Abay pulang dengan membawa dua tas kresek. Satu kresek putih bening berisi dua bungkus bakso. Sementara plastik putih dengan cap merek minimarket berisi es krim, susu kotak dan jajanan kecil lainnya. Dia parkir motornya di luar, karena mau pergi lagi.
Kepulangan Abay membawa kabar gembira bagi dirinya sendiri. Rodi telah setuju dan nanti sore akan bertemu dengan Ki Jabaya. Alasan inilah yang membuat dirinya menaruh motor di depan pagar, biar gampang meluncur ke rumahnya yang lain dan mengambil peran sebagai Ki Jabaya, dukun pesugihan.
"Ya, Sayang... tunggu saja nanti sore, aku akan bikin gempa ranjang. Hihihi!"
Abay berkerut kening. Dia yang berdiri di depan pintu rumah dapat mendengar jelas ucapan Santi.
"Belum, aku belum makan. Tahu, tuh... Abay belum datang bawa bakso. Apa? Dia bukan suamiku asli, hanya sekedar teman satu ranjang. Tetapi ya Dina, aku sayang padanya. Ih, tentu dong, aku juga sayang sama kamu. Cinta pertama tak pernah mati."
"Awas saja kamu, sebentar lagi kamu akan mati di tangan Nyi Malini. Tetapi sore nanti, aku akan berikan pertunjukan istimewa untukmu!" ancam Abay dalam hati.
"Ya, udah. Nanti sore tunggu saja aku di kamar hotel biasa! Kirim aja nomor kamarnya begitu kamu sudah di sana! Udah dulu ya Sayang, takutnya Abay pulang!"
Abay masih belum mau menggedor pintu.
"Bukan, aku bukan takut Abay marah. Sebelumnya kan sudah ada perjanjian. Aku masih boleh ketemu sama kamu. Aku cuma takut, dia mendengar kita ngobrol di telepon. Udah, ya! Nanti aku jamin, kamu bakal puas!"
Setelah mendengar suara perpisahan antara Santi dengan mantan pacarnya di telepon, Abay baru mengetuk pintu.
"Siapa?" teriak Santi dari arah ruang tamu.
"Aku, bawa bakso!" seru Abay.
Pintu terbuka dan Santi menatap Abay curiga.
"Kenapa menatap seperti itu?" tanya Abay tak senang.
"Kang Abay dengar ya tadi?" Santi malah balik bertanya.
"Kalau dengar kenapa?"
"Ya, nggak masalah. Lagian kita kan sudah ada perjanjian sebelumnya. Hihihi," kekeh Santi tanpa rasa bersalah.
Karena tawa Santi inilah, Abay pun tak ragu lagi untuk mengorbankan Santi sebagai tumbalnya.
"Apa sih hebatnya Berri?" tanya Abay.
"Dia...." Santi menatap Abay, lalu menggeleng.
"Berarti dia itu...."
"Ya, dia tak ada hebat-hebatnya dibanding Kang Abay. Dalam semua sisi, baik luar dan dalam kamar. Tetapi dia punya satu hal yang tak bisa dibantah!" ucap Santi memotong ucapan Abay.
"Apa itu?" tanya Abay sambil melangkah masuk. Sejak tadi dia berdiri di batas teras dan pintu masuk ke dalam rumah.
Santi membiarkan Abay masuk ke dalam terlebih dahulu, dia menunggu sampai Abay menaruh kedua tas kresek di atas meja ruang tamu.
"Cinta. Kang Abay kan tahu, aku tak punya rasa cinta sama sekali selain dengan Berri. Cuma mata kedua orang tuaku terlanjur hijau melihat harta Mang Abay. Dengan modal uang, Kang Abay putuskan hubunganku dengan Berri. Aku merasa seperti dibeli sama Kang Abay dan...."
"Nah, kalau kamu merasa aku beli, berarti kamu itu budakku dan harus mau menurut perkataanku!" potong Abay.
"Enak saja, aku bukan budak! Aku ini wanita yang harus dipaksa pisah dengan pria yang aku cintai. Karena aku tak mau bikin hati orang tuaku sedih, aku batalkan niat kawin lari!"
"Oh, kamu anak dan istri yang baik, dong!" ejek Abay.
