"Minta tolong apa Bay?" tanya Wati.
"Aku ada urusan di luar rumah. Mungkin pulang nanti malam. Biar Dina sama Ibu saja ya!"
"Loh, kan ada Santi."
"Santi tadi sudah minta ijin mau bertemu dengan temannya sore nanti."
"Oh, siapa temannya?"
"Berri, Bu."
"Apa? Mana boleh!" Wati memerah wajahnya.
"Biarkan saja Bu. Aku sudah berikan ijin padanya. Ibu jangan melarang dia, nanti malah dia ngambek padaku karena dianggap tukang ngadu. Soalnya, nanti malam aku mau berduaan sama Santi. Kalau dia ngambek, gagal dong rencana yang sudah aku susun. Aku kan mau bikin adik buat Dina, Bu," ucap Abay santai.
"Oh, begitu. Iya, Ibu setuju. Meski Ibu anggap Dina sebagai cucu sendiri, ya Ibu pun berharap Santi bisa lahirkan cucu baru." Wati tersenyum.
"Kalau begitu, aku pamit ya Bu!" Abay mencium tangan Wati terlebih dahulu, setelahnya dia pergi.
*
Abay telah sampai di rumahnya yang kedua. Rumah yang berada di dekat kuburan umum. Di pinggir jalan yang cukup ramai kendaraan berlalu lalang di terang hari sebagai jalan tikus, kecuali saat malam hanya mereka yang punya keberanian saja yang mau melintas.
Setelah membuka pagar dan memasukan motornya, Abay segera masuk ke dalam rumah yang pintunya tak dikunci. Dia tak perlu takut ada orang asing berani masuk, karena rumah secara otomatis dijaga Nyi Malini. Kadang beberapa orang yang melintas suka melihat adanya ular di teras maupun halaman rumah.
Ada yang bilang, saat rumah dalam keadaan sepi patut disebut rumah ular. Tetapi saat Abay berada di rumah, baik untuk bertemu Nyi Malini atau bertemu calon pencari pesugihan, tak terlihat ular satupun.
Keadaan rumah kosong. Tak ada banyak barang, tetapi di ruang tamu tersedia satu set kursi. Lalu tak ada lagi barang apapun yang bisa terlihat. Ada tiga kamar di dalam rumah.
Satu kamar terdepan dipakai untuk menerima pasien si calon pengabdi Nyi Malini. Di kamar tengah tempat bagi Abay bertemu Nyi Malini istri rahasianya, lalu memadu kasih dan kerinduan. Di kamar belakang, bisa dibilang gudang harta Abay.
Karena janji bertemu dengan Rodi masih cukup lama, Abay pun masuk ke kamar tengah.
Begitu pintu kamar terbuka, Abay disambut lukisan besar. Lukisan ular hitam dengan sosok putri nan cantik, ada terlihat secara samar bentuk bangunan besar.
Selain lukisan, di kamar terdapat ranjang berbahan kayu jati dengan ukiran kuno. Ada kelambu putih terpasang dan di kasur ditemui kelopak bunga mawar bertebaran. Di sebelah ranjang ada meja dengan di atasnya terdapat satu macam benda saja, yaitu anglo yang menyimpan bara yang tak pernah padam.
Di dalam kamar pun menguar wangi kemenyan dan aroma yang aneh, bau yang merangsang gairah Abay. Harum yang berasal dari bara di dalam anglo.
Tetapi saat ini Abay bukan mau memadu kasih dengan Nyi Malini. Dia butuh bertemu dengan Nyi Malini.
Tangan Abay membuka laci teratas. Di dalam laci terdapat sebuah kotak yang terbuka dan berisi bubuk putih.
Entah bubuk apa, tetapi jemari Abay mencomot sedikit bubuk. Lalu bubuk pun ditabur ke dalam anglo. Tercipta asap yang tebal.
Abay mundur tiga langkah ke belakang, lalu dia berlutut.
"Untuk apa kamu memanggilku, Kanda Abay?"
Abay memutar tubuhnya. Di depan pintu yang tertutup berdiri Nyi Malini diapit dua wanita ular.
"Tentunya ada kabar gembira buat Nyi!' Abay berdiri.
"Oh, apa kamu bertemu seseorang yang mau mencari pesugihan?" Nyi Malini tersenyum.
"Tak hanya itu Nyi!" Abay mengangguk dan menggeleng bergantian.
"Ada apa lagi?" tanya Nyi Malini.
"Tumbal. Tetapi...."
