Abay berjalan layaknya pembesar di jaman dulu. Jubah yang dipakainya terbuat dari kain mahal, warna hitam dengan benang emas bermotif ular.
Tetapi yang membuat kedua matanya terbelalak itu, saat dia tiba di ujung lorong, ada cahaya silau menerobos matanya dan itu belum berakhir.
Karena saat ini Abay berdiri diam dengan mata jelalatan. Dia tiba di ruangan besar, seperti sebuah aula dengan tiang-tiang besar dan sekiranya butuh tiga orang untuk melingkarkan tangan. Di tiang terpasang tongkat obor.
Selain itu, ruangan pun dipenuhi aneka keindahan, kilau emas dan batu permata. Tetapi segala macam kemilau perhiasan itu tak sebanding dengan barisan wanita-wanita cantik yang berdiri rapi.
Garini sudah cantik, tetapi yang lainnya pun sama cantik dan jelita. Belum lagi aroma wangi yang menguar di seluruh ruangan. Membuat Abay merasa dirinya di surga.
Ada pikiran busuk Abay, kalau wanita-wanita itu menjadi istrinya. Betapa akan senang hatinya berganti-ganti malam dengan banyak wanita pilihan dan masih muda tersebut.
"Maju ke sini!"
Angan Abay buyar. Dia tertarik dengan suara merdu yang memanggil dirinya. Dia pun injak anak tangga dan turun untuk bisa memijak lantai aula yang terlihat bening seperti kaca.
Sambil berjalan, kepala Abay menengok kiri dan kanan. Tak lupa dia lepaskan senyum pemikat yang dibalas tawa cekikikan para wanita muda. Tetapi dia tak melihat Garini.
Di depan Abay ada panggung dan sebuah kursi kebesaran berlapis emas dengan ornamen ular di kepala kursi yang masih kosong. Di bawah panggung berdiri sosok wanita berwajah dingin, tetapi terkesan anggun.
"Berhenti dan berlutut menunggu Nyi Malini hadir!" ucap si gadis berwajah dingin di bawah panggung itu.
Abay menurut, pikirannya tak masalah dia ikuti kemauan si gadis itu.
Cukup lama Abay berlutut, hingga kaki terasa kaku. Tetapi dia bisa sepuas hati menatap paras-paras cantik di dalam aula.
Hingga bunyi gemerincing terdengar. Abay menengok ke kiri dan dia kaget, karena suara itu berasal dari gesekan rantai dan lantai. Rantai itu dibawa Garini yang terikat tubuhnya dan didorong masuk dua wanita berwajah kejam. Mata tombak yang tajam tak seberapa jauh dari punggung Garini.
Lalu Garini disuruh berlutut di sebelah Abay.
"Ingat, kamu menolak aku mati. Tetapi kamu akan menemani diriku di tanah yang sama," ucap Garini lantang.
Abay menelan ludahnya. Ancaman Garini sepertinya sungguh-sungguh.
"Nyi Malini datang!"
Teriakan itu disusul bunyi tetabuhan, lalu suasana aula mendadak gelap dan kembali terang ketika api obor menyala serentak.
Abay kaget dan selanjutnya dia menatap terkesima. Barisan wanita cantik menari di depan matanya, mengurung dirinya dan Garini di tengah-tengah.
Bukan tarian biasa, karena keringat Abay bercucuran dan matanya memerah penuh hawa nafsu. Tarian erotis dan menggoda darah kejantanan Abay bangkit.
"Tetap berlutut! Berdiri mati," ucap Garini keras.
Abay yang mau bangkit dan gabung menari itu, pun terkejut dan dia bertahan sekuat tenaga, supaya kakinya tak berdiri.
Sungguh penyiksaan batin yang sangat berat bagi Abay. Wangi tubuh para gadis itu merangsang darahnya mengalir lebih cepat, sentuhan jemari lentik mencubit dan membelai membuat wajahnya memerah, belum lagi gesekan tubuh yang disengaja membuat dia ingin memeluk salah satu dari para penari erotis itu.
Tubuh Abay menggigil. Dia menggigit bibirnya dan tangannya sibuk menghapus keringat sebesar jagung di wajahnya, terutama di bagian kening. Lalu matanya diturunkan dan melihat lembaran pakaian di atas lantai, lalu kaki-kaki yang putih mulus tak luput dari matanya. Tak ada pilihan, dia pun menutup matanya.
