"Yang sabar ya Pak Abay!"
Entah sudah berapa kali Abay mendapatkan ucapan penuh simpatik itu. Tetapi sebagai balasan, dia hanya menganggukkan kepala, hanya dalam hatinya dia mentertawakan orang-orang tersebut.
Baginya kematian Santi tak akan membuatnya sedih. Malah Abay bertambah kaya raya. Tetapi untuk memperkuat akting dan peran sebagai suami yang sedang bersedih hati, dia pun menguras air matanya dengan mengingat saat kematian ibunya dulu.
Selain Abay yang terlihat berduka, kedua orang tua Santi pun tampak bersedih hati. Begitu juga Dina yang tak henti-hentinya menangis.
"Papa jahat!" teriak Dina.
Teriakan Dina itu tentu saja tak dianggap semua orang, karena tak ada bukti kalau ada kejahatan Abay di tubuh kaku dan dingin Santi. Dokter dua puluh empat jam yang diundang telah menyatakan, Santi meninggal karena terkena sakit jantung.
Hanya saja, Abay merasa bergetar hatinya karena teriakan Dina.
"Apa Dina tahu, aku korbankan Santi? Tapi itu mana mungkin?" batin Abay.
*
Pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu tampak duduk diam di depan kuburan berpapan nisan Endah Sulasmi binti Entis.
Bibir pria yang berwajah lumayan itu bergerak membaca doa. Paras mukanya terlihat sangat sedih dan menyesal.
Hingga suara tapak kaki yang mendekat ke arahnya, barulah pria itu tersadar dari keheningan yang dia ciptakan sendiri. Kepalanya menengok dan mendapati seorang tua berdiri di belakangnya.
"Kamu Sasan?"
"Iya, Mang Ipoy." Sasan berdiri.
"Lala mana?" tanya Ipoy.
"Lala, dia pergi dariku Mang. Kepincut pria kota yang punya uang lebih banyak dariku," jawab Sasan sedih.
"Hahaha, puas aku mendengarnya!" gelak tawa Ipoy.
Wajah Sasan sedikit berubah, tetapi tak lama kembali ke seperti awal, garis sedih masih melekat di parasnya.
Ipoy wajar untuk merasa senang dan gembira. Karena Lala itu keponakannya dan Sasan pernah berbuat salah, melarikan Lala dan meninggalkan Endah.
"Kamu tahu, semestinya aku menghajar dirimu karena berani melarikan keponakanku. Tetapi aku masih memandang wajah mendiang kedua orang tuamu yang terlalu sering menaruh tangannya di atas tanganku yang terulur. Kadang aku tak habis pikir, kenapa dirimu mempunyai hati yang busuk? Tetapi setelah itu aku sadar, sejarah hidupmu berbeda dengan orang tuamu. Cuma...."
Sasan membisu.
"Cuma apa kamu tak punya rasa malu dan bersalah? Orang tuamu dikenal berhati baik di kampung ini, tetapi kamu... sangat jahat, sungguh sangat jahat. Jangan-jangan kematian kedua orang tuamu itu karena menyimpan rasa kecewa akan ulah nakalmu!"
"Mang Ipoy berkata benar. Aku tak membantah, tetapi apa pantas masa lalu itu diungkit lagi? Apa dengan Mang Ipoy berkata seperti ini, kedua orang tuaku bisa kembali hidup?" tanya Sasan dengan nada pedas.
"Buat apa kamu kembali ke mari lagi? Apa hanya ingin mengabarkan Lala pergi meninggalkan dirimu?" Ipoy mengalihkan topik.
Sasan menghela napasnya.
"Sebaiknya kamu ikut pulang, kita minum kopi!" Ipoy mengajak Sasan pulang ke rumahnya.
"Aku tak bisa Mang. Aku...."
"Kenapa? Kamu takut penduduk kampung berbuat masalah padamu? Terus terang saja, waktu kamu pergi meninggalkan Endah yang sedang hamil dan membawa lari Lala, para penduduk kampung sangat marah dan ingin memberimu hukuman yang berat. Tetapi kejadian itu sudah lama berlalu. Lagipula, kamu berjalan bersamaku! Tak akan ada lagi yang akan membikin masalah padamu."
Sasan membisu, lalu dia mengangguk.
