Abay tak langsung pergi ke warung penjual bakso. Dia malah membelokkan motornya untuk berhenti di belakang pedagang kopi keliling.
"Bang Rodi, biasa kopinya!" Abay tertawa pada seorang pria kurus yang memakai baju kebesaran dan memakai topi butut.
Rodi si penjual kopi itu berdiri dari duduknya di terpal biru yang sengaja digelar menutupi tanah merah yang rumputnya jarang-jarang.
Tempat mangkal Rodi di pinggir jalan. Tak ada trotoar, tetapi ada tanah merah yang sedikit lebih tinggi dari aspal jalan. Dipayungi juga dedaunan rindang penahan sinar matahari.
Saat ini hanya Abay sendirian. Hingga terpal biru serasa lapang untuknya.
Abay menunggu Rodi datang membawa gelas plastik berisi kopi putih kesukaannya. Dia juga sempat berteriak, minta dibawakan roti.
Walau Abay punya uang, tetapi dia lebih suka hidup sederhana. Harta yang didapatnya dari istri rahasianya, Nyi Malini disimpan untuk masa depan Dina. Lagipula seluruh hartanya berada di rumah yang lain. Rumah yang didatanginya sebentar saja, cukup tiga hari selama bulan purnama. Meski terkadang dia datang ke sana sewaktu-waktu untuk bisnis.
Bisnis Wawan itu unik, dia menawarkan orang yang merasa kesulitan ekonomi untuk dapat menikmati kekayaan dalam waktu yang cepat. Dia menjadi juru kunci bagi manusia seperti dirinya dengan Nyi Malini.
Dengan memakai nama Ki Jabaya, Abay berpura-pura menjadi pria setengah baya. Untuk itu, dia memiliki topeng yang diberikan Nyi Malini.
Bisa dibilang, saat ini Nyi Malini memiliki banyak hamba setia para pencari kekayaan dalam waktu singkat. Dia pun membagi-bagi peran para anak buahnya untuk melayani manusia yang jadi budaknya. Nyi Malini sendiri khusus melayani Abay, meski kadang dia tertarik juga pada manusia yang dianggapnya pilihan.
"Bang Rodi mukanya kusut, ada apa nih?" tanya Abay setelah menerima gelas kopi dan roti dari tangan Rodi.
"Biasalah Bang Abay, yang paling gampang bikin muka kusut dan pusing kelapa eh kepala!" ralat Rodi cepat. "Ya, masalah uang!"
"Aneh," jawab Abay santai.
"Apanya yang aneh, Bang?" Rodi terlihat tak senang.
"Bang Rodi kan dagang. Uang ngalir terus, dong! Maaf aja nih, dariku aja suka lebih banyak uang kembalian yang tak pernah aku minta. Terus, darimana datangnya masalah uang?" Abay tersenyum.
"Apa yang Bang Abay bilang, itu benar. Aku tak begitu kekurangan uang untuk biaya makan sehari-hari. Tetapi ini masalahnya beda, Bang!" Rodi menghela napas berat.
"Apa bedanya? Ya, siapa tahu aku bisa bantu!" Abay lagi-lagi tersenyum. Tetapi senyum yang licik.
"Bang Abay bisa kasih aku pinjam uang sepuluh juta?" tanya Rodi.
"Pinjam uang? Itu masalah gampang. Tetapi cerita dulu dong, kenapa butuh uang sepuluh juta itu?"
"Anakku yang pertama, Dodi itu mau melamar kekasihnya dua minggu ke depan. Nah, uang gaji dia itu ditabung sama Mamanya. Takut kalau dia yang pegang uang, bakal habis buat jajan. Eh, kemarin itu istriku mungkin lagi banyak pikiran. Akhirnya ketipu sama pesan hadiah. Alih-alih dapat uang yang dijanjikan si penipu, malah amblas uang tujuh belas juta. Sepuluh jutanya itu uang lamaran si Dodi sesuai permintaan mertuanya," jelas Rodi.
Abay manggut-manggut.
"Kalau Bang Abay percaya, aku mau pinjam sepuluh juta. Tetapi bayarnya nyicil per hari, gimana Bang?" tanya Rodi penuh harap Abay mau meminjamkan uang.
"Bang Rodi mau sepuluh juta apa seratus juta?" tanya Abay.
"Sepuluh juta aja, Bang! Seratus juta susah bayarnya."
"Tak perlu bayar, Bang!" seru Abay.
Meski wajah Rodi kaget-kaget senang, tetapi dia malah menggelengkan kepalanya.