"Jangan menutup mata atau kamu akan lebih cepat bangkit dan mati!" bisik Garini
"Ah!" jerit Abay mengeluh.
Karena Garini benar. Ketika Abay menutup mata, dia malah terbayang banyak adegan kemesraan dan cumbuan yang biasa dia lakukan dengan Endah istrinya.
Hampir saja Abay bangkit dan menerkam salah satu penari untuk menuntaskan hasratnya yang bangkit. Tetapi ucapan Garini menyadarkannya. Entah dia harus berterima kasih pada Garini atau tidak.
Karena Abay masih teringat akan ancaman Garini. Sebab kini hanya ada dua pilihan yang bisa dia ambil, menerima persekutuan dengan Nyi Malini yang katanya akan hadir, tetapi belum juga tampak batang hidungnya. Kemudian dia harus memilih menjadi juru kunci yang hidupnya akan tetap miskin seumur hidup.
Teringat si kecil Dina, Abay memilih bersekutu dengan Nyi Malini. Mendapatkan kekayaan dan pindah ke kota berdua dengan Dina. Tak ada niat mengajak Endah bersamanya.
"Nyi Malini datang, bangun!"
Teriakan itu mengakhiri bunyi tetabuhan, para wanita yang menari pun usai dan api obor mati berganti dengan aula yang terang benderang seperti di awal Abay masuk.
Kali ini Abay bangun tanpa menunggu ucapan Garini. Ternyata Garini diam saja dan ikut berdiri.
Mata Abay menatap sekeliling, dia merasa heran di mana para penari erotis tadi. Karena kalau masih ada di dalam aula, tentunya mereka berdiri tanpa sehelai benang menutup tubuh. Tetapi waktu mata Abay melihat ke lantai, tak tersisa lembaran kain yang dilepaskan tadi.
Lantai bersih dan bening seperti kaca. Setitik debu pun tak terlihat, mana ada lembaran kain penutup tubuh segala.
"Hei, manusia... lihat aku!"
Abay mengarahkan pandangannya ke arah suara, ke atas panggung dan dia kaget. Entah kapan di atas panggung itu duduk sosok wanita yang paling cantik di antara wanita lainnya.
Dari jarak Abay berdiri saja, dia bisa melihat betapa putih dan mulusnya kulit wanita yang dia tebak sebagai Nyi Malini itu, nyaris tanpa cela dan cacat karena sutera hitam transparan yang menutup tubuh Nyi Malini seperti tak berguna sama sekali.
Rambut panjang hitam berombak Nyi Malini terlihat bercahaya, ditambah mahkota kecil di atas kepalanya dengan dua batu merah sebagai mata ular. Mahkota berbentuk ular, itu yang dipakai Nyi Malini.
"Siapa namamu?" tanya Nyi Malini merdu.
"Abay," jawab Abay dengan mata tak pernah berkedip memandang keindahan Nyi Malini.
"Apa kamu tahu siapa aku?"
"Ya, Nyi Malini."
"Hihihi, itu namaku. Tapi tahukah kamu, aku ini jin ular yang dipercaya menjadi pemimpin di istana ini oleh dia si Ratu Agung."
"Ya, Garini sudah berkata."
"Hihihi, kerja yang bagus Garini!" Nyi Malini mengangguk pada Garini.
Garini mengucap terima kasih..
"Suamiku Abay, apa kamu sudah menetapkan pilihan?" tanya Nyi Malini.
Syur rasa hati Abay ketika Nyi Malini sebut dirinya sebagai suami.
"Apa pilihanmu? Menjadi suamiku yang pertama dan mendapat kekayaan atau lebih memilih jadi abdi juru kunci kerajaan yang aku pimpin ini?"
"Aku memilih jadi suamimu!" jawab Abay tegas.
"Bagus. Mari sini suamiku!" Nyi Malini menggerakkan tangannya seperti menarik Abay.
Abay memekik kecil karena tubuhnya terbang ke arah Nyi Malini, lalu jatuh dalam pangkuan wanita cantik itu. Wanita yang sebenarnya jin ular.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
khayalan sy si Abay itu Iko uwais 🤣🤣🤣
2023-09-22
0
Katrisnani Dilaningtyas
Masih stay
2022-06-17
1
Adinda
c abay kayaknya ganteng ya sampe nyi alini suka hehe
2022-06-13
1