Ipoy segera merangkul Sasan dan mengajaknya keluar dari kuburan. Tadinya Sasan bermaksud setelah melihat kuburan Endah, dia akan segera pergi.
Sasan datang secara tiba-tiba. Semalam dia sampai, setelah susah payah menerobos pekatnya malam. Dia sengaja berjalan di waktu gelap untuk menghindari pertemuan dengan warga kampung.
Sasan tahu, dirinya pernah berbuat salah dan mengakibatkan kemarahan warga kampung. Dia nakal, tetapi selama ini tak pernah seluruh warga kampung marah padanya. Karena yang dia buat hanya keributan kecil belaka.
Tetapi akibat dari hamilnya Endah, Sasan pun dicari dan dipaksa untuk menikahi Endah. Hampir seluruh warga kampung berdiri di depan rumahnya yang sekarang bobrok dan hancur. Mereka berteriak menuntut Sasan bertanggung jawab dan menikahi Endah, atau akan diberikan hajaran yang keras.
Hanya saja Sasan saat itu ada di dalam dilema. Dia bermain cinta bukan hanya dengan Endah seorang, masih ada lagi Lala dan Lala juga menuntut dirinya. Padahal memiliki dua orang istri bukan masalah bagi Sasan, hanya saja Lala tak mau dimadu.
Sasan kala itu berada di dalam rumahnya. Karena dia ketakutan mendengar teriakan warga, dia pun terburu-buru membungkus pakaian dan membawa simpanan uang dan perhiasan milik ibunya yang nilainya sudah tak seberapa banyak itu. Selama ini, dia lebih senang menghabiskan harta benda orang tuanya dibanding mencari uang.
Berbekal uang seadanya itulah, Sasan melarikan diri melalui pintu belakang rumah. Lalu bergegas ke rumah Ipoy dan membawa kabur Lala. Sasan berbuat ini untuk menghindari kemarahan Ipoy, jika nanti Lala berkata dirinya sedang hamil muda karena Sasan.
Ternyata Lala sudah siap, dia sudah membungkus pakaian secukupnya. Dia berbuat ini setelah mendengar kabar kemarahan warga kampung yang menuntut Sasan. Sebelum dia bersiap pergi, dia tinggalkan surat untuk Ipoy.
Berkat surat itulah, nyawa Sasan selamat. Karena Ipoy bisa saja mengirim santet padanya.
Semalam itulah, Sasan yang datang dan bermaksud menemui Endah, kaget setengah mati melihat rumah Endah telah kosong tak berpenghuni.
Kebetulan di sebelah rumah Endah itu tinggal Medi, teman paling akrab Sasan.
Dengan hati-hati Sasan mengetuk jendela kamar Medi. Meski dia tak yakin Medi masih tetap menghuni kamar itu. Namun dia berpikir untung-untungan saja.
"Siapa?" tanya Medi.
"Aku, Sasan," jawab Sasan dengan suara lega.
Jendela kamar dibuka. Muncul sosok wajah yang dikenal Sasan.
"Lewat pintu belakang!" bisik Medi.
"Siapa itu Kang?"
Sasan mendengar ada suara wanita. Oh, Medi sudah menikah.
"Teman. Sudah, tidur saja. Kamu kan baru saja melahirkan, istirahat yang banyak!" Medi menutup jendelanya.
Sasan bergegas melangkah ke arah belakang rumah Medi. Dia menunggu sejenak di depan pintu belakang.
Pintu baru terbuka sebagian, Sasan sudah mendorong dari luar.
"Masuk, deh!" Medi menyuruh Sasan masuk, lalu segera menutup pintu ketika bayangan tubuh Sasan melewati dirinya.
Sasan sudah duduk di atas bale yang berada di dalam dapur Medi.
Medi tak langsung menghampiri Sasan. Dia berjalan ke arah rak piring, mengambil dua gelas dan bergerak ke arah meja di mana ada terdapat termos berserta toples berisi gula, kopi dan teh.
"Mau kopi apa teh?" tanya Medi tanpa menengok.
"Kopi hitam pahit," jawab Sasan.
Selang tak lama, Medi datang dengan membawa dua gelas kopi, lalu dia berikan satu gelas ke tangan Sasan.
"Mau apa pulang kampung lagi, apa kamu mau cari mati?" tanya Medi sedikit ketus.
Sasan memucat wajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Adinda
baru baca lagi. hehe
2022-06-26
1