Abay membuka pintu gubuknya. Pintu yang tak perlu dikunci sebab tak ada barang berharga yang dia simpan. Tetapi itu dulu, saat ini dia memegang lima lembar daun emas. Hadiah dari Nyi Malini semalam.
Ini pertama kalinya Abay mendapat kekayaan dari istri rahasianya itu. Namun karena dia belum memberikan jiwa Endah sebagai tumbal, sesuai kesepakatan di awal dengan Nyi Malini, dia hanya mendapat sedikit saja.
Apa yang diterima Abay ini pengecualian, karena dia manusia pertama yang menjadi sekutu, hamba dan suami bagi Nyi Malini.
Nyi Malini telah naik pangkat, dia pernah bercerita pada Abay sekilas, sebenarnya dia hanyalah pelayan pribadi dari Ratu Agung, ratu para ular yang diikutinya.
Siapa nama ratu ular yang diikutinya, Nyi Malini tak pernah ungkap itu. Hanya saja statusnya telah naik menjadi Adipati, diangkat menjadi ratu baru dengan anak buah yang baru, kerajaan kecil. Tetapi dengan syarat, harus tetap tunduk di bawah kekuasaan Ratu Agung yang namanya tak bisa disebut itu.
Saat memandang ke arah jalan menuju hutan, Abay melihat Endah berjalan bersama Idang si duda.
Api cemburu membakar hati Abay. Walau dia telah dicampakkan Endah dan fakta dia telah dibohongi mantan istrinya itu, tetap saja hatinya cinta pada ibunya Dina itu.
Abay menyadari, dirinya itu dijadikan ban serep oleh mantan mertuanya, yang tak mau Endah melahirkan Dina tanpa adanya seorang ayah.
Sebenarnya Entis, ayahnya Endah itu tak keberatan bermantukan Sasan. Tetapi pria itu kabur ke kota bersama pasangan barunya, meninggalkan Endah yang manisnya telah dihisap. Tak hanya itu saja, Endah dalam keadaan hamil muda kala Sasan berlalu pergi.
Entis mendatangi Abay dan memintanya jadi suami bagi Endah. Penawaran yang tak bisa ditolak Abay.
Selain Abay memendam cinta pada Endah, dia pun sadar diri dengan keadaan dirinya yang tak berharta, mana ada anak gadis yang mau dinikahinya. Satu sisi lain, dia terlalu malas untuk keluarkan keringat yang banyak.
Tetapi dulu berbeda dengan sekarang. Abay punya harta, dia memegang lima daun emas yang nilainya cukup lumayan. Walau dia belum tahu berapa banyak uang yang didapat jika emas itu dijual, setidaknya dia yakin cukup untuk biaya makan sebulan dan masih bisa ditabung.
Karena cemburunya, membuat Abay berlari mengejar Endah dan Idang yang berada di batas hutan.
"Tunggu, Endah!" teriak Abay.
Endah berhenti, Idang juga ikut berhenti dan dia berputar lebih dulu.
"Wah, mantan suamimu mengejar. Jangan-jangan dia mau mengajakmu rujuk!" goda Idang.
Endah melirik pada Idang, pria berkulit hitam dan bertubuh besar di sampingnya itu. Sebenarnya Endah agak ngeri dengan perawakan Idang yang tiga kali lipat dari tubuhnya.
Meski wanita kampung terpencil, Endah pintar merawat diri. Tubuhnya masih langsing dengan pinggang yang tak terlalu besar, cukup ramping. Bisa dikata, perkembangan tubuhnya saat masih gadis dan sudah melahirkan tak berbeda jauh, perbedaan terbesar ada pada anggota tubuh di mana ASI mengalir, jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Siapa sudi rujuk lagi! Buat apa suami pemalas seperti Abay!" seru Endah keki.
"Hahaha, setuju. Bagaimana jika kamu terima saja lamaranku. Aku bukan pemalas dan berjanji akan jadikan Dina seperti anakku sendiri. Kamu kan tahu, aku duda ditinggal istri mati!" bisik Idang merayu.
"Lihat nanti saja!" Endah sebenarnya ingin bilang iya, tetapi dia masih jual mahal.
Secara wajah, Idang bisa dikata di bawah Sasan dan Abay. Tetapi secara harta, dia unggul di atas kedua pria yang pernah menemani hari-hari Endah itu. Walau bukan yang terkaya di kampung.