"Kalau bukan Kang Abay yang mulai duluan, aku juga tak akan berkhianat!" bantah Santi.
"Perasaan ada cermin di rumah ini, apa kamu tak sadar diri! Kamu kan yang kasih syarat mau menikah denganku, asal masih bisa bertemu dengan Berri?" hina Abay kasar.
"Aku akui itu! Tetapi pertemuanku dengan Berri hanya sebatas makan siang. Tidak seperti Kang Abay, menggandeng mesra cewek lain dan masih muda! Terus, setiap bulan selama tiga hari berturut-turut, Kang Abay tak tidur bersamaku. Apa aku tak pantas curiga? Karena itu aku memilih ikut berkhianat juga!" ucap Santi tak mau kalah keras.
"Aku sudah bilang, selama tiga hari itu aku punya bisnis luar kota setiap bulannya. Kalau aku tak berbuat itu, tak akan ada uang datang!" Abay membela dirinya.
"Baik, kalau memang itu murni urusan bisnis, aku bisa terima. Tetapi terus apa hubungan Kang Abay sama Wiwi dan Anita. Yang satu janda dan yang satu bini orang? Terus belum lagi gadis muda yang pernah aku lihat itu? Aku cuma dengan satu pria, beda dengan Kang Abay!" Santi menatap dengan sorot menantang.
Sungguh perbuatan keduanya tak bisa dibenarkan. Hanya menuruti nafsu pribadi dan gosokkan setan.
"Dina mana?" tanya Abay yang tak mau memperpanjang urusan.
Apa yang diucap Santi itu benar. Di luar sana, Abay hamburkan uang bersama wanita lain. Dia punya uang yang didapat secara gampang tanpa perlu keluar keringat. Jadi dia merasa bebas untuk foya-foya. Nyi Malini saja tak pernah melarang, jadi dia pun tak mau dilarang orang lain.
Apalagi dilarang Santi, jelas Abay tak mau karena wanita itu sebentar lagi akan jadi korban tumbalnya.
Tetapi dalam hatinya, Abay teringat pada Eka. Istri sebelumnya yang sangat baik dan penurut padanya, hanya saja Eka harus mati menjadi tumbal Nyi Malini.
"Dina di rumah orang tuaku!" jawab Santi.
Lamunan Abay pun buyar. Dia pun berjalan meninggalkan Santi.
"Oya, di kresek putih ada es krim buat Dina. Tolong simpan di kulkas!" Abay berhenti di depan pintu. Dia berbicara membelakangi Santi.
"Ya," jawab Santi cepat.
"Satu lagi hal lagi!" Kali ini Abay memutar tubuhnya.
"Apa?" tanya Santi.
"Jam berapa kamu bertemu Berri?"
"Kenapa? Apa Kang Abay melarangku pergi?"
Abay tak menjawab.
"Itu urusanku, jadi Kang Abay tak perlu tahu! Oya, mungkin sebentar lagi aku akan menuntut cerai!" tegas Santi.
"Cerai?" Abay menegaskan.
Santi mengangguk.
"Hahaha, terserah padamu saja! Tapi aku pikir, kamu tak perlu repot-repot menuntut cerai. Karena kita juga akan segera berpisah!" Abay putar badan dan berjalan keluar ke arah motornya.
Di tengah perjalanan, telinga Abay mendengar kerasnya bantingan pintu.
Santi yang kesal, membanting pintu rumah sekuat-kuatnya, lalu dia memutar anak kunci seakan takut Abay kembali datang.
Abay menengok ke belakang dan tertawa tanpa suara.
"Lihat saja kamu! Pembalasanku akan sangat berat bagimu!" ancam Abay lirih.
Abay melanjutkan perjalanannya. Langkahnya baru saja keluar dari pagar, matanya menangkap bayangan Dina yang diantar pulang ibu mertuanya.
"Papa," panggil Dina.
Abay berbisik pada Dina, mengatakan ada es krim di kulkas.
Mendengar itu, Dina berlari lebih dulu masuk ke rumah. Tinggal Abay berdua dengan Wati.
"Bu, aku mau minta tolong!" pinta Abay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Adinda
santi ga tau diri ya... walau begitu juga abay kan baik sama orang tuanya
2022-06-17
2
Katrisnani Dilaningtyas
Lanjut. Seru abis
2022-06-17
1