"Tetapi kamu butuh pertolonganku, kan?" tebak Nyi Malini.
Abay mengangguk.
"Kanda Abay Sayang, waktu kamu memberikan tumbal itu masih cukup lama, kurang lebih tiga bulan lagi. Kenapa terburu-buru?" tanya Nyi Malini.
"Karena aku sudah kesal pada istriku!" jawab Abay geram.
"Kesal kenapa?" Nyi Malini menatap Abay.
"Dia berkhianat, dia selingkuh dan itu bikin harga diri dan kehormatanku jatuh!" Abay memerah wajahnya.
"Hihihi, kamu aneh! Apa bedanya dirimu dengan istrimu itu? Kalian kan sama-sama serong!"
"Tentu saja beda. Aku pria dan punya uang," bantah Abay. Tentunya bukan bantahan yang bisa dibenarkan.
Abay serupa kebanyakan orang, berbuat jahat tetapi tak mau mengakui kejahatannya, berbuat tak benar tetapi mengatakan dia paling benar.
"Oh, alasan membela diri yang sangat egois. Tapi sudahlah, aku tak mengurus hal itu. Karena kalian berdua sama salahnya! Nah, tumbal aku terima. Lalu apa lagi yang kamu mau?" tanya Nyi Malini sambil tertawa licik.
Abay tersenyum senang.
"Cepat katakan apa maumu?" desak Nyi Malini.
"Aku minta pria yang menjadi idaman istriku itu mati sore ini!" pinta Abay tanpa ragu.
"Oh, itu mudah saja!" Nyi Malini mengangguk.
Lalu Abay ceritakan tentang rencana pertemuan Santi dan Berri di kamar hotel sore nanti. Apa nama hotelnya, dia tak tahu. Tetapi bagi Nyi Malini cukup Abay perlihatkan saja foto wajah Santi dan Berri.
Tentu saja Abay punya foto istrinya dan foto Berri dia kirim secara diam-diam dari galeri foto Santi ke ponselnya.
"Uli, apa kamu mau menjadi Santi?" tanya Nyi Malini menengok ke kiri.
"Terima perintah Nyi!"
"Kamu sudah melihat rupa Santi dan Berri?"
"Ada di ingatanku, Nyi."
"Bagus, sekarang pergilah! Ikuti pria bernama Berri itu, lalu temui dia di dalam kamar hotel. Setelahnya, kamu tahu kan apa yang harus dilakukan?"
"Sangat tahu Nyi. Tetapi apa boleh aku bersenang-senang sedikit?" tanya Uli.
"Hihihi, kamu itu terlalu besar nafsu!" kekeh wanita ular yang lain.
"Apa kamu tidak Garini? Aku kadang suka lihat kamu mengincar Abay!" Uli menujuk Abay.
Abay kaget. Garini tersenyum malu.
"Hihihi, jika kalian memang mau dengan Abay kenapa aku melarang. Hanya saja, apa Abay mau dengan kalian?" Nyi Malini mendekati Abay.
Abay berdiri diam, bahkan dia tetap diam meski pakaian ditubuh telah dilucuti Nyi Malini.
"Nah, kalian berdua keluar dulu. Uli, jalankan tugasmu dengan baik! Sementara abdi baru akan menjadi tugasmu, Garini!" Nyi Malini mengusir kedua anak buahnya dengan tatapan mata.
Garini dan Uli menghilang dengan cepat dari hadapan Nyi Malini dan Abay.
Di dalam kamar tinggal dua makhluk berbeda alam, tetapi telah terikat pada perjanjian antara tuan dan hamba, suami dan istri yang aneh.
Nyi Malini membelai tubuh Abay, lalu dia menarik tangan Abay menuju ke ranjang.
Langkah kaki Nyi Malini membuat pinggulnya yang bulat pada bergoyang menggoda. Tanpa meminta ijin Nyi Malini, Abay cepat menggendong dan melempar istri rahasianya itu ke atas ranjang.
Masih ada waktu bagi mereka berdua mendaki ke puncak surga dunia.
Entah berapa lama waktu terbuang, berapa banyak keringat mengucur dan berapa jumlah suara rintihan tercipta, tak ada yang tahu. Sampai sebuah suara terdengar memanggil nama Ki Jabaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
si abay selain pemalas, manipulatif 🤣
2023-09-22
0
💎hart👑
akhirnya menikmati perannya sebagai hamba iblis
2022-06-19
1
Adinda
abay menang banyak hihi
2022-06-17
1