Abay harus relakan daun emasnya disita oleh Somat. Tak hanya itu, Abay juga diusir pergi dari kampung dan diberi waktu paling lama besok harus segera tinggalkan rumah dan kampung tempatnya lahir dan tumbuh besar.
Satu suara melawan banyak suara tentunya tak akan menang. Yang menyakitkan hati, Endah juga ikut-ikutan menyudutkan Abay, senyumnya mengejek dan tawanya menghina.
Idang yang merasa ini kesempatan terbaik untuk menjatuhkan Abay, tak melewatkan begitu saja.
"Kamu itu pria tak tahu diri, Bay! Sudah dapat istri cantik, masih malas dan pantas kamu ditinggal. Eh, sekarang malah jadi tukang curi. Penjahat kamu, kampung kita tak butuh orang jahat seperti kamu! Usir kriminal ini!" umpat Idang.
Abay pulang ke rumah dengan langkah lesu. Harapannya ambyar, hancur begitu saja karena ulah mulut Idang. Tadinya dia berharap dengan dia perlihatkan emas pada Endah, istrinya itu akan kembali. Wanita kan suka dengan perhiasan emas, itu pikirannya sebelum akhirnya dituduh menjadi pencuri.
Sepanjang hari itu Abay tak keluar dari rumah, dia merasa malu dan terhina.
Air mata Abay turun menderas membasahi tebing pipinya. Matanya menyorot sedih mengamati seisi gubuknya yang tak punya barang berharga sama sekali. Tetapi ini tempatnya tinggal dari terjangan angin, rintik hujan dan berteduh dari terik matahari. Besok gubuk yang menyimpan kenangan tak terhitung akan ditinggal pergi.
*
Kabut malam turun dan membuat suasana rumah Abay semakin sepi saja.
Sejak awal bulan terbit, Abay sudah menutup pintu gubuk rapat-rapat. Berteman lilin, dia duduk seorang diri di ruang tamunya yang beralas tikar butut. Di dekatnya ada botol bekas air mineral berisi bahan bakar bensin yang sengaja dibelinya tadi.
Rencananya, Abay mau bakar saja gubuknya. Biar tak menjadi sarang setan. Padahal dia tak sadar, dirinya sendiri telah menjadi hamba setan. Istri rahasianya, Nyi Malini itu jin ular.
Waktu berjalan, Abay yang tertidur bersandar dinding gubuk tak menyadari ada seekor ular sebesar betis merayap ke arahnya.
Ular yang terbilang aneh. Bukan warna atau motif dari sisik ular yang membuatnya aneh. Tetapi ular itu seperti memiliki dua tangan dan dua kaki. Di dekat leher ada benda seperti tangan, di dekat ekor seperti kaki. Lalu kepala ular seperti memakai mahkota.
Begitu tiba di dekat Abay, ular itu mendadak hilang dan berganti wanita cantik jelita berkulit putih nan mulus.
Gaun sutra hitamnya yang tipis membuat kulit tubuhnya semakin kemilau. Ada mahkota di kepalanya, bentuknya seekor ular melingkar dengan batu permata di pertemuan antara kepala dan ekornya.
Jemari lentik wanita itu membelai lembut pipi Abay.
"Bangun, Sayang!"
Pelupuk mata Abay terbuka, sinar sayu dan sedih yang selama ini terlihat, kini terhapus sudah.
"Nyi Malini," panggil Abay dengan wajah cerah.
Tetapi hanya sebentar, karena berikutnya Abay malah menangis di pelukan Nyi Malini. Dia yang menubruk datang ke tubuh istri rahasianya itu.
"Untuk apa kamu menangis Abay? Aku sudah tahu apa yang kamu alami. Aku akan menolong dirimu, membalaskan dendam dan habisi musuh-musuhmu!" Nyi Malini membelai kepala Abay, dia seumpama ibu yang sedang membuat tenang anaknya saja.
"Balas dendam?" Abay lepaskan pelukannya. Dia menatap heran. "Bukannya Nyi hanya bisa memberikan kekayaan saja?"
Nyi Malini tertawa, ujung jari telunjuknya digunakan menghapus air mata di pipi Abay. Pria yang telah menjadi suami manusia pertamanya itu telah berhenti menangis.
Sebagai yang pertama, Nyi Malini ingin memberikan pelayanan istimewa pada Abay. Selain itu, dia berniat untuk jadikan Abay sebagai corong yang mengumumkan pada mereka yang butuh kekayaan cepat, kalau ada Nyi Malini yang bisa membantu. Syaratnya cukup sediakan kamar rahasia dan tumbal saja. Emas pun siap diberikan.
