2022-08-09
0
Nanda Lelo
itulah berguna ny kata2 jgn menilai sesuatu/seseorang dari luarnya saja ,,
2022-07-11
0