"Bang Rodi tak mau?" tanya Abay. "Ini kesempatan langka loh, Bang. Bukan cuma seratus juta yang bisa Bang Rodi dapat, malah bisa lebih!"
"Caranya apa? Merampok?" tanya Rodi.
"Hahaha, masa iya aku ajarkan Bang Rodi merampok? Itu kriminal Bang, nggak boleh!" sahut Abay cepat.
"Terus apa?"
"Pesugihan, Bang." Abay berbisik.
Rodi menjerit kecil.
"Gimana, apa Bang Rodi tertarik?" tanya Abay.
"Ngeri sama tumbalnya." Rodi menggeleng.
"Pesugihan ini tak ada tumbal, Bang! Kalau mau, aku bisa kenalkan seseorang ke Bang Rodi. Dia juru kuncinya dan kabarnya, udah ada banyak orang yang tertolong dari miskin jadi kaya, dari punya hutang malah kasih hutang dan sebagainya. Pokonya, ini top banget!" Abay tunjukkan dua jempol.
Rodi terdiam. Pikirannya tertarik, tetapi dalam hatinya timbul tarik menarik.
Abay mengangkat gelasnya, dia menyeruput kopinya sambil mengawasi perubahan air muka Rodi.
"Maaf nih, Bang... boleh kan nanya?" tanya Rodi setelah menjeda ucapannya sejenak.
"Tanya aja!" Abay mengangguk.
"Bang Abay juga ikut pesugihan itu?" Rodi menatap Abay dan berharap jawaban iya.
"Hahaha, kalau aku jawab iya, apa Bang Rodi mau ikut? Kalau aku jawab tidak, bagaimana?" tanya Abay.
"Ya, kalau Bang Abay ikut, kan aku punya contoh dan teman senasib. Tapi kalau tidak, darimana Bang Abay bisa banyak uang?" ucap Rodi diakhiri pertanyaan dengan nada curiga.
"Aku dapat persen Bang! Komisi, kan aku jadi marketingnya. Hahaha," tawa Abay dengan jawaban berbohong. Dia mana mau mengaku kalau dirinya itu orang pertama yang mengadakan kerjasama pesugihan dengan Nyi Malini.
"Hebat, dukun aja punya marketing!" gumam Rodi kagum.
"Ini kan artinya, si dukun profesional. Selain dari si dukun, aku juga suka dapat komisi sekedarnya dari mereka yang aku bawa. Ya, kalau Bang Rodi setuju dan mau ketemu si dukun, aku tak akan minta upah jasa. Karena kita kan teman!" seru Abay merayu.
Hati Rodi tergoda. Tetapi dia masih ingin tahu lebih banyak lagi.
"Masalah upah jasa, pasti aku kasih Bang!"
"Jadi Bang Rodi mau, nih?" tanya Abay cepat dengan mata menyorot senang. Karena akan ada lagi pengabdi Nyi Malini, artinya dia akan dapat hadiah dari istri rahasianya itu si jin ular.
"Sabar dulu, Bang!" Rodi tersenyum kecil.
Abay sedikit kecewa. Tetapi dia tak tampakkan rasa itu pada Rodi. Wajahnya masih terlihat biasa-biasa saja.
"Siapa nama si dukun?"
"Ki Jabaya."
"Jenis pesugihannya apa?"
"Kalau masalah ini, mending Bang Rodi tanya langsung ke orangnya. Tetapi aku berikan keterangan dan penegasan di sini, tak ada tumbal. Malah Bang Rodi punya pilihan, bisa sekali bertemu dan menjalani malam pertama dan berakhir dengan mendapatkan harta emas dan uang, atau memilih lanjut sampai mati. Keduanya tak ada tumbal!" jelas Abay yang sejatinya bohong besar.
Dengan rayuan tak ada tumbal, Abay telah berhasil mengajak beberapa orang bertemu dengan dirinya sendiri yang mengaku sebagai Ki Jabaya, lalu dengan memaksa dia akan pertemukan calon korbannya dengan Nyi Malini.
Selanjutnya itu semua urusan Nyi Malini dengan abdi pesugihan barunya itu.
"Jadi gimana Bang? Mau atau tidak?" desak Abay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Elisanoor
si Abay ,sales sekaligus owner pesugihan 😅
2023-09-22
0
Adinda
wah calon konsumen abay neh hehehe
2022-06-17
1
Katrisnani Dilaningtyas
Makin mantep
2022-06-17
1