"Aneh bagaimana Bu?" tanya Rodi.
"Ada aura takut juga menyesal. Apa Bapak mencuri uang ini?"
"Tidak, Bu! Bapak sama sekali tak berbuat kriminal. Uang itu Bapak temukan di jalan!" bantah Rodi cepat.
"Bapak tak bohong kan?"
Rodi dengan tegas menyatakan kisahnya benar. Lalu dia pun mulai bercerita proses dia menemukan uang itu.
Dengan lancar dan menyakinkan, Rodi mengatakan tas ditemukan tergeletak di atas bangku semen taman. Karena tertarik, tas diambil dan dilihat isinya. Ternyata berisi banyak uang dan emas. Tetapi dia tak sebutkan nama tamannya.
"Kalau begitu, ini bukan barang kita Pak. Kita harus kembalikan, kasihan yang kehilangan!"
"Tetapi pada siapa kita kembalikan Bu?" tanya Rodi dengan nada tak rela.
"Ya, taruh lagi aja di sana!"
"Bapak menolak, Bu!" Rodi membantah saran istrinya.
"Kenapa Pak?"
"Ya, anggap saja ini rejeki kita, Bu! Apalagi Ibu kan baru kena tipu, sementara kita butuh uang untuk biaya melamar Dodi. Jadi, kita gunakan saja uang itu!"
"Kembalikan saja Pak!"
"Kenapa Bu?" tanya Rodi yang mau tak mau memegang kembali tas yang diserahkan istrinya.
"Dodi sedang berusaha pinjam uang dari kantor dan temannya. Ibu juga lagi usaha pinjam juga!"
"Meminjam lagi? Apa Ibu tak ingat kisah kita dulu, begitu susah dan pontang-panting mengembalikan uang pinjaman? Setelah kita berhasil, kita kan berjanji untuk tak pernah berhutang pada siapapun, meski jumlahnya sedikit!"
"Tetapi jalan itu yang terbaik saat ini Pak! Kita tak mungkin jual rumah kan? Kita juga sudah tak punya harta yang bisa dijual."
"Ada, Bu. Dalam tas ini!" Rodi menepuk tas.
Hening.
"Jalan keluarnya begini saja, Bu. Kita simpan uang ini dulu. Jika sampai detik terakhir uang pinjaman tak didapat, kita pakai saja uang ini secukupnya. Sisanya, terserah Ibu. Apa mau diberikan ke yayasan amal atau bagaimana?" saran Rodi.
Tak ada bantahan.
"Kalau begitu Bapak mandi dulu ya, Bu!" Rodi tersenyum, lalu dia memeluk istrinya begitu erat dan kuat.
"Pak, lepas! Badan Bapak bau amis ular!"
Rodi kaget, dia buru-buru melepas pelukannya.
"Memangnya Bapak habis darimana sih? Kok, bisa bau seperti ular?"
"Kok, Ibu bisa menebak badan Bapak bau ular?"
"Bapak lupa ya, siapa Ayah dari Ibu?"
Rodi terperanjat, mendiang mertuanya yang meninggal sebelum hari pernikahan digelar itu pawang ular.
"Ibu memang sudah lama tak memegang ular. Tetapi baunya masih hapal!"
"Tadi Bapak itu pergi ke rumah teman baru. Pelanggan kopi. Kedatangan Bapak ke sana selain untuk main, juga tertarik pada tawarannya jadi makelar dagang ular. Sempat Bapak main-main dengan ular sanca albino nya yang jinak."
"Bapak memang punya ilmu tentang ular?"
"Kan ada Ibu. Memangnya Ibu lupa keturunan siapa?" Rodi sedikit mengubah perkataan istrinya.
"Tetapi ilmu tentang ular Ibu tak begitu dalam. Terus apa Widi setuju di rumah ini ada ular? Dia melihat cacing saja takutnya setengah mati."
Rodi diam-diam menarik napas lega. Kebohongannya yang mendadak tak dicurigai istrinya. Tetapi dalam hatinya, dia pun bulatkan tekad untuk bisa terlepas dari jeratan Nyi Malini melalui Garini si istri rahasianya.
"Kalau begitu Bapak mandi dulu ya, Bu!"
"Iya, sana dan yang bersih! Biar bau amis ularnya hilang. Oya, Bapak mau dibuatkan kopi?"
"Boleh, Bu!" Rodi mengangguk.