"Hihihi, bagimu tak ada yang tak mungkin. Betul, sejatinya aku hanya akan balas dendam pada para pencari kekayaan yang lupa memberikan aku tumbal. Tetapi bagimu itu beda, kamu yang pertama dan kamu... kamu... ah, darahku di atas seprai sudah cukup jadi bukti bukan?" Nyi Malini tampak malu-malu.
Abay pun ingat, waktu pertama kali dia bertemu Nyi Malini dan memadu kasih, dia ada melihat titik-titik noda seperti darah yang mengering di atas seprai.
"Apa yang terjadi padamu di terang hari tadi, meski aku tak melihat secara keseluruhan. Tetapi Garini telah bercerita padaku. Dia tak mungkin berbohong padaku!"
"Garini? Tetapi aku tak melihat dia sama sekali!" Abay terheran-heran.
"Coba kamu ingat-ingat, apa kamu tak melihat adanya seekor ular kecil di dahan pohon di dekat tempat kamu sedang disidang kecil?" tanya Nyi Malini.
Abay coba mengingat-ingat. Setelah dia coba meneliti kejadian buruk di kala matahari sedang bertugas itu, dia pun tersadar. Ketika Endah tertawa menghina padanya, dia sempat saksikan ular hijau sebesar jari telunjuk melingkar di dahan pohon yang berada di belakang Endah atau tepat di depannya.
Tetapi waktu itu Abay sama sekali tak berpikir ular itu Garini adanya.
"Endah itu apa istri manusiamu?" tanya Nyi Malini.
"Ya dan dia pergi dariku. Menghina dan mengejekku."
"Apa kamu benci padanya?"
"Benci? Kalau bisa, aku ingin membalasnya!" geram Abay.
"Aku punya satu cara yang paling bagus!" Nyi Malini tersenyum lebar.
"Apa caranya?" Abay sangat ingin tahu.
"Jadikan dia tumbalmu. Dengan begitu, kamu akan mendapatkan harta yang banyak dan berikut bunganya, yaitu kamu bisa balaskan dendam. Bagaimana, apa kamu setuju?" Nyi Malini menatap licik.
Abay termenung sejenak. "Lalu Idang?" katanya.
"Oh, apa Idang itu pria yang berdiri berdekatan dengan istrimu?"
"Mantan istri tepatnya!" ralat Abay, lalu dia mengangguk.
"Idang bukan menjadi tumbal, tetapi dia akan menjadi korban. Aku akan suruh Garini mendatanginya, lalu menyuntikan bisa ular ke dalam tubuhnya. Racun yang akan berjalan melalui aliran darah dan menghentikan jantungnya. Kematiannya akan sangat tragis!" Nyi Malini tertawa kejam.
"Baik, aku setuju!" Abay mengangguk.
"Kalau begitu, kita tetapkan saja malam ini. Mari, sebagai bayaran atas usahaku... temani aku malam ini." Nyi Malini tempelkan pipinya ke pipi Abay, sementara tangannya membelai sisi pipi Abay yang lain.
"Nyi, aku punya permintaan satu lagi!" ucap Abay.
"Apa itu?" Nyi Malini pun berubah posisi, dia berada di depan Abay saat ini dengan hidung menempel ke hidung Abay.
Sejenak Abay lupa dengan permintaannya, karena hidungnya dipenuhi aroma tubuh Nyi Malini yang aneh. Walau tercium bau amis yang samar, tetapi ada pula wangi yang merangsang adrenalin dan memompa nafsunya untuk bangkit dengan segara.
Dengan tangan melingkar pinggang Nyi Malini, Abay menarik bangun istri rahasianya dari duduk menjadi berdiri.
"Aku ingin bawa Dina sebelum pagi tiba. Apa kamu bisa menolong? Maksudku, selain membawa Dina keluar dari rumah Kakeknya, kamu pun membantu kami keluar dari kampung ini. Apa kamu punya kemampuan untuk membawa diriku pergi dengan cepat?"
Nyi Malini terkekeh geli. Lalu dia menutup tawanya dengan menempelkan bibirnya ke bibir Abay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
Jin perawan, 😂😂😂
2023-09-22
0
Katrisnani Dilaningtyas
Seruuu. lanjut
2022-06-17
1
💎hart👑
wah abay banyak dapat plusnya nih 😁
2022-06-16
2