"Kamu mau ke mana, Ndah?" tanya Abay.
"Mau ke kota. Sudah tahu mau masuk hutan, pakai tanya segala!" jawab Endah ketus.
"Tak usah ke hutan, temani aku saja ke pasar besar. Apa mau?" tawar Abay sambil melirik hina Idang.
"Jangan, Endah! Aku curiga kamu akan diajak berbuat jahat sama Abay. Memangnya kamu tak takut apa, mengambil barang bukan hak mu?" sindir Idang.
"Apa artinya perkataanmu itu?" Abay menatap gusar Idang.
"Kamu tahu sendirilah. Tapi biarlah, aku perjelas di sini. Kamu mau ajak Endah mencopet kan?" Idang segera berdiri di depan Endah, menghalangi pandangan Abay.
"Mulutmu ternyata enteng berkata fitnah ya, Dang!" Garis wajah Abay mengeras, tanda emosinya sudah naik ke ubun-ubun.
"Oh, apa aku salah bicara?" Idang tertawa mengejek.
"Minggir, aku mau bicara dengan Endah!' Abay masih berusaha menekan amarahnya pada Idang.
"Kalau aku tak mau minggir, kamu mau apa?" tanya Idang.
"Kang Idang boleh minggir dulu, aku mau bicara padanya!" Endah sentuh tubuh belakang Idang.
Abay menggeram lirih. Dia tak menyangka, begitu mesra panggilan Endah pada Idang. Sementara Endah sama sekali tak sebut namanya. Keterlaluan!
Idang pinggirkan dirinya, tetapi dia berdiri dekat di samping Endah. Dia seperti penjaga Endah saja.
"Mau apa? Aku terburu-buru!" ketus Endah begitu dia bertatap muka dengan Abay.
"Aku mau mengajak dirimu rujuk lagi Endah. Lihat!" Abay keluarkan sebuah daun emas yang dia dapat dari sisik Nyi Malini yang tertinggal.
Daun emas itu berbentuk sirih kecil dan berada di telapak tangan Abay.
Mata Endah membesar kagum. Dia suka kemilau warna emas. Wanita mana yang tak suka melihat perhiasan. Tetapi mendadak....
"Hei, Idang!" teriak Abay kaget karena duan emas direbut Idang.
"Kamu curi darimana emas ini? Ayo, ngaku!" bentak Idang, lalu dia melihat ada tiga orang berdatangan dari arah desa menuju hutan.
"Dasar kamu pencuri! Kampung kita belum ada yang seberani kamu!" Idang memperkeras suaranya.
"Jangan fitnah kamu, itu emasku!" Abay berusaha merebut emasnya dari tangan Idang.
Tetapi tubuh Idang lebih besar dan kuat darinya. Tenaganya juga lebih unggul karena sering bekerja keras, beda dengan Abay yang meski bertubuh lumayan kekar hanya saja pemalas.
Tubuh Idang kuat dengan otot yang keras. Badan Abay ototnya terbilang lemas, tapi cukup kuat kalau melawan Endah.
Cukup sekali dorong, tangan besar Idang berhasil membuat Abay mundur ke belakang.
"Endah, apa kamu pernah melihat ada emas yang disimpan Abay?" tanya Idang kencang.
"Mana ada emas, uang aja sering tak ada. Kalau bukan kebaikan Ayahku, mana mungkin dia bisa makan!" Endah menuding Abay.
"Hei, ada apa ini Idang?" tanya pria setengah baya yang baru datang, diikuti kedua temannya yang seusia.
"Oh, Mang Somat... ini, Abay ketahuan mencuri emas. Ini buktinya!" Idang tunjukkan daun emas yang dia rebut dari Abay.
"Apa benar itu Bay?" Somat menatap tajam Abay.
"Mang Somat kenapa kemakan fitnah Idang. Aku...."
"Ya, aku kenal kamu. Pada dasarnya kamu anak baik, hanya saja terlalu pemalas dan sia-siakan anak istrimu," jawab Somat memotong ucapan Abay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Ulun Jhava
Terlalu gegabah abay
2025-03-16
0
Katrisnani Dilaningtyas
👍👍👍
2022-06-17
1