Pembicaraan pun usai. Rodi menaruh tas berisi uang ke atas lemari pakaian, lalu dengan memegangi saku celana belakang, dia berjalan keluar kamar. Istrinya mengintil di belakang, tetapi mereka pun berpisah jalan. Rodi mendatangi kamar Dodi terlebih dahulu, karena dia tak melihat anak pertamanya itu berada di depan layar televisi. Hanya ada Widi. Sementara istrinya terus saja berjalan ke dapur untuk memasak air dan membuatkan kopi.
Suara ketukan pintu terdengar.
Dodi yang sedang di atas kasur, asyik main game di layar ponselnya menengok ke arah pintu yang terbuka.
"Boleh Bapak masuk?"
"Masa dilarang Pak!" Dodi matikan gamenya, lalu dia turun dari kasurnya.
"Tak perlu turun dari kasur!" cegah Rodi yang segera ambil bangku plastik yang berada di kamar Dodi.
Rodi duduk di bangku, sementara Dodi duduk bersila di kasur.
"Apa kamu sudah benar-benar siap menjadi suami bagi Ina?" tanya Rodi memulia percakapan.
"Sejujurnya siap sekitar sembilan puluh persen saja, Pak. Sepuluh persennya masih terselip rasa takut dan ragu," jawab Dodi jujur.
"Kenapa?"
"Bapak kan tahu, aku kerja itu hanya dikontrak saja. Awal mula setahun, sekarang dua tahun dan baru jalan setahun. Setelah itu, aku tak tahu apa akan kerja dikontrak lagi atau dijadikan karyawan tetap. Ada kepikiran untuk usaha dagang saja. Hal ini yang membuat aku takut dan ragu, masalah ekonomi itu kan nomor satu dalam pernikahan!" tegas Dodi.
"Wah, kamu masih muda sudah berpikir jauh!" Rodi kagum pada anaknya.
"Hehehe, mungkin aku terlalu banyak baca berita tentang perceraian kali, Pak. Kebanyakan yang masalah ekonomi yang jadi problem utama." Dodi tertawa malu.
"Ketakutanmu tak salah. Tetapi kalau kamu dan Ina bisa sehati dan berani menjalani hidup yang sulit, pasti ada jalan. Kamu sendiri kan tahu, bagaimana susahnya Bapak mencari rejeki. Beruntung Ibumu wanita yang kuat dan tabah, akhirnya sampai sekarang kami masih bersama dan bisa memberikan kamu serta Widi makan."
"Iya juga ya, Pak. Aku sih tak tahu apa Ina bisa setabah Ibu atau tidak. Namun, aku yakin pada pilihanku, Ina gadis yang baik dan selama aku bergaul rapat dengannya, dia tak pernah macam-macam."
"Itu cukup. Keyakinan itu awal dari kebaikan. Bapak berpesan padamu, meski bagaimana pun sulit hidupmu nanti bersama Ina, usahakan jangan meminjam uang. Terus kamu harus benar-benar menjadi suami yang baik bagi Ina, beri dia rasa aman dan nyaman."
"Iya, Pak. Semoga aku bisa!" sahut Dodi tanpa berpikir panjang.
"Oya, masalah uang sepuluh juta yang lenyap digondol penipu, Bapak sama Ibu minta maaf ya, Dod!" Wajah Rodi berubah sedih.
"Itu sudah kejadian Pak. Tak perlu dipikir lagi. Ibu dan Bapak tak salah, yang salah itu ya si penipu. Mencari uang dengan cara tak halal. Jujur, aku pun sedih, marah dan kecewa. Tetapi jika aku tenggelam dalam rasa itu, yang ada aku tak akan maju."
"Tapi kalau kamu tak dapat uang sepuluh juta itu gimana? Bapak dengar kamu mau pinjam uang kan?"
"Iya, Pak. Aku ada rencana itu. Sekali saja aku meminjam uang. Tetapi kalau gagal dan ternyata mertuaku tak bisa menerima alasanku, ya terpaksa mencari Ina yang lain. Karena calon mertuaku itu ingin sekali melihat Ina cepat menikah!"
"Bapak ada jalan! Di atas lemari pakaian Bapak ada menyimpan tas. Di dalam tas itu ada uang dan emas. Pakai saja itu buatmu!"
Dodi tak percaya mendengar perkataan Rodi. Baru saja dia mau membuka mulut, sudah didahului Rodi.
"Bapak mau minta maafmu. Karena...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
kirain istri rodi juga anak siluman ular 😆
2023-09-22
0
D'Wiz
iya, betul... hehehe. karena alasan ini Rodi harus ambil keputusan
2022-06-19
1
D'Wiz
iya, bapak bakal kasih tempe, eh tahu... 😁
2022-06-19
1