Permintaan cerai dari Alira adalah tamparan yang sangat keras bagi Daniel, ia sudah memelas, meminta maaf, dan terus memohon agar Alira mau menerimanya kembali namun keputusan Alira sepertinya sudah sangat bulat.
Alira sudah keluar dari rumah sakit dan ia tinggal di panti asuhan, Alira juga menceritakan masalah rumah tangganya pada ibu panti yang membuat ibu panti terkejut dan mendukung keputusan Alira untuk bercerai.
Sementara Daniel, hidupnya sangat kacau setelah kepergian Alira. Bahkan sudah beberapa hari ia tak pergi ke kantor, kehilangan Alira seperti kehilangan jiwanya.
Ryan yang melihat itu justru menertawakan Daniel, bahkan ia mengatakan Daniel adalah pria terbodoh yang ada di dunia.
"Aku tidak tahu kenapa seorang pria bisa kacau hanya karena di tinggalkan satu wanita, bukankah ada begitu banyak wanita lain di luar sana? Ahh, p" Tanya Ryan pada Viona yang saat ini sedang bergerak naik turun di atas tubuhnya.
Keringat sudah membanjiri tubuh keduanya, lengket, dan mengkilap. Sambil terkekeh dan dengan napas yang memburu Viona berkata. "Kamu tidak tahu, Ryan. Cinta itu gila, Sayang. Siapapun yang terkena cinta, akan tidak waras."
"Aaagghhh..." Ryan menggeram sembari berguling, membalik keadaan hingga kini Viona berada di bawahnya. Ryan memacu dirinya dengan sangat cepat dan brutal, tubuh Vioan tergoncang hebat, dengan dada yang bergerak nakal seolah menggoda Ryan.
"Ya Tuhan! Kau sempit sekali, Sayang. Hem, seolah kau menjaganya hanya untukku. Ahhh" Ryan menggeram dan menekan lebih dalam lagi yang membuat Viona menjerit nikmat, kepalanya sampai terhempas ke belakang dan otot perutnya menegang.
"Aaachh, Ryan. Pelan, Honey," pinta Viona.
"Tidak mau, Sayang. Aku tidak mau pelan, aku mau menggempurmu sampai kau lemas, tidak bisa berjalan. Ughh..." Ryan kemali melenguh saat ia merasakan semburan hangat dari Viona. "Kamu sudah keluar, Sayang. Bukannya baru... Ah, dua menit yang lalu kamu keluar."
Meskipun tahu Viona baru saja mendapatkan pelepasannya, Ryan tetap lanjut keluar masuk di lembah basah nan hangat Viona yang masih berkedut itu, ia tak membiarkan Viona menikmati pelepasan dahsyat itu.
Viona semakin menjerit, otaknya blank, ia merasa melayang, dan Viona mencakar punggung Ryan saat merasakan ia akan kembali mencapai puncak.
"Aahh..."
"Please, Ryan! Pelan-pelan, Honey. Aku... Oh, tidak tahan." racau Viona namun Ryan tak memberinya ampun.
"Itu yang aku mau, Sayang. Membuatmu tidak berdaya saat aku memasukimu, apa kau suka ini?" Tanya Ryan dan semakin menekan lebih dalam, lebih cepat dan tak terkendali.
Sementara Viona tak mampu menjawab, ia hanya bisa mendesah, mulutnya terus terbuka, tenggorkan dan bibirnya terasa kering karena terus terbuka sejak tadi.
Ryan masih bergerak brutal di atas Viona, pria itu memejamkan mata dan juga dengan mulut yang terbuka, terus menggeram dan mendesah nikmat.
"Dia sangat tampan, pantas saja semua wanita dengan suka rela melemparkan diri ke ranjangnya, termasuk aku." gumam Viona miris dalam hati.
Pria yang mengambil kesuciannya adalah Ryan, dua tahun yang lalu, saat Viona liburan ke Paris. Ryan mengambil kesuciannya itu di kamar Ryan, di ranjangnya, awalnya Viona berfikir dia istimewa karena Ryan selalu mengatakan dia tidak pernah membawa wanita manapun ke ranjangnya, dia membawa mereka ke hotel.
Namun alasan Ryan membawa Viona ke ranjangnya karena Ryan lupa dengan prinsip itu, saat itu dirinya sedang sangat bergairah dan juga mabuk.
Viona tersenyum miring mengingat masa-masa itu, dan sejak saat itu, Ryan sudah seperti suami yang akan ia layani hasratnya saat Ryan memintanya. Viona tak keberatan, karena cinta membuatnya buta.
Viona melingkarkan kedua kakinya di pinggang Ryan, kemudian ia menarik wajah Ryan dan langsung mencium bibirnya dengan lembut sementara Ryan terus bergerak di bawa sana, mengejar puncak kenikmatan yang semakin dekat, seolah menggulung jiwanya.
Hingga akhirnya keduanya melenguh dan menggeram dalam ciuman mereka saat puncak kenikmatan itu menerpa, menggulung mereka dalam pusaran kenikmatan puncak dunia.
.........
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, semua anak panti sudah tidur sejak satu jam yang lalu, sementara para pengurus panti ada yang tidur, ada juga yang sedang beraktivitas.
Begitu juga dengan Alira, ia hanya bisa memeluk gulingnya sambil mendengarkan musik untuk mengusir sedikit kejenuhannya.
Hingga tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu yang cukup keras, membuat Alira tersentak dan langsung beranjak dari ranjangnya, dengan terburu-buru Alira membuka pintu.
"Ibu, ada apa?" Tanya Alira dengan kening berkerut apalagi saat melihat wajah cemas ibu panti.
"Daniel, Al. Daniel...."
"Daniel?"
Ibu panti langsung menarik tangan Alira dan membawanya ke depan.
Kedua bola mata Alira langsung membulat sempurna saat melihat Daniel tergeletak di lantai.
Daniel mabuk, pakaiannya sudah acak-acakan dan terdepat banyak bercak darah. Dan yang membuat Alira menahan napas, Daniel menyayat lengannya sendiri, menulis kata 'Sorry'
Tbc...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Nur Evida
waduh Daniel urat nadinya putus gak ya🤣🤣🤣🤣🤭
2022-11-26
0
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor
2022-08-25
0
hariyani
komen apa ya?? kalo dukung alira sama Ryan.. Ryan juga bukan laki2 baik dia suka celup sana sini & itu dia sadar melakukannya. kalo Daniel dia melakukannya tidak sadar & fantasi dia pun istrinya sendir tp dia tempramen.. milih sapa ya?
2022-06-22
3